Apa rasanya ditanya kapan nikah hampir di setiap hari?
Mengesalkan!
Ya, itulah yang dirasakan oleh Ghaliza.
Tapi Ghaliza tak pernah menyangka jika ia harus menjadi ISTRI Rahasia dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bingung ya?
Penasaran, ikuti kisahnya yuukk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Perlawanan Ghaliza
Raja dan Ghaliza meninggalkan kantor saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Itu pun Ghaliza harus dibangunkan lebih dulu oleh Raja karena Ghaliza tertidur di sofa. Raja memang terpaksa bekerja extra keras untuk mengecek semua laporan karyawan selama ia tinggalkan ke luar negeri.
Dan kini mereka ada di dalam mobil sedang menuju ke rumah pribadi Raja.
“ Kita mau kemana Mas...?” tanya Ghaliza.
“ Pulang ke rumah Kita dong Sayang...,” sahut Raja santai.
“ Tapi Aku belum pamit sama Abah dan Ummi. Nanti mereka cemas nyariin Aku...,” kata Ghaliza sambil menoleh kearah jendela.
“ Kamu tenang aja. Arifin udah ngurus semuanya tadi. Iya kan Fin...?” tanya Raja pada asistennya.
“ Iya Pak. Saya udah ke rumah orangtua Bu Ghaliza tadi untuk mewakili Bu Ghaliza...,” sahut Arifin sambil menganggukkan kepalanya.
“ Tuh, Kamu dengar kan. Jadi ga ada alasan buat Kamu nolak ajakan Aku sekarang...,” kata Raja sambil memeluk pundak Ghaliza.
“ Iya, iya. Tapi lepasin dong Mas, ga enak sama Pak Arifin...,” sahut Ghaliza.
“ Kamu jangan panggil Arifin Pak, panggil nama aja, dia seumuran kok sama Kamu...,” kata Raja.
“ Masa sih. Aku kira dia lebih tua dari Kamu atau di atas empat puluhan lah, makanya Aku panggil Pak...,”sahut Ghaliza.
Raja tertawa geli mendengar ucapan Ghaliza. Sedangkan Arifin hanya menekuk wajahnya mendengar ucapan Ghaliza.
“ Kamu dengar ga Arifin. Karena terlalu serius dan jarang senyum, orang lain mengira usiamu udah kepala empat. Itu kan artinya lebih tua dari Aku...,” kata Raja sambil tertawa.
“ Ok, mulai besok Saya akan sering senyum biar keliatan lebih fresh dan lebih muda...,” sahut Arifin.
“ Ga usah kebanyakan senyum juga sih. Nanti malah disangka orang g*la...,” sergah Ghaliza yang membuat Raja kembali tertawa.
\=====
Ghaliza dan Raja turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ke dalam rumah. Raja menggandeng tangan Ghaliza seolah tak ingin melepaskannya. Arifin yang melihat sikap possesif Raja pun tersenyum diam-diam.
Saat tiba di ruang tamu mereka disambut dengan kejutan yang disiapkan oleh kedua orangtua mereka masing-masing. Raja dan Ghaliza terkejut namun merasa senang. Apalagi keluarga mereka datang dan membaur satu sama lain. Bahkan kedua adik laki-laki Ghaliza pun nampak hadir di sana.
“ Kalian datang juga...,” sapa Ghaliza sambil memeluk Gaza dan Gifari bergantian.
“ Iya dong. Masa Kakak ipar pulang dari luar negeri Kami ga datang menyambut...,” sahut Gifari sambil tersenyum.
Ghaliza lalu memperkenalkan Raja dengan kedua adik laki-lakinya. Mereka pun saling menjabat tangan dan berpelukan dengan akrab. Kakak dan adik Raja pun turut hadir dan menyapa Ghaliza.
“ Akhirnya ketemu juga sama Adik iparku yang cantik ini...,” kata kakak pertama Raja yang bernama Raya.
“ Iya, pantesan Raja minta cepet-cepet nikah.Rupanya wanita yang dikejar tuh cantik toh...,” sahut kakak kedua Raja yang bernama Rifa, hingga membuat Ghaliza malu.
“ Dia pasti nyesel ninggalin Istrinya selama sebulan...,” ledek Rumi, kakak ketiga Raja.
“ Hallo Kak Ghaliza, kenalin Aku Resi. Adik perempuan Mas Raja satu-satunya...,” sapa Resi sambil menyalami Ghaliza.
