Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tikus dan Serigala
Tatapannya tetap tertuju pada Eve yang berdiri di balik dinding. Wajah kecil itu sudah tidak lagi berusaha menyembunyikan ketakutannya. Kedua tangannya turun perlahan, tetapi jari-jarinya masih gemetar.
Eve ingin bergerak, tetapi kakinya terasa kaku, ia mengangkat wajahnya sedikit. Begitu mata merah pria itu kembali bertemu dengan matanya, napasnya langsung tertahan, lehernya terasa seperti tercekik.
Tatapan Lucien tidak lagi sekadar dingin seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memahami bahwa orang di hadapannya bukan sekadar Duke yang menyebalkan. Lucien adalah seseorang yang mampu membuat naluri bertahan hidupnya langsung berteriak.
Dia tahu seharusnya tidak menguping. Namun mengetahui hal itu tidak membuat rasa takutnya berkurang. Eve mencoba membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi tidak ada suara yang keluar. Lidahnya terasa kaku.
Lucien benar-benar tampak seperti ingin membunuhnya.
Tangannya perlahan terangkat. Jari-jari pria itu bergerak sedikit, seolah hendak meraih tubuh kecil di hadapannya. Eve menahan napas dan semakin merapatkan tubuh ke dinding.
'Jangan.'
Tangannya mengepal, tanpa sadar keringat dingin mulai membasahi pelipis dan telapak tangan Eve.
Tangan Lucien semakin mendekat, pria itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya, wajahnya masih keras. Percakapan yang baru saja berlangsung, campur tangan keluarga Kekaisaran, lalu mendapati anak yang baru saja dipungutnya menguping pembicaraan rahasia membuat emosinya yang sejak tadi ditahan semakin sulit dikendalikan.
Tangannya hampir mencapai Eve ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
"Yang Mulia!"
Lucien berhenti.
Pria itu langsung menundukkan kepala.
"Yang Mulia, utusan Kekaisaran telah tiba."
'Vins?'
Eve dengan cepat menyadari suara itu, kehadiran Vins secara tiba-tiba seperti pertolongan yang turun dari langit.
Seketika perubahan terjadi pada wajah Lucien. Rahangnya mengeras begitu mendengar perkataan Ajudannya itu. Tatapannya beralih ke arah Vins, lalu ke lorong di belakangnya seolah mampu melihat orang-orang yang sedang menunggu di ruang utama.
"Tch baru saja bertemu tadi pagi, tampaknya Kaisar bajin*an itu benar-benar merindukanku," Suara Lucien penuh kejengkelan.
Lucien menurunkan tangannya, lalu mengalihkan pandangannya pada Vins.
"Antar mereka ke ruang tamu," perintahnya dingin. "Aku akan segera ke sana."
"Baik, Yang Mulia."
Tidak membutuhkan waktu lama Lucien segera bergegas ke ruang tamu. Di saat yang sama, Vins kemudian melirik Eve.
Baru sekarang dia benar-benar memperhatikan anak kecil yang berdiri di sisi dinding dengan wajah pucat. Pandangannya sempat berpindah kepada Lucien, lalu kembali kepada Eve. Dia tidak perlu bertanya untuk memahami bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Vins berjalan mendekat dan berjongkok agar sejajar dengan Eve. Senyumnya muncul dengan cepat, jauh lebih ramah daripada ekspresi Lucien beberapa detik lalu.
"Selamat siang, Nona," sapanya lembut. "Saya senang bisa melihat Anda hari ini."
Eve hanya menatapnya, tetapi Vins mempertahankan senyumnya, matanya sempat bergerak ke arah Lucien yang sudah berjalan meninggalkan mereka. Setelah memastikan Duke tidak lagi berada di dekat mereka, dia kembali menatap Eve.
"Mungkin ini pertama kalinya Nona mengetahui hal semacam ini," katanya dengan nada ringan, "tetapi sebagai peringatan saja, Duke sangat tidak menyukai orang yang suka menguping."
Senyumnya masih ada. Namun kali ini Eve bisa melihat bahwa mata pria itu tidak ikut tersenyum.
"Saya harap Nona mengerti."
Eve menundukkan kepala sedikit.
Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dadanya masih naik turun lebih cepat dari biasanya karena beberapa saat lalu dia benar-benar mengira Lucien akan melakukan sesuatu kepadanya.
Vins berdiri kembali.
"Saya akan memanggilkan pelayan untuk mengantar Nona kembali ke kamar."
Dia baru hendak berbalik ketika suara kecil terdengar dari belakang.
"Bactiyan..."
Vins berhenti.
Eve mencengkeram ujung gaunnya. Suaranya bergetar ketika dia mengulang nama itu.
"Caya mau Bactiyan."
Vins terdiam beberapa saat. Tatapannya kembali kepada Eve. Kali ini ekspresinya sedikit berubah ketika melihat wajah kecil yang masih menyimpan ketakutan.
