Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHEMISTRY YANG MEMBAKAR
Ah Chio mendekat. Wangi sabun rumah sakit masih sedikit menempel di bajunya — tapi di atasnya, ada wangi teh dari kebun.
"Ko," bisiknya. "Ini akunmu?"
Ia menunjuk layar HP Eng Sok. Foto profil — Eng Sok berkostum Leng Tiat. Mata menyipit. Senyum miring. Nama akun: SiohBu123.
Eng Sok mengangguk. Dadanya panas.
"Kok keselek?" tanya Ah Chio polos. Matanya membulat — tidak mengerti mengapa Eng Sok tiba-tiba batuk-batuk.
Eng Sok menelan ludah. "Aku... kecapekan."
Ah Chio mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut.
---
Mereka duduk di kursi lipat di bawah pohon teh. Naskah dibuka. Halaman pertama — adegan di kebun teh.
Eng Sok membaca. Lalu matanya beralih ke Ah Chio.
"Berarti... di sini kamu jadi female lead?"
Ah Chio mengangguk. "Harusnya gua sama Ah Bwee."
Eng Sok mengerjap.
"Tapi hari ini Ah Bwee gak syuting. Mendadak hilang." Ah Chio menunjuk ke arah Toian Hok yang sedang sibuk dengan panggilan telepon. "Sepupunya, Toian Hok, bingung. Akhirnya manggil lu."
Ia tersenyum.
"Kata Toian, lu paling natural kalo akting pangeran. Mau pangeran baik, jahat, gila, atau pangeran korban cinta.", kata Ah Chio.
Eng Sok tertawa kecil.
“Iya, Ah Chio. Aku pangeran asli. Saudara laki-lakinya aku banyak — Ah Cek, Ah Pek — semuanya pangeran. Tinggal pilih mana yang mau diperanin.”, batinnya sambil tersenyum hangat ke Ah Chio. Ah Chio jadi melihat ke arah lain dan memainkan tali Tng Sa dia.
---
Mereka menghafal naskah. Dan mencoba bangun Chemistry.
Eng Sok memerhatikan detail kostumnya di Cermin— topeng. Setengah wajah tertutup. Hanya mata dan mulut yang terlihat.
Topeng ini... kebiasaan lama. Aslinya dia dulu pakai topeng penuh. Topeng iblis. Bukan topeng yang malah bikin wajahnya ganteng dan auranya jadi awur-awuran gini.
Dulu, saat perang, ia memakai topeng. Bukan karena malu. Tapi karena wajahnya terlalu tampan. Banyak lawan yang menyepelekan — mengira dia pangeran rendahan yang tidak bisa bertarung.
Tapi rakyatnya tahu. Crossbow Serigala — tembakannya tidak pernah meleset. Sejak itu, banyak pertempuran ia menangkan.
Yang paling absurd... pernah topeng Eng Sok retak di tengah perang. Lawan melihat wajah Eng Sok — tampan katanya — dan... Lawan menyerah, setuju jadi provinsi wilayah vazal asal dia mau jadi menantu lawan.
Eng Sok menghela napas.
Dari situ, aku mendapatkan istri politik. Eng Sok cinta Nona The. Perlahan. Tapi Nona The tidak pernah menghargai. Karena pundak Eng Sok di mata Nona The — membuatnya seperti wanita.
Nona The ingin yang bidang, tegap. Seperti pundak Ah Chio.
Eng Sok tidak pernah lupa sakitnya. Makanya dengan Ah Chio, dia tidak mau buru-buru. Apalagi kata Ah Me, zaman ini gak perlu buru-buru. Menikah 30 atau 40 sudah punya biasa, kata Ah Me.
“Makanya aku tidak mau buru-buru dengan Ah Chio.”, bisiknya.
---
Adegan pertama — di kebun teh.
Eng Sok berdiri di bawah pohon. Topeng di wajah. Ah Chio di depannya — berpakaian sederhana, rambut diikat ke belakang.
"Siapa kau?" kata Ah Chio — tegang, takut.
"Orang yang akan menyelamatkanmu," jawab Eng Sok — suaranya berat, penuh wibawa.
Toian Hok tidak berkedip.
"Cut!" teriak asisten. "Lanjut!"
Toian Hok mengangguk. "Chemistry bagus!"
---
Adegan kedua — Eng Sok menyelamatkan Ah Chio dari bahaya.
Naskahnya: baju Eng Sok robek — karena tersangkut duri saat melindungi Ah Chio.
Eng Sok membaca ulang naskah. Di sini bajunya robek. Pundaknya terlihat.
Ia mengutuk diri sendiri.
Kenapa tidak kubaca scriptnya tadi pagi kalo ada adegan Amsyong buka baju atas sambil gendong Ah Chio? Gara-gara terlalu mikirin duit kontrakan...
Ia insecure. Pundaknya — tidak bidang. Istri pertamanya dulu sering mengejek. "Bahu kaya wanita."
Shoot pertama.
Eng Sok memegang erat-erat kerah bajunya — harusnya lepas saat menyelamatkan Ah Chio. Tapi tangannya kaku. Tidak mau melepas. Otaknya memutar kata-kata Nona The saat malam pertama,“bahu wanita! Apa aku salah menikah dengan wanita!”
"Cut!" Toian Hok menghela napas. "Sioh Bu, bajunya dilepas, bukan dipegang."
Shoot kedua.
Tng Sa lepas. Tapi Ah Chio — entah karena gugup atau apa — malah mengelus-elus pundak Eng Sok sambil gigit bibir bawah. Harusnya cuma teriak sambil memeluk Eng Sok. Sambil menelan ludah. Matanya tidak fokus ke kamera.
