Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepergian tanpa perpisahan
Bu Ratih menarik napas panjang sebelum kembali menatap Maya. Tatapannya tidak lagi dipenuhi kemarahan, melainkan ketegasan yang dingin.
"Maya," ucapnya pelan, "Ibu ingin kamu melihat kenyataan dengan jernih."
Maya tetap diam.
"Keluarga Pratama memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupanmu. Sejak awal, hubungan ini tidak mungkin diterima dengan mudah."
Kalimat itu menusuk hati Maya, tetapi ia masih berusaha menahan air matanya.
Bu Ratih membuka ponselnya, lalu menggeser layar hingga sebuah percakapan muncul.
"Ini pesan dari Mahesa."
Maya memandang layar itu dengan tangan yang mulai bergetar.
Di sana terlihat pesan singkat dari Mahesa yang meminta agar untuk sementara semua urusan dengan Maya ditangani melalui Bu Ratih. Mahesa juga menulis bahwa ia tidak ingin mengambil tindakan yang dapat memperburuk keadaan di rumah karena ingin menjaga kondisi Naura yang sedang mengandung dan telah lama menantikan kehadiran seorang anak.
Setelah membaca pesan itu, Maya merasakan dadanya seperti diremas.
"Jadi..." bisiknya lirih. "Dia bahkan tidak ingin menemuiku?"
Bu Ratih menurunkan ponselnya.
"Mahesa sedang berusaha menjaga keluarganya. Istrinya sedang hamil, dan setelah bertahun-tahun menunggu, kehamilan itu adalah kebahagiaan besar bagi mereka."
Setiap kata yang keluar dari mulut Bu Ratih terasa semakin memperdalam luka di hati Maya.
"Lalu bagaimana dengan anak saya?" tanya Maya dengan suara bergetar. "Apa dia tidak berhak mendapatkan seorang ayah?"
Bu Ratih memejamkan mata sesaat sebelum menjawab.
"Ibu hanya ingin mencegah agar tidak semakin banyak orang yang terluka."
Air mata Maya akhirnya jatuh tanpa mampu ia bendung.
"Jadi... selama ini saya hanya diminta mengerti?"
Tidak ada jawaban.
Maya tertawa lirih, tetapi tawanya dipenuhi kepedihan.
"Enam bulan saya menunggu satu penjelasan. Yang saya terima hanya kiriman uang, makanan... dan sekarang penolakan."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Saya tidak pernah meminta menjadi bagian dari keluarga Pratama. Saya hanya ingin orang yang bertanggung jawab berani menghadapi kenyataan."
Bu Ratih menggenggam cangkir kopinya erat.
"Ibu tahu kamu terluka."
"Bukan hanya terluka, Bu."
Maya menatap lurus ke arah Bu Ratih.
"Harga diri saya perlahan hancur. Yang paling menyakitkan bukan karena saya ditolak, tetapi karena saya bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendengar penjelasan itu langsung dari Pak Mahesa."
Suasana di antara mereka kembali sunyi.
Maya perlahan berdiri dari kursinya. Matanya masih basah oleh air mata, tetapi sorotnya kini dipenuhi kekecewaan yang mendalam.
"Saya mengerti sekarang."
"Maya..."
"Mulai hari ini, saya tidak akan lagi menunggu seseorang yang memilih diam daripada menghadapi kesalahannya."
Tanpa menoleh lagi, Maya melangkah meninggalkan kafe. Sementara Bu Ratih hanya mampu menatap kepergiannya dengan hati yang semakin berat, menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil demi melindungi keluarganya telah meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Maya yang baru beberapa langkah meninggalkan meja mendadak berhenti. Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menghadap Bu Ratih. Matanya masih dipenuhi air mata, tetapi kali ini sorotnya berubah menjadi lebih tegas.
"Kalau keluarga Pratama terus menganggap saya dan anak saya tidak pernah ada," ucap Maya dengan suara bergetar, "saya tidak akan terus diam."
Bu Ratih mengangkat pandangannya.
"Maksudmu?"
Maya mengepalkan kedua tangannya.
"Saya akan mencari jalan agar kebenaran ini diketahui. Saya lelah menunggu tanpa kepastian."
Suasana di dalam kafe seketika terasa semakin mencekam. Beberapa pengunjung mulai melirik ke arah mereka, meski percakapan keduanya masih berlangsung dengan suara yang tertahan.
Bu Ratih tetap duduk dengan tenang, tetapi tatapannya berubah tajam.
"Maya, pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan."
"Saya sudah memikirkannya selama enam bulan."
