NovelToon NovelToon
Trapped By The Devil

Trapped By The Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: ingrid nadya

Davina pikir dia akan menjadi pengantin paling bahagia hari ini. Pernikahannya berjalan dengan baik bahkan sampai dia mengucapkan janji setianya pada lelaki impiannya.

Namun, tiba-tiba seseorang bangkit dari tempat duduknya untuk merusak segalanya.

"Calon pengantin perempuan itu milik saya, Pak Pendeta! Dia tidak boleh jadi milik orang lain!" kata Raka, tegas.

Seluruh jemaat yang hadir langsung gaduh.

Apakah Davina jadi menikah hari ini? Atau dia harus mengenyahkan terlebih dahulu si iblis yang selalu mengganggu hidupnya selama ini?

Covers obtained from pexels, free to use.
IG Author : @ingrid.nadya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cantik Banget Sih Calon Istri Orang!

Raka membiarkan satpam itu menyeretnya keluar dari Espoir dengan semena-mena. Dia tahu satpam itu hanya sedang melakukan tugasnya, dan daridulu orangtuanya selalu mengajarkannya untuk menghargai setiap orang apapun profesinya, maka jadilah dia hanya pasrah saat satpam tersebut mencekal lengannya dengan kuat.

Perih sekali, tetapi Raka tidak berhak marah. Toh, dia yang sudah membuat onar!

"Saya udah bisa dilepas belum, Pak? Mobil saya gak jauh lagi kok." Raka menjelaskan.

"Mobil anda yang mana?" tanya satpam itu.

"Tuh, yang hitam, Pak!" kata Raka, sambil menunjuk dua mobil dari tempatnya berdiri.

Satpam itu terlihat ragu sejenak.

"Ya ampun, Pak, jaraknya tinggal seimprit lagi juga. Saya udah gak mungkin kemana-mana lagi. Saya masih sayang kepala saya. Daripada digetok sama pentungan Bapak." Raka terkekeh sendiri, mencoba bercanda.

Satpam itu tidak menanggapi candaannya, tapi akhirnya melepasnya.

"Gitu dong, Pak." Raka mengusap-usap lengannya yang terasa sakit.

Si satpam memasang tampang segalak yang dia bisa. Ntah kenapa, Raka tiba-tiba mendapat ide cemerlang.

"Eh, ngomong-ngomong, Bapak punya berapa anak di rumah?" tanya Raka, out of nowhere.

Satpam tadi mengamati Raka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dari penampilan dan mobil yang digunakan, dia tahu persis bahwa orang yang diseretnya bukan sembarang orang.

"Kenapa? Mau ancam pecat saya? Silahkan!" kata satpam tadi berusaha tetap tidak terusik. Padahal dalam hati, dia sudah ketar-ketir setengah mati, karena ada tiga orang anak yang perlu diisi perutnya dan diberikan biaya sekolah. Kalau dia sampai dipecat dari sini, bagaimana dia dapat membiayai anak-anaknya?

"Ih, Bapak suudzon deh. Emang siapa saya bisa mecat Bapak?" Raka terkekeh lagi.

Alis sang satpam terangkat satu, dia bingung dengan tingkah orang di hadapannya ini. Apakah orang ini sebenarnya punya gangguan mental?

"Jadi kenapa tanya-tanya saya punya anak berapa?" tanya satpam itu.

"Kalau punya banyak anak kan Bapak artinya butuh duit lebih banyak juga tuh. Nah, saya mau menawarkan kesempatan kerja yang lebih baik, Pak. Saya punya kantor di SCBD, saya bisa merekomendasikan Bapak supaya jadi satpam di kantor saya, tentu aja dengan gaji yang lebih besar dari Espoir."

Dahi satpam tersebut tampak semakin mengernyit.

"Tapi ada satu syarat, Pak..." pancing Raka.

"Apa?"

"Kalau minggu depan saya datang lagi ke tempat ini, Bapak gak boleh seret saya keluar apapun perintah Bu Davina."

"Tapi dia kan bos saya."

"Loh? Kalau Bapak masuk kantor saya, kan saya yang jadi bos Bapak. Gimana sih?"

"Saya..." Satpam tersebut mulai goyah.

"Kalau Bapak minta gaji dua kali lipat dari Espoir juga saya akan kasih." Raka langsung menyembunyikan senyum saat melihat kebimbangan semakin jelas tercetak di wajah satpam itu. Raka pun cepat-cepat mengambil dompet.

"Ini kartu nama saya. Bapak bisa hubungin saya kapan pun ya, Pak. Saya tunggu keputusan Bapak."

Raka pun beranjak pergi setelah satpam tadi menerima kartu namanya. Dia bersiul-siul seakan sudah memenangkan pertarungan, lalu melajukan mobilnya dengan cepat.

