NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 34

Saat masuk kedalam kamar Bara, Anya kembali tertegun. Ia baru pertama kali melihat suite room di dalam hidupnya.

Sorot lampu indah yang tidak begitu terang. Hembusan udara dari AC yang keluar bahkan sempat membuat Anya bergidik.

Dari tempatnya berdiri, Anya bisa melihat pemandangan kota malam yang indah dari balik jendela besar. Serta, aroma dari wood kayu yang seperti baru saja di hias.

"Yaa, ampun ... Ini mah bukan kamar," ucap Anya pelan. Ketika pandangannya menyapu sebua living room besar di sebelah.

Tanpa Anya sadari, Bara yang sudah melepaskan kemejanya lagi menatap Anya dari arah depan kamar mandi. Bara sekarang, hanya mengenakan celana hitam panjangnya saja.

"Astag!"

"Apa yang kamu lakukan?!" ucap Anya panik. Menutup kedua bola matanya yang sempat membulat. Ia tidak mengira bahwa Bara sudah melepaskan setengah pakaiannya.

Deg!

Jantung Anya kembali berhenti, ketika ia saat ini merasa sedang di peluk. Aroma maskulin dari bentuk tubuh ideal Bara terasa sangat dekat di wajah Anya yang tertutup tangan.

"Ka-kamu ngapain Bara?" tanya Anya ragu, berusaha perlahan memberanikan diri membuka mata. Ketika sekarang, pandangan mereka terasa sangat dekat.

Setiap hembusan nafas Bara, semakin membuat jantung Anya sulit untuk bekerja. Mata Anya terlihat berbinar di tengah ia yang tidak bisa melakukan apa-apa karena Bara memeluknya dengan sangat erat.

Bara memegang erat pinggang ramping Anya, mendekatkan wajahnya semakin dekat.

"Ini balasan untuk tamparan waktu itu," kata Bara. Suaranya terdengar pelan namun kentara sangat serius. Sampai-sampai, Anya sempat membuang pandangannya karena jarak dari wajah mereka hampir habis.

Deg ...

Deg ...

Deg ...

Anya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain pasrah jika saat ini Bara ingin memakannya. Karena sebagaimana Anya memberontak, tenaganya kalah jauh dengan Bara yang mempunyai otot di setiap tubuhnya.

"Hm?"

Mendengar ocehan itu, Anya tidak sanggup berbuat apa-apa. Bara menarik dagu Anya agar mereka saling pandang dengan jelas. Karena jarak mereka yang hampir menyatu, Anya memejamkan matanya. Pasrah dengan apa yang entah ingin Bara lakukan.

"Huh ... Sudahlah. Aku ingin mandi," kata Bara membuang nafas. Melepaskan semua tenaganya saat menahan Anya yang terus terpejam takut. Berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Anya yang masih berdiri.

Akhirya Anya bisa bernafas lega. Seolah ia baru saja mengikuti perlombaan renang dengan jarak maraton.

"Astaga ... Dasar tidak waras!" gerutu Anya di dalam hati. Meskipun ia merasa senang, namun di dalam ekspresinya terlihat seperti ada penyesalan kecil yang hadir. Ketika Anya, melihat Bara pergi masuk berjalan kedalam kamar mandi.

Beberapa menit kemudian ...

Pandangan Anya masih menyapu seluruh isi suite room ini. Ekspresinya tidak pernah berhenti ketika melihat benda-benda mahal yang ia temui.

Sampai, fokusnya tertuju pada sebuah nakas yang berada di samping pemandangan kota malam jendela besar.

"Ih ... Lucu~" kata Anya, ketika melihat salah satu foto yang terpajang. Foto itu memperlihatkan seorang anak kecil yang sedang di gendong kedua orang dewasa.

Di dalam foto, anak itu terlihat sangat bahagia. Membua Anya tanpa sadar ikut tersenyum saat melihatnya.

Beberapa moment hangat ketika mereka piknik juga terpajang di sebelah foto-foto itu. Senyumannya terasa sempurna ketika sinar matahari ikut mewarnai hiasan di dalam foto.

"Apa yang kamu lakukan?"

Suara berat dari Bara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, membuat Anya kaget. Ia cepat meletakan kembali barang-barang yang sempat ia pegang.

