NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Cadangan

Bukan Pengantin Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: tami chan

Arunika Safana terpaksa menurut ketika kedua orang tua angkatnya memintanya untuk menikahi Bratasena Arka Sadajiwa, karena kakak angkatnya -Bianca- kabur tepat di hari pernikahannya dengan Sena. Demi menjaga nama baik kedua keluarga, Aruni menyetujui permintaan kedua orang tuanya meskipun Aruni dan Sena terpaut usia yang cukup jauh yaitu 12 tahun.

Sena; "Semua orang kek anj*ng! semua gara-gara Lo, Bii! kenapa Lo harus kabur di hari pernikahan kita! dan gue harus menikah dengan bocah ini?!"

Arunika; "Astaga kayak mimpi! Nggak ada yang tau, kalau selama ini aku memang suka sama Mas Sena. I have loved him since the first time we met, 2 tahun yang lalu. Dan sekarang aku harus menggantikan Kak Bi jadi pengantin Mas Sena? absolutely I do!"

Gimana ya, keseruan Arunika untuk mendapatkan hati Sena? berhasilkah dia? yuk ikuti kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan.

Aruni membuka mata perlahan. Langit-langit putih. Bau antiseptik. Suara detak monitor di sampingnya.

Di mana aku?

Dia mencoba mengingat. Sena mabuk. Dia ketakutan. Mengurung diri di kamar mandi. Dingin. Lalu... gelap.

"Udah sadar?"

Suara itu datar. Kaku. Aruni menoleh perlahan. Sena berdiri di dekat jendela, bukan di samping ranjang. Tangannya di saku celana. Wajahnya dingin seperti biasa, tapi matanya... matanya merah. Dan ada kerutan halus di dahinya yang jarang muncul.

"Mas..." suara Aruni serak.

Sena berjalan ke meja samping ranjang. Dia mengambil gelas air, tapi tidak menyodorkannya ke bibir Aruni. Dia hanya meletakkannya di meja, agak jauh dari jangkauan Aruni.

"Minum."

Aruni meraih gelas itu dengan tangan gemetar. Sena melihatnya, lalu mendekat untuk membantu.

Aruni tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.

"Mas... kenapa aku di sini?"

Sena menghela napas. "Kamu pingsan. Demam. 40 derajat." Sena terdiam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sepertinya… aku sudah membuka trauma mu, ya…” gumamnya merasa sedikit bersalah, tidak, sebenarnya Sena merasa sangat bersalah, tapi dia tak mau menunjukkannya. Dia terlalu gengsi.

Aruni memaksakan senyumnya, “maaf… aku, entah kenapa tiba-tiba saja teringat kejadian mengerikan beberapa tahun yang lalu… otakku sepertinya tak bisa berpikir apa-apa dan langsung menyuruhku lari dan sembunyi di kamar mandi…” Aruni menunduk, suaranya pelan setengah berbisik.

“Maaf Mas, aku sudah merepotkan. Baru beberapa hari jadi istri sudah bikin heboh, ya…”

Sena menatap Aruni yang masih tertunduk, dia juga melihat tangan Aruni yang menggenggam ujung selimut dengan kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

“Bukan salahmu.. akulah yang seharusnya minta maaf. Maaf kurang peka. Sebelum ini memang aku suka minum-minum di kaffe Wisnu-“

“Mas Sena semalam ke kaffe Kak Wisnu?” kaget Aruni, dia menatap Sena penasaran.

“I.. ya.. kenapa?” Sena memandang Aruni. Bertanya-tanya kenapa gadis ini begitu senang mendengar kalimat ‘kaffe Wisnu’?

“Ti-tidak apa-apa. Aku lega. Aku takut Mas Sena mabuk-mabukkan ditempat asing, kayak klub atau diskotik apa gitu..  terus ketemu cewek.. terus…”

Sena mendengus, “Di matamu aku ini lelaki begitu?!” kesalnya.

“Iya,” jawab Aruni blak-blakkan.

“Dasar bocah sialan!” batin Sena. “Aku nggak sembarangan, mau dekat dengan perempuan pun pilih-pilih. Memangnya kamu pikir aku apaan? Play boy? Buaya darat?”

“Iya,” jawab Aruni lagi sambil cekikikkan. Senang sekali dia bisa menggoda suaminya.

“Kalau aku playboy, mana mungkin bisa pacaran sampai sepuluh tahun dengan satu wanita!”

