NovelToon NovelToon
Me Before You

Me Before You

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:341.1k
Nilai: 5
Nama Author: RisFauzi

Tidak mudah bagi Alya untuk membuka hatinya untuk Daffa, seorang CEO muda yang memimpin perusahaan keluarga Pratama Group. Setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan kekasihnya. Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan menimpa Daffa akibat kelalaian Alya.

Alya dihadapkan pada sebuah keputusan yang akan menentukan hidup dan masa depannya.

Akan kah tumbuh cinta di hati Alya? Atau sebaliknya Daffa membenci Alya, dan menyalahkan keadaannya kepada Alya?

Penasaran? Yuk simak kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RisFauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Bersyukur

"Alya, gimana nih. Saya ada urusan mendadak ini. Barusan ada klien yang ingin bertemu, Kamu bisa bantu Saya kan? Nggak lama kok. Saya pastikan sebelum acara Daffa dimulai, Saya sudah kembali lagi kesini. Kamu bisa kan Al?" tanya bu Dhes dengan nada memohon, sambil menunjukkan ponsel yang masih berada di tangannya.

   "Ehm, bisa Bu. Tapi, apa yang harus Saya lakukan? Saya kan nggak ngerti kalau urusan dapur, Bu?" Alya bertanya, pandangannya meneliti ke seluruh ruangan dapur. Banyak berbagai menu masakan tersaji di atas meja besar.

   "Saya minta Kamu atur makanan yang ada di dapur ini buat dibawa ke depan. Kalau ada yang kurang, Kamu bisa panggil dan suruh anak-anak yang lain buat bantu isi. Saya sengaja pesan makanan saja sama pihak catering, tapi tetap orang kita yang urus semuanya."

   "Oh gitu, tapi kalau hasilnya tidak sesuai dengan harapan Ibu, gimana? Saya kan nggak pernah atur ginian, Bu. Kalau ada undangan pesta nih, datang, makan, selesai langsung pulang deh," Alya tersenyum malu.

   "Saya percaya sama kemampuan Kamu, yakin deh Kamu pasti bisa. Nanti ada asisten rumah tangga yang biasa kerja disini, yang datang buat membantu Kamu. Ingat! Kamu hanya mengatur ya Al, bukan kerja angkat makanan ke depan atau yang lainnya."

   "Siap, Bos!" Alya menjawab tegas membuat bu Dhes tersenyum lebar dibuatnya.

   "Oh ya, sebentar lagi pesanan kue ulang tahun Daffa datang. Sudah dalam perjalanan kemari katanya. Oke Alya, Saya tinggal dulu ya. Makasih sebelumnya," bu Dhes menepuk bahu Alya, tersenyum lalu memberi semangat dengan mengangkat kedua tangannya mengepal di udara. "Semangat, ya. Kamu pasti bisa!"

   "Semangat!"

   Alya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya persis sama seperti yang dilakukan bu Dhes padanya.

   "Semangat Alya, kamu pasti bisa!" Alya menyemangati dirinya.

   Tak lama setelah bu Dhes pergi, datanglah seorang wanita paruh baya dengan memakai hijab lebar sederhana yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, menggandeng tangan seorang anak laki-laki kecil yang terlihat malu-malu saat melihat Alya. Tangan mungilnya memegang erat tangan ibunya.

   Wanita itu tersenyum ramah padanya,  dengan sedikit membungkukkan badan, tangannya terulur pada Alya bermaksud memperkenalkan dirinya.

   "Saya Tiwi, asisten rumah tangga disini. Dan ini Fadil anak Saya yang nomer tiga, usianya baru lima tahun. Sengaja Saya bawa kesini, kasian di rumah nggak ada yang jagain. Bapaknya lagi kerja, kakaknya juga pada sekolah pagi semua," jelas bu Tiwi.

    "Saya Alya Bu, karyawan bu Dhesita," jawab Alya menyambut uluran tangan ibu Tiwi.

   "Fadil duduk disini saja ya, nak. Jangan kemana-mana, Ibu mau bantuin tantenya dulu," kata bu Tiwi kemudian sambil menuntun Fadil untuk duduk di salah satu bangku panjang yang berada di sudut ruangan dapur.

