Beranjak dari takhtanya sebagai penguasa berdarah di perbatasan selatan.
Lin Xiao kini melangkahkan kaki ke dalam pusaran konspirasi mematikan Kota Awan Suci, tempat di mana eksistensi Jiwa Murni berkeliaran layaknya prajurit biasa dan Empat Sekte Suci mengendalikan langit.
Di musim kedua ini, tirai misteri Makam Para Raja perlahan ditarik lebih lebar melalui sebuah ekspedisi menegangkan ke dalam reruntuhan dimensi kuno yang tidak hanya menguji batas kekuatannya untuk menembus ranah Jiwa Murni, tetapi juga menguak luka, penyesalan, serta masa lalu dari para roh kaisar yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Ditemani oleh Xue Mingyue, raksasa setia Meng Shan, dan seorang gadis bercadar misterius yang menyimpan rahasia terdalam dari pusat benua, Lin Xiao harus menyeimbangkan ambisi penaklukannya dengan ikatan emosional yang semakin kuat, membuktikan bahwa di balik arogansi dan kekejaman seorang Kaisar Bayangan, terdapat jiwa manusiawi yang terus berjuang mendobrak takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bara api unggun yang tersisa di tengah ruang perhentian itu perlahan mulai meredup dan mati menjadi abu.
Lin Xiao membuka matanya yang sejak tadi terpejam untuk bermeditasi, merasakan seluruh aliran energinya telah kembali ke titik maksimal.
"Waktu istirahat sudah habis, bangunlah kalian semua." perintah Lin Xiao menendang pelan kaki Meng Shan yang sedang mendengkur.
Pemuda raksasa itu langsung melompat berdiri sambil mengusap air liur di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
"Saya sudah siap menghancurkan apa pun yang ada di depan sana, Tuan!" lapor Meng Shan dengan penuh semangat.
Xue Mingyue dan Nona Yue juga sudah berdiri merapikan pakaian mereka, wajah kedua gadis itu kini terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.
Mereka berempat berjalan menyusuri lorong pendek di ujung ruangan yang berujung pada sepasang pintu kristal raksasa.
Tidak ada segel atau jebakan yang menghalangi, pintu itu terbuka dengan sendirinya begitu Lin Xiao melangkah mendekat.
Kriet.
Sebuah hamparan aula bundar yang luar biasa megah dan luas menyambut pandangan mereka.
Dinding dan langit-langit aula itu memproyeksikan gambaran galaksi yang terus berputar, membuat mereka seolah sedang berdiri di tengah alam semesta.
"Ini adalah Aula Inti Bintang Jatuh." bisik Nona Yue dengan mata amethyst yang berbinar takjub.
"Pusat kendali dari seluruh anomali ruang dan gravitasi di dalam dimensi makam ini."
Di tengah aula tersebut, terdapat sebuah altar batu giok putih yang melayang beberapa anak tangga dari lantai.
Di atas altar itu, dua buah benda kuno memancarkan pendaran energi yang sangat luar biasa dan memikat jiwa.
Sebuah cermin perak dengan ukiran teratai di bingkainya berdiri tegak, memancarkan aura penyembuhan yang sangat murni.
Tepat di samping cermin itu, sebuah bola kristal berukuran sekepalan tangan melayang di udara, di dalamnya terlihat miniatur galaksi yang berputar.
"Cermin Pemulih Jiwa!" seru Nona Yue tidak bisa lagi menahan kegembiraannya.
Gadis bercadar itu setengah berlari menaiki anak tangga altar, melupakan semua keanggunan dan kehati-hatiannya selama ini.
"Tunggu, Nona Yue! Jangan sentuh sembarangan!" teriak Xue Mingyue mencoba memperingatkan gadis tersebut.
Namun peringatan itu datang terlambat, ujung jari Nona Yue telah menyentuh bingkai perak dari cermin kuno itu.
Sring.
Seketika itu juga, bola kristal galaksi di sebelah cermin itu merespons dengan memancarkan cahaya ungu yang sangat menyilaukan mata.
