Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Akrab bersama.
"Perhatian ini wajar Abang berikan. Abang khan suamimu. Apa salah suami dan keluarga memberimu perhatian?" tanya Bang Ghara.
"Nada hanya baru mendapatkannya sekarang" jawab Nada pelan sekali.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Bang Ghara. Nada masih saja menangis di pelukannya.
"Apa ini ada hubungannya dengan bekas luka di punggung dan pahamu??" ucapnya melirihkan suara.
Nada mengangguk kecil yang membenarkan semua pertanyaan itu.
"Tidak akan ada lagi orang yang akan menyakitimu. Siapa berani sentuh istri Abang? Biar Abang habisi semua" ucap Bang Rinto tanpa ampun.
"Apa orang itu Bianca?"
Nada diam saja tapi dari raut wajahnya jelas menunjukan kalau itu semua memang ulah wanita siluman itu.
"Sayang.. biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Dulu kamu menghadapinya sendirian, sekarang kita hadapi semua bersama-sama. Siapapun itu tidak akan mama biarkan menyentuh kamu lagi. Biar papa ikut turun tangan kalau ada yang mengganggumu" kata Mama Dira.
"Ayo makan lagi dek..!!" kata Bang Ghara.
Nada begitu bahagia berada di tengah mereka. Senyum mengembang sempurna.
***
Frans menghubungi Wildan agar bisa membantunya mengurus berkas pernikahan padahal rencana ini belum juga tersampaikan pada Papa Arben.
"Dek.. selesai cuti.. kamu ikut Abang ke Batalyon ya. Kita pengajuan nikah" ajak Bang Frans.
"Tisa masih kuliah Bang. Nggak mungkin lah Tisa tinggal. Lagipula apa Abang sudah yakin memilih Tisa??" tanya Tisa pada ulah Bang Frans.
"Bagi prajurit seperti Abang, hanya mengandalkan kepekaan hati. Memilih, menunjuk, dan menetapkan target. Bukan jamannya lagi Abang bermain-main dengan namanya wanita. Abang bisa memilih, kamu berhak menolak. Jika kamu tidak yakin.. tidak masalah dek. Tapi Abang masih berharap bisa memantapkan diri" ucap Bang Frans sambil menghisap rokoknya.
"Kalau kamu siap.. usai cuti kita pengajuan nikah. Tapi kalau kamu tidak siap.. berarti kita memang hanya sebatas adik dan kakak saja"
Tisa menoleh terkejut menatap pria di sampingnya. Pria yang biasanya selengekan bisa berkata seperti itu.
Papa Arben tersenyum mendengar setiap ucapan Frans. Ia pun segera kembali ke dalam kamar.
-_-_-_-
"Ijin Dan.. Jika berkenan, boleh saya bicara"
Bang Ghara jadi menoleh mendengar Frans berbicara formal pada Papanya.
"Ya.. bawalah Tisa ke Batalyon, tapi dengan konsekuensi yang harus kamu pahami. Tisa masih kuliah"
"Siap.. Terima kasih banyak Komandan"
"Apaaaaaa????? Ke Batalyon???" tanya Ghara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Eehh.. Abang ipar. Dosa lho menghalangi niat ingsun mau ibadah" celetuk Frans.
"Oke.. selama disana. Kalau nggak soal urusan pengajuan. Lu di larang keras dekat sama Tisa" ucap tegas Bang Ghara.
"Interupsi Bang ipar, kalau gue nggak dekat sama Tisa gimana gue bisa dapat chemistry ???" tanya Frans.
"Halah... belaga. Butuh chemistry macam apa sih lu??" memikirkan Frans dekat dengan Frans saja sudah membuat Ghara geram tapi jujur ia sangat yakin Tisa tidak akan tersia-sia jika berjodoh dengan Frans karena Ghara paham betul siapa Frans.
...
"Dek.. ikut Abang jalan yuk..!!" ajak Frans di suatu sore. Saat itu Frans sedang menjemur pakaian dalamnya di gantungan burung perkutut milik papa Arben. Tisa yang sedang mengantarkan kopi buatannya untuk Bang Frans menjadi salah tingkah karena malu.
