Lima orang tewas dalam malam yang sama.
Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.
Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.
Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.
Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI SELESAI
Aura sempat memasang kuda-kuda lagi.
"Let..."
Namun Aleta tetap berdiri tenang. Ia bahkan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
Aura mengernyit. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu.
"Itu..."
"Bantuan mereka," sambung Aleta.
Tak lama, dua pria lain berlari.
"Adrian!"
"Zion!"
Gavin dan Ezra langsung membantu kedua pria yang dikeroyok tadi, yaitu Adrian dan Zion.
"Kalian berdua nggak apa-apa?" tanya Gavin.
"Aman," jawab Zion, sementara Adrian hanya mengangguk sebagai jawaban.
Disisi lain...
Puluhan pria berbaju hitam yang tadi, langsung menyerang dan melumpuhkan para pengeroyok.
Melihat keadaan mulai terkendali, Aleta menoleh kepada Aura.
"Pulang."
Aura mengangguk.
Tanpa menunggu ucapan terima kasih, keduanya berjalan menuju sebuah sedan hitam yang terparkir di ujung jalan. Begitu pintu mobil terbuka, keduanya masuk begitu saja.
Vroom...
Mesin kembali menyala.
Saat mobil perlahan melaju meninggalkan gang, Zion tanpa sengaja menangkap nomor polisi kendaraan itu.
B 1789 ATL
Ia mengernyit, menghafalkan kombinasi huruf dan angka tersebut dalam hati.
...****************...
Sebuah sedan hitam melaju tenang membelah jalanan kota. Di balik kaca gelapnya, seorang wanita tampak terbaring tak sadarkan diri di kursi belakang.
Maya.
Efek obat bius beberapa jam yang lalu masih bekerja sempurna. Aura menoleh sekilas ke belakang untuk memastikan target masih belum sadar.
"Berapa menit lagi?" tanya Aura.
"Sepuluh."
Suasana kembali hening. Hanya suara mesin mobil yang memenuhi kabin.
Tak lama kemudian, sedan hitam itu meninggalkan jalan raya dan berbelok menuju kawasan pergudangan yang sudah lama terbengkalai.
Lampu jalan mulai berkurang. Di kanan dan kiri hanya terlihat bangunan kosong yang nyaris tak pernah didatangi siapa pun.
Aleta memperlambat laju mobilnya. Mobil pun berhenti tepat di depan sebuah gudang tua yang menjadi tujuan mereka malam itu.
Kelopak mata Maya perlahan bergerak. Pandangannya masih buram saat kesadarannya kembali sedikit demi sedikit. Hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya udara malam yang memenuhi gudang tua itu. Kedua tangannya terikat kuat di belakang kursi.
"Di–di mana ini?"
Tak ada jawaban. Hanya langkah kaki yang perlahan mendekat.
Tap...
Tap...
Tap...
Maya mendongakkan kepala. Dua sosok berpakaian serba hitam berdiri beberapa meter di hadapannya.
Aleta dan Aura.
Tatapan keduanya sama dinginnya.
"Kalian siapa?! Lepasin gue!" Maya mulai panik.
Aleta melempar sebuah map ke lantai tepat di depan Maya. Puluhan lembar foto berserakan. Foto perselingkuhan yang di dapat dari rekaman kamera pengawas. Wajah Maya perlahan memucat.
"Kenal dia?" tanya Aura sambil menunjukkan foto Mita, dan dibalas dengan anggukan Maya.
"Dia yang minta kami buat menghabisi lo. Lalu setelah itu, kami akan memut1las1 dan mengirimkannya pada Ardian," ucap Aura, lalu tersenyum smirk.
"Lo akan mat1 dalam keadaan jelek dan gak terbentuk," bisik Aleta tepat di telinganya.
"Hahahaha...."
"Hahahahaa.... "
Suara tawa keduanya menggema di seluruh penjuru gudang. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Maya meremang. Jantungnya berdegup semakin cepat.
Dengan suara yang bergetar, Maya memohon, "Tolong... lepasin gue. Gue akan bayar berapa pun!"
"Sayangnya..." Aleta menggeleng pelan. "Kami nggak menginginkan uang dari lo."
"Yang kami inginkan hanyalah..."
Jlep!
"Arghhh!!!"
Teriakan Maya menggema ke seluruh penjuru gudang saat Aura menusukkan p*sau lipat ke lengannya.
"Kemat1an lo," ucap Aura dengan nada dingin.
Setelah itu, Aura menendang Maya hingga tersun*kur ke lantai dalam posisi yang masih terikat pada kursi. Aleta berjalan ke arah Maya, lalu menginjak luk4 t*sukannya dengan sepatu boots berhak tinggi mahal yang dikenakannya.
