"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Aroma antiseptik yang khas dan pendar lampu neon yang temaram menyelimuti ruangan Unit Kesehatan Sekolah Fakultas Bisnis.
Di atas salah satu ranjang berseprai putih yang disekat oleh tirai kain tipis, Maximilian Valerio berbaring dengan lengan kanan yang diletakkan di atas dahi. Warna kulit di wajah tampannya perlahan-lahan mulai kembali normal, tidak sepucat saat berada di toilet tadi, meskipun gurat kelelahan mental masih tercetak jelas di sudut matanya.
Ketika bel berbunyi nyaring di kejauhan—menandakan jam pertama perkuliahan telah resmi berakhir—Max perlahan menurunkan lengannya. Dia menoleh ke samping dan sedikit terkejut saat mendapati bahwa dirinya tidak sendirian di dalam bilik tersebut.
Amieyara Walker masih di sana. Wanita itu duduk di atas kursi besi di samping ranjang, dengan laptop yang terbuka di atas pangkuannya dan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidung mancungnya.
Jemari lentiknya bergerak lincah di atas papan ketik, memeriksa beberapa berkas silabus hukum seolah ruangan UKS ini adalah perpanjangan dari meja kerjanya.
Max memperhatikan profil samping wajah Yara selama beberapa saat. Di bawah cahaya temaram, garis rahang Yara yang tegas namun feminin tampak begitu memikat. Sisi tegas seorang pengajar dan kelembutan seorang wanita berbaur menjadi satu dalam gestur tubuhnya yang tenang.
"Kau sama sekali tidak meninggalkanku, hm?" suara bariton Max memecah keheningan, terdengar serak namun sudah kembali memiliki riak keisengan yang khas.
Yara tidak langsung menoleh. Dia menyelesaikan satu paragraf ketikannya, menekan tombol enter, baru kemudian memutar kepalanya lambat ke arah Max. Dia menurunkan sedikit bingkai kacamatanya, menatap pemuda itu dengan tatapan menilai yang sedingin es.
"Jangan terlalu percaya diri, Valerio," balas Yara datar, suaranya pelan namun tegas. "Aku bertahan di sini karena aku harus menyelesaikan laporan mingguan fakultas, dan ruangan ini adalah tempat paling tenang di seluruh gedung ini dibandingkan harus kembali ke ruang dosen yang bising. Lagipula, jika kau tiba-tiba mati di sini sebelum jam kuliah selesai, aku adalah orang terakhir yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh pihak universitas."
Max tidak bisa menahan senyumannya. Seringai tengil yang biasa dia pamerkan kembali terukir di sudut bibirnya.
Dia mengubah posisinya menjadi setengah bersandar pada bantalan ranjang, menatap Yara dengan binar mata yang nakal.
"Alasan yang bagus, Nona," goda Max, lalu dengan nada suara yang sengaja diperlembut dan sarat akan provokasi, dia menambahkan, "Terima kasih atas perhatianmu, Baby."
Yara hanya memutar bola matanya malas, sebuah dengusan kasar lolos dari hidungnya yang bangir. Sejak kapan mereka menjadi sedekat ini hingga bocah berusia dua puluh tahun ini berani memanggilnya dengan sebutan menjijikkan seperti itu?
Namun, Yara memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Di dalam benaknya, dia membuat batasan yang tegas: semasih bocah birahi dari Boston ini tidak berani melayangkan sentuhan fisik yang kurang ajar pada tubuhnya, maka dia akan membiarkan segala ocehan konyol itu berlalu begitu saja sebagai angin lalu.
Bagaimanapun, ada rasa bersalah yang samar di dalam hati Yara karena telah menuduh Max secara sepihak tadi pagi, padahal pemuda ini sedang menahan sakit yang luar biasa.
Di sisi lain gedung Fakultas Bisnis, koridor utama mulai dipadati oleh mahasiswa yang berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk menikmati jam istirahat.
Namun, di antara kerumunan itu, Bella Moon berjalan dengan langkah yang terburu-buru, mengabaikan beberapa sapaan dari mahasiswa lain yang mencoba menarik perhatiannya.
Sejak jam pertama dimulai, kursi di barisan belakang yang seharusnya ditempati oleh Maximilian Valerio tampak kosong melompong.
Bella tahu betul bahwa Max telah meninggalkan kelas bersama Demon sebelum dosen masuk. Rasa penasaran dan ego manipulatifnya terusik. Dia tidak bisa membiarkan Max mengabaikannya begitu saja setelah dua tahun berpisah.
Saat berpapasan dengan Demon dan Carter di dekat loker, Bella langsung menghadang langkah kedua sahabat Max itu.
"Di mana Max?" tanya Bella tanpa basa-basi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan menuntut.
Demon menatap Bella dengan pandangan dingin yang sarat akan rasa muak, sementara Carter hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dia sedang tidak enak badan. Max sudah izin ke dosen untuk beristirahat di UKS sampai jam istirahat selesai," jawab Demon ketus, sebelum akhirnya menarik lengan Carter untuk berjalan melewati Bella begitu saja.