   Fadil hanya menganggukkan kepalanya, sepertinya anak itu tidak terbiasa bertemu dengan orang baru, sikapnya masih terlihat malu-malu.

   Alya tersenyum lalu berjalan mendekat pada Fadil yang duduk tenang sambil menatap lurus pada ibunya. Wajahnya terlihat tegang saat melihat Alya yang mendekatinya.

   "Hai sayang, Tante Alya punya coklat. Fadil mau?" Alya kemudian membuka tasnya, lalu mengeluarkan coklat batangan dan memberikannya pada Fadil.

   Fadil tidak langsung menerima coklat pemberian Alya, matanya melirik pada ibunya. Mata bening itu seolah bertanya pada ibunya apakah ia boleh menerima atau tidak coklat pemberian Alya padanya. Ibunya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

   "Ayo, bilang apa sama tantenya?" Bu Tiwi mengingatkan anaknya.

   "Terima kasih, Tante," jawab Fadil dengan mata berbinar senang, tangan mungilnya kemudian mengacungkan coklat pemberian Alya pada ibunya.

   "Sama-sama, sayang." Alya mengusap rambut Fadil yang mulai sibuk membuka coklat di tangannya.

   "Makasih ya, neng Alya." Bu Tiwi menyentuh lengan Alya pelan, sorot haru terlihat jelas di matanya.

   "Ibu kenapa? Jangan bilang kalau coklat pemberian Saya buat Ibu jadi sedih," tanya Alya sambil menatap mata bu Tiwi yang terlihat mulai berair.

   "Suka terharu saja, neng. Apalagi kalau lihat ada orang baik yang suka kasih sesuatu buat orang lain. Saya orang miskin, neng. Makan seadanya, suami hanya buruh bangunan biasa yang kerjanya nggak menentu. Pingin juga sih punya banyak uang seperti orang lain yang bisa kasih uang saku lebih buat jajan anak-anaknya. Makanya, Saya bersyukur banget bu Dhesita mau ajak Saya kerja disini. Sedikit banyak, Saya bisa bantu ekonomi keluarga Saya."

   "Ibu Tiwi sudah kenal lama sama bu Dhesita?"

   "Belum lama sih, neng. Kurang lebih setahun yang lalu, itu pun kebetulan Saya diajak tetangga pas lagi butuh tenaga buat bantuin cuci piring waktu acara ulang tahun anak bu Dhesita yang pertama."

   Rejeki datang dari arah mana saja, siapa yang mau berusaha inshaa Allah ada jalan keluarnya. Alya bersyukur sampai hari ini dia masih diberikan kemudahan dalam bekerja, dan semua itu tidak lepas dari bantuan bu Dhesita padanya.

   "Alya, kuenya taruh dimana ini?" suara Ardi mengalihkan perhatian Alya, dilihatnya lelaki itu membawa beberapa kotak besar berisi kue bersama temannya yang lain.

   "Sini aja deh," jawab Alya sambil menunjuk meja yang masih kosong. "Di, bentar ajak yang lain bantuin angkat makanan ke depan ya. Nanti biar Aku yang atur disana."

   "Sekarang?"

   "Sekarang juga boleh, mejanya sudah siap kan?"

   "Sudah dari tadi, ada Ola yang atur anak-anak buat natain meja sama tempat makanannya. Oke, mana yang harus dibawa duluan. Sekalian nanti Aku balik lagi ambil makanan sama anak-anak yang lain."

   "Bawa ini semua, nanti biar aku yang atur disana."

🌹🌹🌹

  

  

  

  

1
kidung mesra
nyicil dulu tor... Lik n pav nya sudah..
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘
Darah Biru (Bangsawan)
keren
Darah Biru (Bangsawan)
Miss you thor
RINDU ⭕
NEXT THOR
🤗🤗🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
RINDU ⭕
Like 👍👍👍👍👍👍
RINDU ⭕
Love 💜💜💜💜💜💜💜
RINDU ⭕
Alya
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
Darah Biru (Bangsawan)
😘😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!