“ Udah, jangan gangguin Istriku. Lebih baik Kalian makan sana...,” kata Raja sambil memeluk Ghsliza dan berusaha melindungi Ghaliza dari ulah usil keempat saudarinya itu.
“ Ck, baru juga sebentar ngobrolnya. Dasar pelit...,” sahut ketiga kakak Raja sambil berlalu. Sementara Resi memilih berbincang dengan Gaza dan Gifari.
Ghaliza langsung menarik tangan Raja untuk menepi karena merasa tak enak hati dengan ketiga kakak iparnya itu.
“ Kamu apa-apaan sih Mas. Kan Aku ga enak sama mereka...,” kata Ghaliza.
“ Gapapa Sayang. Kami biasa bercanda kaya gitu kok...,” sahut Raja sambil tersenyum.
“ Jadi mereka ga akan marah nih sama Aku...?” tanya Ghaliza.
“ Iya, Kamu tenang aja...,” sahut Raja lalu membawa Ghaliza kembali ke tengah keluarga mereka.
Malam itu semua yang datang memutuskan menginap di rumah Raja. Ghaliza pun senang karena bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga suaminya. Sedang Raja terlihat kesal karena rencananya untuk menghabiskan waktu dengan Ghaliza terhambat dengan kehadiran keluarganya.
“ Kayanya mereka sengaja deh pengen menghalangi Kita...,” kata Raja.
“ Menghalangi apa sih maksud Kamu Mas...?” tanya Ghaliza tak mengerti.
“ Kan mereka tau kalo Aku kangen sama Kamu. Pasti mereka juga tau kalo Aku mau mesra-mesraan sama Kamu. Terus mereka sengaja datang dan mengacaukan semuanya...,” sahut Raja kesal.
Mendengar ucapan Suaminya itu Ghaliza pun tertawa. Menyadari sikapnya yang kekanakan, Raja pun ikut tertawa. Lalu ia memeluk Ghaliza sambil menghujani ciuman di wajahnya. Hal itu disaksikan oleh keluarga mereka.
“ Kayanya Kita salah kalo nginep sekarang Ma...,” kata Raya sambil melirik kerah Raja dan Ghaliza.
“ Gapapa. Kita di sini kan sekalian mau ngebahas soal resepsi pernikahan mereka. Udah kelamaan. Masa mau nunggu punya Anak baru ngadain resepsi pernikahan. Yang ada kasian Cucu Mama nanti karena digosipin lahir di luar nikah...,” sahut Sendini sambil tersenyum.
“ Oh gitu ya Ma. Terus kapan ngebahasnya, ini kan udah malam Ma...?” tanya Rumi.
“ Besok pagi aja. Sekarang biar Raja istirahat dulu. Kasian kan, sejak mendarat di bandara tadi pagi langsung ke kantor. Pasti dia juga capek dan butuh istirahat...,” sahut Rahmat.
“ Cih. Itu mah alasan Raja aja Pa.Paling dia udah kangen sama Istri cantiknya itu makanya nyusulin ke kantor tadi pagi...,” sindir Rifa.
Semua yang hadir tertawa mendengar ucapan Rifa. Sedangkan Raja dan Ghaliza nampak tersenyum malu-malu.
“ Ya udah. Karena udah malam dan semuanya capek, jadi silakan istirahat di kamar ya. Tapi harus mau berbagi kamar karena cuma ada tiga kamar kosong yang tersisa...,” kata Raja sambil tersenyum.
“ Iya. Gampang lah itu, Kami atur sendiri aja nanti...,” sahut Sendini.
Mereka pun mulai berbagi kamar.
Sendini, Suci dan keempat saudari Raja tidur di satu kamar karena ingin membahas soal gaun dan seragam keluarga yang akan mereka kenakan nanti. Rahmat dan Harun memutuskan tidur satu kamar karena banyak nostalgia yang akan mereka bicarakan. Rekso, kakek Raja tidur di kamar yang lain ditemani asisten pribadinya. Sedangkan tiga menantu laki-laki Rahmat tidur di depan televisi di ruang tengah bersama Gaza dan Gifari.
Melihat kaum wanita berkumpul di satu kamar, Ghaliza pun bermaksud bergabung dengan mereka.
“ Kamu mau kemana Sayang...?” tanya Raja.
“ Aku mau gabung sama cewek-cewek itu di kamar tamu Mas...,” sahut Ghaliza sambil membuka pintu.
“ Ga boleh...,” kata Raja tegas sambil kembali menutup pintu.
