"Nak....hidup tak mungkin selalu bahagia, akan ada saat - saat kita menerima suatu kepedihan....lihat disana rumput - rumput tak selama nya hijau ataupun kering kan?"...kata - kata itu keluar dari seorang Ibu separuh baya yang sedang menghadapi anak kecil berusia enam tahun yg sedang menangis berlinangan air mata.
anak itu berhenti menangis, entah karena memahami atau mungkin dia sudah kelelahan dengan tangisannya.
Saraswati membelai rambut anak itu, Ia sendiri sebenarnya menahan tangisan jangan sampai buah hati nya tahu kalau dia pun tersayat hati nya karena kehilangan banyak saudara - saudara nya.
Dua hari yang lalu, Suasana di perkampungan Jalaksana masih tentram dan damai, Sawah membentang luas kehijauan, Aliran arus sungai mengalir dengan tenang. Jika menatap ke arah selatan dari desa tersebut akan terlihat pegunungan Ciremai yang kokoh menjulang ke atas. Di bawah kaki ciremai perkebunan kentang maupun wortel tumbuh dengan subur.
Penduduk di sana pun hidup dengan damai, tak ada sedikitpun wajah - wajah mereka yang murung ataupun sedih.
setelah itu semuanya berubah, rumah - rumah penduduk porak poranda terbakar api, mayat - mayat bergelimpangan tidak menentu.
banyak mayat yg tergeletak di sisi - sisi jalan dengan bekas luka akibat tebasan senjata tajam. Itulah bekas - bekas kekejaman para perampok yang datang membumi hanguskan perkampungan tersebut. Salah satu korban kebiadaban rampok - rampok itu adalah orangtua dari Saraswati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kelana sendiri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Ki Bondan melanjutkan pembicaraan mengenai persiapan yang akan di lakukan, "Wiratama, romo akan segera membantumu untuk mempersiapkan semuanya, tapi sebelumnya romo akan menceritakan terlebih dahulu mengenai jumlah anggota yang berada disini beserta kegiatan mereka selama ini".
"Jumlah keseluruhan yang bisa di rekrut untuk menjadi Pasukan seluruhnya hampir seribu orang, saat ini mereka tersebar di segala penjuru, yang perlu kau perhatikan, untuk membentuk pasukan adalah membutuhkan biaya materi yang besar, tapi jangan khawatir, romo akan mempersiapkan semuanya, terus terang selama ini kegiatan-kegiatan romo beserta anggota yang berada disini sudah meninggalkan perampokan ataupun penjarahan, semua usaha yang tidak baik, sudah kami kubur dengan masa lalu romo yang gelap.
"Kegiatan mereka sekarang, di Kotaraja romo mempunyai usaha ekspedisi pengantaran barang, di pelabuhan Tanjung emas pun ada usaha romo disitu, kami melakukan pertukaran perdagangan dengan pengusaha-pengusaha dari pulau Andalas, pulau Borneo maupun pulau-pulau yang lainnya. sedangkan mereka yang berada di Alas Roban ini lebih ke hasil perkebunan untuk memasok kebutuhan kami sendiri, jadi kau janganlah takut kehabisan dukungan materi untuk perjuangan ini".
"Romo akan memanggil calon-calon yang akan menjadi telik sandi, dari pengawal-pengawal ekspedisi dan para pedagang kita. Romopun nanti akan memilah dari mereka yang mempunyai ilmu meringankan tubuh paling hebat untuk menjadi pasukan yang akan di tempatkan di pasukan khusus ataupun pasukan 100 berpedang, karena ilmu meringankan tubuh yang hebat bisa menjadi modal utamanya, diantara kita pun ada yang ahli mempergunakan senjata panah, tombak maupun pedang, yang nanti akan membantumu melatih calon-calon prajurit kita. Kuda-kuda yang kuat dan perkasa akan romo datangkan dari Kampung Bawen secara bertahap agar tidak menimbulkan kecurigaan". Wiratama memandang ayahnya dengan penuh keyakinan, "terimakasih romo atas semua bantuan romo kepadaku".
Keesokan harinya rencana-rencana tersebut di jalankan dengan cara bertahap, suasana Alas Roban mulai berubah, lebih ramai dari biasanya dan terlihat mulai sibuk dengan kegiatan-kegiatan olah keprajuritan, Wiratama sendiri yang mengawasi seluruh kegiatan, dan tidak segan-segan ia pun menurunkan ilmu-ilmu kanuragannya. Semua anak buah Ki Bondan melaksanakan latihan-latihan dengan semangat, karena mereka merasa bahwa kejayaan Alas Roban akan kembali seperti saat-saat mereka menjadi para begal yang di takuti, para calon telik sandi, mereka di latih secara teori, merekapun oleh Wiratama di latih melakukan penyusupan secara nyata, mereka berlatih sambil diberikan tugas untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang keberadaan istri dan anak Wiratama, mengumpulkan semua informasi mengenai Raden Arya permana dan orang-orang terdekatnya sekaligus membaca kekuatan pasukan yang melindungi keluarga mereka. Semua informasi yang penting oleh Wiratama di teliti dan di pelajari.
Untuk pasukan khusus, Ki Bondan dan Wiratama melatihnya dengan keras, tidak mengenal waktu, baik saat hujan maupun panas, mereka tetap berlatih. terkadang mereka di gabung dengan Pasukan 100 berpedang, untuk berlatih formasi-formasi pertempuran, yang mereka perdalam adalah strategi perang kilat, menyerang musuh dengan tiba-tiba ke titik yang terlemah. Pasukan berkuda pun tak kalah pelatihannya, mereka di latih sambil mengendarai kuda di wajibkan memanah sasaran dengan tepat dan cepat, sedangkan untuk pertempuran jarak pendek mereka mempelajari mempergunakan tombak dari atas kuda. Terkadang mereka berlatih dalam kegelapan malam, Wiratama mempersiapkan dengan matang tenggat waktu yang dia siapkan agar pasukan siap terhitung satu tahun.
sejajar dengan ko ping ho
pendekar pilih tanding kok kalah
sama roh abal2