Naya dan Brama terjebak dalam perjodohan, mau menikahi Naya hanya karena sebuah perjanjian.
Brama : "Aku tidak mengijinkanmu untuk menyukaiku, karena itulah aku menikahimu."
Naya : "Tapi aku sudah menyukaimu."
Brama : " Hapuslah!"
AKU TIDAK MUNGKIN MENYUKAI BOCAH SMA SEPERTIMU, SUNGGUH BUKAN TIPEKU. - Brama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpindah Tempat
Mereka langsung menuju ke ruang makan, menyambut Herman dengan perasaan senang. Meski kenyataannya tidak.
Naya duduk bersebelahan dengan Brama, bahkan dirinya dengan sigap mengambilkan beberapa menu untuk ia taruh diatas piring untuk suaminya dan juga mertuanya itu.
Naya dan Brama tampak sangat canggung juga merasa terganggu, dan Herman sangat tahu itu. Ia kemudian terbesit untuk mengompori keduanya, sejago apa akting mereka berdua.
"Apa kalian sedang marahan? Kenapa berjauhan sekali?" tanya Herman dengan sengaja.
Sontak Naya dan Brama tertawa canggung. "Enggak kok, pa." menarik pinggang Naya agar menempel padanya. "Lihat! Kita bahkan lengket seperti ini setiap hari kok, iya kan sayang?" melotot pada Naya.
"Ha ha, iya pa." Naya mengalungkan lengannya dileher Brama, mengabaikan makanannya. "Kita selalu mesra seperti ini."
Herman menahan tawa, lalu mengerut kening. "Kalau kalian selalu seperti ini setiap makan, bagaimana bisa kalian tumbuh sehat dan bisa memberiku cucu?"
Seketika Naya dan Brama melepas pelukan mereka. "Ah, papa gak perlu khawatir! Bram selalu menjamin kesehatan istri Bram dengan baik." menyendok nasi dan lauk lalu ia suapkan pada istrinya. "Makan yang banyak ya sayang." ucapnya sembari melotot, dengan nada selembut mungkin.
Bahkan mulut Naya jadi penuh tapi Brama tak memberi jeda untuk selalu menyuapinya, hingga membuat Naya kesal dan dengan sengaja Naya menginjak kaki Brama dengan keras.
"Akh." pekik Brama, merasa sakit pada kakinya. Tapi segera ia tutupi dengan tawanya yang dibuat-buat. "Mau mati ya!" gumamnya melotot.
Naya pun tak kalah, ia balas melotot kali ini. "Apa, hah?" gumamnya.
Lalu mereka menoleh lagi pada Herman, dan pura-pura tertawa senang. "Ha ha ha."
Herman hanya bisa menggelengkan kepala pada kelakuan mereka berdua.
****
"Kalau begitu, papa langsung pergi ke kamar mau tidur." ucap Herman beranjak dari duduknya. "Tentu kalian juga harus segera tidur, kan? Naya besok harus sekolah."
"Iya pa, kita juga akan ke kamar untuk tidur kok." sahut Brama, merangkul istrinya sembari memberi senyum lebarnya yang dibuat-buat.
"Ya sudah! Kalian cepat ke kamar! Selamat malam." pintanya sebelum berbalik pergi.
"Malam." sahut mereka bersamaan.
Dan merekapun langsung masuk ke dalam kamar dan memulai pertengkaran.
"Heh bocah! Mau mati ya! Kenapa tadi kamu menginjakku, hah?" tanyanya melotot, mencondongkan tubuhnya hingga Naya memundurkan badannya.
Naya terdiam sejenak, mencari alasan untuk ia jawab. Dan akhirnya Naya menggerakkan jemarinya mencekik lehernya sendiri. "Tadi mas Bram menyuapi Naya tanpa memberi Naya waktu untuk bernafas, kalau Naya tersedak dan tiba-tiba mati, gimana?"
Brama menjitak kepalanya, hingga gadis itu mengaduh kesakitan. "Dasar! Pandai sekali ya mencari alasan." geramnya. "Awas kamu melakukan itu sekali lagi! Ku buang kamu ke tengah hutan biar menjadi makanan binatang buas."
"Jangan dong!" rengeknya, memohon.
Brama jadi tersenyum penuh kemenangan, melemparkan badannya diatas kasur. "Oke, aku maafkan kali ini." melemparkan bantal pada Naya. "Tidur disofa!"
"Ah, iya baiklah. Terimakasih." sahutnya menurut.
Naya menaruh bantal diatas sofa, lalu menguap dan segera membaringkan tubunya disana. "Ini lebih baik." gumamnya, memiringkan badan untuk segera tidur.
Sedangkan Brama masih membolak-balikkan badannya, tidak bisa tidur.
"Hei bocah, kamu sudah tidur?" tanya Brama seraya berbisik.
Tapi ia tak mendapat jawaban, hingga ia beranjak berdiri melangkah mendekati Naya yang tengah tertidur begitu lelapnya dengan memeluk dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa kamu tertidur begitu cepat seperti ini?" ucapnya tersenyum, memandangi wajah gadis cantik didepannya. "Kamu pasti kedinginan."
Segera Brama mengangkat Naya, membaringkan tubuh istrinya diatas kasur. Sedangkan dirinya mengalah, tidur diatas sofa.
Lama-lama mata Bramapun tak kuat, ia memejamkan mata tapi semakin pagi maka udara juga semakin dingin hingga ia membolak-balikkan tubuhnya yang kedinginan.
Lalu ia tanpa sadar beranjak berdiri dan tidur diatas ranjangnya, kemudian memeluk Naya sebagai bantal guling kehangatannya.
"Ah, hangatnya." gumamnya tersenyum, masih menutup matanya.
Mereka saling tidur diatas kasur dan selimut yang sama tanpa disadari, sampai pagi pun tiba.
Dengan berat Naya membuka mata, samar-samar ia langsung dihadiahi pemandangan wajah pemuda yang disukainya.
"Aaaaaa." sontak Naya berteriak kaget, refleks menendang tubuh pemuda itu hingga ia jatuh terpakar ke lantai.
"Aww." Brama mengaduh kesakitan. "Kamu apa-apaan, sih?" teriaknya, kesal.
"Mas yang apa-apaan, bagaimana bisa mas Bram tidur disini?" tanyanya menuduh, memeluk selimut.
Brama langsung melebarkan pandangannya, sendirinya tidak sadar kalau berpindah tempat tidur tapi ia tak kehilangan akalnya untuk melawan.
Seketika ia beranjak berdiri dengan angkuhnya. "Hei! Seharusnya aku bertanya seperti itu padamu. Bagaimana bisa kamu malah tidur diatas kasurku, hah?"
Naya kaget. "Eh! Iya." menggaruk tengkuknya, merasa canggung. "Maaf! Naya gak sadar." tersenyum kecut.
Brama mendekatkan diri, mencondongkan tubuhnya hingga tubuh Naya mundur kebelakang. "Atau kamu sedang berpura-pura tidak sadar untuk menggodaku, kan?" godanya, dengan nada dibuat-buat.
Naya jadi gugup. "Eng... enggak kok." langsung menggulingkan diri dan beranjak berdiri. "Maaf." ucapnya lalu buru-buru masuk ke kamar mandi.
Brama jadi tertawa senang mengerjainya. "Ha ha, wajahnya kenapa bisa jadi merah seperti itu ha ha. Lucu sekali."
****
Kamsamida :*