“kalau mas Sena bukan play boy, nggak mungkin pacaran sampai sepuluh tahun, pasti udah nikah dari dulu,” sambar Aruni cepat.

Sena mendengus sambil terkekeh, “Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi Banca lah yang selalu menolak saat aku ajak menikah. Dan akhirnya dia setuju tapi kabur…” Sena terkekeh menertawai dirinya sendiri.

Aruni terdiam, dia merasa bersalah. Sepertinya dia sudah kelewatan. “Maaf.. Mas-“

Belum selesai bicara, tiba-tiba ponsel Aruni berdering. Aruni menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan ponselnya, dan ternyata ponselnya tengah dipegang oleh Sena.

Sena teringat, lalu menyerahkan ponsel Aruni, “Ada yang menelponmu terus dari tadi, namanya Vivi…” ucap Sena.

“Vivi? Kenapa ya?” gumam Aruni bingung, lalu dia menekan tombol hijau di ponselnya.

“Halo Vi-“

“Lu kemana aja sih, Aruni! Hari ini kan kita janjian buat ke mall beli gaun pesta! Kok Lu malah nggak ngampus! Lu tuh udah ga masuk empat harian, sekarang tambah lagi, nggak takut kena sanksi, lu!”

Aruni menutup satu matanya dan menjauhkan ponsel dari telinga, suara Vivi begitu keras sampai telinganya berdering.

“Sorry Vi, aku lagi sakit… nggak ngampus dulu…”

“Hah! Lu sakit apa? Sekarang di mana? Udah makan belum?” ceorcos Vivi dari sebrang telpon.

“Aku…” Aruni melirik Sena, dan mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa lapar. Benar juga, sekarang sudah jam sebelas pagi dan dia belum sarapan sama sekali, dan perutnya keroncongan.

“Belum… tapi sebentar lagi aku mau makan kok..” Aruni melirik nampan makanan yang ada di atas nakas dan tersenyum lega.

“Nggak! Lu pasti boong! Lu di rumah sakit mana! Aku ke sana sekarang!” ucap Vivi tak mau dibantah.

“Aku… di…” Aruni menatap Sena, meminta persetujuannya.

Sena mengangguk samar sambil menghela panjang.

“Aku di Rumah sakit Selalu Sehat, kamar…” Aruni melongok kamarnya, dan baru sadar jika dia berada di ruang perawatan ini sendirian. Ini bukan bangsal kelas tiga, atau kelas dua. Ini seperti kamar VIP.

“Paviliun Melati, nomer 3,” ucap Sena.

Aruni mengangguk lalu memberi tahu VIvi. Setelah itu dia menurtup panggilan telpon. Menatap Sena dengan mata terbelalak. “Mas… kenapa taruh aku di paviliun? Harganya mahal-“

“Suammu ini bukan orang miskin, Aruni!” kesal Sena, dia mengambil nampan makanan Aruni dan melihatnya beberapa menit. “makanan ini sudah dingin, mending aku pesankan makanan baru, ya?”

“Nggak usah Mas, aku makan itu aja. Nggak baik buang-buang makanan, nanti rejeki mas Sena seret loh!” Aruni meraih nampan makanannya dan meletakkannya di pangkuan.

“Kok rejekiku yang seret? Kan itu makananmu?” gerutu Sena.

“Ya kan, Mas Sena suamiku.” Aruni mulai melahap makanannya.

“Oh.. bisa begitu, ya?”

“Ya bisa lah, suami istri itu rejekinya udah di bandling -satu paket, tau,” balas Arun acuh sambil terus makan. Dia tak terlihat seperti orang sakit karena makan begitu lahap.

Sena terkekeh lirih, lalu mengambil gelas kosong dan mengisinya dnegan air putih. “Pelan-pelan saja makannya, aku nggak minta kok,” Sena meletakkan gelas berisi air putih di meja kecil dekat ranjang.

Aruni terkekeh, “makasih Mas.”

Tepat ketika Aruni menghabiskan makanannya, dokter datang.

Memeriksa Aruni dengan teliti lalu tersenyum. “Suhu sudah turun, tekanan darah normal. Hari ini istirahat sehari saja, besok sudah diperbolehkan pulang, tapi harus minum obat dengan teratur, ya.”

"Paracetamol 500 mg tiga kali sehari kalau demam. Antibiotik Amoxicillin 500 mg dua kali sehari selama 5 hari. Dan oralit untuk mengganti cairan. Istirahat total, jangan stres, banyak minum air hangat," lanjut sang dokter.

