" Gadis kecil sebaiknya kamu tanda tangani saja surat itu "
Begitulah ucapan dari Hendra saputra pemilik perusahaan Jewelery yang terkenal di kota ini kepada seorang gadis bernama Yesa. Dia mengancam dengan sorot matanya. Dan akhirnya kerena tidak memiliki kekuasaan. Yesa menanda tangani surat itu.
Sesaat senyum puas penuh kemenangan muncul di bibir Hendra Saputra.
Cerita novel ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan
Nulis nya cuma iseng
Update na semau gue 😋
selamat membaca ^^,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ovhiie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALERGI UDANG
Pagi hari
Arya membersihkan diri dibawah air shower, sambil menopang tangan kanannya di dinding kaca yang tembus pandang, berpikir.
Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu teringat dengan apa yang sudah di alaminya bersama gadis cantik itu. Di tambah lagi saat ia menolong Yesa dari tenggelam. Saat melihat bentuk lekuk tubuh Yesa yang sempurna.
Selama mengingat kejadiannya ia berusaha mengontrol hasrat dirinya agar tidak terjerumus pada hal yang mustahil baginya.
"Sial! Bahkan aku tidak sadar memberinya ciuman pertama ku."
Arya berusaha membuang pikirannya yang satu itu jauh-jauh. Setelah selesai dengan urusan mandinya, dia memakai baju kantor lalu berjalan meninggalkan ruang pakaian. Baru saja keluar, dia kejutkan dengan adanya sebuah nampan berisi menu sarapan pagi di atas meja kerjanya.
"Apa ini?" Arya Mengerutkan kening pada makanan di atas meja.
Suara pintu kamar terbuka, tampaklah sosok gadis polos yang tidak asing baginya muncul tiba-tiba, berdiri di ambang pintu sambil menampakkan senyum manisnya.
"Arya apa kamu sudah melihatnya?''
"Apa kamu yang meletakkannya disini?" Arya bertanya kembali
"Iya, makanlah saat kamu sedang lapar" Sahut Yesa antusias.
"Makanan apa ini?"
"Yang mangkuk biru itu adalah bubur dan minuman di cangkir putih adalah teh hangat."
"Apa?''
"Bolehkah aku masuk dan menjelaskannya?"
Arya menekuk jari telunjuknya menyuruh gadis itu agar memasuki kamarnya. Yesa menurut, berjalan mendekat lalu membuka tutup mangkuknya di meja. Arya menatap isi di dalamnya.
"Aku dengar kamu tidak suka makanan yang sudah dingin. Jadi aku memasak bubur hangat ini khusus untukmu."
"Cih, ini seperti aku sedang sakit dan kamu memberiku obat." Arya meraih sendoknya lalu mengaduk buburnya pelan-pelan. Menyendok buburnya sesendok. "Apa ini? Udang!" Baru mau mencicipinya ia tercengang melihat isi disendoknya.
"Ya ini bubur udang"
Tiba-tiba
Arya melempar sendoknya di meja, kembali bersandar di kursinya, menyilangkan kedua tangannya didepan dada, tatapannya mengerikan. Yesa terkejut, apalagi melihat mimik wajahnya berubah menjadi dingin seperti tempo hari. Saat pertama kali bertemu dengannya dingin tidak suka.
"Kamu tidak suka makan udang?"
''Aku alergi udang, aku bisa mati jika memakannya." Sahut Arya dengan suaranya dinginnya dan khas itu
"Benarkah?" Buru-buru meraih nampan di atas meja. "Maaf, aku sungguh tidak tahu jika kamu alergi udang. Tapi bagaimana mungkin kamu bisa mati dengan hanya memakan udang.'' Ia bertanya dengan wajah kikuknya. Entah kenapa setelah mengucapkan kalimatnya, kakinya langsung gemetar.
"Hhh." Arya mendesah jengah, berusaha menenangkan dirinya, meladeni gadis di sebelahnya ini memang benar-benar polos dan bodoh "Kamu bawa makanan ini dan keluar!"
"Sekali lagi maaf, aku sungguh tidak tahu kalau kamu alergi udang." Suara Yesa terdengar merengek manja saat mengatakannya agar di maafkan. Tapi anehnya laki-laki itu hanya membuang mukanya.
"Ya, kamu tidak akan tahu!" Arya bangun dari duduk." Kerena itulah Yesa, kamu benar-benar sangat menakutkan."
"Maaf aku baru menyiapkan ini, karena aku ingin menjadi orang yang berguna bagimu Tuan Muda." Yesa bicara dengan cara yang sama. Entah kenapa sekilas Arya tersenyum dengan samar telinganya memerah
"Jika kamu ingin jadi berguna bagiku, sebaiknya siapkan dirimu dan lakukan tugasmu yang selanjutnya."
