Tak lebih indah dari intan permata
Mengurai ketulusan persemaian jiwa
Bukan dahaga pengemis duka
Bukan lara pelerai luka
Ikatan yang tak pernah berdiri
Diatas panggung perintih hati
Meski harus menari
Diatas duri-duri yang berbisik lirih
Demi ikatan yang berarti abadi
Sampai mata ini tertutup rapi
Dihadapan sang Ilahi.
***
Nadya Syafina (Nadin) harus rela dicabut uang bulanan nya oleh ayahnya. Setelah menolak dijodohkan dengan anak rekan bisnis ayahnya yang ternyata adalah mantan pacar Nadin.
Tanggung jawab terhadap Bunda nya yang sedang sakit dan adik kesayangannya memaksanya bekerja di sebuah kantin perusahaan.
Bagaimana Jika Bos perusahaan itu adalah musuh bebuyutannya dan seorang yang diam-diam mengaguminya dimasa lalu?
Bagaimana juga jika mantannya masih mengejarnya dan mengharapkannya kembali?
Lalu siapa yang akan dipilih Nadin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nasya kamila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pria Sinting
***Nada-nada hujan
Seolah membawaku terbang
Ku kepakan sayap-sayap cinta
Yang terbuat dari benang sutra
Aku ditemani
Malaikat-malaikat penjaga hati
Aku pergi untuk mencari
Alasan kebisuanmu kasih
Aku mencari di balik hutan tebal
Aku mencari disetiap butir hujan
Aku terus mencari
Meski sayap-sayap ini telah letih
Aku terus mencari
Meski dengan kepedihan hati
Dan aku tak kan berhenti
Meski nafas ini akan terhenti***
****
Aku berusaha melupakan rasa maluku, udah kepalang tanggung. Toh yang aku minta bungkus, makanan ku sendiri dan emang udah di bayar juga bukan.
"Gak usah ngetawain gitu, aku emang gak pernah makan makanan kayak gitu dan rasanya emang enak banget. Aku cuma mau bunda dan adikku dirumah ngerasain makanan yang tadi ku makan. Toh udah di bayar juga kan. Mubadzir entar kalau di buang" Belaku. Seketika tawa Titan berhenti dan memandangku lekat seolah ingin menguliti ku.
"Kamu gak pernah berubah Nad" Ucapnya kemudian sementara kini gantian aku yang memandangnya heran.
Emang dia tau kelakuanku dulu apa. Sampai-sampai dia bilang aku gak berubah. Eh jangan-jangan dulu Titan diam-diam merhatiin aku lagi. Sadar Nadine? Sadar. Bisa-bisanya kamu berfikir seperti itu.
"Aku suka sikapmu yang tidak pernah jaim di depan semua orang. Selalu apa ada nya seperti dulu"
"Kamu juga apa adanya, sampai-sampai kamu laporin aku nyontek kan" Titan terkekeh lagi
"Aku fikir aku hanya tidak suka dengan kecurangan. Lagi pula saat itu kita masih anak-anak kan dan sepertinya kita juga sudah impas setelah apa yang kamu lakukan padaku? "Balasnya
"Ceh" Desis ku membuat Titan semakin terkekeh saja.
"Kenapa???Atau jangan-jangan kamu masih menyimpan dendam padaku hemmm?"
"Kalau aku bilang iya, emang kamu mau apa?"
"Ehm" Titan nampak berfikir
"Kamu boleh balas aku sesukamu, mumpung aku berbaik hati menyerahkan diri untukmu" Ucapnya percaya diri dan sedikit menggoda.
"Kamu makin menyebalkan tan? " Ucapku kemudian. Lagi-lagi Titan hanya terkekeh karena aku terpancing.