"Kalau masalah ini sampai menjadi konsumsi publik," lanjut Bu Ratih pelan, "bukan hanya keluarga Pratama yang akan menghadapi akibatnya."
Maya terdiam.
"Namamu juga akan ikut menjadi sorotan. Anak yang sedang kamu kandung pun bisa tumbuh di tengah perhatian dan gosip yang tidak pernah ia pilih."
Ucapan itu membuat Maya menggigit bibirnya. Ia memang marah, tetapi ia juga tidak ingin anaknya menjadi sasaran pembicaraan banyak orang.
Bu Ratih melanjutkan dengan nada yang lebih lembut.
"Ibu tidak sedang membungkammu. Ibu hanya ingin kamu memikirkan dampaknya bagi semua pihak, terutama anak yang belum lahir."
Maya menundukkan kepala. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Lalu sampai kapan saya harus menunggu?" tanyanya lirih. "Sampai anak saya lahir? Sampai dia bertanya siapa ayahnya?"
Bu Ratih tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu membuatnya kehilangan kata-kata.
Beberapa detik kemudian ia berdiri dari kursinya.
"Ibu akan mengupayakan agar masalah ini tidak terus menggantung. Tapi Ibu juga meminta kamu tidak mengambil langkah karena amarah sesaat."
Maya mengusap air mata di pipinya.
"Saya tidak marah karena uang, Bu."
"Saya marah karena selama ini saya merasa tidak didengar."
Keduanya saling menatap dalam diam. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu mengurangi luka yang telah terlanjur ada. Yang tersisa hanyalah dua perempuan dengan tujuan berbeda, sama-sama berusaha melindungi orang yang mereka sayangi, tetapi dengan cara yang saling berbenturan.
Maya yang semula masih berusaha menenangkan diri kembali terduduk di kursinya. Napasnya belum teratur, sementara matanya terus menatap Bu Ratih, berharap masih ada secercah harapan yang dapat mengurangi luka di hatinya.
Namun, Bu Ratih justru mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Maya.
"Maya..." ucap Bu Ratih pelan. "Ada satu hal yang selama ini tidak pernah Ibu ceritakan."
Maya mengangkat wajahnya.
"Apa itu, Bu?"
Bu Ratih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan suara berat.
"Ketika Mahesa pertama kali mengetahui tentang kehamilanmu... dia sangat panik."
Jantung Maya berdegup semakin cepat.
"Karena kepanikan itu, dia sempat mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dia ucapkan."
Maya menggenggam ujung bajunya erat.
"Apa yang dia katakan?"
Bu Ratih memejamkan mata sejenak.
"Dalam kepanikannya, Mahesa pernah berkata bahwa andai semua ini tidak pernah terjadi, hidup semua orang akan jauh lebih mudah."
Bu Ratih menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Dia bahkan sempat mengucapkan keinginan agar kehamilan itu tidak berlanjut."
Kalimat itu menghantam Maya tanpa ampun.
Untuk sesaat, ia tidak mampu bereaksi. Wajahnya perlahan memucat, sementara air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.
"Jadi..." bisiknya lirih. "Sejak awal... anak ini memang tidak diinginkan?"
Bu Ratih tidak menjawab.
Keheningan itu terasa seperti jawaban yang paling menyakitkan.
Air mata Maya akhirnya jatuh satu per satu.
Tangannya yang refleks memeluk perutnya mulai gemetar.
"Dia... bahkan belum pernah melihat anak ini..." suaranya pecah. "Tapi sudah berharap dia tidak ada."
Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
Selama ini Maya masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mahesa hanya membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan. Ia selalu mencari alasan atas sikap diam Mahesa.
Kini, harapan itu runtuh dalam hitungan detik.
Tawa lirih keluar dari bibirnya, tetapi terdengar begitu rapuh.
"Enam bulan..." katanya sambil menangis. "Aku menunggu enam bulan hanya untuk mengetahui bahwa sejak awal aku dan anakku dianggap sebagai kesalahan."
Bu Ratih menundukkan kepala. Meski ia masih ingin melindungi keluarganya, melihat Maya hancur di hadapannya membuat hatinya sendiri terasa semakin berat.
Maya perlahan berdiri.
Ia mengusap air matanya, tetapi air mata itu terus mengalir tanpa henti.
"Saya tidak pernah meminta dia mencintai saya, Bu."
Suaranya bergetar hebat.
"Tapi mendengar bahwa anak yang saya kandung pernah dianggap tidak layak untuk dilahirkan... itu lebih menyakitkan daripada semua penghinaan yang saya terima."