"Heehh cablak.. kira-kira donk. ada anak gadis masa lu suruh lihat kantong pusaka punya lu. Tisa bisa gumoh mendadak Frans. Apalagi Nada yang lihat, bisa rabun juga dia nanti" gerutu Bang Ghara sambil menurunkan 'barang' milik Frans yang sudah menjulang tinggi berjajar rapi.
"Waahh.. sumpah lu nggak ngerti seni" kata Frans biasa saja saat Ghara memunguti barangnya.
"Lagian. Ini gantungan burung kesayangan papa. Kenapa di pakai buat gantung begituan sih Frans??????" Bang Ghara tak habis pikir dengan tingkah Frans.
"Lu jangan berlebihan ya. Burung bisa gantian. Kalau ini penutup pusaka. Lebih penting" jawab Frans.
"Halah.. jeroan gambar kera sakti aja lu pusingin"
Tisa dan Nada duduk melipat kedua tangan di depan dada melihat kedua pria yang terus berdebat mengalahkan ibu kompleks yang sedang ghibah.
"Apa tidak ada hal lain yang bisa Abang ributkan????" tegur Nada pada Bang Ghara.
"Eheemm..!!" Bang Ghara berdehem berubah sok cool di hadapan Nada.
"Tisa.. kenapa kamu bikin kopi hanya satu. Buat Abang mana??" tanya Bang Ghara mengalihkan perhatian.
Tisa segera beranjak ke dapur rumah membuatkan Abang Ghara secangkir kopi.
"Ya jelas lah Tisa cuma buatin gue, gue khan calon lakinya" ucap Frans dengan percaya diri.
"Sampai lu jadi nikah sama Tisa, malam pertama lu gue kasih granat" ancam Bang Ghara dengan kesal.
"Abaaanngg.. sudah donk ributnya. Kalian jangan sama-sama lah. Sudah seperti tikus sama kucing aja" tegur Nada yang mulai punya sifat murka.
Bang Ghara diam saja bagai cicak di sentil mendengar omelan sang istri. Frans tertawa licik penuh kemenangan saat tau kelemahan Ghara saat ini ada pada Nada padahal dulu Ghara sama sekali tidak seperti ini saat masih bersama Bianca.
"Hahaha.. ternyata segagah apapun lu hanya bisa takluk sama Nada seorang. Lain kali kalau gue merasa tertindas 'gara-gara Ghara' pasti gue samperin bini lu buat minta tolong" Frans tertawa terbahak dengan bangga membuat Bang Ghara ingin menepak bibir musuhnya itu.
***
Sore ini Ghara mengajak Nada ke acara reuni SMA nya. Sudah lebih dari setengah jam Ghara menunggu Nada tapi istrinya itu belum keluar juga dari kamar.
"Kenapa setiap mau kemana-mana selalu ada acara pria terlantar sepertiku???" gerutu Ghara sambil bolak balik melihat jam tangannya.
Tak lama Nada keluar dari paviliun menuju taman dan berdiri di hadapan Bang Ghara.
"Ayo Bang. Terlalu lama ya??" tanya Nada.
Bang Ghara masih ternganga melihat gaya Nada yang ternyata begitu anggun membuat pikirannya berkelana kemana-mana.
"Nggak.. baru juga jam segini" jawab Bang Ghara mantap. Bang Ghara lalu berdiri dan mengarahkan tangan Nada agar mengapit lengannya.
"Ayo ratuku.. kita jalan..!!" ajak Bang Ghara dengan bangga.
-_-_-_-
Suasana reuni di restoran mewah itu lumayan megah. Bang Ghara pun mulai bertemu dengan teman-teman masa putih abu-abu nya dulu.
"Ghara..!!!" panggil Yusuf saat melihat Ghara menggandeng istrinya.
"Hai broo.. Apa kabar" Bang Ghara bersalaman dengan Yusuf.
"Baik.. sob"
"Waahh.. bawa istri kesini. Nggak bisa tebar pesona sama Nia lagi donk..!!" ledek Yusuf.
Seketika Nada melirik Bang Ghara dengan tatapan mematikan.
Bang Ghara refleks tersenyum penuh salah tingkah dan rasa bersalah.
.
.
.