Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Penuh Kelicikan
🕊
Malam menyapa dengan dingin angin yang cukup meremas tulang. Vivi masih asik bersanda gurau dengan sang mama di ruang tengah, maklum saja, semenjak menikah Vivi belum bertemu Amira sama sekali, alasanya karena kandungan lemah dan Bian yang terlalu sibuk bekerja, terlebih lagi saat Amira tiba di rumah mereka, Vivi memang baru saja pulang dari rumah sakit, hal itu tentu membuat Amira yakin bahwa Vivi mamang tak bisa kemana-mana karena kandunganya.
Sementara Bian di kamar, tengah mondar mandir bak setrika yang tengah panas luar biasa. Wajah merah dan sesekali meremas-remas tanganya sendiri, hal itu karena dirinya sudah tak sabar menunggu Vivi untuk masuk kedalam kamarnya. Entah apa yang tengah di gelisahkan pria tampan tersebut, yang pasti saat ini dirinya tengah emosi tingkat tinggi.
🕊
Jam menunjukan pukul 10 malam lewat. Pelan-pelan Vivi masuk kedalam kamar dan memastikan Bian sudah tertidur.
Eheeemmmmmp.
Bian menarik tangan Vivi lalu menutup mulut istrinya ketika akan berteriak.
"Diam, atau kau akan ku jambak," ancamnya.
"Kau kenapa belum tidur? dan kenapa kau menarik tanganku?" Vivi menatap kesal sang suami.
"Aku sedang kesal. Apa maksudmu tadi menanyakan keberadaan Rendra? apa kau merindukanya?" Bian menatap lekat wajah Vivi yang bersembunyi di balik matanya yang terpejam.
"Ehh kenapa? apa kau cemburu?"
"Haaah sial, apa maksudmu, hah?!"
Bian kini memegang kuat kedua pergelangan tangan Vivi, membuat wanita cantik itu tak mampu berkutik sama sekali.
"Ka_kau cemburukan?" tanya Vivi lagi dengan segenap keberanianya.
"Haaaaah. Kau benar-benar menguji kesabaranku!" Amarahnya mulai tak terkendali.
"Lalu kau mau apa? menyiksaku?" tantang Vivi yang membuat Bian makin kesal.
"Wanita ini rupanya sudah berani menantangku? apa karena ada mamanya di sini jadi dia seberani ini," gumam Bian dalam hati.
Vivi mencoba berontak dan melepaskan diri dari dekapan Bian. Namun apa daya, pria tampan tanpa senyuman itu kian erat mendekap tubuhnya.
"Akan ku beri pelajaran kecil kau malam ini," bisik Bian lirih.
Hal itu tentu membuat Vivi bergidik ngeri, tak terbayang olahnya, apa yang akan Bian lakukan malam ini padanya.
Ck. Haaaap. Eeeehhhm....
Bian mengecup kasar bibir sang istri membuat Vivi terdiam. Tangan Bian mencengkram erat tangan wanita yang kini ada di hadapanya membuat Vivi semakin tak berdaya.
Eeeèmmmmmm...
Semakin kuat Vivi berontak semakin kuat kecupan demi kecupan Bian daratkan.
"Bukankah kau kemarin mengatakan padaku, kau tak akan menyentuhku sampai aku melahirkan," Vivi mengingatkan.
"Haaaaaah.....!"
Pria tampan itu menatap nanar wajah sang istri, yang dengan lantang mengingatkan janjinya sendiri.
"Kurangajar, eeehhhhh...!!" Bian kian erat mendekap tùbuh Vivi.
"Lepaskan aku. Atau aku akan berteriak dan mama akan mendengarnya," Vivi mengancam.
"Oohhhhh lakukanlah, dan aku juga akan menceritakan padanya, bahwa selama kita menikah aku belum perah menyentuh kehormatanmu."
Vivi terdiam.
"Dan aku juga akan mengatakan, bahwa anak yang kini kau kandung itu bukan anakku, maka beliau akan tau betapa bobrok anak gadis yang sangat di cintainya. Sebab dengan segala kebodohanya wanita yang kini menjadi istriku ini, telah suka rela menyerahkan kèhormatanya kepada laki-laki yang tadi mengantaranya kesini," ucap Bian lagi.
Wajah Vivi menjadi pucat. Terbayang di benaknya jika hal buruk akan terjadi pada sang mama, jika sampai Amira mengetahui bahwa Vivi telah melakukan hal yang cukup memalukan.
"Heeem, apa kau masih mau berteriak?" ejek Bian lagi melihat wajah Vivi pucat pasi.
"Katakanlah. Mama tak akan percaya karena kau tak punya bukti, bahwa aku melakukan kebodohan itu," Vivi membuka suara lagi.
"Wow, wow, wow... Istriku kini sudah pandai berkilah dan memutar balikan fakta ya," ujar Bian kemudian.
"Heeem, tentu...!" jawabnya datar seraya menahan sakit yang kini Bian tinggalkan akibat cengkraman yang cukup kuat.
"Baiklah, kalau bagitu aku akan menunjukan CCTV hotel dimana kau dan Rendra melakukanya, dan kini Video itu ada di tanganku," ucap Bian dengan sombongnya.
"Haaaaaah... Kau...! apa mungkin kau benar-benar memilki videonya?" Vivi tak yakin.
"Oke, mari kita putar di hadapan Nyonya Amira!" Bian turun dari ranjang dan segera meraih ponsel miliknya.
"Aaaahh, Bian.. Bian, tolong jangan lakukan! Maafkan aku karena membantahmu," pinta Vivi sendu.
Bian tersenyum bahagia, karena Vivi menyerah juga malam ini. Padahal dalam hati pria tampan itu tertawa geli.
"Mana mungkin aku memiliki Video gila itu, mana mungkin aku menyimpan luka dalam hidupku, lagi pula setiap hotel pasti melindungi privasi setiap pengunjungnya. Dasar bodoh, mau saja kau ku tipu," ujar Bian dalam hati dengan senyum penuh kelicikan.
.
.
.
.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