"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Suasana di lobi utama kediaman Addison mendadak berubah mencekam. Langkah kaki Edgar dan Gaby yang baru saja hendak melewati pintu dalam terhenti ketika sayup-sayup suara tangisan frustrasi Gavin di luar berubah menjadi ketukan pintu yang brutal. Gavin tidak menyerah. Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah runtuh, dia menggedor pintu jati raksasa itu, berteriak memanggil nama ayahnya dengan suara yang serak dan parau.
"Papa! Buka pintunya, Pa! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku anak kandungmu! Aku pewaris Addison Group!" teriakan Gavin menggema, terdengar menyedihkan sekaligus memuakkan.
Edgar menghentikan langkahnya tepat di tengah lobi marmer. Seringai dingin terukir di wajah tegas pria matang itu. Bukannya marah karena ketenangannya diusik, Edgar justru berbalik dengan gerakan yang teramat tenang. Ia melirik Pak Danu yang berdiri tak jauh dari sana dengan sikap siaga.
"Danu, buka pintunya. Biarkan tikus kecil itu masuk untuk terakhir kalinya," perintah Edgar, nadanya datar namun sarat akan otoritas yang mematikan.
"Baik, Tuan Besar."
Ketika pintu ganda itu terbuka, Gavin hampir saja tersungkur ke depan. Penampilannya sudah tidak berbentuk lagi; rambutnya acak-acakan, matanya merah, dan napasnya memburu menderu. Begitu melihat Edgar berdiri menjulang bersama Gaby yang menggamit lengannya dengan anggun, Gavin langsung menunjuk Gaby dengan telunjuknya yang gemetar.
"Semua ini karena perempuan ini, kan, Pa?! Sejak dia masuk ke rumah ini, Papa berubah! Papa menyita semua fasilitasku, memenjarakan Luna, dan sekarang memamerkan kemewahan di depanku demi menyenangkan dia! Aku ini darah dagingmu, Pa! Bagaimana bisa Papa lebih memilih wanita asing ini daripada anak kandung Papa sendiri?!"
Gaby hanya menatap Gavin dengan pandangan dingin tanpa minat. Di matanya, Gavin tidak lebih dari seorang pria manja yang sedang tantrum karena mainan mahalnya direbut. Namun, sebelum Gaby sempat bersuara, langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga belakang.
Dua orang pelayan berbadan tegap berjalan turun sambil menggotong tiga koper besar berwarna hitam. Tanpa sepatah kata pun, atas instruksi mata dari Pak Danu, kedua pelayan itu melemparkan koper-koper tersebut tepat ke hadapan kaki Gavin.
Brak!
Suara benturan koper dengan lantai marmer membuat Gavin tersentak mundur. Ia memandang koper-koper itu dengan tatapan kosong, lalu mendongak menatap Edgar dengan wajah pucat pasi. "P-Papa... apa maksudnya ini?"
"Itu semua barang-barangmu, Gavin. Tidak ada satu pun barang di rumah ini yang dibeli dengan uangmu, jadi aku berbaik hati mengizinkanmu membawa pakaian-pakaian bekasmu itu keluar dari propertiku," ucap Edgar santai, sembari merapikan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kamu mengusirku, Pa?! Hanya karena audit sialan itu?! Aku bisa mengganti uang tiga puluh miliar itu! Aku bisa memintanya pada Oma Eleanor!" Gavin berteriak histeris, menolak menerima kenyataan bahwa dia didepak dari istana yang selama dua puluh lima tahun ini menjadi tempatnya bertingkah bak pangeran.
"Mengganti?" Edgar terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat kejam dan meremehkan di dalam keheningan lobi. "Kamu bahkan tidak akan bisa membayar harga marmer yang kamu pijak saat ini, Gavin. Dan jangan sebut dirimu sebagai anakku lagi. Karena mendengar kata Papa keluar dari mulut kotarmu membuatku ingin muntah."
Edgar merogoh saku kemeja rajutnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi. Ia melemparkan amplop itu tepat ke wajah Gavin. Lembaran kertas di dalamnya mencuat keluar, menampilkan barisan tabel medis resmi dan sebuah kesimpulan di bagian paling bawah yang dicetak dengan huruf tebal.
