"Ais, menikahlah denganku." pinta Arthur, berjongkok di depan wanita cantik yang dua bulan lalu telah dia renggut kesuciannya.
Ais Atsila, wanita berumur dua puluh tahun itu harus merelakan mahkotanya diambil oleh pria yang tidak dikenalnya waktu di kota tempat ia akan mendaftar kerja.
Arthur Wiliam Leonardo, pria berusia hampir berkepala tiga. CEO di perusahaan Alison Group milik ayahnya. Memilih rela meninggalkan segala kemewahan dunia, demi wanita bernama Ais, yang sekarang sedang mengandung anaknya hasil dari malam kelam dua bulan yang lalu.
Seakan dunia terbalik, Arthur yang biasanya berada di ruangan ber-Ac, setelah menikah dengan Ais, Arthur bekerja dibawah teriknya matahari. Belajar hidup sederhana di desa terpencil. Mulai dari makan sederhana, bekerja, dan masih banyak lagi.
"Ais, cara nyangkulnya gimana?" Arthur berteriak pada wanita yang duduk di gubuk sawah. Dirinya benar-benar tidak tahu cara mencangkul yang benar.
Yukkk baca. Jangan sampai terlambat lhoo. Yuk lihat keseruan Arthur dan Ais.
Hanya UP di Hari Tertentu. Karena harus bagi waktu. Makasih...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
Suara dering ponsel di dalam mobil membuat dua manusia beda jenis itu saling berpandangan. Setelah melewati hutan belantara yang disana tak dimungkinkan ada sinyal, akhirnya mereka bisa melewatinya selama kurang lebih setengah hari.
"Angkat!" perintah Mr. Xan saat melihat gadis cantik disebelahnya justru terus memandangnya, bukan malah segera mengangkat telepon.
Mau tak mau Alea menuturi perintah Mr. Xan. Walau didalam hatinya ada rasa malas. Karena dia sudah tahu, jika dia mengangkat telepon yang berasal dari mama, dipastikan puluhan pertanyaan akan terlontar padanya.
"Halo, ma?" dengan rasa malasnya, Alea memulai percakapan setelah telepon dia angkat.
"Kamu ada dimana sekarang, sayang? Seharian mama cari kamu."
Alea memejamkan matanya, menyenderkan kepalanya yang terasa berat. Dia juga bingung harus menjawab apa sekarang.
"Sayang, ayo jawab pertanyaan mama. Apa kamu sedang bersama kakakmu?" tebak mama.
"Tidak, ma. Aku sedang ada diluar bersama teman." jawab Alea bohong. Terpaksa. Dia tidak ingin kakaknya menjadi korban lagi, jika dia berkata jujur.
"Lalu, kenapa seharian ini ponselmu tidak aktif saat mama hubungi?"
Ck. Sudah Alea duga jika pertanyaan ini tidak akan pernah lupa untuk ditanyakan padanya. Mengingat seharian ini dia sama sekali tidak bermain ponsel. Takut GPS-nya akan dilacak. Dan hal itu akan berakibat buruk untuk kakaknya.
"Seharian aku ada di Villa kak Arthur, ma. Disana ngga ada sinyal, jadi ponsel aku ngga bisa dihubungi."
Mr. Xan menyimak pembicaraan adik bosnya itu. Namun dengan tetap fokus pada jalan raya.
"Ya udah, sekarang kamu pulang ke rumah. Ingat sayang, pulang sebelum papa pulang. Kalau tidak, kamu akan mendapat masalah besar." percakapan singkat itu akhirnya berakhir dengan sebuah peringatan.
Alea hanya dapat menghembuskan napas malas. Tidak ada pilihan lain selain dia pulang ke rumah sebelum papa-nya pulang lebih dulu.
"Kita pulang ke rumah." ucap Alea pada Mr. Xan dengan nada malas.