"Haduh, celaka! Kok gigit bibir bahwa segala Ooo! Bahaya!" asisten Toian Hoan memegang kepala.
Shoot ketiga.
Tali dalam kostum Eng Sok — terlalu tajam. Sebelum kamera mengambil angle yang tepat, Tng Sa sudah robek sendiri.
Toian Hok menutup wajah dengan tangan. "Cari Tng Sa baru!"
---
Syuting stop sebentar.
Eng Sok dan Ah Chio duduk di pojok kebun — sepi. Hanya suara angin dan daun teh yang bergerak.
Eng Sok hanya memakai bawahan. Tubuh bagian atas — terbuka. Perban di lengan kanan masih membalut, walaupun dibungkus dengan handsock tetap sedikit terlihat. Ia menunduk. Matanya berkaca-kaca.
"Ah Chio," katanya pelan. Suaranya serak. "Pundakku... gini."
Ah Chio menatap. Tidak menjawab.
"Badanku... kayak perempuan ya?"
Ah Chio diam. Pipinya — merah.
Ia menelan ludah. Kotak suara Ah Chio naik turun.
"Lu... gagah kok," bisiknya.
Bukan ke telinga. Tapi di leher Eng Sok.
Eng Sok menggigil.
"Tapi badan gue kayak perempuan!" bisiknya kembali — setengah marah, setengah malu.
Ah Chio tidak menjawab.
Entahlah apa yang merasuki Ah Chio di sudut kebun itu.
Ia meraba pinggang Eng Sok dari belakang — pelan, dengan sedikit ledakan emosi. Lalu tangannya turun — sedikit.
Eng Sok membeku.
"Yang penting ini..." bisik Ah Chio di telinga Eng Sok. Lalu ia meniup — pelan. "...ini yang membuat Lu jadi laki-laki seutuhnya."
Jakun Eng Sok naik turun. Area yang diraba Ah Chio terasa hangat dan hidup.
Dada Ah Chio — menempel di punggungnya.
Ia tidak bisa bernapas. Nafasnya pendek-pendek. Dadanya berdegup dan matanya tertutup erat. Bibirnya berkedut.
---
"SYUTING LAGI!" teriak Toian Hok dari kejauhan. "PEMERAN UTAMANYA DI MANA?!"
Kru bingung kemana pemeran utama menghilang. Padahal mereka di balik pohon Tabebuya di pojok yang sepi.
Eng Sok dan Ah Chio kaget. Merenggang. Wajah mereka — merah. Mereka baru sadar kalo lagi syuting dan mestinya banyak orang walaupun di pojok situ sepi.
"Maaf... aku... kebawa suasana," kata Ah Chio cepat, badannya gemetar sebadan sampai sanggulnya bergoyang sedikit.
"Maaf ju…ga. Aku... aku juga," jawab Eng Sok dengan dada gemetar.
Mereka minum teh manis. Toian mengira mereka stress. Maklum adegan dengan sling sering bikin aktor dan aktris stress dan berbuat aneh-aneh.
Shoot keempat.
Eng Sok berdiri. Topeng di wajah. Baju baru — Tng Sa warna biru tua. Sobek tepat pada angle tepat. Ah Chio berteriak ketakutan. Setelah di tanah, Eng Sok menatap Ah Chio dan Ah Chio menatap Eng Sok.
Ah Chio di depannya — mata berkaca-kaca, berterima kasih karena telah diselamatkan.
Eng Sok tidak bicara. Ia hanya menatap Ah Chio — malu-malu, tapi dalam.
Matanya — seperti pahlawan yang berkorban demi gadisnya. Karena cinta.
Ah Chio menatap balik — tidak berpura-pura.
Toian Hok tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberi kode — lanjut.
Kameramen lupa menekan tombol off. Lensa masih merekam.
Angin di kebun teh — semilir syahdu. Rambut mereka bergerak — pelan, alami. Terlalu alami. Lalu suara manager kebun teh yang bilang,”Toian, ini kalo terus syuting ada biaya tambahan” membuyarkan lamunan mereka. Telat. Telat matiin kamera 10 menit.
Asisten Toian Hoan berdoa dalam hati.
"Thien... aman gak sih gini? Semoga ga ada yang bertepuk sebelah tangan... yang menyebabkan kecelakaan."
---
Syuting selesai.
Eng Sok masuk ke kamar mandi darurat di belakang kebun. Badannya kotor semua kena daun-daun dan tali sling besi gara-gara adegan terbang tadi. Air dingin mengalir di punggungnya.
Tubuhnya — penuh keringat.
Gemetar.
Lututnya — lemas.
Ia menatap lantai kamar mandi. Tangannya menempel di dinding — menahan diri.
Ia hanya mengigit bibir bawahnya. Pipi — merah. Mata — menerawang.
Ah Chio.
Punggungnya.
Bisikannya.
Tiupannya.
Ia tidak bisa berpikir.
Lama ia di kamar mandi. Biasanya cuma 15 menit. Asisten Toian Hoan sampai ketakutan dan mengetuk pintu kamar mandi darurat itu.
---
BERSAMBUNG
---
Chemistry yang membakar.
Baju robek. Sentuhan di pinggang. Bisikan di telinga.
Dan Eng Sok — di kamar mandi, tubuh gemetar, tidak bisa berkata-kata.
Malam ini, ia tidak akan bisa tidur.
🪷👩❤️👨💐