"Buka dan baca, Gavin. Biarkan otak kecilmu itu mencerna kenyataan yang sudah kusembunyikan selama dua puluh lima tahun ini," perintah Edgar, matanya berkilat tajam seperti elang yang siap mengoyak mangsanya.
Dengan tangan gemetar, Gavin memungut kertas-kertas tersebut. Matanya menyusuri baris demi baris istilah medis yang rumit, hingga pandangannya terkunci pada baris kesimpulan akhir yang menyatakan tingkat kecocokan genetika antara dirinya dan Edgar Emiliano Addison.
HASIL UJI DNA: Probabilitas Batas Keturunan 0% (Nol Persen). Subjek Gavin Eleanor TIDAK MEMILIKI hubungan darah sebagai anak kandung dari Subjek Edgar Emiliano Addison.
Gavin menggelengkan kepalanya dengan kuat. Kertas di tangannya bergetar hebat hingga menimbulkan suara kresek yang memecah kesunyian. "N-nggak... ini nggak mungkin! Ini pasti palsu! Kamu memalsukan ini untuk mendepakku dan memberikan semuanya pada Gaby, kan?! Aku anakmu, Pa! Aku lahir dari rahim Ibu, dan Ibu adalah istrimu!"
Di samping Edgar, Gaby ikut tersentak kecil. Matanya membelalak menatap lembaran kertas yang dipegang Gavin. Jantung Gaby berdesir hebat karena terkejut. Selama ini, yang ia ketahui dari cerita Edgar adalah bahwa Gavin lahir dari sebuah jebakan politik dan pernikahan tanpa cinta. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa plot di balik dinasti Addison ini jauh lebih kelam Gavin ternyata sama sekali bukan darah daging Edgar!
Gaby menoleh, menatap profil samping wajah suaminya yang tampak begitu tenang dan dingin bak patung es.
"M-Mas..." bisik Gaby lirih, menyuarakan rasa terkejutnya yang amat sangat.
Edgar menoleh sedikit ke arah Gaby, menangkup tangan kecil istrinya yang ada di lengannya, memberikan remasan lembut yang menenangkan. "Tidak apa-apa, Sayang. Ini adalah bab terakhir dari sampah masa lalu yang harus kubersihkan di depanmu."
Edgar kembali mengalihkan pandangan mematikannya pada Gavin yang kini sudah menjatuhkan lututnya ke lantai marmer, menangis linglung di antara koper-kopernya. "Aku memalsukannya? Untuk apa aku memalsukan dokumen dari laboratorium forensik terbaik di Swiss, Gavin? Aku sudah memegang surat itu bahkan sebelum kau merayakan ulang tahunmu yang pertama."
"L-lalu... kalau aku bukan anakmu... aku anak siapa?" suara Gavin bergetar hebat, dipenuhi oleh kebingungan dan kehancuran identitas yang instan. Dunia kemewahan yang ia agungkan selama ini mendadak runtuh, menyisakan ruang kosong yang membuatnya merasa seperti seonggok sampah tak bertuan. "Oma... Oma nggak mungkin membohongiku... Ibu juga..."
"Ibumu yang jalang dan nenekmu yang serakah itu tentu saja tahu," potong Edgar, suaranya naik satu oktav, sarat akan kebencian yang mendalam atas pengkhianatan masa lalu. "Malam itu, dua puluh lima tahun yang lalu, jebakan di perjamuan bisnis itu memang terjadi. Tetapi ibumu yang bodoh itu tidak tahu bahwa obat yang mereka campurkan ke minumanku dosisnya terlalu tinggi, membuatku lumpuh total dan tidak bisa melakukan apa pun di atas ranjang."
Edgar melangkah satu langkah maju, mengintimidasi Gavin dari ketinggian. "Karena panik rencana mereka untuk mengikatku dalam pernikahan gagal jika tidak ada bukti kehamilan, ibumu malam itu juga keluar dari hotel dan memanggil pria lain ke kamar untuk menidurinya. Pria yang selama ini menjadi pemuas nafsu rahasianya di belakang keluarga Cavanaugh."