Mendengar kata 'UKS', sepasang mata biru Bella seketika berkilat. Tanpa membuang waktu, dia memutar arah langkah kakinya, berjalan cepat menuju ruang kesehatan yang terletak di ujung koridor barat yang lebih sepi.
Kembali ke dalam ruang UKS, Max baru saja hendak meraih botol air minum di atas meja nakas ketika sepasang mata tajamnya menangkap sebuah pergerakan dari arah pintu masuk kaca ruangan tersebut.
Melalui celah tirai putih yang sedikit terbuka, Max melihat siluet seorang gadis berambut pirang bergelombang dengan gaun rajut putih yang sangat dia kenali sedang melangkah masuk ke dalam ruangan.
Itu Bella Moon. Wanita yang menjadi sumber dari segala rasa mual dan muak yang mendera fisiknya pagi ini.
Melihat kehadiran Bella yang semakin mendekat ke arah biliknya, sebuah impuls gila dan nekat mendadak meledak di dalam otak cerdas Maximilian.
Rasa benci, jijik, dan keinginan kuat untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi berlutut pada masa lalu yang busuk membuat akal sehatnya bergeser dalam sekejap.
Sebelum Yara sempat menyadari apa yang terjadi, Max mendadak mencondongkan tubuh tegapnya ke depan. Dengan gerakan yang teramat sangat cepat dan presisi, sebelah tangan kekar Max merayap naik, mencengkeram tengkuk leher Yara dengan kuat namun lembut, sementara tangan lainnya melingkar posesif di pinggang ramping wanita itu.
Max menarik tubuh Yara mendekat, lalu langsung membungkam bibir ranum sang asisten dosen dengan bibirnya sendiri.
CUP.
Yara membelalakkan matanya sempurna, laptop di atas pangkuannya nyaris merosot jatuh ke lantai jika saja dia tidak menahannya dengan sebelah tangan yang gemetar.
Sentuhan bibir Max yang mendadak, hangat, dan ditekan dengan intensitas yang begitu pekat membuat seluruh sistem saraf di otak Yara mengalami kelumpuhan instan.
Max tidak hanya sekadar menempelkan bibirnya; dia melumatnya dengan ritme yang dalam, sarat akan emosi yang bergejolak, seolah-olah sedang melampiaskan seluruh dendam dan rasa muak yang tertahan di dalam dadanya.
Tepat di detik yang sama, tirai pembatas bilik ditarik terbuka dengan kasar dari luar.
Bella Moon berdiri di sana, bersiap untuk memberikan senyuman manisnya, namun wajah cantiknya seketika membeku saat disuguhi pemandangan gila di depannya.
Mantan kekasih yang dia puja dulu, kini sedang berciuman dengan begitu intim dan panas dengan seorang wanita berambut hitam yang mengenakan kemeja sutra resmi kampus.
Bukannya langsung berbalik pergi atau keluar karena merasa malu melihat adegan privat tersebut, Bella dengan tidak tahu diri justru melangkah masuk lebih dalam ke dalam bilik kecil itu. Ego dan rasa kepemilikannya yang sakit menolak untuk menerima kenyataan bahwa Max telah berpaling.
Yara yang menyadari kehadiran orang asing dari sudut matanya mencoba untuk mendorong dada Max. Namun, kekuatan fisik sang Valerio jauh di atasnya. Cengkeraman Max di pinggang dan tengkuknya justru semakin mengerat, mengunci tubuh Yara agar tetap menyatu dengannya.
Yara tidak memiliki waktu untuk mengumpat atau berteriak. Otaknya berputar cepat mencoba mencerna situasi gila ini.
Mengapa Max tiba-tiba menciumnya secara brutal tepat saat gadis pirang ini masuk? Siapa gadis ini?
Sebelum Yara sempat menarik kesimpulan, Max akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan, menyisakan benang saliva tipis dan napas mereka yang sama-sama memburu.
Max tidak melepaskan tangannya dari pinggang Yara; dia justru menarik tubuh wanita itu agar bersandar di dada bidangnya, memamerkan kedekatan mereka di depan Bella.
Max menatap Yara dengan pandangan mata yang menggelap, lalu berbisik dengan suara bariton yang sengaja diredam namun terdengar sangat seksi, "Baby... kita lanjut nanti di apartemen, hm? Ada tamu tidak diundang yang merusak suasana kita."
Brengsek birahi! batin Yara mengumpat dengan sangat keras di dalam hatinya. Kilatan amarah menyala di matanya, namun dia terpaksa menahan diri karena menyadari bahwa dirinya saat ini sedang dijadikan tameng hidup dalam sebuah permainan tak kasat mata milik Maximilian.
Max kemudian memalingkan wajahnya ke arah Bella, tatapan matanya mendadak berubah menjadi sedingin es yang mematikan, kehilangan seluruh kehangatan yang baru saja dia tunjukkan pada Yara.
"Bella? Kenapa kau kemari? Siapa yang mengizinkanmu masuk kesini?" tanya Max dengan nada suara yang tajam dan menusuk.
Bella Moon mengabaikan keberadaan Yara yang sedang bersandar di dada Max. Dia melangkah maju satu tapak, menatap Max dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih dan penuh kecemasan.