Mr. Xan menoleh, "Oke." Hanya itu yang dia balas untuk wanita cantik yang kini cemberut disampingnya. Setelahnya, dia kembali fokus menyetir.
Dua puluh menit berlalu dengan cepat. Roda empat itu berhenti sedikit jauh dari gerbang kediaman keluarga Wiliam. Dengan wajah datarnya, Mr. Xan mempersilakan adik bos-nya itu untuk segera masuk ke dalam rumah.
Hal itu memicu perdebatan singkat.
"Kenapa harus sampai sini? Kan masih jauh." ucap Alea saat tahu jika dia hanya diantar sampai depan gang perumahan.
"Apa kamu tidak melihat jika para bodyguard sedang berjaga disana? Apa yang akan terjadi jika mereka tahu kalau aku-lah yang mengantarmu?"
Pertanyaan itu membuat Alea semakin dibuat sebal. Baru kali ini dia menyesal menjadi holang kaya. Dijaga dengan sangat ketat seperti itu. Sampai-sampai dia harus berjalan kaki layaknya orang hilang dimalam hari seperti ini. Hal itu hanya demi keselamatan orang-orang terdekatnya.
"Huh, rasanya jadi anak holang kaya ngga asik ternyata." sembari membenarkan bajunya, Alea membuka pintu mobil.
"Hati-hati. Aku akan memantau dari sini." sebelum pintu tertutup, Mr. Xan mengucapkan beberapa kata agar Alea tidak berceloteh tak jelas lagi.
"Percuma. Tetap aja aku jadi orang hilang kaya gini." Alea tetap melangkah menuju rumahnya yang berjarak beberapa rumah dari gang perumahan.
Seperti yang diucapkan, Mr. Xan memantau Alea dari dalam mobil. Baru ketika Alea masuk melewati gerbang, dia baru pergi. Menghilang seperti biasa, menjalankan tugas utamanya sebagai agen rahasia.
Sedangkan Alea, dia dibuat terkejut dengan adanya wanita yang sangat tidak dia suka ada di rumah bersama dengan mama-nya. "Ngapain dia ada disini, ma?" tanya Alea pada sang mama yang tengah duduk di ruang tamu kediaman.
"Mama tahu kamu pergi itu dari Kirei, sayang." jawab sang mama, membuat Alea melirik tak suka pada Kirei, calon kakak yang gagal menjadi kakak iparnya itu.
"Jadi, sekarang dia jadi mata-matanya Alea? Gabut banget si. Kerjaan kan banyak, ma." semenjak Arthur diusir dari rumah, Alea menjadi orang yang berbeda. Dia kini lebih berani berkata pedas pada orang yang tidak disukainya. Seperti Kirei.
"Jaga ucapa kamu, Alea!" ucap mama ketika mendengar ucapan putri bungsunya itu.
"Emang benar kan? Dia itu gabut, ma. Lagian kenapa juga dia bisa tahu kalau aku pergi dari rumah. Disini dia juga punya mata-mata?"
"Cukup, Alea! Aku tahu kamu pergi dari rumah itu, karena kamu bolos sekolah." Kirei yang tidak tahan dengan ucapan Alea, memilih membalas.
"Ck." mendengar balasan Kirei, Alea hanya berdecak. "Banyak alasan." setelah itu, Alea segera pergi ke kamarnya. Tubuhnya sudah gerah, ditambah lagi melihat Kirei, rasanya seperti terbakar.
Kirei ingin mengatakan sesuatu, namun melihat sang mama dari pria yang dia cintai itu akhirnya memilih diam. Berusaha menjaga image.
"Udah, jangan diladeni ucapan Alea, ya. Dia kecapean, jadi ngga bisa ngontrol diri." ucap sang mama dengan lembut agar kobaran api tak semakin membesar hanya karena sebuah ucapan.
Kirei duduk dengan tenang, menghembuskan napasnya secara teratur agar tidak terlihat emosi. Senyum terbit saat dia berhasil tahu sesuatu. Dimana pria yang dia cintai itu tinggal setelah satu pesan masuk ke ponselnya.
