Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Sama
Selesai acara rafting mereka pun bersiap untuk makan siang di salah satu tempat makan lesehan. Salah satu tempat makan bertema lesehan terhits di sekitaran Magelang - Djogja. Menu sudah dipesan, mereka kini sedang terduduk lesu karena lelah bermain rafting.
"Untung kita bawa baju ganti kalau enggak masuk angin berjamaah." ujar Awan sambil menata rambutnya.
"Angin juga tidak mau masuk badan mu yang bau itu." timpal Ochi, entah mengapa sejak di arena rafting Ochi dan Awan selalu meributkan sesuatu yang sepele, tapi tingkah mereka justru menjadi hiburan bagi teman-temannya yang lain.
"Setidaknya tubuh ku tidak hanya berisikan tulang saja seperti mu." balas Awan sambil tersenyum remeh ke arah Ochi. Ochi yang kesal pun hanya bisa diam dan enggan membalas cibiran Awan.
Makanan pun tiba, begitu banyak lauk pauk yang mereka pesan saking banyaknya hingga mereka tidak menyadari apakah perut mereka mampu menampung isi makanan tersebut atau tidak. Mereka melahap makanan dan saling berbagi lauk pauk, Arindita yang biasanya hanya makan sedikit saja kini sudah makan di luar porsi biasanya. Dewa tersenyum senang melihat Arindita begitu lahap.
"Apa kau senang?" tanya Dewa pelan, ia masih melahap makanan ke mulutnya.
"Hm ... Padahal makanannya biasa saja, tapi entah kenapa makan bareng seperti ini terasa seperti punya keluarga kecil." balas Arindita pelan sambil mengunyah makanan di mulutnya dan tersenyum sumringah.
"Aku akan menemani mu kemana pun selama itu membuat mu bahagia." ujar Dewa sambil melanjutkan suapan demi suapan ke mulutnya. Tanpa mereka berdua sadari ucapan terakhir Dewa sontak membuat mereka teriak histeris.
"Woah ...." ucap mereka bersamaan. Arindita dan Dewa yang disoraki pun menghentikan kegiatan mereka dan saling melirik satu sama lain.
"Pepet terus jangan kasih kendor!" teriak Awan. Ucapan Awan pun berhasil membuat semuanya tertawa bersama.
Dewa dan Arindita yang diledek pun hanya diam tak berkomentar, mereka berdua lebih memilih untuk melanjutkan makan. Saat yang lain meledek Dewa, berbeda dengan Aldi yang sibuk menatap dan memperhatikan Haura yang kini duduk bersebrangan dengannya. Aldi yang melihat Haura tertawa pun ikut tersenyum senang, tidak lagi menatap Haura dengan tatapan sendunya itu.
Ochi yang sedang tertawa tak sengaja membuang tatapannya ke arah lain, namun tak disangka ia justru melihat adegan Aldi tersenyum ke arah Haura lalu kembali menatap makanannya. Ochi menengok ke arah Haura dan ke Aldi secara bergantian, lalu menyikut tangan Ocha yang ada di sampingnya.
"Kenapa?" tanya Ocha yang hanya menggerakkan mulutnya tanpa suara.
"Ah, tidak jadi." ucap Ochi sambil mengibaskan tangannya.
"Dasar tidak jelas." ucap Ocha yang kini melanjutkan makan sisa makanan yang ada di piringnya.
Lauk pauk dan segala macam makanan sudah habis tak tersisa, beberapa dari mereka merasa kekenyangan, dan ada juga beberapa dari mereka yang kini sedang merokok di are luar rumah makan tersebut.
Awan pun tak sengaja membahas kembali komunitas yang sempat menjadi gunjingan para mahasiswa kepada Al, Dewa dan Ari.
"Al, aku benar-benar penasaran isi hp ku semuanya membahas topik komunitas yang tadi pagi sempat kita bahas." ujar Awan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Memangnya mereka kenapa lagi?" tanya Al cuek. Al paling malas membahas anak-anak yang suka berulah seolah-olah mereka utusan Tuhan.
