Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. ABANG TUKANG BAKSO
Entah bagaimana, Erina kini berdiri di sebuah area pemakaman hijau dan luas--tak jauh dari sebuah pusara baru, dengan ukiran huruf yang membuatnya beku seakan tak lagi direngkuh waktu.
Erina Hutomo.
Itu... aku?
Tak jauh dari makam itu, Saga dan Nala berdiri kaku.
Nala menatap pusara sang ibunda, ekspresinya datar dan kosong.
Di sebelahnya, Saga meneteskan air mata sembari berbisik dengan suara sarat lara, "Ma... kenapa Mama pergi gitu aja...? Mama udah nggak sayang kami lagi...? Kami nggak punya siapa-siapa selain Mama... kami sekarang harus gimana, Ma...?"
Anak-anakku...
Erina pun meneteskan air mata. Ia sangat ingin kembali dan merengkuh kedua buah hatinya, tetapi tak bisa--entah bagaimana kini ia seperti lapisan hawa yang tak lagi disadari siapa-siapa, tak lagi bisa menyentuh segala benda, apalagi mengukir makna.
"Sudah waktunya, Erina."
Suara dalam dan berat itu membuat Erina terlonjak. Ia menoleh--dan ternganga selebarnya.
Tak jauh darinya, berdiri sesosok makhluk paling aneh yang pernah dilihatnya.
Bukan malaikat. Bukan setan. Bukan manusia.
Melainkan bakso raksasa bertangan dan berkaki dua (kakinya berbulu) dengan kaus kaki putih dan sepatu kets hitam, mengenakan kacamata hitam besar, berhias kumis yang terbuat dari kecap dan saus tomat, dan memakai boxer merah menyala.
APA ITUU?!
Teriakan batin Erina seakan didengar jelas si bakso, yang seketika menyapa dengan irama lagu Daur Hidup yang dinyanyikan Donne Maula--tetapi liriknya digubah sesuka jidat.
"Hai. Perkenalkan. Aku bakso yang bertahan. Bukan sekadar bakso, apalagi bakso curut." 🎶
Erina mangap-mangap sejadinya--terguncang, meski akhirnya pemahaman baru mulai tumbuh dalam benaknya.
Kamu... BAKSO OTAKKU?!
"Ya, plus seratus poin!" Bakso itu mengangkat papan skor entah dari mana, seakan ia adalah juri lomba cerdas cermat antar-tetangga. "Nama saya Glioma Boxer. Senang akhirnya kamu mengenal saya. Hahaha."
Entah berapa lama Erina bengong, terpaku. Seakan ia sudah dikutuk menjadi batu--padahal ia bukan seorang anak yang berani mendurhakai ibu.
Kamu... gara-gara kamu... aku tak lagi hidup, dan anak-anakku...
Kepedihan itu yang meretakkan beku--membuat Erina kembali tergugu.
"Jangan menangis, saya tak punya balon," kata Glioma Boxer. "Tapi saya bisa kabulkan satu keinginan."
Erina mengerjap.
Kamu... bakso, atau jin di iklan rokok, sih...?
"Saya tahu keinginanmu. Mari kita kembali."
Glioma Boxer menjentikkan jarinya.
Pemandangan di sekitar Erina seketika berubah. Ia tiba-tiba saja sudah berdiri di lapangan bola dekat rumah. Ada panggung besar berlapis karpet tua yang sudah dibangun di salah satu sisi lapangan, dan sebuah spanduk di atasnya berbunyi:
"SELAMAT DATANG DI AUDISI AYAH TIRI NASIONAL!"
Disponsori oleh:
• Komunitas Emak-Emak Kecapekan Indonesia (KEKI)
• Geng Jomblo, Stress, Hipertensi (GENG OM SRI)
• Persatuan Bakso Nusantara (PERBAN)
Erina kembali menjerit sekerasnya dalam hati.
APA-APAAN INIII?!
"Halo, halo bakso... apa kabar kalian semua?" 🎶
Glioma Boxer menyapa ratusan bakso yang menjadi penonton di lapangan dengan irama lagu Halo-Halo Bandung.
