Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 016 : Ngudud Bersama Bidadari Ghaib
Perkataan Sesepuh juga monyet putih yang Farah lihat tadi. Kini membuat Farah termenung di teras rumah sambil menyandarkan tubuhnya ke samping tepat di antara tiang yang menyangga rumah Sesepuh itu di sana.
Farah memperhatikan sekitar. Malam mulai tiba. Langitnya mulai gelap dan sunyi kembali menerpanya.
Dia menatap ke arah jalanan. Jalanan yang jarak antara tiang lampu satu ke tiang lampu lain cukup jauh. Dia juga melihat ada sekitar dua rumah warga yang masih terjangkau Indra penglihatannya.
Ya, ini desa! Jarak antara rumah ke rumah memang cukup jauh. Tetapi, remang lampu rumahnya masih bisa dia perhatikan dan dapatkan.
'Malam satu suro!'
Farah terhenyak,
"Hah!" pekiknya, dia terkejut mendapati sebuah suara kecil mengucapkan kalimat itu padanya. Padahal, tak ada siapapun di sana selain dia. Ketika dia memilih berbalik,
Brukkk
"Farah!" ucap Ardin memanggilnya. Dia memegangi kedua bahu Farah mencengkrammya kecil sebab gadis itu limbung dan hilang keseimbangan.
"Ma.. maaf kak!" lirih Farah merasa bersalah. Ardin memperhatikannya, ada sesuatu yang terjadi sepertinya pada Farah. Ah, dia tidak bisa membiarkan itu. Sebab dia sudah berjanji pada kedua orang tua Farah untuk menjaganya.
"Kamu kenapa?" tanya Ardin kepadanya seraya menunduk mencoba memperhatikan wajahnya.
Farah mendongak, dia menatap lekat sorot mata Ardin.
"Aku dengar suara!" jawab Farah padanya. Ardin menaikkan salah satu alisnya. Sejenak dia memutar kedua bola matanya. Mengarahkannya ke segala penjuru. Namun, dia tidak menemukan siapapun.
"Suara siapa? Ini udah hampir larut malam, Farah? Kamu, capek sepertinya! Ayo istirahat saja!" ajak Ardin menenangkannya. Suara lembutnya itu sejenak seperti membelai hati Farah rasanya. Dia terdiam sejenak.
Perubahan emosi yang terjadi pada Farah jelas Ardin mengerti. Entah, sejak kapan rasanya? Tiap kali melihat gadis ini, hati Ardin senang.
"Lelah, kah?" kali ini Ardin mencoba bertanya lagi padanya. Farah menggelengkan kepalanya.
"Aku baik kok, kak! Tenang aja!" jawab Farah padanya. Ardin tersenyum tipis mendengar itu.
Pukkk
"Eh!" Farah tersentak lagi rasanya ketika Ardin tanpa ijin darinya. Meletakkan telapak tangannya tepat di atas puncak kepala Farah.
"Tidurlah! Bukannya kita berangkat besok?" tutur Ardin kepadanya seraya mengusap-usap lembut puncak kepala Farah.
Adegan yang begitu mesra rasanya. Hingga Aldi, Desta dan Haikal yang tadinya sibuk menatap layar laptop pun menatap malas ke arah keduanya.
Bagaimana bisa kedua sejoli itu melakukan hal mesra di hadapan mereka yang tidak membawa pasangan? Itulah, yang kini tersemat di dalam kepala mereka bertiga.
"Jadi ini, mau dilanjut gak?" tanya Aldi kini memecah konsentrasi kedua temannya yaitu Haikal dan Desta yang duduk di sampingnya. Ya, mereka sedang mendiskusikan sesuatu sejak tadi.
Mendengar pertanyaan Aldi, Haikal dan Desta sontak kembali menoleh ke arah Aldi.
"Haish, ini gegara dua sejoli itu! Kenapa pula kudu semesra itu di depan kita?!" ujar Desta, dia cukup muak rasanya. Tetapi ya, mau gimana lagi?
Haikal terkekeh mendengar ocehan Desta. Mereka kembali fokus pada layar laptop Aldi. Di dalam layar laptop itu mereka sedang membahas perihal satu ajian. Sebuah ajian yang Aksaranya berada dalam tubuh mereka.
Ajian yang sempat disebutkan oleh Aldi ketika mereka sadar dari pingsan mereka. Ajian yang bernama, 'Ajian Dasa Aksara'.
"Ajian ini, sebetulnya ajian apa? Kenapa Aksaranya ada pada kita?" lirih Aldi, dengan sinyal yang sangat minim di sana.
Dia mencoba mencaritahu. Kesabaran mereka diuji rasanya ketika artikel yang memuat segala informasi perihal ajian itu sulit dimasuki sebab minimnya jaringannya.
Di tengah kesibuka mereka masing-masing. Rifki memilih pergi ke belakang. Dia sudah cukup lama duduk di belakang rumah sambil merokok.
