Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Jangan Ada yang Menjodohkan Dia
Pertanyaan tentang pantas atau tidak masih mengganggu Arum keesokan siang ketika tiga prajurit datang mengetuk pintu Blok C-3.
Kapten Dimas Prakoso masuk paling depan membawa buah dan satu kantong roti. Dua rekan di belakangnya memberi hormat kepada Bara yang sedang duduk dengan kaki ditopang.
"Siap, Komandan. Kami datang memastikan Sang Macan belum berubah jadi kucing rumahan," kata Dimas.
Bara menatap buah di tangannya. "Kalau hanya untuk bicara omong kosong, kembali ke markas."
"Lihat? Masih galak. Berarti sehat."
Arum menahan senyum sambil meletakkan teh di meja. Dimas memandangnya, lalu ke dapur yang rapi dan jadwal obat di dinding.
"Jadi ini Mbak Arum yang membuat Komandan minum obat tepat waktu?"
"Saya hanya mengingatkan."
"Hebat. Kami bertahun-tahun gagal."
Salah satu prajurit mengangguk terlalu semangat. Tatapan Bara membuat kepalanya segera menunduk.
Dimas menerima teh. "Terima kasih, Mbak. Sudah lama rumah ini tidak punya minuman yang rasanya benar. Dulu Bara membuat kopi seperti air rendaman sepatu."
"Kapten Dimas," kata Bara.
"Siap, diam."
Namun, Dimas memang tidak pandai diam. Ia bertanya asal Arum, keterampilan menjahit, dan apakah ia betah di asrama. Arum menjawab seperlunya tanpa membicarakan keluarga Prasetyo.
"Saya ingin membeli mesin jahit suatu hari nanti," kata Arum. "Kalau tabungan cukup, saya bisa menerima permak seragam dan baju warga asrama."
Dimas mengangguk kagum. "Bagus. Kebetulan teman Danki saya punya ruang kosong di depan rumah dinas. Cocok untuk menerima pelanggan."
Cangkir di tangan Bara berhenti sebelum menyentuh bibir.
"Dimas."
"Saya belum mengatakan apa-apa."
"Wajahmu sudah mengatakan terlalu banyak."
Salah satu rekan Dimas menunduk untuk menyembunyikan tawa. Arum justru merasa senang karena ada orang yang menanggapi keinginannya menjahit sebagai pekerjaan nyata, bukan sekadar keterampilan pembantu.
"Mbak belum menikah, kan?" tanya Dimas.
Tangan Bara yang memegang cangkir berhenti.
Arum menggeleng. "Belum."
"Kebetulan sekali. Saya kenal seorang Danki di satuan sebelah. Orangnya baik, belum menikah, rumah dinasnya juga baru direnovasi. Dia mencari perempuan yang pandai mengurus rumah dan tidak suka hidup mewah. Kalau Mbak berkenan, saya bisa mengenalkan."
Udara ruang tengah seolah turun beberapa derajat.
Dua prajurit di belakang Dimas saling lirik. Salah satunya perlahan menjauhkan kursi dari Kapten mereka.
"Tidak perlu," kata Bara.
Dimas masih belum sadar. "Saya bertanya kepada Mbak Arum, bukan Komandan."
"Dia tidak perlu dikenalkan kepada siapa pun."
"Kenapa? Orangnya bagus. Pangkatnya juga..."
Bara meletakkan cangkir.
"Dia milikku."
Suaranya tenang. Justru itu yang membuat Dimas akhirnya mengerti.
"Oh," katanya.
Salah satu prajurit pura-pura batuk. Yang lain menatap langit-langit.
Arum merasakan wajahnya panas. "Pak Mayor..."
Bara tidak mengalihkan pandangan dari Dimas. "Jangan menjodohkan dia dengan siapa pun."
"Siap, Komandan." Dimas mengangkat kedua tangan. "Informasi diterima sangat jelas."
"Hapus nama Danki itu dari kepalamu."
"Sudah hilang. Bahkan wajahnya ikut hilang."
Arum membawa piring kosong ke dapur agar bisa menyembunyikan senyum sekaligus kegugupan. Dari ruang tengah, ia mendengar Dimas tertawa pelan.
"Akhirnya juga," bisik Kapten itu.
"Apa?"
"Tidak ada. Saya cuma heran Sang Macan ternyata bisa cemburu."
"Dimas."
"Siap, saya pamit."
Sebelum pergi, Dimas berhenti di teras seolah baru mengingat sesuatu. "Oh iya, tadi saya bertemu orang bekang. Katanya keluarga Prasetyo ramai karena anak mereka mau pulang dari Jakarta. Siapa namanya? Reyhan?"