Maya memeluk perutnya dengan kedua tangan, seolah sedang melindungi bayi yang belum sempat mengenal dunia.
"Mulai hari ini," bisiknya dengan mata yang dipenuhi luka, "apa pun yang terjadi... saya akan menjadi satu-satunya orang yang memastikan anak ini tahu bahwa dirinya berharga."
Tanpa menoleh lagi, Maya melangkah keluar dari kafe. Setiap langkahnya terasa berat, tetapi di balik luka yang semakin dalam, perlahan tumbuh tekad untuk melindungi anaknya, meski ia harus menghadapi semuanya seorang diri.
Langit sore mulai berubah jingga ketika Maya kembali ke kontrakannya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan membawa beban yang semakin menyesakkan dadanya. Sesampainya di dalam, ia memandangi ruangan kecil yang telah menjadi tempatnya bertahan selama beberapa bulan terakhir.
Tak ada lagi alasan untuk tetap tinggal.
Dengan mata yang masih sembap, Maya membuka lemari dan mulai memasukkan pakaian ke dalam koper tua miliknya. Setiap lipatan baju mengingatkannya pada harapan yang pernah ia gantungkan kepada keluarga Pratama, harapan yang kini telah hancur berkeping-keping.
Tangannya berhenti ketika menyentuh pakaian bayi yang baru beberapa hari lalu ia beli. Senyum kecil yang sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia memeluk pakaian mungil itu sambil mengusap perutnya yang telah membesar.
"Maafkan Ibu," bisiknya lirih. "Ibu tidak bisa memberimu keluarga yang utuh."
Air mata kembali mengalir. Namun kali ini, Maya tidak menangis dengan suara. Ia hanya membiarkan kesedihan itu mengalir bersama keheningan.
Beberapa saat kemudian, ia mengunci pintu kontrakan untuk terakhir kalinya. Sebuah tas ransel dan koper sederhana menjadi satu-satunya barang yang ia bawa. Dalam hatinya telah bulat satu keputusan—ia akan meninggalkan kota ini dan memulai hidup baru di tempat yang tidak mengenal dirinya.
Di terminal bus, Maya duduk di bangku paling ujung sambil memeluk tasnya. Angin sore berembus pelan, tetapi tidak mampu mengusir rasa dingin yang memenuhi hatinya.
Tak lama kemudian, suara deru kendaraan memenuhi jalan raya di depan terminal. Lampu lalu lintas berubah merah sehingga deretan mobil berhenti tepat di depan halte.
Tanpa sengaja, pandangan Maya tertuju pada sebuah mobil hitam yang sangat dikenalnya.
Mobil Mahesa.
Napas Maya seketika tertahan.
Melalui kaca samping yang belum sepenuhnya tertutup, ia melihat Mahesa sedang duduk di kursi pengemudi. Di sampingnya, Naura tersenyum hangat sambil berbicara pelan. Mahesa membalas senyum itu, lalu dengan lembut merapikan rambut Naura yang tertiup angin sebelum menggenggam tangannya beberapa saat.
Maya membeku.
Pemandangan sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua ucapan Bu Ratih.
Tidak ada wajah laki-laki yang tampak terbebani. Tidak ada tatapan seseorang yang sedang memikirkan dirinya atau anak yang sedang ia kandung. Yang ia lihat hanyalah seorang suami yang begitu perhatian kepada istrinya.
Perlahan, Maya menundukkan kepala.
Kini ia mulai percaya pada setiap perkataan Bu Ratih di kafe.
Mungkin benar... Mahesa telah memilih keluarganya.
Mungkin benar... dirinya hanyalah masa lalu yang ingin dilupakan.
Tanpa sadar, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Maya segera memalingkan wajah ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil itu melaju perlahan, semakin jauh hingga menghilang di antara keramaian kota.
Maya tidak memanggil.
Mahesa pun tidak pernah menyadari bahwa hanya beberapa meter darinya, ada seorang perempuan yang pernah menunggu tanggung jawabnya selama berbulan-bulan sedang memilih pergi membawa luka dan seorang anak yang belum sempat ia peluk.
Tak lama kemudian, bus yang ditunggu akhirnya tiba.
Maya mengusap air matanya, menarik koper, lalu melangkah naik tanpa menoleh ke belakang.
Baginya, kota itu tidak lagi menyisakan harapan. Yang tertinggal hanyalah kenangan, penyesalan, dan luka yang akan selalu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia percaya, tetapi tidak pernah benar-benar ia miliki.