"Sehaaat!" balas para bakso serentak.
"Alhamdulillah," Glioma Boxer mengangguk senang. "Kalian sudah siap menjadi saksi hidup dan tak bisu dari audisi terkeren hari ini?"
"Siaaap!"
"Baiklaah... saatnya kita mulai, MENCARI AYAH TIRI UNTUK SAGA DAN NALA!"
Erina lagi-lagi membeku dan ternganga--mulutnya sudah persis Gua Hira.
HAH?!
Lagu Qasidah grup penyanyi yang didirikan tahun 1966, Bimbo, dengan judul "Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya" tiba-tiba mengalun di seluruh penjuru lapangan. Saga dan Nala muncul, seiring lirik populer itu menggema.
"Ada anak bertanya pada bapaknya
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus tarawih apalah gunanya..." 🎶
Kedua buah hati Erina itu mengenakan busana muslim dan muslimah sambil membawa buku Juz Amma--seperti anak-anak hendak berangkat mengaji--lalu duduk kursi dan meja bertaplak hijau yang ditata persis di depan panggung.
KALIAN NGAPAIIN DI SANA, NAAAK?!
Erina memekik dan menepuk jidat--sebab hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Baiklaaah... mari kita sambut, Peserta Pertama!"
Latar belakang musik berubah menjadi lagu Rosalinda yang dinyanyikan Thalia--yang populer sebagai original soundtrack telenovela berjudul sama di tahun 1999.
Sosok Derek Sakti muncul di panggung--mengenakan setelan jas putih ketat dan membawa mawar merah, wajahnya sangat sumringah sambil turut menyanyikan lagu Rosalinda.
"Ay, amor, quédate muy dentro
Aquí está tu Rosalinda para vivir en tus sueños..." 🎶
YA ALLAH, TOLONG!
Erina hanya bisa menepuk-nepuk kepalanya yang terasa makin kosong.
"Jika aku diterima sebagai suami Rosalinda, aku akan ganti namaku di akte sebagai Fernando Jose, dan kalian--anak-anakku tercinta, Saga dan Nala, akan Papa berikan kuda poni sebagai hadiah...!"
Nala menggeleng.
Saga mendengus.
"Adikku tak suka kuda. Aku juga--maunya PS6!"
"Kuda poninya bisa main PS6," Derek masih berupaya merayu.
"Dih... belum-belum udah ngibul! Bye!"
Saga tanpa ragu menekan tombol merah di balik buku Juz Amma-nya.
Sebuah ketapel raksasa muncul di bawah kaki Derek dan melemparnya ke langit.
"Aaaaaaaaaa!"
Derek menjerit dan lenyap dari pandangan.
"Next!' seru Saga dengan tampang bosan.
Lagu kembali berganti--kali ini lagu yang sangat disukai Erina, mengalun merdu dari penyanyi Korea Selatan yang sangat diidolakannya.
"Are you feeling the rush?
If so, then I think I know what's going on
And are we falling in love?
Say yes or no, yes or no, yes or no..." 🎶
Jeon Jungkook benar-benar muncul di atas panggung, sangat tampan dan jangkung, bernyanyi sambil menari yang langsung membuat Erina melompat dan menjerit-jerit gila.
AKU SIH YES! YES! YES!
"Siapa kamu?" tanya Saga seraya memiringkan kepalanya, tatapannya tajam menilai.
Jungkook tersenyum, memamerkan gigi kelinci sangat putih dan sangat manis.
"Annyeonghaseyo. Jungkook im-nida..."
"Halah, ngomong apaan sih? Nggak ngerti. Bye!"
Dalam sekejap, Jungkook hilang dari pandangan.
NOOOOOOOO! SUAMIKUUUU!
Erina menangis sejadinya dalam hati.
Peserta-peserta lainnya bermunculan, yang absurdnya, mereka adalah orang-orang atau karakter terkenal dari berbagai kalangan dan kisah.
Mulai dari aktor Nicholas Saputra. Chef Juna. Tom Cruise. Sampai Thanos.
