Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 (Retaknya Sebuah Kepercayaan)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Arsen melangkah masuk ke dalam apartemennya dengan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu terbuka, pemandangan di ruang tamu seketika membuat langkah kakinya terhenti kaku.
Elvara sudah duduk di sana. Wanita itu masih mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin, duduk tegak di sofa dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menusuk. Lingkar hitam di bawah matanya memperjelas bahwa ia tidak tidur semalaman hanya untuk menanti kepulangan suaminya.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Arsen untuk bernapas atau meletakkan jasnya, Elvara langsung melempar bom pertanyaan. Ia sama sekali tidak peduli seberapa lelahnya Arsen saat ini.
"Arsen, katakan yang sejujurnya. Kamu masih berhubungan dengan Vivian, cinta pertamamu itu, kan?!" tanya Elvara. Suaranya terdengar bergetar, menahan tumpukan unek-unek yang menyiksa dadanya sejak kemarin.
Arsen tersentak, wajahnya seketika pias. "El... kamu tahu dari mana?"
"Nggak usah tanya aku tahu dari mana! Lagian kamu juga pasti sudah tahu siapa yang memberi tahu aku!" potong Elvara cepat, suaranya meninggi. "Sekarang jawab saja pertanyaan aku, Arsen! Iya atau tidak?!"
Melihat tidak ada lagi celah untuk mengelak, Arsen mengembuskan napas berat. Bahunya merosot pasrah. "Oke... aku mengaku. Aku memang masih menemuinya."
Tawa hambar bernada miris lolos dari bibir Elvara. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini meluncur bebas. "Bagus. Hebat sekali kamu membohongi aku selama ini. Jadi, semua janji manis yang kamu ucapkan dulu untuk melupakan dia, itu cuma omong kosong?"
Elvara bangkit berdiri, melangkah mendekati Arsen dengan dada yang naik turun akibat amarah. "Lalu kalau jiwamu masih tertinggal di perempuan itu, buat apa kamu mempertahankan aku di rumah ini? Kenapa kamu nggak langsung ceraikan aku saja, hah?!"
"Aku nggak bisa begitu saja menceraikan kamu, Elvara!" jawab Arsen, mulai panik melihat keputusasaan istrinya.
"Kenapa? Karena kamu egois?!" teriak Elvara di depan wajah Arsen. "Lagipula kamu juga nggak pernah cinta sama aku, kan?! Jangan mentang-mentang aku sangat mencintaimu, kamu bisa mempermainkan hati dan perasaanku sesuka hatimu, Arsen!"
Arsen terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk membantah kalimat itu.
"Aku mau kita cerai. Pokoknya cerai, titik!" tegas Elvara tanpa ragu.
"El, tolong dengerin dulu penjelasan aku! Situasinya nggak sebersederhana yang kamu pikirkan!" Arsen mencoba meraih tangan Elvara, namun wanita itu menepisnya dengan kasar.
"Nggak! Aku nggak mau dengar apa-apa lagi!" Elvara membalikkan badan, melangkah lebar menuju kamar tidur mereka. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan sebuah koper besar dari dalam lemari dan mulai memasukkan pakaian-pakaiannya dengan gerakan tergesa-gesa dan emosional.
"Elvara! Kamu mau ke mana?!" teriak Arsen panik. Jantungnya serasa copot saat melihat koper di tangan Elvara. Ia mencoba menahan tangan istrinya yang sedang melipat baju. "Tolong jangan kayak gini, kita bicarakan baik-baik!"
"Lepas, Arsen! Apalagi yang mau dibicarakan?!" Elvara menyentakkan tangannya, menatap Arsen dengan pandangan benci sekaligus terluka.
"Pergilah menemui dia! Untuk apa aku bertahan di sini? Tetap tinggal di rumah ini hanya akan membuatku stres, dan lama-kelamaan aku bisa gila karena kebohonganmu!" Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Elvara menutup ritsleting kopernya dan menyeretnya keluar, siap meninggalkan Arsen dan kehancuran rumah tangga mereka pagi itu juga.
Elvara menyentak gagang koper dengan kasar, mengabaikan seruan panik Arsen yang terus memanggil namanya di sepanjang koridor. Begitu pintu lift terbuka, ia melangkah masuk dan membiarkan pintu besi itu tertutup, memutus tatapan bersalah dari suaminya.
Begitu tiba di basemen, Elvara langsung melempar kopernya ke kursi belakang mobil. Ia masuk ke kursi kemudi, membanting pintu, dan menyalakan mesin dengan sentakan kasar. Tangannya yang gemetar mencengkeram erat roda kemudi saat ia menginjak pedal gas sedalam-dalamnya.
Mobil Elvara melesat keluar dari area apartemen, membelah jalanan pagi dengan kecepatan gila.
Pemandangan kota di luar jendelanya tampak kabur, sama kaburnya dengan pandangan Elvara yang tertutup oleh air mata yang terus mengalir deras. Dadanya terasa begitu sesak, hancur berkeping-keping oleh pengakuan jujur Arsen yang terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepalanya.
Dia mengakuinya. Dia benar-benar masih bersama Vivian.
Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuat seluruh tubuhnya mati rasa. Elvara terus menambah kecepatan mobilnya tanpa memedulikan klakson peringatan dari kendaraan lain di sekitarnya. Di tengah deru mesin yang menderu kencang, hanya ada satu hal yang ia inginkan saat ini: pergi sejauh mungkin dari tempat yang telah menghancurkan seluruh harga diri dan ketulusan cintanya.
