Rosi seorang gadis yang nakal, peminum, perokok dan menyukai dunia malam. Tanpa sengaja menikahi seorang Duda pendiam, dialah sang Sugar Daddy langganannya untuk sebuah kencan palsu.
Duda pendiam ini tidak menyukai Rosi sedikitpun, dia hanya menginginkan Rosi selalu bersamanya dan membayar Rosi dengan uang yang sangat banyak. Rosi adalah anak SMA kelas 2 di suatu sekolah swasta di Kota. Kehidupannya yang berliku membawanya, menjadi wanita muda yang liar di gelapnya dunia malam.
Karena tuntutan dunia elit yang gila, dia terpaksa menjadi simpanan seorang Sugar Daddy yang pendiam dan selalu membayarnya dengan sangat memuaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Mustika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMSD-9 : Sisi Hangat Pria Dingin / Ikan Bakar Saus Cinta
#Pembaca setia, maaf atas ketidaknyamanannya setiap 2 eps novel author gabung karena max per eps harus 1000 kata, trims.🤗
#Plagiarisme tidak author benarkan, author akan menuntut orang yang mengklaim hasil karya author.
#Selamat membaca😍😘
Pagi pukul 5 Rosi mengulang pelajarannya yang sudah ia baca sedari siang kamarin. Dia berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan nilai 85 pada ujiannya pagi ini yaitu pukul 10 pagi.
David bangun dan melihat Rosi membaca dimeja belajar dengan serius. Ia tersenyum lalu kembali tertidur.
Pagi itu Rosi sudah bersiap saat guru home schoolingnya datang. Ia merasa lancar dalam menjawab soal-soal, Rosi mengerjakan soal lebih cepat dari biasanya, dia merasa lebih paham belajar ketika home schooling dari pada disekolah.
Dalam 1 hari Rosi mengerjakan 2 mata pelajaran ujian. Ujian Rosi berlangsung selama 7 hari, Rosi setiap hari belajar dengan giat. Dia mengabaikan David, dan makanannya pun diantarkan oleh mbak asisten kedalam kamarnya. David memandang takjub, setiap pulang kerja David membawakan Rosi jajanan kesukaannya, yaitu Susu dan keripik. Rosi menyuruh David meletakan jajan dibawah meja belajar. Rosi berusaha dengan keras, dan David melihat hal itu.
Ujian berakhir, Guru memberi Rosi libur selama 3 hari, sampai hasil ujian diumumkan. Seusai ujian Rosi jatuh sakit. David merawatnya dengan sabar, dan penuh cinta.**
Hari yang ditunggu tiba, pagi itu Guru home schooling Rosi datang membawa Rapor Rosi, Rosi yang hari itu masih sakit, tidak bisa menemui gurunya. Jadilah David yang memegang rapor Rosi, setelah menjelaskan beberapa hal guru tersebut pulang.
David pergi kekamar Rosi, dan mengatakan pada Rosi. Duduk diatas kasurnya lalu berkata kearah Rosi.
"Wahhh pejuang sudah gugur, rapornya gugur juga"
Rosi melihat kearah David
"Haaah masa?! aku sudah belajar sampai sakit begini hasilnya gak ada?! Sini lihat raporku tuan!" Rosi berusaha keluar daris selimut, dan meraih rapornya, tapi David menyembunyikannya dari Rosi dengan lihai
"Tidak bisa" kata David
"Aku tidak percaya nilainya rendah!"
"Untuk apa dilihat nilai begini" kata David lagi, ia terus berusaha menyembunyikan rapor dari Rosi.
Tiba-tiba**
Bruukkk, Rosi jatuh tepat diatas David. David memandang Rosi dalam. Melihat David lengah Rosi mengambil rapor nya dan terkejut dan diam beberapa waktu setelah melihat hasilnya, ia melihat kesemua nilai. Ia dapat nilai 85 hampir disemua mata pelajaran, hanya Agama dan Sejarah yang dirinya mendapatkan nilai 95, dan yang lebih mengejutkan Rosi mendapat peringkat 1 dikelasnya.
"Aaaaaaaa, Alhamdulillah terimaksih ya Allah"
Rosi berteriak, dan kembali kekasurnya, tidak pedulu seberapa pucat dan lemah tubuhnya ia tah henti-hentinya melihat dan berkata-kata tentang betapa sulit perjuangannya belajar.
"Selamat yaaa, ini hadiah dari gurumu tadi" David menyodorkan Plastik berisi kotak yang berat. Rosi langsung memfoto rapor dan kadonya. Senyum lebar menghiasi wajah Rosi. David melihatnya turut bahagia.**
Malamnya, Rosi membuka kado yang ia dapat. Ternyata berisi 3 pack buku, 1 kotak pena, 1 tempat pensil, dan 2 tip-x. Rosi sangat senang dan menyusun hadiahnya di meja belajar.
David yang baru selesai mandi dan memakai celana tidur serta piyama ikat melihat dari kasurnya. "Selamat ya, itu karena kau sudah berusaha keras Rosi" kata David
"Iya tuan, terimakasih tapi aku tidak berekpektasi dapat juara tuan. Aku hanya ingin nilainya saja hehe" gelak Rosi
"Kamu udah sembuh?"