Piring di tangan Arum beradu kecil.
Bara mendengar.
Dimas memandang dari satu wajah ke wajah lain, sadar telah menginjak ranjau kedua. "Saya sebaiknya benar-benar pulang."
"Pulang," kata Bara.
"Siap."
Di ambang pintu, Dimas merendahkan suara. "Satu nasihat sebagai teman, Bara. Menjaga bukan berarti memutuskan semuanya untuk dia. Kalau benar serius, minta baik-baik saat dia siap."
Bara menatapnya dingin. "Aku tahu."
"Bagus. Karena tadi wajahmu seperti mau mengeluarkan surat perintah pernikahan."
"Keluar."
Dimas tertawa, lalu benar-benar pergi bersama dua rekannya.
Tawa mereka baru berani pecah setelah mencapai ujung halaman Blok C-3.
Tiga prajurit pergi lebih cepat daripada saat datang.
Pintu tertutup. Arum tetap berdiri di dapur, membilas piring yang sudah bersih.
"Arum."
"Iya, Pak Mayor."
"Duduk."
Ia duduk di kursi seberang. Bara menatapnya lama.
"Siapa Reyhan bagimu?"
"Anak Kapten Hartono dan Bu Yatmi."
"Aku tidak bertanya nama orang tuanya."
Arum meremas ujung rok. "Dulu keluarga kami membuat perjodohan. Saya dibawa ke rumah Prasetyo karena katanya suatu hari akan menikah dengan Reyhan."
"Kamu menyukainya?"
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.
Arum mengangkat mata. "Mayor cemburu?"
"Jawab."
"Mayor tidak menjawab pertanyaan saya."
Bara bangkit dan berdiri di depannya. "Ya. Aku cemburu. Sekarang jawab."
Kejujuran itu membuat Arum kehilangan senyum usilnya.
"Saya tidak tahu apakah pernah menyukainya," katanya. "Waktu kecil saya hanya percaya apa yang orang dewasa katakan. Reyhan kadang baik, kadang membiarkan ibunya memarahi saya. Setelah kuliah di Jakarta, dia hampir tidak pernah menghubungi."
"Tidak pernah menelepon?"
"Dua kali pada tahun pertama. Setelah itu hanya pesan singkat saat Lebaran. Surat yang datang selalu ditulis Bu Yatmi. Katanya Reyhan sibuk dan saya harus sabar. Ponsel saya lama rusak, saya tidak diberi nomor barunya."
"Perjodohan itu pernah dibatalkan tertulis?"
Arum menggeleng. "Bu Yatmi hanya bilang saya tidak sederajat dan harus pergi."
"Berarti mereka bisa memakai cerita lama itu untuk menekanmu."
Arum memucat. "Apakah mereka bisa memaksa saya menikah?"
"Tidak. Persetujuanmu tetap diperlukan. Tapi kita akan pastikan tidak ada orang yang memakai perjodohan lama sebagai hak atas hidupmu."
Kata `kita` membuat napas Arum sedikit lebih ringan.
"Jadi kamu menunggunya?"
"Dulu mungkin. Bukan karena cinta. Karena saya pikir hanya itu jalan agar tetap punya keluarga."
Rahang Bara mengendur sedikit.
"Lihat mataku," katanya.
Arum menurut.
Bara berjongkok agar sejajar dengan kursinya. "Mulai sekarang, jangan biarkan siapa pun menjodohkanmu. Bukan Dimas, bukan Hartono, bukan orang yang pulang dari Jakarta."
"Kalau mereka datang membawa orang tua atau tokoh keluarga?"
"Kamu tetap boleh bilang tidak. Kalau ada ancaman, panggil aku, Bu Yanti, atau Iwan. Saksi dan aturan membuat orang sulit mengubah cerita."
"Mayor juga tidak boleh menjodohkan saya dengan diri Mayor sendiri."
"Benar."
Arum terkejut.
"Tapi aku boleh meminta." Bara menggenggam sandaran kursi, tidak menyentuhnya. "Pilih aku ketika kamu siap. Sampai saat itu, ingat satu hal. Jangan kembali kepada seseorang hanya karena takut tidak punya keluarga."
Mata Arum terasa panas.
"Kalau saya tidak kembali, saya punya siapa?"
Bara menatapnya lurus. "Kamu punya aku."
Di luar, suara motor Dimas menghilang di ujung blok.
Di tempat lain, kabar tentang Reyhan yang akan pulang mulai bergerak menuju Blok C-3 seperti badai kedua.