Di tengah kecepatan mobil yang menggila, pikiran Elvara berputar mencari tempat tujuan. Ia sempat melirik arah jalan menuju rumah orang tuanya, namun dengan cepat ia membuang jauh-jauh pikiran itu. Elvara tidak berniat pulang ke rumah orang tuanya sama sekali. Ia terlalu lelah, terlalu hancur, dan ia sangat malas jika harus menghadapi rentetan pertanyaan dari mereka yang pasti akan menyadari matanya yang sembab dan koper di kursi belakang. Ia tidak ingin membuat orang tuanya ikut terbebani oleh borok rumah tangganya.
Akhirnya, Elvara terus mengendarai mobilnya tanpa arah. Ia hanya mengikuti ke mana pun roda kendaraannya membawa pergi, membiarkan jalanan panjang menuntun pelariannya dari rasa sakit.
Hingga beberapa jam berlalu, aroma asin udara laut dan suara deburan ombak samar-samar mulai terdengar. Elvara menghentikan mobilnya di sebuah tepi pantai yang cukup sepi dan tenang.
Ia mematikan mesin mobil, lalu menyandarkan kepalanya di setir untuk menghela napas panjang. Begitu ia keluar dari mobil, angin laut langsung menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang berantakan.
Elvara menatap hamparan laut luas di hadapannya. Ya, tempat ini terasa sangat cocok baginya saat ini. Suasana pantai yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk kota dan bayang-bayang Arsen, adalah hal yang ia butuhkan untuk menghilangkan penat yang menyiksa dada, sekaligus menjadi tempat bagi dirinya untuk berlibur dan menata kembali hatinya yang telah hancur berkeping-keping.
…
Sementara di belahan jalan yang lain, Kael duduk di balik kemudi mobilnya dengan perasaan yang tidak tenang.
Sejak pagi, pikirannya sama sekali tidak bisa beralih dari Elvara. Dengan tangan satu memegang setir, tangan lainnya sibuk menempelkan ponsel di telinga, mencoba menghubungi wanita itu.
Namun, panggilan demi panggilan yang ia layangkan tak kunjung diangkat. Ponsel Elvara hanya membalasnya dengan nada sambung yang panjang, membuat dada Kael kian bergemuruh disergap rasa cemas.
Mencicit!
Kael terpaksa menginjak rem sedikit mendadak saat mobilnya tertahan di sebuah persimpangan lampu merah yang cukup padat. Ia mengembuskan napas frustrasi, melemparkan ponselnya ke kursi penumpang.
Namun, tepat di saat ia menoleh ke arah kanan jalan, netra Kael menangkap sebuah mobil yang sangat familier. Itu mobil Elvara.
Kael membelalak saat melihat bagaimana Elvara membawa laju mobilnya dengan kecepatan gila, menyalip beberapa kendaraan dengan gerakan yang sangat berisiko, lalu melesat lurus entah ke mana. Melalui kaca mobil yang samar, Kael sempat menangkap sekilas raut wajah Elvara yang tampak pias dan kacau.
"Elvara!" gumam Kael spontan.
Melihat cara mengemudi Elvara yang seolah kehilangan kendali, rasa khawatir menjalar hebat di sekujur tubuh Kael. Ia tidak perlu menjadi peramal untuk tahu apa yang sedang terjadi. Kael sudah bisa menebak dengan sangat akurat bahwa Elvara dan Arsen baru saja bertengkar hebat, dan pengakuan Arsen pasti telah menghancurkan hati wanita itu.
Tanpa membuang waktu, begitu lampu berubah hijau, Kael langsung memutar kemudinya dengan tajam, memutuskan untuk membuntuti mobil Elvara dari jarak aman karena takut wanita itu akan mencelakai dirinya sendiri di tengah kondisi emosi yang tidak stabil.
"Sial!" Kael memukul kemudi mobilnya dengan keras.
Lalu lintas kota yang mendadak padat dan semrawut benar-benar tidak berpihak padanya. Sebuah truk besar tiba-tiba memotong jalur, memaksa Kael menginjak rem dalam-dalam dan tertahan di belakangnya selama beberapa detik yang sangat krusial.
Begitu Kael berhasil menyalip truk tersebut dan menginjak gasnya sedalam mungkin, jalanan di depannya sudah terlanjur bercabang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan panik, menyisir setiap sudut jalanan yang dilewatinya. Namun, mobil sedan putih milik Elvara sudah tidak terlihat lagi. Ia benar-benar kehilangan jejak wanita itu.
Kael menepikan mobilnya di bahu jalan dengan napas yang memburu. Rasa frustrasi dan bersalah mulai menggerogoti benaknya.
"Kamu ke mana, El?" gumam Kael berulang kali sembari kembali menyambar ponselnya.
Ia kembali mencoba mendengungkan nomor Elvara, berharap ada keajaiban wanita itu mau mengangkat panggilannya. Namun, tetap saja nihil. Membayangkan Elvara yang sedang menangis hancur di balik kemudi dengan kecepatan gila tanpa tahu ke mana tujuannya, membuat Kael didera ketakutan luar biasa. Kael hanya bisa merutuki ketidakberdayaannya saat ini, berharap Elvara tidak melakukan hal nekat yang bisa membahayakan nyawanya sendiri.
Bersambung…..