Dia yakin minggu depan tidak akan ada yang mengganggunya lagi.

***

Raka mengamati laptopnya, memilah-milih foto Davina yang tadi dijepretnya di Espoir. Foto Glenys sendiri sudah dia kirimkan pada Jihan hanya demi kesopanan semata.

"Cantik banget sih calon istri orang!" gumam Raka sambil mengamati wajah Davina yang sudah dia perbesar sampai selayar-layar laptopnya.

Tapi, dia jadi kesal dengan kata-katanya sendiri. Dia langsung melempar laptopnya begitu saja.

"Ah, brengsek! Beneran jadi istri orang nih kalau gak ada kemajuan gini terus!" keluh Raka.

Dia menghempaskan diri ke ranjang dan mengamati langit-langit kamarnya. Memutar kembali setiap detail kejadian tadi siang sebelum diseret paksa keluar oleh satpam.

Belum pernah Davina setega itu. Biasanya sejahat apapun Raka, sebrengsek apapun kelakuannya, Davina akan selalu memaafkannya. Gadis itu akan membukakan hati selebar-lebarnya untuk menerima dia kembali.

Tapi tadi siang, Raka melihat perubahan besar pada diri Davina. Tatapannya terlihat dingin bahkan saat Raka ditarik semena-mena.

Raka menghela nafas panjang.

Dia tidak boleh patah semangat. Semuanya belum berakhir. Masih ada waktu sekitar... Dia melirik smart watch-nya. Shoot! Dia hanya punya waktu dua puluh tujuh hari lagi!

Dia menggeram di dalam bantal.

Dengan putus asa, dia memilih foto terbaik Davina yang berhasil ditangkap kameranya hari ini dan mencetaknya di sebuah kertas foto. Kemudian dia beranjak keluar apartemen dan melajukan mobilnya ke sebuah toko penjual bunga yang sudah lama tidak didatanginya.

Tempat itu bernama Rumah Bunga. Tidak besar, tidak fancy, tempat itu hanya berada di sudut jalan kecil, bahkan namanya terasa sangat tidak spesial. Tetapi disitulah dulu Raka selalu membelikan bunga untuk Davina.

Saat melihat Raka, perempuan pemilik toko tersebut tersenyum, seakan masih mengingat pelanggan tetapnya dulu.

"Udah lama gak mampir, Mas," kata perempuan itu.

Raka membalas senyumannya, "Iya, udah lama putus soalnya, Mbak."

Perempuan itu terkesiap, "Oh, saya ikut sedih."

"Jangan, Mbak! Saya lagi berusaha kok untuk dapetin dia lagi! Makanya mau beli bunga kesini." Raka nyengir.

"Oh, syukurlah! Kayak pesanan biasa yang dulu, Mas?"

"Iya."

"Baik, saya pilihkan dulu ya."

Raka mengangguk, lalu duduk di sebuah kursi dekat meja kasir. Meskipun tempat ini kecil, tapi sang pemilik menatanya dengan baik.

"Segini cukup, Mas?" tanya perempuan itu, memegang sekitar lima belas batang mawar merah beserta hiasan daun yang cantik.

Raka mengangguk, "Cukup, Mbak."

Perempuan itu pun mengangguk. Lalu dengan terampil, mulai menatanya menjadi sebuah buket bunga. Begitu selesai, dia bertanya, "Perlu kartu ucapan, Mas?"

Raka menggeleng, "Saya pinjem pulpen aja, Mbak."

Raka pun menerima pulpen pemberian perempuan itu, kemudian menuliskan sesuatu di balik foto Davina yang dicetaknya tadi.

Setelah yakin dengan tulisannya, dia mengembalikan pulpen, kemudian mengambil buket bunga dari tangan si pemilik toko. Dia pun membayar buket bunga itu.

"Terima kasih, Mas. Semoga berhasil!"

"Sama-sama, Mbak. Doain saya ya." Raka nyengir, lalu beranjak keluar dari toko itu.

Sebelum melajukan mobilnya, dia mengamati sejenak bunga yang dia letakkan di jok penumpang. Berdoa dalam hati, semoga bunga ini tidak dibuang oleh Davina.

Sekarang, pertanyaannya cuma satu, kira-kira siapa yang rela menyampaikan bunga ini kepada Davina?

Rara? Mungkin kakaknya itu akan membakarnya hidup-hidup kalau dia sampai menunjukkan batang hidung disana.

Papa Dave dan Mama Dee-nya? Begini-begini, dia sangat menyayangi orangtua Davina sepenuh hati, sudah cukup masalah dan beban pikiran yang dia timbulkan untuk mereka.

Baiklah...

Hanya ada satu cara...

Yaitu, bertemu langsung dengan Davina...

***

Jangan lupa like, vote dan comment-nya, teman-teman!