'Mekanisme pertahanan terakhir makam ini telah diaktifkan!' gema suara Kaisar Bayangan di dalam kepala Lin Xiao.
'Bocah, bola kristal itu adalah wadah inti dari warisan Kaisar Ilusi Bintang, dia mencoba menelan jiwa gadis itu!'
Lin Xiao tidak membuang waktu sedetik pun, dia memicu kecepatan maksimalnya dan melesat ke atas altar.
Wush.
Pemuda itu mendorong bahu Nona Yue dengan sangat kasar, membuat gadis itu terjerembab ke belakang menjauhi altar.
Sebagai gantinya, Lin Xiao mengulurkan tangan kanannya dan mencengkeram langsung bola kristal yang sedang memancarkan energi mematikan tersebut.
"Jangan pernah mencoba menyentuh barang yang menjadi bagianku, kaisar tua!" raung Lin Xiao menantang energi kuno di dalam bola itu.
Duarr.
Benturan antara energi jiwa Lin Xiao dan warisan Kaisar Ilusi Bintang menciptakan gelombang ledakan ruang dimensi yang menyapu seluruh altar.
Ledakan itu mengenai permukaan Cermin Pemulih Jiwa, memantulkan sinar ilusi tajam yang menyambar lurus ke arah Nona Yue yang sedang terjatuh.
Cras.
Sinar ilusi itu tidak melukai tubuh Nona Yue, namun tebasannya merobek telak cadar sutra yang selama ini menutupi wajah gadis tersebut.
Cadar putih itu hancur menjadi serpihan debu, akhirnya mengekspos wajah asli sang gadis misterius secara sempurna di bawah cahaya galaksi.
Meng Shan dan Xue Mingyue yang berlari menyusul ke altar langsung membeku di tempat, napas mereka seolah berhenti berdetak.
Di balik cadar itu, tersembunyi sebuah wajah dengan kecantikan yang melampaui logika dunia fana, sehalus pualam murni tanpa cela sedikit pun.
Sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit berwarna perak menghiasi keningnya yang putih, memancarkan keagungan absolut.
"Tanda bulan sabit suci..." gumam Xue Mingyue dengan mata terbelalak ngeri mengenali lambang tersebut.
"K-kau... kau adalah Putri Suci dari Istana Bayangan Bulan!" jerit gadis pewaris es itu menyadari identitas asli rekan seperjalanannya.
Nona Yue, atau sang Putri Suci, memalingkan wajah cantiknya dengan ekspresi campuran antara kepanikan dan rasa bersalah.
Lin Xiao yang masih mencengkeram bola kristal di atas altar sempat melirik wajah gadis itu dari sudut matanya.
'Jadi ini alasan mengapa anjing-anjing bayangan bulan itu sangat protektif terhadapmu.' batin Lin Xiao menyeringai di tengah rasa sakit.
Namun sebelum pemuda itu sempat mengucapkan kalimat ejekan, bola kristal di tangannya meledakkan daya hisap ruang yang tidak tertandingi.
Wush.
Mata Lin Xiao mendadak berubah menjadi putih kosong, kesadarannya telah ditarik keluar secara paksa dari tubuh fisiknya.
'Bocah, persiapkan mentalmu, kita akan masuk ke dalam ujian pewarisan yang sesungguhnya!' teriak Kaisar Pedang Haus Darah sebelum suaranya ikut tersedot masuk.
Bruk.
Tubuh fisik Lin Xiao jatuh tak sadarkan diri di atas altar batu giok, masih dengan tangan kanan yang menempel erat pada bola kristal.
Di saat yang bersamaan, seluruh Aula Inti Bintang Jatuh mulai bergetar hebat layaknya dilanda gempa bumi berskala raksasa.
Kriet. Krak.
Proyeksi galaksi di langit-langit mulai retak, menandakan bahwa dimensi makam ini mulai runtuh akibat segel intinya disentuh.
"Tuan Lin Xiao!" raung Meng Shan melompat ke atas altar dan mencoba menarik tubuh tuannya.
"Jangan sentuh dia, raksasa!" teriak sang Putri Suci segera bangkit berdiri dan menghalangi tangan Meng Shan.