"Jelek. Koleksi batu akik pula. Mending koleksi i-Phone. Nggak masuk seleraku. Bye!" Saga pun dengan enteng melenyapkan Thanos dari depan matanya.
Jika ada tembok, Erina pasti sudah membenturkan dahinya ke sana--semua ini kelewat jauh di luar nalar.
"Dan... peserta terakhir... Alvin Hermawan!"
Erina bagai disambar petir di siang bolong.
APA?!
Alvin muncul dengan menyampirkan handuk kecil di bahu dan mendorong gerobak bakso--namun tetap terlihat sangat tampan. Lagu pengiringnya adalah lagu anak-anak "Abang Tukang Bakso."
"Abang tukang bakso
Cepat dong kemari
Sudah tak tahan lagi..." 🎶
Bagi Erina, lagunya pun terasa absurd.
KENAPA DIA JADI JUALAN BAKSO?! TERUS LAGUNYA ITU... SIAPA YANG NGGAK TAHAN?! NGGAK TAHAN NGAPAIN?!
Kepala Erina serasa mau pecah.
"Om Alvin," Saga memandang dingin Alvin. "Bukannya Om tajir melintir? Kenapa cosplay jadi tukang bakso? Modus apa lagi ini... apa karena Mama suka makan bakso?"
Alvin tertawa.
"Om memang punya banyak uang. Tetapi kalian harus tahu, uang itu bukan segalanya... dan tak akan bisa menyelamatkan sesuatu yang paling berharga bagi kalian."
Saga mengerjap. Erina juga mengerjap.
"Maksud Om...?"
"Hati kalian. Mama kalian," sahut Alvin lembut. "Itulah yang paling berharga bagi kalian, iya, kan?"
Seisi alam absurd itu pun sunyi.
"Mama akan pergi suatu hari nanti, Om...," bisik Saga pedih.
Alvin mengangguk, ekspresinya menyiratkan kesedihan yang sama.
"Semua pasti akan pergi jika sudah waktunya," kata Alvin perlahan. "Kalian lihat? Uang Om tak bisa menghentikan takdir Tuhan... tapi, Om tetap bisa melakukan sesuatu untuk kalian."
Saga menatap lurus Alvin.
"Nala, apa kamu lapar?" tanya Alvin lembut, sebelum Saga sempat mengatakan sesuatu.
Nala mengangguk.
Alvin dengan cekatan menyiapkan dan menyajikan semangkuk bakso.
"Makanlah, Nak. Saga mau juga?"
Saga terdiam sejenak, lantas mengangguk kaku.
Alvin kemudian menyajikan dua mangkuk bakso--satu untuk Saga, satu untuk dirinya sendiri.
"Ini bakso resep dari Mama kalian... rasa terenak yang ada di seluruh dunia... mari kita nikmati bersama."
Sesaat tak ada yang bicara. Hanya ada denting sendok dan garpu, serta kunyahan lembut mengudara.
"Hangat," gumam Saga. "Enak."
Nala mengangguk, dan senyuman langka terulas di bibirnya.
"Terima kasih. Papa."
Alvin tersenyum.
"Kembali kasih, Nak."
Pemandangan itu begitu menghangatkan dan menggetarkan hati. Dalam sunyi, Erina menitikkan air matanya kembali.
"Apa kamu masih berpikir hidup dan mati seburuk itu?"
Glioma Boxer kini berdiri di sebelah Erina sambil menghembuskan asap cerutu--yang sama sekali tak menyesakkan dan tak bau.
Erina memandang bakso otaknya dengan netra basah.
Apakah yang kulihat ini... sungguh terjadi?
Glioma Boxer mengangkat bahu.
"Aku cuma bakso di otakmu," ia pun menoleh, telunjuknya tanpa ragu terarah ke dada Erina. "Sungguh terjadi atau tidak, semua kembali ke kamu... terserah kamu."
***
AYO SIAPA YANG NGGAK NGAKAK BACA DAN LIHAT INI? PENULIS AJA SAMPE SAKIT PERUT... BISA YA GUE BIKIN BEGINIAN. 🤣 ASTOGEEEH GLIOMA BOXEER! 🤣 THE NEW LEGEND! 😭🤣