NovelToon NovelToon
Pendekar Tingkat Dewa

Pendekar Tingkat Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:224.3k
Nilai: 5
Nama Author: Raffa Alief

Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.

Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.

Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?


(Remake)

Zhong Li -> Shi Yexian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 16 - Sebuah Buku Harian

Hari Pertama

Aku di suruh oleh Senior Hou, untuk langsung latihan. Dia menyebut latihan ini sebagai neraka, tapi aku masih belum menemukan di mana neraka nya.

Aku hanya di suruh untuk menjaga keseimbangan di atas dahan pohon, sembari terus menggunakan Pernafasan Pendekar Dewa, aku mendengar arahan dari Senior Hou.

‘Kau menyerap semua udara yang ada di sekitarmu menggunakan satu cara, bernafas lah!’

‘Seraplah itu dengan perlahan, hayati satu persatu, rasakan perputarannya. Jika kau sudah berhasil maka kau akan menjadi kuat.’

‘Semua mahluk hidup yang terlahir di dunia ini tidak akan bisa hidup tanpa adanya sistem pernafasan, jika kau mengerti sesuatu sampai sini itu artinya kau adalah mahkluk hidup.’

Itu adalah kata-kata yang tertulis di dalam Kitab itu, meskipun sejujurnya itu hanyalah bagian kecilnya saja. Bisa di lihat jika semua kata-kata itu memiliki artinya masing-masing, ini yang membuat ku selalu bingung di saat aku sedang berusaha memahaminya.

Aku berlatih dengan Senior Hou yang menjadi pendamping dan pemberi arahan, jujur dirinya mengingatkan ku dengan guru ketiga yang sudah tidak ada.

Tanpa kami sadari, waktu ternyata berlalu dengan begitu cepatnya. Aku mengakhiri latihan ini dengan hembusan nafas terakhir, setelah aku berpikir untuk turun dan kembali ke rumah, melanjutkan mempelajari Kitab itu, tampak Senior Hou memberi tantangan kepada ku.

“Kau harus menggunakan teknik ini sepanjang kau mempelajari Kitab itu.”

Aku pikir itu adalah tantangan yang sangat mengesalkan, lagi pula aku tidak berencana menggunakan pernafasan itu dalam kehidupan sehari-hari, jadi mungkin hanya untuk saat ini saja.

Hari Ke-Dua

Melanjutkan latihan kemarin, aku di ajak oleh Senior Hou untuk bermain bersama. Nama permainannya adalah Kucing dan Tikus, di mana saat itu aku menjadi tikus dan Senior Hou menjadi Kucing.

Di awal permainan, aku memang tampak tidak bersemangat sama sekali, mungkin muka ku saat itu terlihat sangat lesu dan tidak bertenaga. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat permainan ini sedang berlangsung, tapi setelah mengetahuinya wajahku langsung memucat.

Permainan kejar-kejaran itu akhirnya di mulai, aku di berikan waktu untuk memulainya terlebih dahulu. Tapi jujur aku tidak tahu harus lari kemana, mengingat Senior Hou memiliki kekuatan yang sudah di luar nalar manusia, jadi wajar saja jika aku tidak percaya diri untuk dapat memenangkan itu.

Meskipun Senior Hou sudah berkata jika dirinya tidak akan menggunakan semua kekuatannya yang ada, dan hanya mengandalkan kekuatan kakinya saja untuk mengejar ku, tapi tetap saja aku masih tidak bisa percaya diri.

Di tengah permainan aku terdesak, tapi aku berhasil keluar dari posisi itu dengan menggunakan seluruh potensi teknik Pernafasan yang sudah ku pelajari kemarin.

Hingga di akhir permainan, aku berhasil keluar sebagai pemenangnya karena berhasil tidak di tangkap oleh Senior Hou sama sekali. Jujur setelah memainkan permainan itu, aku merasakan jika badan ku sakit semua.

Di ujung harinya, aku bisa membaca dan mempelajari Kitab itu dengan tenang tanpa harus mempertahankan teknik pernafasan seperti kemarin. Senior Hou tadi juga bilang jika besok aku akan masuk ke latihan teknik kedua.

Hari Ke-Tiga

‘Orang yang hidup memiliki sesuatu yang bernama keberadaan, begitupun juga yang tidak hidup.’

‘Benda yang memiliki kehidupan biasanya memiliki keberadaan yang lebih tinggi dari pada benda yang tidak memiliki kehidupan di dalamnya.’

‘Dari langit yang tinggi menjulang, dari dasar laut yang tidak tertembus. Semua itu terdiri dari informasi yang tidak terbatas, seperti luas dari dunia.’

Jujur aku sedikit kebingungan dengan kata terakhirnya, tapi aku tidak sempat menanyakan itu kepada Senior Hou karena dirinya sudah memulai kelas latihannya.

Kali ini teknik yang sedang aku pelajari adalah cara merasakan keberadaan orang lain, seperti Senior Hou yang tampak selalu menyadari keberadaan ku bahkan dari jarak yang sangat jauh sekali pun.

Jujur aku sangat malas setelah mengetahui cara berlatihnya yang terus menguras mental ku secara besar-besaran. Aku ingin mengakhirinya secepat mungkin yang aku bisa, tapi Senior Hou terus memberiku arahan agar melakukannya dengan santai.

Hari Ke-Tujuh

‘Dengan kekuatan yang turun dari langit, kalian yang tidak bisa melihatnya, maka sudah pasti jika kalian adalah mahkluk lemah.’

‘Di puncak gunung, kekuatan ini adalah yang tertipis, di dasar tanah kekuatan ini terkumpul dengan padat dan melimpah.’