Postur tubuh Bara yang ideal, kini hanya terbungkus handuk putih dari pinggang sampai ke lutut. Wangi dari shampo mint yang tercium, memenuhi seluruh isi ruang.

Wangi aroma musk itu perlahan mendekat. Ketika, Anya baru saja berbalik badan sudah mendapati Bara yang berada di hadapannya.

"Aku bertanya. Apa yang sedang kamu lakukan?" kata Bara kedua kali. Menatap Anya yang hanya diam tidak bisa berkata.

Anya tertegun kaget. Melihat jarak mereka yang kini sudah semakin dekat. Aroma mint yang keluar dari rambut Bara, juga wangi dari tubuh Bara yang masih meneteskan air.

"Ah, tidak. Aku tidak melakukan apa-apa," balas Anya, terus menunduk tidak berani menatap Bara yang masih berdiri dekat di depannya.

Sebuah senyum smirk kecil terukir menjungkit di wajah Bara. Ia mendekatkan wajahnya perlahan ke telinga Anya.

Deg!

Jantung Anya kembali terpacu ketika hembusan nafas Bara, membuatnya merinding.

"Di dalam kulkas, ada beberapa bahan makanan. Aku ingin kamu mulai memasak."

"Kalau tidak, aku akan memakan ..." bisik Bara pelan tepat di telinga Anya. Membuat ekspresi Anya sekarang mendadak kikuk.

Wajah Anya mulai memerah. Ketika Bara semakin menundukan wajahnya begitu dekat. Anya semakin tidak ingin berlama-lama di dalam situasi ini.

"Baik. Aku akan mulai memasak!" jawab Anya dengan nada cepat. Ia berlalu kikuk meninggalkan Bara yang semakin terlihat ingin memangsanya.

Saat sudah di tinggal Anya pergi. Bara sempat melirik beberapa foto yang sempat Anya lihat. Ia berdecih pelan ketika kembali mengingat masa-masa itu.

"Cih ..."

Di dalam sebuah pantry mini. Anya sedang bergulat memasak. Menyiapkan hidangan makan malam untuk Bara.

Bhuss~

Suara dari beberapa bumbu-bumbu yang sedang di tumis, menyeruak memenuhi isi dalam pantry. Anya masih sedikit merasa kesal, dengan sikap Bara yang selalu membuatnya merasa cemas.

"Kenapa yaa, orang-orang seperti Bara ... Selalu sulit di tebak, entah apa yang ada di dalam pikirannya," gumam Anya, membicarakan Bara di dalam hatinya.

"Tidak bisa apa, dia bersikap biasa aja seperti orang normal? Aneh!" sambungnya, merasa semakin kesal jika mengingat moment Bara yang selalu membuat jantung Anya seperti ingin meloncat.

•••

Saat Anya baru saja selesai mandi. Ia baru saja membersihkan tubuhnya yang belum terkena air bersih selama beberapa hari kebelakang.

Baju tidur yang di berikan oleh Bara, membuat Anya tersenyum ketika memakainya. Ia melihat Bara yang tertidur di sebuah sofa.

"Walaupun sifatnya kadang mengesalkan ... Ia tampak seperti bayi jika lagi tidur," gumam Anya pelan. Seraya menutup badan Bara dengan selimut tebal berwarna putih.

Saat Anya berbalik badan hendak ingin pergi, tangannya tiba-tiba tertahan. Oleh Bara yang menggenggamnya namun masih tertidur.

Set!

"Jangan pergi!" ucap Bara pelan, seperti orang yang sedang mengigau sambil terus menahan tangan Anya agar tidak pergi.

"Hm?" ucap Anya menoleh ke Bara, merasa heran dan berpikir apakah Bara sedang melantur atau tidak.

Anya terus melihat Bara yang tidak merespon lagi karena masih tertidur. Dengan perlahan, Anya berusaha melepaskan pegangan Bara dan meletakkannya kembali ke posisi semula.

Saat Anya melakukan itu, pandangan mereka sempat berdekatan. Dan Anya sedikit tersenyum melihat wajah lucu Bara saat tertidur.

Anya melambaikan tangannya di depan wajah Bara. Memastikan apakah dia benar tidur atau tidak.

"Huh ... Ternyata dia cuma mimpi," kata Anya, membuang nafas pendeknya setelah memastikan semua hal yang sempat membuat jantungnya berdetak tidak normal.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!