Jodoh itu sebuah misteri. Bagaimana, kapan dan di mana kita dipertemukan hanya Tuhan yang tahu.
Naura Aurelia. Gadis dua puluh tahun yang sedang patah hati karena ditinggal menikah oleh kekasih diam-diamnya (sepupunya sendiri). Namun, ia selalu mencoba tegar dan menerima kenyataan yang menyakitkan itu.
Suatu hari, tanpa sengaja ia bertemu dengan Dimas—pria tampan yang berprofesi sebagai polisi lalulintas. Dimas terpaksa menilang Naura, karena ia mengendarai sepeda motor tanpa membawa surat kelengakapan berkendara serta tidak memakai helm. Di waktu bersamaan, Dimas juga menilang Ana yang notabennya adalah ibu kandungnya sendiri.
Masa penilangan itu adalah momentum perkenalan Ana dan Naura, yang membuat Ana terlanjur jatuh hati kepada Naura di pertemuan pertama mereka. Ia pun bertekad untuk menjodohkan gadis itu dengan Dimas. Berbagai cara dilakukannya, untuk mendekatkan dua insan yang memiliki kepribadian bertolak-belakang itu.
Semenjak penilangan itu pun, Naura dan Dimas sering dipertemukan di berbagai tempat. Bahkan, beberapa kali Naura harus kembali beurusan dengan polisi karena sifatnya yang ceroboh. Salahsatunya, ketika ia terjaring razia masker yang sedang digalakan pemerintah untuk mencegah penyebaran COVID-19. Entah jodoh atau kebetulan di setiap Naura melanggar peraturan, di situ pula ada Dimas yang siap menindaknya.
Namun, tanpa disadari pertemuan dengan Dimas telah memberi warna tersendiri di dalam kehidupan Naura.
Akankah, Naura dan Dimas berjodoh? Lalu bagaimana jika di saat cinta mulai tumbuh di hati mereka, tanpa diduga datang seseorang di masa lalu Dimas di kehidupan mereka? Siapakah yang akan Dimas pilih? Mungkinkah Naura akan kembali merasakan sakit hati, ditinggalkan kekasih hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepaskan
"Apakah lelaki itu benar-benar kekasihnya Naura?" Pertanyaan itu selalu saja muncul di kepala Bayu setelah ucapan Naura beberapa waktu lalu, mengganggu setiap pekerjaan yang dilakukannya.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Reva, aneh melihat Bayu yang tiba-tiba terus melamun, padahal beberapa waktu ke belakang ia baik-baik saja.
"Tidak, hanya kepalaku sedikit pusing." Bayu berkilah. "Rev?" Bayu sedikit ragu tuk bertanya kepada Reva.
"Ya."
"Apa Naura sudah punya pacar?"
"Pacar?" Reva balik bertanya.
"Ya."
"Gue gak yakin dengan jawabannya. Tanya sendiri saja sama si empunya saja, takut salah jawab, gue." Reva tak mau mengumbar privasi sahabatnya sendiri, meskipun ia tahu jika Naura dan leadernya saling memiliki rasa. Namun, bukankah Naura sudah bertekad untuk melupakan rasa itu, dan dirinya berserta Mela akan selalu mendukung keputusan sang sahabat.
"Sepertinya aku tak akan mendapatkan apa-apa dengan bertanya kepadamu." Bayu membuang napas kasar, lalu beranjak dari hadapan Reva yang sedang memeriksa hasil evaluasi para karyawan baru yang sudah dilepas ke bagian produksi.
"Boleh gue kasih saran?" tanya Reva, menghentikan langkah Bayu.
"Apa?"
"Lepaskan Ara, biarkan dia mendapatkan kebahagiaannya. Kak Bayu sudah memilih Nina sebagai istri Kakak. Seharusnya sejak awal Kakak sudah harus siap menerima konsekuensinya. Dirimu tak bisa memiliki keduanya secara bersamaan. Selagi Nina belum mengetahui semuanya, belajarlah melupakan Ara," ucap Reva bijak.
Ish, bisa juga gue ngomong bijak. Bisa dapat reward, nih.
Reva tak menyangka dirinya yang petekilan, suka ceplas-ceplos bisa berkata dewasa juga.
"Aku sudah mencobanya. Namun, rasa itu tetap saja ada." sesal Bayu. Ia telah berusaha keras melupakan Naura, tetapi semuanya sia-sia.
"Kalau Kakak mencintai Ara, kenapa menikahi Nina? Kenapa waktu itu tidak melepaskan Nina dan memilih Ara saja?"
"Aku juga mencintai Nina."
"Gila dirimu, Kak. Rakus kali kau ini, pilih salahsatu jangan dua-duanya. Sikapmu yang kayak gini nih, bisa menyakiti mereka berdua bahkan dirimu juga nantinya. Jangan sampai gara-gara dirimu tak bisa mengambil keputusan semuanya hancur," ujar Reva, mengingatkan. "Lama-lama gue gemes juga sama dirimu, Kak. Untung gue gak lagi pegang mesin press, bisa-bisa di-press juga tuh otak sama gue." Reva kesal dengan sikap Bayu yang seakan-akan tak bisa tegas pada perasaannya sendiri.
"Tapi ...." Tiba-tiba bunyi bel panjang tanda istirahat berbunyi, memotong ucapan Bayu.
"Hai, Rev, udah nangkring di sini aja!" ucap Mela. Dia dan Naura baru saja kembali ke ruang OJT, setelah sebelumnya mereka berdua dari bagian assembling.
"Iya, dong. Gue 'kan anak rajin," ucap Reva dengan bangganya. "Tadi, tapi apa,Kak?" tanya Reva kepada Bayu.