IG Author : @ingrid.nadya

1
Borahe 🍉🧡
Haha gila si Raka
Vina
uhuy
Shifa Burhan
novel egois wanita

aku tantang author nya jika kau diposisi raka apakah kau akan Terima saja diperlakukan kayak gitu

jadi wanita punya hati sedikit dalam berkarya lihat juga perasaan pemeran utama pria jangan egois hanya semua tentang pemeran utama wanita (posisi diri kalian)

kalian bangga lihat novel yang merendahkan lelaki, di novel kelihatan sekali kalian tidak peduli perasaan pemeran utama pria kalian buat pemeran utama pria kayak orang bodoh yang Terima saja diperlakukan dan dipermain

ini contoh kalian merendahkan karakter raka (pria)
*dibuat kayak pengemis yang terus mengemis cinta
*dibuat kayak lelaki bodoh diperlakukan seperti apapun dia Terima begitu saja
*dibuat hanya sebagai pelarian dia Terima begitu saja
*raka yang ditolak dan campakkna tapi dia juga yang terus mengejar devina
*dipermalukan didepan banyak orang kayak pengemis
*digantung dan dibuat kayak boneka yang bisa dipermainkan begitu saja
*saat diperlukan dia harus ada tapi saat tidak dibutuhkan dia di campakan kayak sampah

author punya hati, coba kau diposisi raka apakah kau Terima begitu saja,

novel memang bagus tapi keegoisan mu sebagia wanuta sangat jelas disini
Fareza Gmail.Com: baper keknya..
total 3 replies
Shifa Burhan
kasian sekali karakter pemeran utama pria di dalam nov buatan wanita

raka jelas hanya dibuat pelarian oleh davina tapi author seakan karakter raka jadi lelaki bodoh yang harus Terima saja dipermainkan devina, dipermalukan devina, dibuat pelarian devina

aku tantang author jika author diposisi raka, apakah author mau diperlakukan kayak gini

jadi novelis juga harus punya hati dalam membuat novel, jadi novel bisa adil

lihat saat raka melakukan kesalahan pada devina kalian buat devina tegas dan tidak mudah memaafkan raka
tapi saat devina yang mempermainkan raka kalian buat raga menerima begitu saja kayak lelaki bodoh

pakai hati sedikit saja thor dalam berkarya biar kelihatan betapa egois dirimu sebagai wanita dalam membuat novel
Indri Any: bener banget novel mom tree aku ngikuti novelnya semua
total 2 replies
Shifa Burhan
enak ya jadi pemeran utama wanita dalam novel bebas berbuat apa saja dan semua perbuatannya pasti dibela author (karena authornya wanita jadi dia hanya melihat dari posisi ini)

dan mirisnya jadi pemeran utama pria ketika dia salah dia akan dibuat dapat balasan dan kayak pengemis, tapi ketika dia disakiti dia dibuat harus menerima begitu saja dan kayak lelaki bodoh yang selalu siap untuk pemeran utama wanita


*aku tantang kalian (author) jika kalian diposisi raka apakah kalian akan Terima begitu saja diperlakukan kayak gitu

pakai hati sedikit dalam membuat novel jadi kalian juga memikir pemeran utama pria jangan hanya melihat dari sudut pandang pemeran utama wanita

sekian
Andi Andi
puas banget bacanya. sesuai keinginan ku. 🥰
Andi Andi
nggak sadar diri banget sih si yuni. dari awal dia muncul dicerita ini. aku uda benci banget.
Andi Andi
mantaap raka utk pertama kalinya bersikap dewasa😄
Andi Andi
assyk ini yg aku mau. aku sukaaaa.
Andi Andi
akhirnya ketahuan kan siapa yg lebih tulus mencinta. mana si yuni yg sok sok an. dukung teman. yg di dukung kurang ajarrr. 😁
Andi Andi
akhirnya terucap juga. rasa yg terpendam selama ini
Andi Andi
ya aku juga benci julia
Andi Andi
aku benci yuni.
Andi Andi
niko kamu tu yg masuk dalam kehidupan raka dan dav bukan raka yg masuk dlm hubungan kalian. lupa ya. klu aku mah ogah punya camer kayak mama niko
Andi Andi
aku dari awal uda benci banget sama si yuni ini.
Andi Andi
uda balikan lagi aja.
Andi Andi
nggak banget nih mamanya niko.
Andi Andi
sumpah aku tak bisa lagi menahan air mata ku. tes.. yes jatuh deh. mewek ha.. 😂
Andi Andi
nyesek ya. nyesek nggak. nyesel nggak. bangeeet pake iya. ya mau gimana lagi. Terima aja walau pahit.
Andi Andi
kok aku nggak rela ya niko sama dav. pake cium2 lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!