Sena mendengarkan dengan saksama, bahkan mencatat di ponselnya. Aruni melihat itu dan tersenyum kecil.

Dia peduli. Tapi dia tidak mau terlihat peduli.

.

Tok. Tok. Tok.

Sena menoleh ke arah pintu. Laptopnya ditutup, dan dia melepaskan kaca mata yang sejak tadi dia pakai. Lalu menatap Aruni.

“Mungkin Vivi…” bisiknya.

Sena mengagguk beberapa kali, lalu berjalan menuju pintu untuk membukanya.

“Aru- eh, ma-maaf, kayaknya saya salah kamar-“

“Kamu Vivi temannya Aruni?” ucap Sena –datar.

“I-Iya Om, disini bener kamar perawatannya Aruni?”

Sena mengangguk, Dia membukakan pintu lebih lebar agar Vivi bisa melewatinya dan masuk.

Dengan perlahan Vivi masuk, sedikit membungkuk saat lewat di depan Sena. Lalu dia melihat sahabatnya terduduk di atas ranjang perawatan dan segera berlari mendekat. “Aruni! Kamu kenapa?” pekiknya khawatir saat melihat alat detak jantung ada di sisi ranjang.

Aruni terkekeh lirih, “Aku nggak apa-apa, besok sudah boleh pulang-“

Vivi menghela lega. Dia menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang Aruni. Sesekali melirik ke arah Sena yang sudah duduk kembali sambil menghadapi laptopnya, dia terlihat sangat sibuk bekerja, tapi tak mau meninggalkan Aruni sendiri.

“Siapa dia?” bisik Vivi penasaran.

Aruni melipat bibirnya, menatap Sena beberapa menit lalu menatap sahabatnya, “suamiku.”

“Apa!”

1
sryharty
kayanya ada yg lapor di kira runi simpanan om om,,eh ternyata om om nya suami sendiri
hiro_yoshi74
kira" ada apa ya ...?
partini
maklum lah Aruni Wedi mbakyune balik kan sangangpuluh Sanga % pada nongol kaya jelangkung 😂😂
falea sezi
perawan dpet bekass 🤣🤣kasian amat dpet bekas kakak sendiri klo q sih mual
Tamie: g papa kak, kan emang bukan kamu yg dapet... 🤭
total 1 replies
falea sezi
ya sena cowok bekass🤣🤣🤣🤣 males deh
Reni Anjarwani
lanjut
sryharty
ya salaaam 5 ronde gaeessss,,
lecet2 ga ya punya rumi,,😁😁
Tamie: jangan ditanya... 🤭🤣
total 1 replies
hiro_yoshi74
wk wk hebat juga run 5 x di bolak balik kayak tahu goreng dadakan ....🤭
hiro_yoshi74: mendadak 🤭🤣🤣
total 2 replies
hiro_yoshi74
nah to bikin treveloka kk tam .....
Tamie: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
partini
nek sampe ping 4 pa 5 kue normal ping 1 pa 2 kue Ra normal
masa iya perdana kur Pindo 😂😂🤭🤭🤭 ya noo good lah
Tamie: weh.. suhune metu... 🤭🤣🤣
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut
Tamie: udah kak 🤭
total 1 replies
sryharty
kentang ka kentang,,bikin penisirin aja
selanjutnya mau apa mereka di kamar😁😁😁
Tamie: ngapain ya kira2... 🤭🤭😅
total 1 replies
partini
ya elah otak ku wis Travelling Thor 🤭😂😂
Tamie: 🤣🤣🤣 wes ngarep mesti kie... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Hiro Yoshi
siap eksekusi run🤭🤣🤣
Hiro Yoshi: lanjut kk
total 2 replies
aku
buyar dah moment nya 😌😌🤣🤣🤣
Tamie: ambyar... 😅😅
total 1 replies
partini
welehhh endingnya di kokop tadi mode Curek budek gawe nek wkwkwkwkkkk
partini: he ahh ngerti Bae koh,,ga kokop sedina ora afdol 🤭🤭😂😂
total 2 replies
hiro_yoshi74
mau mau aje ly di umpani adit ren ren wirang kan 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Tamie: kasihan... 🤭🤭😅
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Hiro Yoshi
sadapp..... begitu Dateng langsung dapet samsak ........ jozzz
Hiro Yoshi: bobel up lah KK 🤭 plissss🙏
total 2 replies
partini
lah Thor part Sena cuma SE etttttwellll
partini: yesss ora ngapak ora kepenak 🤭
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!