"Bukan apa-apa. Tak perlu dibahas lagi."
Karena kehadiran Naura dan Mela, akhirnya Bayu mengurungkan niatnya tuk menyelesaikan ucapan tadi.
"Owh, ya, sudah kalau begitu. Ra, Mel, makan yuck!" Ajak Reva kepada kedua sahabatnya dan langsung dijawab anggukan oleh mereka.
Ketiganya pergi menuju kantin yang diikuti Bayu dari belakang. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba terdengar satpam memanggil Naura menggunakan microfon.
"Mohon perhatiannya, kepada saudari Naura Aurelia di tunggu di pos security. Sekali lagi kepada saudari Naura, Naura Aurelia ditunggu di pos security. Sekian dan terima kasih." Suara berat si satpam menggelegar di seisi pabrik, memanggil Naura.
"Ra, Pak Baplang nyarimu, tuh!" ujar Mela yang menjuluki satpam itu Pak Baplang dikarenakan kumisnya yang mirip dalam film anak jaman old itu.
"Aku ke sana dulu, ya! Kalian duluan saja."
Naura mengambil jalur berbeda, ia memisahkan diri dari teman-temannya yang hendak makan siang di kantin pabrik. Bayu yang semenjak tadi mengikuti mereka pun, berjalan mengikuti Naura ke pos security.
"Liat deh, Kak Bayu ngikutin Ara. Gue jadi kepo, ikutin juga, yuck!" Reva menarik Mela begitu melihat Bayu mengikuti Naura.
"So tahu kamu. Mungkin saja Kak Bayu mau ke arah sana, belum tentu juga ngikutin Ara. Aku lapar, makan aja, yuck!" Mela menarik Reva, kembali ke arah kantin. Sehingga keduanya main tarik-tarikkan dan akhirnya Mela mengalah setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu.
Reva dan Mela pun mengikuti Bayu sekaligus mengikuti Naura juga. Keduanya tak pernah melepaskan pandangan mereka dari dua orang di depan mereka itu. Tampak dari jauh Naura berbincang dengan Pak Satpam dan kemudian ia keluar gerbang.
"Dia mau kemana?" tanya Reva.
"Mana kutahu, ayo ikuti saja!" Mela menarik Reva, mempercepat langkah mereka.
Tanpa mereka sadari keduanya menabrak Bayu yang berhenti mendadak, ketika Naura menemui seseorang yang 1,5jam yang lalu mengantar Naura kembali ke pabrik.
'Dia masih menunggu Ara di sini?' tanya Bayu pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Bayu merasa ada dorongan kuat dari belakang, dan dua gadis itu tersenyum, kikuk.
"Kalian mau kemana?"
"Gak kemana-kemana. Kakak juga mau kemana?" tanya Mela balik.
"Gak kemana-kemana juga."
"Mel, yang ditemui Naura siapa? Apa iya tuh anak ketemu jodoh di kejaksaan?" Reva mengarahkan tangannya ke arah Naura yang sedang bersama dua pria berseragam dengan Mata yang menatap tajam ke arah yang sama.
Mela pun langsung mengedarkan pandangannya mengikuti arah telunjuk Reva, sedangkan Bayu yang sejak tadi mengetahuinya ia masih terpaku menatap Naura yang tampak akrab dengan kedua lelaki itu.
"Perasaan tadi satu kenapa sekarang jadi dua?" gumam Bayu.
"Membelah diri kali, Kak," tukas Reva, mengerti kemana arah pembicaraan Bayu. "Mel, coba perhatikan deh, sepertinya aku pernah melihat orang itu." Reva mencoba mengingat-ingat.
"Memperhatikan apa? Orang dia pake masker. Aku gak jago kalo suruh tebak-tebakkan kayak begituan," Mela sama seperti Naura, jika disuruh tebak-tebakan otaknya mode loading.
"Tapi aku ingat betul postur tubuhnya itu ...." Reva masih berpikir mencoba mengingat.
"Owh, iya, dia tuh orang yang razia Naura waktu gak pakai masker. Iya, bukan, sih?" Mela mengingat kejadian beberapa hari lalu dan ia ingat betul seragam yang dikenakkannya jiga sama.
"Apa selain itu pernah ketemu dia belum sich?" tanya Reva lagi.
"Mana kutahu. Orangnya ketutup masker, aku gak bisa nebak."
"Kalian berisik sekali," gerutu Bayu, terganggu oleh kehadiran Reva dan Mela.
Keduanya lalu terdiam dengan mulut yang dibungkam oleh tangan masing-masing. Mereka memperhatikan ketiga orang yang sedang berbicara di depan mobil patroli. Entah apa yang ketiganya bicarakan, Reva dan Mela tak bisa mendengar.
'Ra, hatiku sakit melihat dirimu bersama pria lain. Apa yang harus kulakukan. Kenapa aku tak rela melihatmu bersama orang lain? Kenapa aku seegois ini? Kenapa rasa ini harus tetap tumbuh? Bagaimana caraku mengubur dalam-dalam perasaan yang masih setia ada di dalam sini. Haruskah aku benar-benar melepasmu seutuhnya?' Wajah Bayu berubah sendu kala melihat kebersamaan ketiganya. Berbagai pertanyaan berkecamuk di dada Bayu.
Tetiba lamunan Bayu terbuyarkan oleh ulah dua gadis di sampingnya. Entah ada angin dari mana, secara spontan keduanya berteriak sangat keras.
"Keropi ...." teriak keduanya, tersentak. Membuat semua orang meihat ke arah mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.