“ Kok gitu sih Mas. Kan mereka mau ngebahas resepsi pernikahan Kita. Masa Aku ga ikutan...,” protes Ghaliza.
“ Sayang. Ngebahas resepsi kan besok, bukan malam ini. Jadi malam ini Kamu temenin Aku di sini ya. Kan Aku kangen sama Kamu...,” kata Raja sambil mengunci pintu.
“ Tapi...,” ucapan Ghaliza terputus karena Raja telah menggendong tubuhnya dan membawanya menuju ke tempat tidur lalu meletakkannya dengan lembut.
“ Tugas Kita sekarang kasih Cucu buat kedua orangtua Kita...,” bisik Raja sambil mulai mencumbu Ghaliza.
Ghaliza memejamkan matanya menikmati sentuhan Raja yang sangat ia rindukan. Malam itu mereka melakukan penyatuan berkali-kali karena rasa rindu yang menggunung. Setelahnya mereka terkapar di tempat tidur dengan tubuh berpeluh dan nafas yang memburu.
“ Makasih Sayang. I love You...,” kata Raja sambil mengecup kening Ghaliza.
“ Sama-sama Mas. I love You too...,” sahut Ghaliza sambil tersenyum.
Lalu keduanya berpelukan dengan senyum puas menghiasi wajah mereka hingga mereka tertidur.
\=====
Pagi harinya Raja dan Ghaliza bangun kesiangan hingga mereka sholat Subuh sedikit terlambat. Namun mereka bersyukur karena bisa mengerjakan kewajiban mereka itu sebelum jam enam pagi.
“ Gara-gara Kamu nih Kita jadi kesiangan...,” kata Ghaliza.
“ Kok Aku sih Sayang. Kan Kamu juga suka semalam...,” sahut Raja sambil tersenyum.
“ Ish, apaan sih Mas. Kan Kamu yang terus minta tambah..., “ sahut Ghaliza kesal.
“ Iya, iya. Emang Aku yang pengen terus. Abis gimana dong, udah lama ga dapat jatah kan jadi kangen...,” sahut Raja sambil memeluk tubuh Ghaliza dari belakang dan mengecup pundak Ghaliza.
“ Dasar mesum. Udah lepasin Mas. Kita keluar sekarang ya. Jangan sampe buat tamu Kita nunggu kelamaan, kan ga enak...,” kata ghaliza sambil melepaskan pelukan Raja di pinggangnya.
Sebenarnya Raja masih ingin bermesraan dengan Ghaliza. Namun tak ingin berdebat, Raja pun mengalah dan mengikuti istrinya keluar dari kamar.
“ Hari ini Kamu ikut ke butik buat fitting baju pengantin ya Nak...,” kata Sendini sambil menoleh kearah Ghaliza.
“ Iya Ma...,” sahut Ghaliza.
“ Cuma Ghaliza aja yang diajak Ma. Aku ga diajak...?” tanya Raja dengan mimik wajah kecewa.
“ Kalo Kamu perginya sama Papa dan Pak Harun dong Nak. Kan pesan jas laki-laki beda tempat sama tempat pesan gaun wanita...,” sahut Sendini sambil tersenyum.
Raja mengangguk. Setelah menyelesaikan sarapan mereka segera memisahkan diri menjadi dua kubu. Kubu wanita mengikuti Sendini, sedangkan kubu pria mengikuti Rahmat.
\=====
Sementara di kantor, Rheina terlihat kesal karena tak menjumpai Ghaliza di meja kerjanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Itu artinya Ghaliza terlambat satu jam. Tapi belum ada pemberitahuan dari Ghaliza tentang keterlambatannya kali ini.
“ Keliatannya dia mulai berani menantang Aku ya. Awas aja Kamu Ghaliza. Kamu belum tau siapa Aku kan. Sebentar lagi semua yang membuatku kesal akan bersujud di kakiku...,” gumam Rheina kesal.
Setelah menyelesaikan urusan setelan pakaian yang akan dipakainya nanti saat resepsi pernikahannya
dengan Ghaliza, Raja pun kembali ke kantor. Sedang Ghaliza harus terhambat masuk kantor karena ternyata urusan gaun pengantin itu tak sesimple yang ada di pikirannya. Ghaliza harus berkali-kali mencoba gaun pengantin sesuai permintaan mama mertuanya. Suci terlihat menahan tawa melihat Ghaliza dikerjai oleh besannya itu. Dan
akhirnya Ghaliza baru kembali ke kantor menjelang jam makan siang.