Sementara itu, Aura membungkuk lalu mengambil p*st0lnya dan menempelkannya ke kepala Maya.
Maya tidak berhenti memohon meminta ampun. Air mata terus mengalir di wajahnya yang pucat.
Aleta berjongkok, ia mengeluarkan sebuah gunting dari balik jaketnya. Ia mengarahkan gunt*ng itu pada luk4 Maya. Tanpa aba-aba ia men*suk dan mengg*nting kulit di sekitar luka itu.
"Ampun... Sakit..."
"Tolong berhenti!"
"Arghhh!!!"
Teriakan kes4k1tan dari Maya terdengar semakin keras. Meski hanya berada di satu titik, tapi luk*nya sangat dalam dan semakin dalam setiap Aleta menus*knya. Rasanya pasti sangat menyakitkan bagi seorang perempuan yang tidak pernah merasakan sakit sebelumnya.
Jlepp!
Jlepp!
Jlepp!
Aleta terus menusuk Maya tanpa jeda, tapi kali ini tidak hanya di satu titik.
"Bu-bun*h saja..." pinta Maya dengan nada lirih, ia benar-benar sudah lelah dengan rasa sakit ini.
"Ucapkan selamat tinggal pada dunia..." ucap Aleta dengan nada dingin, melontarkan kalimat yang selalu ia ucapkan kepada korbannya.
Jlepp! Jlepp! Jlepp!!
"Say goodbye..." ujar Aura, yang juga melontarkan kalimat yang telah menjadi ciri khasnya.
Dorr!
Tanpa sedikit pun keraguan, Aura melepaskan satu tembak*n ke arah Maya. Sesaat kemudian, pakaian dan wajah Aura serta Aleta kembali terkena percikan, menambah kesan suram setelah apa yang baru saja terjadi.
Aura lalu berjalan dengan tenang menghampiri kamera yang sejak tadi merekam setiap aksi mereka. Sementara itu, Aleta berdiri memandangi tubuh Maya yang kini terbaring tak bergerak.
Wajah Maya dipenuhi noda d4r4h, hingga yang terlihat lebih jelas hanyalah matanya yang membelalak, membuat ekspresinya tampak begitu meng3rikan. Pakaiannya s0bek. Luka tusukan ada di mana-mana. Bau anyir memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang menyesakkan dan membuat siapa pun yang menghirupnya ingin segera menjauh.
Aleta melepaskan sarung tangannya, lalu membiarkannya tergeletak di lantai. Setelah itu, ia menoleh kepada Aura.
"Ayo, pulang. Sudah hampir pagi."
Aura mengernyit. "Bagaimana dengan m4y4tnya?"
Jika mereka meninggalkannya begitu saja, bukankah itu akan menjadi bukti kejahatan mereka?
Aleta tetap tenang. "Mita sudah mengirim orang-orang yang akan membereskan semuanya."
Aura mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, keduanya berbalik meninggalkan gudang itu, sementara tubuh Maya tetap terbaring dalam keheningan.
...****************...
Menjelang dini hari, Aleta dan Aura akhirnya kembali ke apartemen. Begitu pintu tertutup, keduanya mengembuskan napas lega.
Tak ada percakapan panjang. Mereka langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Aura keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Di wajahnya sudah tampak rangkaian skincare malam yang biasa ia gunakan.
Aleta pun tak lama menyusul. Ia merapikan rambutnya, lalu mengoleskan pelembap tipis sebelum merebahkan diri di sofa ruang tengah.
Aura mengangkat pandangannya ke arah jam dinding. "Hampir subuh," katanya pelan.
Aleta hanya mengangguk pelan.
"Nanti sekolah nggak, Let?" tanyanya lagi.
"Nanti tanya Viana." Aleta mengambil ponselnya.
"Okeyyy." Aura segera membuka aplikasi whatsapp.
Aura: Na, kalau sekolah, telepon gue ya begitu bangun.
Pesan itu langsung terkirim.
Setelah memastikan semua pintu telah terkunci, keduanya mematikan lampu apartemen.
...****************...
Keesokan paginya...
Sinar matahari perlahan menembus celah tirai. Aleta dan Aura masih tertidur nyenyak di kamarnya masing-masing. Bahkan hingga menjelang siang, tetap tidak ada panggilan ataupun pesan baru dari Viana.
Hingga akhirnya, layar ponsel Aleta menyala. Bukan karena telepon dari Viana, melainkan notifikasi dari aplikasi DANA nya.
Anda menerima transfer sebesar Rp500.000.000.
Nominal pembayaran dari klien telah masuk ke rekeningnya. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru menyusul.
Mita/Klien: Terima kasih. Aku puas dengan hasil kerja kalian.
mana dipanggil honey lagi /Doge/