"Baik!" Sahut Yesa antusias.
"Jika kamu berani mengacaukannya lagi." Arya mendekatkan wajahnya "Kamu benar-benar akan mati." Suara dinginnya yang mengancam terdengar mengerikan. Membuat Yesa menelan ludahnya ketakutan, tapi tidak dengan segera ia memalingkan wajahnya.
"Baik, aku akan berjuang dan tidak akan mengacaukannya lagi. Hemm." Antusias
***
Jewelery Internasional Group
Ada dua sosok laki-laki terlihat tengah berjalan menuju pintu lift di kantor itu
"Tuan Muda saya sudah memesan hotel dan saya sudah memesan tiket Anda bersama Nona Yesa pergi ke Amerika minggu ini. Jika Anda belum memesan hotel, Anda... ''
"Dapat menginap di hotel lelaki itu." Arya memotong cepat
"Benar Tuan Muda, dia sudah bertindak. Seperti dialah pemegang sahamnya, hanya karena dia bertunangan dengan putri presiden Petter dari Group RS internasional." Jelas Dani
"Cih" Arya membuang mukanya tidak mendengar penjelasannya "Sekalipun aku tidak sudi menginap di hotel itu dan kenapa Ayah menyuruh mu agar gadis bodoh itu menemani ku selama di luar negri?"
Entah kenapa, Sekretaris Dani menghentikan langkahkan nya, Arya berbalik melihat wajahnya penuh makna. Tuan Muda ada informasi yang ingin saya sampaikan pada Anda begitu arti tatapan mata Dani di cerna Arya membuatnya yang menduga-duga.
"Kenapa? Apakah ada yang salah?"
"Tidak ada Tuan Muda, saya dengan sopan akan menolak tawaran mereka." Sekretaris Dani menyerahkan amplop berwarna cokelat "Ini adalah daftar tamu untuk pesta keluarga nanti, total 89 tamu. Dan mereka semua akan membawa keluarga."
Arya menyelipkan tangan kanannya kedalam saku celananya seiring saat Dani menyodorkan amplopnya, seolah bicara. Kau lagi merencanakan apa.
Dan sepertinya Dani menangkap maksudnya, ia menarik tangannya kembali setelah mencerna makna sorot matanya yang dingin itu.
''Tuan Muda saya sudah menyalinnya melalui e-mail Anda'' Ujar Dani singkat
Arya mengerutkan keningnya
"Kenapa kau membuat salinannya?"
"Itu yang Ketua Hendra minta. Beliau sudah mengaturnya untuk perjalanan anda Tuan Muda "
"Kerena ayah berpikir, aku tidak dapat melakukannya sendiri." Arya bicara dengan suaranya yang tinggi tatapannya dingin.
Sekretaris Dani hanya diam melihat reaksinya, paham maksudnya, laki-laki dingin itu melampiaskan amarahnya
"Aku sudah lama ingin bertanya padamu, Kau sebenarnya bekerja untuk siapa? Apakah aku atau Ayahku?" Arya bertanya lebih lanjut dengan suara yang berbeda dari sebelumnya.
"Saya akan selalu bekerja untuk keluarga Ketua Hendra." Dani menjawab dengan senyumannya yang penuh makna.
"Cih! Aku mengerti" Begitu Arya menjawab lalu melengos
"Sekarang saya melihat Anda seperti sedang marah pada kekasih Anda karena sedang berselingkuh." Dani bicara dengan wajah tidak tahu malu. Dan laki-laki dingin itu langsung membalasnya dengan senyuman sinisnya.
"Kau salah aku menyarankan mu untuk berselingkuh. Karena kau terlalu setia, atau mungkin kau harus pensiun bersama ayahku." Ujarnya perlahan dengan suaranya yang dingin.
"Apa ada saran lain Tuan Muda?"
"Tidak" Arya menjawab "Dani, kau tahu? sekarang ini yang membuatku takut adalah kesalahan lain yang sudah di lakukan Ayahku dulu." Lanjutnya lagi setelah mengucapkan kalimatnya, ia melangkahkan kaki meninggalkan Dani di belakang tanpa sedikitpun berpaling.
"Hati-hati Tuan Muda."
Setelah bicara Sekretaris Dani membungkukkan badan, lalu mematung sambil menatap punggung Arya yang sudah berjalan jauh meninggalkannya
Tuan Muda apakah Anda masih belum menyadari. Ayah Anda sangat menyayangi Anda. Beliau sudah mengatur semuanya, karena ingin mempertemukan Anda dengan ibu kandung Anda.