Semua karyawan di divisi keuangan nampak menatap khawatir kearah Ghaliza yang terlihat santai.
“ Ghaliza, dari mana aja Lo. Lo ga tau ya kalo Bu Rheina tuh marah-marah ngeliat Lo ga ada di meja Lo tadi...,” kata Anna cemas.
“ Bukannya Bu Rheina itu selalu marah sama Gue setiap saat. Jadi ga ngaruh kan Gue datang awal atau terlambat...,” sahut Ghaliza dengan wajah lelah.
Mendengar ucapan Ghaliza, Anna sedikit terkejut. Apalagi melihat wajah Ghaliza yang kelelahan seolah baru saja usai lari marathon ribuan kilo meter.
“ Kayanya Lo capek banget sih. Abis ngapain emangnya...?” tanya Anna curiga.
“ Abis gali sumur...,” sahut Ghaliza sambil menguap.
“ Ck, dasar error. Ditanya apa jawabnya apaan...,” gerutu Anna sambil berdecak sebal.
Mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya. Hingga jam makan siang pun tiba dan semua karyawan pun bergegas meinggalkan ruangan untuk menuju musholla dan kantin. Ghaliza pun bersiap meninggalkan mejanya. Namun suara Rheina menghentikannya dan membuatnya urung keluar dari ruangannya.
Kini Ghaliza ada di dalam ruangan Manager Keuangan dan tengah mendengarkan 'ocehan' Rheina. Berkali-kali Ghaliza menguap menahan kantuk akibat kelelahan ‘bertempur’ dengan suaminya semalam. Dan hal itu membuat
Rheina tersinggung dan makin marah.
“ Kamu dengar kan apa yang Saya bilang tadi Ghaliza...?!” tanya Rheina dengan nada suara tinggi.
“ Saya dengar, tapi Saya ga ngerti kenapa Ibu terus menekan Saya. Padahal Saya selalu menyelesaikan pekerjaan Saya tepat waktu. Dan Saya selalu patuh sama perintah Ibu yang sering nyuruh Saya lembur sendirian tanpa
gaji. Tapi kenapa Ibu ga puas sama yang Saya lakukan. Emang ada masalah pribadi apa Ibu dengan Saya...?!” tanya Ghaliza sambil menatap tajam kearah Rheina.
Rheina tersentak kaget mendapat tatapan dari Ghaliza sekaligus mendengar ucapan Ghaliza. Rheina sedikit gentar mendapat ‘perlawanan’ dari Ghaliza. Namun ego dan kesombongannya membuatnya merasa di atas angin.
“ Oh jadi Kamu berani melawan ya sekarang...?” tanya Rheina sambil tersenyum sinis.
“ Selama ini Saya bukan ga berani melawan, tapi Saya menghargai posisi Anda sebagai Manager di sini. Asal Anda tau, Saya sudah muak dengan sikap arogan Anda itu Ibu Rheina yang terhormat...!” kata Ghaliza sambil berdiri.
“ Bagus. Jadi sekarang Kamu berani menunjukkan sisi lainmu Ghaliza. Kamu tau kan apa resikonya kalo melawan atasan...?” tanya Rheina sambil mencibir.
“ Saya tau. Tapi Saya ga akan mundur. Saya ga salah. Dan Anda ga bisa memecat Saya seenaknya, karena Anda ga berhak memecat Saya... !” kata Ghaliza lantang.
“ Oh ya. Kamu tau kan hubungan Saya dengan Pak Raja. Jadi Saya bisa memecat Kamu kapan aja Saya mau Ghaliza...,” sahut Rheina bangga.
“ Saya ga takut. Silakan Anda melapor kepada atasan Anda itu. Saya akan bertanggung jawab dengan semua yang Saya lakukan. Harusnya Anda yang berhati-hati. Karena sikap arogan Anda ini sudah lama menjadi titik perhatian para karyawan dan Pak Raja...,” kata Ghaliza sambil tersenyum sinis lalu melangkah keluar dari ruangan Rheina.
“ Apa maksudmu Ghaliza. Kau tak bisa mengancamku. Hei, Ghaliza. Berhenti Kamu...!” panggil Rheina.
Ghaliza tak peduli dan terus melangkah menuju ke musholla untuk menunaikan sholat Dzuhur. Tanpa ia sadari, Arifin mendengar semua perdebatannya dengan Rheina tadi. Dan kini berita itu telah sampai di telinga Raja yang terlihat tersenyum puas.
Bersambung