"Sudah tuan"
"Wah-wah sepertinya guru lebih manjur dari pada obat ya"
"Ahahaha" Rosi tertawa, David tersenyum lalu berbaring sembari memainkan hpnya.
"Tuannnn!!!" teriak Rosi
"Haa" David melihat santai kearah Rosi
"2 permintaan saya bagaimana?!"
"Ya fikirkan saja, akan saya kabulkan semua insyaAllah kalau saya sanggup"
"Saya sudah memikirkannya, yang pertama saya ingin pergi memancing dan membawa banyak jajan, yang kedua saya ingin kartu saya dikembalikan." kata Rosi
"Yang pertama bisa saya kabulkan, yang kedua tidak bisa. Karena itu mengancam keselamatanmu, disana ada kontak Juna aku sejujurnya masih curiga dengan Juna kenapa dia disini, dan apa urusannya"
Rosi termenung, ia sedih tapi berusaha memaklumi karena pertama dia tidak menghiraukan kata-kata David lalu, ia diculik.**
Keesokan harinya, David libur kerja. Dan mereka bersiap untuk memancing. David sebelum berangkat membawa 2 pancing dan semua perlengkapan yang diperlukan kemudia ia dan Rosi berangkat dengan mobil biasa bukan sport. Ini adalah cara aman menurut David untuk membawa Rosi keluar rumah. Mereka menggunakan masker dan kacamata. Mampir disebuah mini market. Membeli semua jajanan, kesukaan mereka, lalu mereka pergi**
Tiba di kolam pemancingan David membawa semua perlengkapan meletakannya dibawah pohon rindang. Rosi duduk manis terima beres.😅 Rosi melihat kearah David, ia begitu cekatan. Walaupun anak orang kaya dan jarang keluar rumah David terlihat terampil dalam memancing dan menyiapkan semua yang diperlukan. Rosi memandang kearah David sembari duduk di kursi pendek yang dibawa David. David mengenakan celana taktikal pendek memakai kaos merah pendek dengan jaket hijau yang diikatkannya kepinggang, terlihat menarik perhatian semua yang berada dipemancingan. Badannya yang putih pucat, rambutnya yang coklat berkilat, serta bibirnya yang merah membuat siapapun disekitar pemancingan akan melirik kearahnya, David benar-benar pria tampan idaman wanita seusia Rosi.**
Setengah jam mereka menunggu tapi tidak satupun ikan yang mereka dapatkan. Rosi memakan jajanan mereka dengan lahap, David mencuri pandang sesekali pada Rosi. Rosi sangat cantik dengan trening pendek, kaos, cardigan pantai dan topi pantainya. Tubuhnya putih mulus terlihat bersinar memantulkan cahaya matahari didepan mereka.
Tiba-tiba, pancingan Rosi bergerak. Ia berteriak kegirangan lalu segera menariknya, terlihat seperti ikan mas yang lumayan besar. Rosi tidak kuat menahan tarikan ikan tersebut lalu David memegang tangannya membantu Rosi menarik pancing. Kemudian setelah berhasil menarik ikan kedarat, Rosi tidak berani melepaskan kail dari mulut ikan tersebut. David yang melakukannya untuk Rosi, Rosi melihat David seperti pria yang sangat dewasa dan hangat. Ia selalu membantu Rosi. Hati Rosi tersentuh, beberapa kali kail mereka bergantian dimakan ikan. Rosi sangat senang mereka mendapatkan 2 ember penuh ikan.
Rasa hangat mengaliri hatinya. David dan Rosi beberapa kali bersenda gurau, tersenyum dan tertawa. Beberapa pemancing lain yang melihat mereka tersenyum dan memaklumi mereka karena David mengenalkan Rosi sebagai istrinya, dan baru 2 minggu menikah.**
...Ikan Bakar Saus Cinta...
David dan Rosi pulang membawa hasil pancingan mereka, Rosi mengatakan akan membakar ikan tersebut, tapi David meragukan kemampuan Rosi. Sepulang mereka dari pemancingan Rosi memasak dibantu oleh Mbak asisten rumah David, dan David mandi.
"Nya, biar saya bersihkan ikannya"
"Iya mbak bantu saya ya, saya mau siapkan bumbunya" Terlihat kesibukan di dapur mereka, Rosi dengan cekatan membumbui ikan dan membakarnya di pemanggang. Beberapa waktu kemudian, harum ikan bakar semerbak memenuhi ruangan.
"Mbak tolong ya teruskan, nanti kalau sudah matang dan juicy berminyak gitu angkat ya, saya mau mandi dulu" Jelas Rosi pada Mbak asisten. Mbak mengangguk paham.
David terlihat duduk diatas kasurnya memeriksa beberapa berkas.