Gavin mendongak dengan wajah yang basah oleh air mata, bibirnya bergetar. "S-siapa... siapa dia?"
Gaby menahan napasnya, ikut penasaran sekaligus merinding mendengar konspirasi sekotor itu yang pernah menimpa suaminya di masa lalu.
Edgar menyunggingkan senyuman kejam yang teramat dingin. "Namanya adalah tumpukan sampah yang dikenal di kawasan pelabuhan Jakarta Utara sebagai Bison. Seorang kepala preman, bandar judi kelas teri, dan buronan kasus mutilasi yang tewas ditembak mati oleh polisi di dalam rutan lima belas tahun yang lalu."
Deg.
Kata kepala preman dan buronan menghantam kesadaran Gavin bagai godam raksasa. Tubuhnya melemas sepenuhnya, bersandar pada salah satu koper hitamnya. Darah yang mengalir di tubuhnya darah yang selama ini ia banggakan sebagai darah biru dinasti Addison ternyata adalah darah dari seorang kriminal kelas bawah, seorang kepala preman yang mati mengenaskan di sel tahanan.
"Nggak... nggak mungkin... aku bukan anak preman... aku anak Addison!" Gavin berteriak histeris, mulai mencabik-cabik kertas DNA di tangannya menjadi serpihan kecil, seolah dengan melakukan itu dia bisa menghapus kenyataan pahit yang baru saja memporak-porandakan hidupnya.
"Darah tidak pernah berbohong, Gavin," ucap Edgar dengan nada final yang dingin dan tidak terbantahkan. "Lihat dirimu sekarang. Sikapmu yang licik, kegemaranmu mencuri uang perusahaan lewat jalur vendor fiktif, dan caramu memperlakukan Gaby selama lima tahun ini... semuanya adalah cerminan murni dari genetik ayah kandungmu yang berjiwa kriminal dan murahan. Kau tidak mewarisi satu pun kelas atau kehormatan dari nama Addison."
Edgar berputar membelakangi Gavin, merangkul pundak Gaby dengan posesif untuk membimbing istrinya masuk lebih dalam ke dalam rumah.
"Danu, bawa sampah ini keluar dari propertiku sekarang juga. Jika dia berani menginjakkan kakinya di area gerbang depan lagi, lepaskan anjing penjaga dan biarkan tim hukum memastikan dia membusuk di sel yang sama dengan ayah kandungnya," perintah Edgar tanpa menoleh lagi.
"Baik, Tuan Besar," jawab Pak Danu tegas. Empat orang pengawal berbadan besar langsung merangsek maju, mencengkeram kedua lengan Gavin dengan kasar dan menyeretnya keluar dari lobi marmer, mengabaikan teriakan histeris dan tangisan ampun dari pria yang kini telah kehilangan segalanya itu.
Gaby berjalan di samping Edgar dengan pikiran yang masih mencerna semua kejadian luar biasa sore ini. Begitu mereka sampai di dalam kamar utama yang tenang, Gaby langsung berbalik dan memeluk tubuh kokoh Edgar dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Mas... maafkan aku karena memaksamu membuka luka lama itu," bisik Gaby dengan tulus, merasakan detak jantung Edgar yang stabil dan menenangkan di bawah telapak tangannya.
Edgar membalas pelukan Gaby dengan erat, mengecup rambut hitam panjang istrinya dengan kelembutan yang hanya ia tunjukkan pada wanita itu. "Itu bukan luka lagi, Gaby. Itu hanyalah sampah yang sudah lama ingin kubuang, dan sore ini, bersamamu di sampingku, aku akhirnya menyelesaikannya dengan sempurna. Sekarang, rumah ini benar-benar bersih untuk kita berdua."
Gaby tersenyum dalam dekapan suaminya, merasakan kelegaan yang luar biasa. Rahasia terbesar dinasti Addison telah terungkap, dan posisinya sebagai ratu di samping Edgar kini benar-benar bersih dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.