"Kan kamu sendiri yang bilang masih dendam sama aku?Dari pada kamu hantuin aku nantinya "
"Eh.enak aja bilang aku hantu.Kamu mau aku cepat out apa? Lagian bukan aku yang bilang ya?Aku juga cuma bilang kalau iya doang. Udah ah kita langsung ke tujuan kita kesini, tangan aku udah pegel ini mangku, in Devan dari tadi"
"Oh maaf...biar aku yang gantiin kamu dulu" Seketika Titan mendekat ke arah ku hendak mengambil Devan. Namun bocah kecil itu semakin merangsek ke arah ku dan semakin erat memelukku.
"Kayaknya gak usah deh tan? Devan biar di aku aja"
"Jangan, kamu bener. Pasti capek banget ya? "
Titan masih berusaha mengambil Devan tapi tetap saja Devan sulit untuk diambil. Melihat Titan yang hampir tak berjarak terhadap ku jadi ngerasa aneh dan sedikit canggung.Suer lama-lama aku ngerasa jadi gugup banget.Masalahnya Titan berasa meluk-meluk aku gitu.Merinding......
"Eh beneran tan gak apa-apa deh? Dari pada entar Devan bangun. Malah jadi repot kan? " Titan menghentikan langkahnya mengambil Devan dariku.
"Selamat... selamat... " Batinku berdoa. Bisa-bisa lepas jantungku kalau deket-deket Titan terus. Eh... kok bisa sih aku jadi se gugup ini.
"Maaf banget ya Nad, Aku dan Devan selalu ngerepotin kamu" Kini Titan perlahan sudah kembali ke tempatnya.
"Gak apa-apa sih tan? hanya saja,jujur aku gak bisa terus-terusan kayak gini. Aku punya kerjaan dan aku juga butuh privasi,kalau Devan selalu ngintilin aku kasihan juga dianya. Kamu lihat sendiri kan,Devan pasti kecapean ngikutin aku seharian ini sampai dia tidurnya lelap gini"
"Gimana kalau kamu jadi pengasuh Devan aja, itu juga pekerjaan bukan? Aku akan gaji dua kali lipat dari gajimu yang sekarang"
Aku memikirkan tawaran yang diberikan Titan, agak menggiurkan memang, karena aku sangat membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatan bunda. Akhir-akhir ini batuk bunda semakin parah saja bahkan sering aku lihat bunda memegangi perutnya karena kesakitan. Sementara kami tidak punya cukup uang untuk memeriksakan keadaan bunda secara menyeluruh.Gajiku yang sekarang hanya cukup untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari dan sekolah Jeje saja. Tapi kalau aku menerima nya, itu artinya aku harus bertemu Titan terus dan juga mama Sonia.
Ya ampun....
Aku baru ingat, kalau aku belum bertemu mama Sonia lagi semenjak insiden memalukan mama Sonia mengetahui bahwa aku adalah orang yang sama yang suka jahil sama anaknya dulu.
"Aku ada opsi kedua jika kamu menolak opsi pertama dari ku tadi?" Ucap Titan saat mengetahui aku masih belum menjawab pertanyaan nya dan sedikit ragu.
"Apa??? " Tanya ku antusias.
Siapa tahu aja opsi kedua yang ditawarkan Titan lebih baik dari opsi pertama tadi.
"Seriusan kamu mau dengar opsi kedua ku? " Tanya balik Titan.
Kok aku jadi aneh gini ya? Apa lagi setelah mendengar pertanyaan balik dari Titan. Jangan-jangan opsi yang kedua yang ditawarkan Titan lebih buruk lagi.
"A-a-pa? " Tanya ku gugup. Aku harus mempersiapkan mentalku sebelum mendengar nya. Semoga aja pemikiranku salah.
"Ayo kita menikah saja.Jadilah istriku"
Gubrak
Benar kan benar? Ternyata opsi keduanya jauh lebih bikin kepala senut-senut gigi nyut-nyutan.Dapat ilham dari mana tuh orang ngajakin aku nikah padahal di antara kami belum saling mengenal dan baru bertemu beberapa kali saja.