"Tuan tunggu bentar ya aku mandi dulu." Kata Rosi pada David. "Ya" Sahut David. Beberapa saat kemudian Rosi keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk. Bau badannya yang menyegarkan mengganggu fokus David. David melirik kearah Rosi. Rosi membuka lemarinya dan mengambil piyamanya. Kemudian kembali ke kamar mandi. David memandang Rosi tak berkedip. Kemudian ia sadar, menggelengkan kepalanya lalu kembali sibuk dnegan berkasnya.
Rosi selesai mandi, dan mengajak David makan. David dan Rosi turun, ternyata semua makanan telah selesai dihidangkan mbak diatas meja. Rosi tersenyum puas, David melihat kearah Rosi
"Siapa nih yang masak? kamu atau mbak?"
"Aku dong sayang" sahut Rosi
"Iya tuan, nyonya yang masak tuan, saya cuma bantu membersihkan ikan dan menghidangkan tuan"
"Ohhh kukira mbak haha" Kata David menggoda.**
David sangat menyukai ikan bakar madu masakan Rosi, ia makan dengan lahap hingga beberapa kali menambah. Rosi sangat senang David memakan masakan dengan lahap.
"Wah pintar sekali kamu masaknya" Puji David pada Rosi. "Ahh tidak tuan, masakan ini siapa pun bisa masak" ujar Rosi merendah.**
Selesai makan David bertanya,
"Apa permintaanmu yang kedua Rosi?"
"Belum kepikiran tuan, mungkin besok-besok saja"
David tersenyum, sembari mengupas apel dimeja.
Rosi memerhatikan David lalu bertanya.
"Tuan, saya kenapa saya tidak boleh keluar?"
"Boleh, tapi harus bersama saya. Sekarang begini posisinya, diluar sana ada pesaing bisnis yang ingin perusahaan saya hancur. Mereka selalu mengikuti item yang kami keluarkan, mereka berusaha untuk saya menjual perusahaan ini pada mereka. Mereka cari kelemahan saya. Yang pertama, mereka membunuh abang saya, dan tahu ayah saya sudah tidak aktif lagi. Mereka berusaha mencari kelemahan saya, mereka tahu saya masih hidup, mereka sebarkan rumor kalau saya homo seksual. Maka saya menikah, setelah saya menikah mereka berusaha menyandera kamu supaya saya menjual perusahaan ini." Papar David
"Begitu tuan, apakah ada cara lain agar saya. Bisa terlepas dari semua ini?"
"Ada" jawab David singkat
"Apa itu tuan?" tanya Rosi penasaran
"Saya belum bisa mengatakannya sekarang, tidak akan lama lagi semua akan berakhir kami sudah menyusun rencana. Kamu bisa kembali kekehidupanmu, saya kembali ke Amerika, dan permasalahan selesai. Saya hanya ingin kamu membantu saya untuk tidak kemana-mana itu saja. Kalaupun mau kemana akan saya antar"
Rosi diam dan mengangguk. Sungguh hati Rosi mulai bimbang untuk memilih antara Juna dan David. Karena baginya David tidak pernah berbohong dan selalu ada untuknya.**
Di kamar, Rosi menikmati betul hari libur panjangnya setelah ujian akhir semester. Ia melakukan semua yang dia suka. Menonton kartun, memutar musik, dan lainnya. Rosi bersyukur karena David tidak mempermasalahkan semua yang ia inginkan. David berbaring di kasurnya sembari membaca buku. Rosi tahu David memiliki ruang kerja tapi lebih banyak melakukan aktivitas kerja di kasur karena Rosi mengamati gerak-gerik David setiap hari.
Rosi, dan David tidak mempermasalahkan kegiatan satu sama lain mereka seperti teman satu kamar yang sangat akur. Terkadang Rosi heran, David terlihat sama sekali tidak memiliki nafsu akan perempuan. Jangan-jangannnn... Terka Rosi dalam hati sembari mengamati David.
Tanpa melirik David tahu kalau Rosi mengamatinya karena kasur mereka hanya berjarak 2 meter. "Saya bukan seperti yang kamu fikirkan" kata David sambil terus membaca dan menulis sesuatu. Rosi terkejut, ia lupa kalau David bisa membaca isi hatinya. Rosi pura-pura sibuk membaca artikel di hpnya keras-keras.
Kemudian David melanjutkan kalimatnya yang terputus "Saya normal sebagai laki-laki, saya punya nafsu, dan saya bisa melakukan hal yang tidak kamu harapkan" kata David sembari memandang Rosi, dan menurunkan kacamata anti radiasinya. "Maaf tuan" kata Rosi gugup.
David menyusun buku dan kertas diatas kasurnya, meletakan di meja dan menghampiri Rosi.
"Kamu ingin saya?"
"Apa tuan?" tanya Rosi sambil menunduk.
"Mematikan lampu" Kata David, 'Tap' tombol Lampu disamping tempat tidur Rosi.
"Hmm" Jawab Rosi grogi
"Kamu kira apa? jangan berfikiran negatif dengan saya. Saya orangnya menepati janji."
Rosi diam kemudian berbaring, dan menutup wajahnya dengan selimut.**
(BERSAMBUNG)