Di belakang rumah itu. Ada hutan yang cukup gelap. Rifki tidak pernah takut. Sudah makanannya hampir tiap hari rasanya melihat hal-hal ghaib.
"Hihihihi.." suara cekikikan tawa dari atas pohon menyita perhatian Rifki. Sementara ketika indranya menemukan siapa yang menertawakannya. Rifki hanya diam. Mereka saling adu pandang sekarang.
Seorang wanita berambut panjang. Besar dan sangat tinggi. Rambut panjang wanita itu menetupi wajahnya. Sementara tawanya melengking. Dia lah bidadari ghaib. Siapa lagi makhluk ini jika bukan, Mbak Kunti.
"Ngapain kamu di sana? Percuma, aku juga gak bakalan takut! Toh, masih ada yang lebih seram dari kamu!" ujar Rifki padanya sembari masih merokok.
Sementara Mbak Kunti di atas sana masih tertawa.
"Ganggu banget dia!" geram Rifki, cukup muak dia rasanya diganggu seperti ini. Segera dia mematikan rokoknya.
Bahkan setelah Rifki menyudahi acara ududnya. Mbak Kunti itu masih betah menatapnya di sana. Karena lelah dan sudah cukup muak.
Rifki yang murka itu pun mengambil batu. Dia membidik tepat ke arah Mbak Kunti di sana yang kini akan menjadi target korban batu yang akan dilemparkannya.
"Sialan memang!" umpat Rifki, dia menarik tangannya kebelakang dan sekuat tenaga mendorong batu itu tepat ke arah Mbak Kunti itu.
"Hihihihi..."
Blushhhh
Ketika batu itu melayang tepat ke arah Mbak Kunti. Pada detik sebelum batu itu mengenainya. Sosok itu pun menghilang bersamaan dengan tawanya.
Melihat sosok itu menghilang. Rifki kembali menatap ke arah hutan. Di antara kegelapan yang jauh di sana serta bulan purnama yang mulai memancarkan cahaya cukup terang.
Dia melihat, kedua bola mata merah memantau. Bola mata merah yang seakan meleleh di antara kegelapan. Rifki terus melihat ke arah itu. Memantapkan Indra penglihatannya.
"Siapa lagi ka..."
Degggg
Rifki membulatkan kedua matanya ketika pemilik kedua bola mata itu dengan cepat melesat ke arahnya bak sebuah piston.
"Masuk sekarang, Rifki!!!" ujarnya berteriak di hadapan Rifki, tepat di depan mukanya kemudian menghilang bak asap.
Saat itu, Rifki membelalakkan kedua matanya. Sial, untung dia masih muda. Jika jompo, mungkin kelakuan setan ini bakalan buat dia mati.
"Gila, gila!" umpat Rifki sembari mengelus dadanya dengan kedua telapak tangannya. Mencoba menenangkan jantungnya yang hendak log out dari dalam tubuhnya.
"Heh, aku tahu ya, kalian makhluk yang punya kekuatan gak lazim. Tapi tolong yang sopan kalau muncul! Bisa kita kelarin ini dengan cara kekeluargaan, loh! Gak kayak gini, muncul hilang muncul hilang kayak mantan!" umpat Rifki ke arah hutan gelap itu. Dia sudah hampir tidak waras rasanya.
Aksi menggerutunya itu bahkan tidak sengaja disaksikan oleh Haikal dan Desta yang baru saja melewati belakang rumah. Sebab toilet di rumah sepuh ada di belakang. Menyaksikan kelakuan Rifki yang aneh itu. Mereka diam, sejenak saling pandang dan berkata,
"Dia kenapa?" tanya Haikal pada Desta.
Desta menggelengkan kepalanya lalu berbisik pelan,
"Kurasa teror-teror ini udah buat dia gila!" jawab Desta padanya.
"Kita ajak ke depan aja, gimana? Kasihan Mas Rifki!" saran Haikal kini pada Desta.
Haikal mengangguk mendengar itu. Mereka berdua pun menghampiri Rifki di sana.
"Kamu kenapa teriak-teriak, Mas?!" tanya Haikal yang kini berada di belakang tubuh Rifki. Rifki menoleh ke arah mereka. Sambil menoleh ke arah mereka. Dia menunjuk ke arah hutan gelap di depannya.
"Ituloh, mereka ngajakin war dari tadi! Masa, saya ngrokok di sini diganggu mulu'!" ujar Rifki pada mereka menjelaskan kondisinya.
Haikal dan Desta sejenak menatap ke arah hutan. Sudah tidak ada apa-apa di sana. Tetapi memang samar-samar Haikal mendengar beberapa suara minta tolong.
Merasa tak aman jika berada di sana cukup lama. Haikal pun menarik tangan Rifki bersamanya.
"Udah Mas, mending kamu ikut kami ke kamar mandi mas!" ajak Haikal pada Rifki.
Desta terkekeh mendengar itu. Dia melakukan hal yang sama. Mengajak Rifki untuk ikut mereka ke kamar mandi. Supaya ramai, dan rasa takut mereka memudar.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