Wajah cantik gadis itu kini memancarkan aura dominasi dan kepemimpinan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, tidak lagi menyembunyikan identitas aslinya.
"Jika kau menggeser tubuhnya sekarang, koneksi jiwanya dengan bola kristal itu akan terputus dan dia akan mati seketika!" jelas sang Putri Suci dengan cepat.
Xue Mingyue melompat naik ke altar dan langsung mengarahkan pedang esnya ke leher gadis berparas dewi tersebut.
"Kau menipu kami sejak awal, Putri Suci." desis Xue Mingyue dengan tatapan yang sangat mematikan.
"Kau memanfaatkan bosku untuk membawamu kemari karena kau tahu orang-orang dari sekte sucimu sedang memburumu!"
Sang Putri Suci tidak bergeming sedikit pun melihat ujung pedang yang berjarak hanya satu inci dari lehernya yang jenjang.
"Aku tidak pernah berniat mencelakai kalian, Nona Xue." balas sang Putri Suci dengan mata amethyst yang menatap lurus tanpa keraguan.
"Jika aku bermaksud buruk, aku tidak akan membagikan peta ini kepada kalian sejak awal."
"Lalu apa rencanamu sekarang saat atap ini mulai runtuh menimpa kepala kita?!" bentak Xue Mingyue melirik batu-batu yang mulai berjatuhan.
Brak.
Sebuah bongkahan batu kristal jatuh menghantam lantai aula, menciptakan kawah kecil yang memuntahkan debu dimensi.
Sang Putri Suci mengalihkan pandangannya ke arah tubuh Lin Xiao yang terbaring kaku, lalu ke Cermin Pemulih Jiwa di sebelahnya.
"Kalian berdua harus menggunakan seluruh energi kalian untuk melindungi tubuh fisik Lin Xiao dari reruntuhan atap." perintah sang Putri Suci mengambil alih situasi.
"Aku akan menggunakan energi Cermin Pemulih Jiwa ini untuk menstabilkan ruang dimensi di sekitar altar sampai dia selesai menyerap warisan itu."
Meng Shan menatap wajah cantik itu sejenak, lalu memutar tubuh besarnya membelakangi altar dan mengangkat kapaknya.
"Saya tidak peduli siapa Anda, Nona Yue." geram pemuda raksasa itu mengaktifkan Tubuh Meteor Bajanya hingga maksimal.
"Jika sampai sebutir debu pun melukai tubuh Tuan Lin Xiao, saya akan meremukkan kepala cantik Anda itu tanpa ragu."
Xue Mingyue mendengus keras, menurunkan pedang esnya dan berbalik berdiri di sisi lain altar untuk membentuk formasi pertahanan ganda.
"Lakukan bagianmu dengan cepat, Putri, atau kita semua akan terkubur di dimensi terkutuk ini selamanya." ancam gadis es itu mulai merapal sihir perlindungannya.
Sang Putri Suci mengangguk tegas, dia segera memeluk Cermin Pemulih Jiwa itu dan menyalurkan seluruh energi peraknya ke dalamnya.
Sring.
Cermin kuno itu memancarkan kubah cahaya perak yang menyelimuti altar, menahan dinding-dinding dimensi yang mencoba merobek ruang di sekitar mereka.
Sementara itu, di kedalaman bola kristal, kesadaran Lin Xiao kini terdampar di sebuah dunia hampa yang dipenuhi oleh ribuan bintang jatuh.
'Sambutlah aku, Kaisar Ilusi Bintang.' bisik Lin Xiao dalam wujud rohnya, menatap sosok raksasa transparan yang duduk di singgasana ruang angkasa.
'Mari kita lihat, apakah warisanmu cukup layak untuk membantuku memotong leher para dewa di benua ini.'
Proses pewarisan yang sangat menyakitkan telah dimulai, menjanjikan terobosan kekuatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Di luar sana, para sekutu dan rekan misteriusnya sedang mempertaruhkan nyawa untuk menjaga tubuh fisiknya tetap utuh.