"Ada opsi lain?yang lebih nguntungin dan gak beratin aku gak? "
"Kenapa?Kamu gak mau nikah sama aku?Kamu bilang sendiri kan kalau kamu nyari suami gak nyari pacar?Aku udah mau nikahin kamu lho.Lagi pula opsi kedua kelihatannya sangat menguntungkan kamu. Setidaknya kamu gak perlu lagi bekerja karena kamu otomatis akan jadi nyonya Septian dan kamu akan sekaligus jadi mama nya Devan" Aku memutar bola mataku sambil menghembuskan nafas mencoba mengeluarkan gejolak dihatiku.
"Emang kamu pikir nikah itu gampang apa?Jangan harap karena aku orang miskin terus kamu mikir aku langsung setuju gitu aja. Kamu salah tan.Aku lebih baik kerja banting tulang cari uang dari pada pakai cara instan yang kamu bilang itu.Aku bukan cewek matre.Kalaupun aku menikah nanti aku akan nikah sama orang yang aku cinta dan mencintai aku" Ucap ku kesal.
Aku gak habis fikir kalau Titan bakal menganggap aku serendah itu. Kalau saja saat ini Devan gak ada di pangkuanku mungkin aku akan segera pergi dari sini.
"Hai... hai... maaf bukan aku bermaksud ngomong gitu sama kamu. Hanya saja aku gak ada pilihan lain. Kamu lihat sendiri kan gimana lengketnya Devan sama kamu? Selama ini sudah banyak babysitter yang merawat dia, tapi selalu gak ada yang betah karena kenakalan Devan. Cuma sama kamu dia nurutnya"Jelas Titan sambil memegang pundakku.
" Mamanya? Memang kemana mamanya? Kenapa Devan selalu memanggilku mama padahal kami juga baru bertemu? "
Titan memandangku sekilas.
"Pergi.Setelah melahirkan Devan, mamanya meninggalkannya untuk karirnya "
Deg
Aku jadi teringat dengan Adikku. Kalau Jeje ditinggal ayah maka Devan ditinggal ibunya. Kenapa di dunia ini ada orang tua sejahat itu. Mengapa mereka meninggal kan anaknya hanya untuk keegoisan mereka sendiri. Setidaknya aku masih beruntung, walaupun ayah dan bunda berpisah rumah tapi mereka masih menyayangiku.
"Aku akan jadi babysitter Devan saja. Untuk menikah maaf, buatku pernikahan itu bukanlah permainan. Orang yang saling mencintai aja bisa berpisah apa lagi yang tidak sama sekali. Apalagi kamu punya pesona untuk dilirik wanita lain, aku tidak mau terus merasa sakit hati nanti"
"Jadi kamu mau nikah sama aku kalau aku ngerubah wajahku jadi buruk rupa dulu"
Gubrak
Nih laki, emang polos banget atau apa sih.Gak mungkin lah kalau cita-citaku punya laki yang buruk rupa. Seenggaknya itu hanya perumpamaan. Gak ada yang nolak punya suami ganteng kale, cuma nyari yang ganteng tapi setia itu agak susah. Apalagi di zaman pelakor berkeliaran dimana-mana seperti sekarang ini.
"Au ah gelap" Ucapku akhirnya lalu beranjak berdiri.
"Mau kemana? Kamu kan belum menjawab pertanyaan ku" Ucapnya sambil ikut berdiri.
"Pulang Titan, urusan kita kan sudah selesai"
"Masalah kawin??? "
Ya salam
Gak ada angin gak ada hujan nih orang kenapa ngomongin ini sih.Kesannya ngebet banget. Sefrustasi itukah dia saat ditinggal istrinya. Aku terus saja melangkah tanpa menghiraukan perkataannya.
"Aku tunggu sampai kamu siap ya??? " Ucapnya sambil berlari mensejajarkan tubuhnya denganku. Dengan gayanya dia masih terus menggodaku sepanjang perjalanan.
"Dasar pria sinting" Makiku dalam hati
*
*
*
mf y thor,ini cm pendpt q sndr aja🙏