Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERIMAKASIH SAHABAT
Lampu ruangan dinyalakan. “Ini kesempatan terakhir.” Aku tau kalau itu adalah suara Dimas, hanya saja aku enggan menatapnya. “Apa jawabanmu?” Lagi – lagi pertanyaan yang sama. Aku sudah bosan. Aku muak. Aku tidak ingin memikirkannya. Aku sudah tidak memperdulikannya. Aku benar – benar lelah. “Tetap gak berubah ya?” Aku mendengar suara yang aneh. Tatapanku yang masih tertunduk dilantai, perlahan – lahan bangkit menatap Dimas yang ada didepanku. Aku menyadari sesuatu sebelum melihat kearahnya melalui banyangan. Aku sempat meragukan pikiranku, tapi begitu melihatnya secara langsung, ternyata apa yang aku pikirkan benar. aku berpikir kalau Dimas menodongkan sesuatu kearahku. Sesuatu yang sangat berbahaya. Barang yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak SMA biasa. Dia memegang sebuah pistol. “Kalau kamu gak ada, cerita Clarissa gak bisa dibuktikan. Aku cuman perlu nyembunyiin mayat kamu ditempat yang aman.”
“Begitu ya.”
“Lagi – lagi kamu tersenyum disaat seperti ini.” Dimas mengarahkan senjatanya tidak ke kepalaku. Dia mengarahkannya ke badanku. Apa mungkin dia ragu melakukannya? Entahlah! Tapi satu hal yang pasti, bukan itu alasan aku tersenyum. “SEBENARNYA APA YANG LUCU?! KAMU PIKIR AKU CUMAN MAIN – MAIN?!” Dimas tiba - tiba saja emosi. Aku tidak tau kenapa dia begitu. Aku tidak bermaksud menyinggungnya. Aku cuman baru menyadari sesuatu. Hal yang membuatku merasa lebih baik. Aku juga bingung kenapa aku baru tersadarkan disaat situasi yang buruk. Mungkin karena situasi buruk itu yang membuat aku sadar. Iya, mungkin begitu. Situasi buruk sekarang menyadarkanku kalau pilihan yang aku buat dulu tidaklah salah. Aku yang meninggalkan Dimas merupakan pilihan yang tepat. Aku baru saja sadar. Hal tersebut membuatku tersenyum tanpa sadar. Dari sekian banyaknya keputusan buruk yang aku buat, setidaknya ada satu pilihan yang tidak aku sesali. Aku yang bodoh bisa membuat pilihan yang benar berkat bantuan Clarissa. Bukankah itu layak untuk dibanggakan? Meski begitu, aku tidak mengatakannya langsung pada Dimas. Itu tidak penting untuk disampaikan. “Yah, lagipula itu gak penting. Kamu akan segera mati. Ada kata – kata terakhir?”
Aneh, kematian ada didepan mataku. Tapi, aku tidak merasa takut. Padahal beberapa waktu yang lalu, aku selalu ketakutan dengan hal – hal kecil. Melarikan diri dari masalah, bersembunyi dibalik kebohongan, juga menyalahkan orang atas kelalaianku. Aku yang penakut, kenapa bisa berani ketika dihadapkan dengan kematian? Apa penyebabnya? Apa karena aku menjadi lebih pemberani? Apa karena aku sudah mengalami begitu banyak luka sehingga tidak terlalu memperdulikannya? Atau, apa karena aku sudah pernah merasakan kematian? Sepertinya bukan karena semua itu. Ada satu hal yang membuatku merasa tidak masalah jika berakhir seperti sekarang. Hal yang baru saja aku sadari. Itu karena aku sudah menemukan jawaban atas pertanyaan didalam hatiku. Sudah tidak ada lagi penyesalan yang tersisa dari diriku. “Makasih, udah mau jadi temanku.”
DOR!
Dimas menarik pelatuk senjatanya dan menembakku. Entah apa yang merasuki diriku. Aku mengatakan kalimat terakhir begitu saja, seolah – olah dia keluar dengan sendirinya. Meski aku tau kalau tidak bisa lagi berteman dengan Dimas, aku merasa tetap harus mengatakan kalimat itu. Waktu yang aku habiskan bersama dengannya bukanlah sesuatu yang perlu kusesali. Aku benar – benar berterimakasih padanya sudah mau berteman denganku. Selain itu, disaat – saat terakhir Dimas ingin menembak, aku melihat Awan mendorong Dimas. Mereka terjatuh kebawah, meski begitu tembakannya tetap mengenaiku. Itu tidak penting. Yang terpenting adalah Awan datang menyelamatkanku. Aku merasa senang. Benar – benar senang. Pikiran burukku tentangnya langsung terhapus begitu saja setelah melihat kedatangannya. Aku tau kalau dia tidak seburuk yang aku pikrikan. Aku senang pikiran negatifku tentangnya salah.
Awan segera mendekat kearahku. Dia mengatakan sesuatu tapi aku tidak tau apa yang dia katakan. Aku sudah berusaha, tapi aku tetap tidak bisa mengerti. Alih – alih berusaha lebih keras, aku memilih mengungkapkan isi hatiku, semampu yang aku bisa. Sebenarnya kalimat terakhirku bukan hanya ditujukan pada Dimas, tapi ditujukan juga pada Awan. Aku yakin kalau dia akan mengerti. Aku yakin pesanku akan tersampaikan padanya. Meski begitu, aku tetap tidak lega jika tidak mengatakannya secara langsung. Aku memaksakan diri untuk bicara meskipun darah mengalir dari perutku. “Waktu yang kita habisin bersama baru – baru ini sangat menyenangkan. Terimakasih udah nolong aku dijalan. Terimakasih udah ngajak aku ke puncak. Terimakasih udah bawa aku senang – senang bareng Clarissa. Te – terimakasih juga udah mau ngisi waktu – waktuku yang sunyi disekolah ….” Padahal masih banyak lagi kata terimakasih yang ingin aku ucapkan padanya, tapi aku sudah tidak sanggup. Aku tidak punya tenaga lagi yang tersisa untuk mengatakan sepatah kata. Tubuhku rasanya mulai dingin. Pandanganku semakin sempit. Aku kesulitan mengambil napas. Sepertinya waktuku sudah tiba. Meski aku tidak bisa mengatakannya sampai selesai, setidaknya aku bisa menyampaikan apa yang perlu aku sampaikan. Mungkin ada satu kalimat yang tertinggal. Kalimat ini juga penting. Jika ada satu kalimat lagi yang bisa aku sampaikan padanya, itu adalah,
“Makasih udah mau jadi sahabatku.”