"Yang membuat ku terkejut adalah, ada yang bilang di group bahwa sebelum malam puncak ospek mahasiswa baru, ada anak semester dua yang tak sengaja melihat komunitas ini setiap malam pergi ke area belakang kampus mengendap-endap, seperti menyembunyikan sesuatu, kau tahu kan disana tidak ada cctv?" ujar Awan. Al dan Ari yang mendengarnya pun terdiam dengan fikiran masing-masing.
"Terus pantau aja Wan, aku pun merasa kesurupan massal kemarin seperti ada yang mengundang mereka untuk hadir bukan karena terganggu oleh aktifitas kita semua malam itu. Kalau memang mereka terganggu kenapa baru saat ini kesurupan massal itu terjadi, ini bukan pertama kalinya kampus mengadakan event di lapangan utama. Semua masih samar jadi jangan terlalu gegabah, jangan sampai kita salah melangkah yang ada akan mengundang kerusuhan di kalangan mahasiswa." ujar Al menanggapi ucapan Awan tentang komunitas itu.
"Apa ada yang tahu siapa salah satu dari anggota komunitas itu?" tanya Ari penasaran, Ari merasa bahwa yang melakukan ini pasti mahasiswa akhir atau mahasiswa semester atas.
"Sejau ini si belum ada yang tahu siapa founder dari komunitas aneh ini." jawab Awan, ia menutup ponselnya dan kembali menyesap batang rokok miliknya.
"Saat aku membantu Haura, wanita tua itu bilang ia menginginkan Haura dan membawa anak ini bersama mereka, dan lagi, kenapa diantara kita semua hanya Haura yang terus diganggu oleh 'mereka'? Bukankah itu sangat mencurigakan Al? Kalau jawabannya karena Haura lebih sensitive dari yang lain, kita pun sama. Aku sudah memikirkan kejadian ini tapi tak juga menemukan titik terang." ucap Ari, ia membuang putung rokoknya ke tempat sampah.
"Ya aku pun berfikir hal yang sama, tapi satu yang aku tahu pasti, Haura memang memiliki aura yang kuat, yang membuat 'mereka' menyukai anak itu." ujar Al, kini semua sudah berkumpul di luar rumah makan dan berlanjut untuk ke destinasi lainnya.
"Kemari kan kunci mobil Wa, biar aku yang menggantikan mu." ujar Awan.
"Aku temani kau menyetir." ucap Al ke Awan, mereka kini sudah memasuki mobil Awan dan Al kini sudah duduk di kursi depan, Dewa dan Arindita menggantikan tempat duduk Awan dan Al dibelakang.
"Hari sudah mau sore, kita mau kemana nih?" tanya Ari ke Awan, dengan cepatnya otak Awan mengingat alun-alun kidul.
"Karena kita sudah begitu letih, bagaimana jika kita ke alun-alun kidul saja, disana sangat ramai dan lumayan seru untuk pendatang." jelas Awan ke teman-temannya.
"Alun-alun kidul jauhkah?" tanya Haura penasaran, Haura yang jarang sekali traveling jauh pun bertanya dengan begitu antusias.
"Tak jauh karena tempatnya ada di belakang keraton Djogja. Kita bisa bermain santai di sana. Ada yang bilang bagi para pejuang instagram tempat itu salah satu destinasi seru karena pemandangan di malam hari terlihat lebih instagramable. Kalian para wanita pasti menyukainya, dan lagi banyak aneka jajanan disana yang bisa kita cicipi." ujar Awan dengan penuh antusias.
"Cih, bilang saja kesana hanya ingin mencicipi makanan, bukan karena tempatnya instagramable, dasar pemakan segala." cibir Ochi ke Awan tanpa memandang ke arah Awan sekali pun. Awan yang kesal pun sengaja membanting stir mobil ke kanan menikuk tajam hingga kepala Ochi terbentur kaca mobil.
"Astaga kepala ku ...." rintih Ochi sambil memegangi kepalanya dan menoleh tajam ke arah Awan yang sedang menyetir di depan. Bukan hanya Ochi semua pun kaget karena kejahilan Awan.
"Bisakah menyetir dengan benar?" teriak Ochi lagi ke Awan. Awan hanya tersenyum nyengir.
"Satu sama ...." teriak Awan sambil tertawa, ia senang bisa membalas kejahilan Ochi di tempat rafting. Al pun ikut tertawa melihat kejahilan Awan.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...