Pesan itu berasal dari salah satu orang suruhannya. Bodyguard yang dia suruh menjadi sopir sebuah mobil yang disewakan untuk mengikuti GPS ponsel Alea. Walau itu hanya sampai area hutan yang menjadi pembatas antara kota dan desa yang Arthur tinggali. Tetapi, hal itu sudah menjadi petunjuk dimana Arthur tinggal.
"Sebentar ya, Albert sedang siap-siap." ucap sang mama pada Kirei.
Rencana kedua, akan segera dijalankan. Batin Kirei.
Tak berapa lama, Albert muncul. Dia memakai pakaian sederhana, kemeja dan celana hitam. Walau dengan pakaian sederhana seperti itu, damage-nya tetap tak pernah hilang. Selalu berhasil menjadi titik sorotan para wanita. Baik di Indonesia maupun Jepang.
"Hai." sapa Kirei, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hallo." balas Albert sembari menghampiri Kirei.
"Kami pergi dulu ya, ma." pamit Albert pada sang mama.
"Iya. Hati-hati. Jangan pulang terlalu larut." setelahnya itu, Albert menggandeng Kirei keluar dari rumah.
Malam itu mereka pergi ke suatu tempat yang dulu menjadi sejarah cerita cinta mereka. Sebuah tempat yang selalu menjadi candu bagi para pasangan baik remaja maupun tua. Apalagi dimalam hari yang terang dengan ditemani oleh taburan bintang dengan topping bulan sabit.
"Apakah belum ada yang bisa menggantikan aku dihatimu, kak?" tanya Kirei, mencoba mengorek informasi yang saat ini dia butuhkan. Dengan hal itulah, menjadikan Kirei tahu dimana titik kelemahan mantan pacarnya ini.
"Sudah banyak wanita yang mencoba mendekatiku. Tapi tetap saja, bayangan kamu selalu hadir." jawab Albert. Entah kenapa, saat ini dia menjadi sosok yang lemah ketika berhadapan dengan Kirei. Cinta pertamanya.
"Apakah kepulangan kakak ini karena aku?"
Mobil ditepikan, Albert kini menatap mantan pacarnya itu dengan intens. "Iya. Rasa tidak terima atas apa yang kamu dapatkan dari adikku yang berengsek itu membuatku harus pulang ke Indonesia setelah sekian lama."
Dalam hati, Kirei tersenyum puas. Titik yang dia cari sudah ketemu. Tinggal rencana selanjutnya. Rencana ketiga.
"Terima kasih, kak. Ternyata kakak tidak melupakanku selama ini. Walau aku sudah bersama dengan adikmu." Kirei memeluk Albert sebagai tanda terima kasih. Hal itu membuat Albert tak terkejut.
Tanpa Albert duga, dia kini justru harus mengikuti kata hati. Cinta lama ini bersemi kembali. Pelukan hangat itu dia balas. "Apakah kamu mau kembali ke pelukanku, Honey?"
*
*
*
Hai gaes, maaf ya baru bisa Up sekarang setelah berhar-hari ngga muncul. Semoga kedepannya bisa selalu Up terus. Supaya cerita ini bisa cepat selesai.
Makasih buat kalian semua yang udah setia nungguin cerita mba Ais dan mas Arthur. Khusus bab ini ngga ada ceritanya mba Ais dan mas Arthur ya. Karena, konflik sebenarnya akan dimulai. Pantau terus yaa gaes.
Mba Ais dan mas Arthur bakal hadir dibab selanjutnya. Makasih semuanyaaa. Jangan lupa dukung terus yaa sampai kisah mereka tamat lhoo. Like, koment, vote dan masukin keranjang. Semoga dengan dukungan ini bisa terus membuat Author tambah semangat dalam menulis yaa.
are you kidding?