"Baiklah," jawabnya akhirnya. "Bastian akan mengurus Anda."
Vins kemudian melangkah pergi menyusul Lucien, meninggalkan Eve sendirian di lorong.
Untuk beberapa saat Eve hanya berdiri di sana. Setelah mendengar langkah Vins semakin menjauh, dia baru berani mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan, perlahan tubuh kecilnya terduduk di lantai marmer.
Tangannya masih gemetar.
'Gila...'
Eve menelan ludah.
'Tadi itu beneran gue hampir dibunuh, kan?Mulai sekarang, kalau mau nyelidikin dia, kayaknya gue harus lebih hati-hati.'
......................
Eve masih terduduk di lantai setelah Vins pergi. Napasnya perlahan mulai kembali normal, tetapi pikirannya justru mulai mengingat sesuatu yang pernah dia baca dalam Rose and Crown.
Keluarga Valois.
Dalam cerita, keluarga Valois bukan sekadar salah satu keluarga bangsawan terbesar di Kekaisaran. Mereka memiliki kekuatan khusus yang diwariskan melalui garis keluarga. Kemampuan itu menyerupai sihir, tetapi efeknya jauh lebih berbahaya karena dapat memengaruhi tubuh maupun pikiran seseorang.
Bentuk kekuatannya berbeda-beda pada setiap anggota keluarga. Ada yang mampu memberikan tekanan pada tubuh lawan, mengganggu gerakan atau indra, sementara sebagian lainnya memiliki kemampuan yang lebih berkaitan dengan pikiran. Kekuatan tersebut juga dapat digunakan dalam peperangan, sehingga keluarga Valois memiliki hubungan yang sangat kuat dengan militer Kekaisaran.
Itulah salah satu alasan mengapa tidak banyak bangsawan yang berani mencari masalah dengan mereka. Valois bukan hanya keluarga dengan wilayah luas dan pasukan besar. Mereka sendiri memiliki kekuatan yang bisa mengubah jalannya sebuah pertempuran.
Eve kemudian teringat pada Cedric.
Kekuatan Cedric termasuk yang paling mengerikan dalam cerita, bukan karena dapat menghancurkan sesuatu secara langsung, melainkan karena berhubungan dengan pikiran manusia.
Menjelang akhir cerita, ketika perasaannya kepada Seraphina berubah menjadi obsesi, Cedric menggunakan kekuatannya untuk memengaruhi pikirannya. Perlahan, dia membuat Seraphina kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang di sekitarnya dan menanamkan sugesti bahwa hanya dirinya yang bisa melindunginya. Seraphina yang berusaha melawan akhirnya semakin sulit membedakan pikirannya sendiri dengan pengaruh Cedric.
Cedric tidak sekadar mengurung tubuhnya. Dia mencoba menguasai pikirannya. Eve bergidik kecil ketika mengingat bagian itu.
'Orang gila semua,'
Dalam novel, Cedric bahkan percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk cinta. Dia tidak merasa sedang menyakiti Seraphina. Menurutnya, selama Seraphina tetap bersamanya dan tidak lagi menginginkan orang lain, semuanya akan baik-baik saja.
Pada akhirnya, Putra Mahkota berhasil menemukan Seraphina dan mematahkan pengaruh Cedric. Setelah diselamatkan, Seraphina akhirnya menikah dengan sang Putra Mahkota, sementara Cedric harus menghadapi akibat dari tindakannya.
Eve mengusap dagunya.
'Kalau Cedric aja bisa melakukan itu... terus kekuatan Lucien apa?'
Dia tidak ingat pernah ada penjelasan yang benar-benar jelas mengenai kemampuan Lucien dalam novel. Mungkin karena kekuatannya jarang diperlihatkan secara langsung, atau memang sengaja disimpan sebagai misteri.
Eve menatap kosong ke arah lantai.
Yang jelas, keluarga ini jauh lebih berbahaya daripada yang selama ini diia kira. Namun sebelum dia sempat memikirkan rencana berikutnya, suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Bastian muncul beberapa saat kemudian. Begitu melihat Eve masih duduk di lantai, langkahnya langsung dipercepat. Dari Vins, dia sudah mendengar sebagian kejadian yang terjadi sebelumnya, tetapi melihat Eve sendirian di lorong membuatnya tetap khawatir.
"Nona, mari saya antar kembali ke kamar," ujar Bastian.
Eve mendongak.
Begitu melihat Bastian, dia langsung bangkit dan berlari menghampirinya.
"BACTIYAN!"
Bastian terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil. Tangannya turun mengusap kepala Eve.
"Saya di sini, Nona."
Eve menarik napas panjang. Setelah melihat Bastian, pikirannya terasa jauh lebih tenang. Rasa takut yang tadi sempat memenuhi dadanya sudah berganti menjadi kewaspadaan.
Dia tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama. Eve kemudian menggenggam tangan Bastian,
Mereka berjalan kembali menuju kamarnya.
.