‘Adanya kekuatan ini seperti sudut pandang kalian yang memandang Tuhan dan kami berada. Ada yang menyebutkan tidak ada, tapi ada juga yang menyebutkan ada.’

Setelah berlatih tiga hari penuh hanya untuk merasakan keberadaan orang lain, sekarang aku di haruskan lagi untuk berlatih teknik yang berhubungan dengan merasakan lagi, ah ini membuat ku ingin menghancurkan sesuatu.

Aku memang bisa merasakan jika kekuatan ku tumbuh lagi, perasaan ini sama persis saat aku sedang berlatih menjadi pendekar dengan guru pertama ku.

Kekuatan ku saat ini terus tumbuh sedikit demi sedikit, tapi sekarang lupakanlah hal itu. Seperti biasanya hari ini aku berlatih bersama Senior Hou, entah kenapa aku merasa jika teknik ini lebih mudah untuk di kuasai dari teknik yang sebelumnya.

Hari Ke-Sembilan

‘Muncul dari balik awan, Matahari menampakan dirinya dengan bersinar terang. Menunjukkan sebuah senyuman hangat yang menyengat kulit.’

‘Seseorang yang tinggi harapannya tidak akan pernah berbalik melihat ke belakang. Celah adalah Celah, jika tidak ada maka kau bisa membuatnya sendiri.’

‘Meskipun harapannya tidak tinggi seperti yang kau bayangkan, tapi dirinya tetap manusia. Celahnya adalah keraguan, manfaatkan itu sebaik mungkin, buat sampai dirinya tidak bisa melihat mu karena keraguan yang terpampang di hatinya.’

Apa lagi ini, hari demi hari Kitab ini semakin sulit saja ku pahami, aku tidak ingin berkomentar lagi. Setelah menanyakan tentang apa latihan yang akan ku hadapi kedepannya, Senior Hou bilang jika latihan ini adalah latihan yang tersulit dari semua latihan yang ku hadapi selama ini.

Aku tidak yakin dengan itu, tapi setelah mencobanya, ini benar-benar menyulitkan ku, sungguh.

Senior Hou menyuruhku untuk langsung berhadapan dengan salah satu hewan iblis yang ada di hutan sekitar, jujur dirinya menyiksa ku. Entah apa yang salah dengan kepalanya tapi dirinya sungguh berlebihan, menempatkan ku di posisi yang tidak menguntungkan ku sama sekali.

Kekuatan dari hewan iblis itu lebih kuat dari ku berkali-kali lipat, meskipun kekuatan ku saat ini ada di Pendekar Tingkat Khusus tapi tetap saja lawan ku kali ini adalah hewan iblis yang sudah berevolusi, jelas dirinya bisa berpikir seperti manusia biasa di tambah lagi dengan kekuatannya itu yang berada di Pendekar Tingkat Langit.

Hari Ke-Enam Belas

Setelah berjuang penuh selama enam hari penuh untuk mengalahkan musuh itu sembari menggunakan teknik baru, akhirnya aku berhasil melakukannya dengan sempurna di hari ke tujuh.

***

Di satu hari ini, kami memutuskan untuk libur dalam kelas latihan dan bersantai sebentar. Tapi di saat langit sedang menunjukkan waktu malamnya ini, Senior Hou malah menantang ku untuk bertarung satu lawan satu dengannya.

“Bagaimana? Apa kau menerimanya! Aku penasaran jadi bisakah kau menjawabnya sekarang.” Hou Tian bertanya ringan kepada Zhong Li yang tampak sedang memandang api perapian di depannya.

Senyum pahit terukir di wajahnya, “Apakah anda ingin menyiksaku, tolong ampuni jika memiliki kesalahan di mata anda.”

“Ayolah! Aku tidak akan menggunakan semua kekuatan ku jadi kau tenang saja. Lagi pula ini hanya untuk mengetes semua teknik yang kau pelajari, kau harus menunjukkan semuanya di sini.”

Zhong Li menelan kembali ludahnya, sembari menatap yakin ke arah Hou Tian, dirinya berkata dengan yakin. “Aku butuh Pedang.”

1
Jumadi 0707
yng dimaksud pria paruh baya itu umur brp ada jenggot dah putih n masa umurnya 50 an setidaknya 70 an lah Thor jelasin aja Thor peria tua
Jumadi 0707
maksud bertempur gk tau maunya dan bertele2 gk ngerti
alexander
bagus ceritanya
Muhamad Rizki
GT
Dzikir Ari
Kenapa jadi berbeli Belit kata katanya
Dzikir Ari
Alur mulai tertata dan selanjutnya jangan membosankan Tor, ini sekedar masukan...🙏
Dzikir Ari
Gimana kok Alurnya mbulet tor
Dzikir Ari
jalan ceritanya cukup menarik tapi terlalu bertele tele Tor
Dzikir Ari
Lanjutkan Tor
Dzikir Ari
Lanjut
Dzikir Ari
Coba mampir, moga Alurnya tidak bikin bosan Tor 🙏
Haryanto Sendtot
lanjut
Haryanto Sendtot
mna up nya lgi
Abdullah
update ya
Djambar Barmo
Alur cerita tidak mengalir,beberapa bab isinya tidak berhubungan, kalau bercerita harusnya terstruktur
Ahmad Tavip
remove aja cerita ini
Ahmad Tavip
bertele tele
Suyatno Saban
lanjutkan
Idk!
bagus ceritanya, lanjutkan
de wek
baru nemu malam ini di beranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!