"Max... kau sakit? Aku mendengar dari Demon kalau kau di UKS. Aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap Bella dengan suara yang mendayu-dayu, mencoba memanggil kembali memori masa lalu mereka.
Yara mengernyitkan alisnya tajam. Dia menatap wajah Bella dari atas ke bawah. Wajah gadis ini terasa sangat asing di lingkungan kampus. Apa dia gadis pindahan lagi? Dan mengapa dia bersikap seolah memiliki hak atas pria di pelukanku ini? batin Yara, mulai mencium aroma drama yang rumit.
Max mengeluarkan tawa sinis yang hambar dari tenggorokannya. Cengkeraman tangannya di pinggang Yara semakin mengerat, seolah menegaskan batasan teritorialnya.
"Bella... bisa kau tutup pintu dan keluar dari sini sekarang juga? You know lah... aku... aku sedang ingin menghabiskan waktu berdua dengan kekasihku tanpa ada gangguan dari orang asing."
Mendengar kata 'kekasih', rahang Bella mengencang. Dia menolak untuk bergeming dari tempatnya berdiri. Dia tetap diam menatap Max dengan pandangan mata yang menuntut penjelasan, seolah-olah menganggap bahwa wanita berambut hitam di pelukan Max hanyalah sebuah pelampiasan sementara.
Melihat Bella yang tidak tahu diri dan tetap menolak untuk pergi, rasa muak di dada Max kembali naik. Untuk benar-benar mengusir wanita menjijikkan itu dari hadapannya, Max memutuskan untuk melakukan tindakan yang lebih ekstrem. Dia kembali menundukkan kepalanya, berniat untuk mencium bibir Yara sekali lagi dengan lebih intens di depan mata Bella.
Namun gila nya, saat bibir Max kembali menyentuh bibir Yara, wanita di bawahnya itu sama sekali tidak bergerak ataupun membalas. Yara hanya diam mematung dengan sepasang mata yang menatap Max dengan tatapan yang teramat sangat dingin, tajam, dan penuh dengan ancaman pembunuhan terselubung.
Oh, shit! batin Max mendadak mengumpat di dalam hatinya. Dia menyadari bahwa triknya kali ini telah melewati batas toleransi sang asisten profesor. Gadis di hadapannya ini bukan lagi wanita rapuh yang menangis di jembatan semalam; dia adalah wanita betina yang siap mencabik-cabiknya begitu mereka keluar dari ruangan ini.
Sementara itu, di dalam hatinya, Yara sedang menyusun rencana pembalasan dendam yang paling kejam untuk pemuda di hadapannya ini.
Brengsek kau, Maximilian Valerio!!! Aku akan memberikan tamparan keras yang tidak akan pernah kau lupakan nanti di apartemenmu sendiri! Kau telah menggunakan bibirku untuk drama picisanmu, dan aku akan memastikan kau membayar mahal untuk setiap detiknya! Ucap Yara di dalam hatinya dengan penuh dendam.
Dia sengaja tidak memberontak sekarang karena dia tahu ini akan menjadi senjata paling ampuh untuk menjatuhkan harga diri Maximilian nanti saat mereka hanya ditinggal berdua.
Ciuman sepihak dan penuh ketegangan gila itu masih terus berlanjut di bawah tatapan Bella Moon yang masih tetap tidak bergeming di tempatnya, menolak untuk kalah oleh pemandangan di depannya.
Atmosfer di dalam ruang UKS itu terasa begitu pekat oleh distorsi emosi yang saling berbenturan—antara nafsu sandiwara Max, dendam membara Yara, dan kegilaan manipulatif Bella.
Hingga tiba-tiba...
BRAK!
Pintu ruang UKS utama luar kembali terdorong terbuka dengan kasar, diikuti oleh langkah kaki yang terburu-buru yang langsung menuju ke arah bilik Max.
Tirai putih yang semula menutupi setengah area bilik ditarik sepenuhnya hingga terbuka lebar oleh Demon, dengan Carter yang mengekor di belakangnya.
"Max! Kita bawakan lo makanan dari—"
Kalimat Demon seketika terputus di udara. Botol minuman dan kantong plastik berisi roti yang dipegang oleh Carter nyaris terlepas dari genggamannya.
Kedua sahabat Maximilian itu berdiri mematung di ambang bilik dengan mulut yang menganga lebar laksana orang bodoh, mata mereka melotot sempurna menyaksikan pemandangan paling gila abad ini.
Di atas ranjang UKS, sahabat mereka yang katanya sedang sekarat, kini sedang merengkuh posesif pinggang Amieyara Walker—asisten dosen Fakultas Bisnis—sembari mencium bibirnya dengan begitu intim, sementara Bella Moon berdiri di samping mereka menyaksikan adegan tersebut laksana seorang penonton bioskop kelas satu.
Keheningan yang luar biasa canggung dan mematikan seketika menyelimuti ruangan UKS tersebut, menandakan bahwa sebuah badai skandal baru yang jauh lebih besar telah resmi meledak di lingkungan universitas mereka.