"Apa kau pikir Alexandra ikut bagian dalam rencana mereka untuk menjebakku?" tanya Marc Maretta serious.
"Nona Alexandra bekerja sebagai tour guide di negerinya. Ia datang menemui kekasihnya di Thessaloniki setelah satu setengah tahun mereka berkenalan. Kelihatannya hubungan mereka tak berhasil," kata pengawal Marchetti.
Gadis yang sedang patah hati, mampukah ia membunuh mafia kejam seperti Marc Maretta, that's impossible!
Perjalanan yang ditempuh Alexandra begitu jauh, dari Indonesia menuju Greece kemudian ke France. Namun dirinya malah terdampar di Milan, Italy. Dan luka tembak di lengannya, itu bukan untuknya!
Alexandra bukan gadis yang lemah tapi jatuh cinta pada mafia membuat dirinya harus menerima kenyataan, dilukai atau melukai.
Apakah Marc Marreta menjadi pilihan hidupnya di antara dua laki-laki lain yang mencintainya?
Antonis yang ingin merebut cintanya kembali atau mungkin Guy Dupuis sahabatnya yang menyayangi Alexandra sejak lama?
Sebuah dilemma bagi Alexandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray B., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbananku
Puri Lombardy
Dua minggu telah terlewati
Keadaan Alexandra makin membaik, ia sudah menghubungi orangtuanya beberapa hari lalu di Jakarta dan mengabarkan ia baik-baik saja.
Ia tidak ingin mereka panik jika tahu keadaan sebenarnya, hanya mengatakan berada di Milan - Italy saat ini dan sibuk membuat journal wisata.
Hanya kepada Guy Dupuis, ia akhirnya bisa berterus terang. Sahabatnya itu tak berhenti memikirkan mengapa Alexandra belum tiba di Marseille sejak dua minggu lalu.
Sementara e-ticketnya hanya terpakai sampai di Milan airport saja.
Sudah dua kali Alexandra menelepon hanya sekedar ingin menyapa sahabatnya.
Puri Lombardy begitu besar baginya tapi tidak ada yang bisa diajak bicara dari hati ke hati.
"Bonjour, mon amour - cintaku, Comment allez-vous bagaimana kabarmu?" goda Guy Dupuis di ujung telephone.
Alexandra tertawa, "Bonjour. Je vais bien, merci. Et vous - Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
"Tres bien, merci. Kapan kau datang ke Marseille atau kau ingin aku jemput dari Milan?" tanya Guy Dupuis serious.
Alexandra menghela nafasnya, lukanya belum sembuh betul. Ia tidak ingin menyusahkan sahabatnya.
Niatnya datang ke Europe untuk berlibur, tapi musibah datang menimpanya.
Guy Dupuis tahu cintanya dengan Antonis sudah berakhir sebulan lalu dan mengundang Alexandra ke France supaya bisa mengubah liburannya lebih menyenangkan.
Rencananya Alexandra akan diajak menyusuri Paris hingga Monaco untuk menutupi rasa bersalahnya setelah kejadian serangan di bandara Malpensa.
Sekarang Guy Dupuis hanya menunggu sampai Alexandra siap.
"Akan ku kabari kapan aku siap, Guy. A bientot - sampai jumpa lagi," Alexandra mengakhiri telephonenya.
Ia berdiri di balcony Puri Lombardy, udaranya mulai sedikit hangat di musim dingin ini.
Alessio datang mengagetkannya, "Nona Alexa, are you okay? Maaf aku berkali-kali mengetuk kamar ini, tapi Nona tidak menyahut. Dan mengapa anda di sini, tidak berbaring ditempat tidur?"
Alexandra tersenyum, "Hi Alessio, I'm good! Hanya bosan 3 minggu di kamar saja, jadi aku ingin melihat pemandangan dari balcony. Hari yang cerah & indah."
Alessio kelihatan bimbang tapi ia ingin tamu keluarga Tuan Besar Maretta tidak merasa seperti di penjara di istananya. Tuan Besar meminta ia mendampingi Nona Alexandra keliling menikmati suasana di Lombardy.
"Nona, apakah anda mau jalan-jalan keliling daerah ini?" ajaknya ragu.
Raut wajah Alexandra bersinar mendengar ajakannya, "Whoahhh aku mau, menyenangkan rasanya bisa menjelajah negeri ini. Aku bersiap-siap dulu. Maukah kau memanggil Elisa untuk membantuku berpakaian?"
Alessio mengangguk, "Akan ku panggilkan dia membantu anda berpakaian. Aku tunggu dibawah, jika Nona sudah siap!"
Butuh lima belas menit Alexandra merapikan diri. Red long neck tshirt tanpa lengan ia gunakan karena perbannya belum bisa dilepas itu perintah Dokter Alfredo kemarin ketika memeriksa & menggantikan dengan perban yang baru.
Jeans & boots kesukaannya kini telah melekat ditubuhnya. Ia begitu senang hari ini, rambutnya digelung oleh pelayan Elisa. Kini ia tinggalkan bubuhkan sedikit berhias di wajahnya agar terlihat segar.
Alexandra menuruni tangga dengan cepat, Alessio sudah menunggunya di luar. Ia melewati ruang keluarga & bertemu Nyonya Maretta.
"Selamat siang Nyonya Maretta, bolehkah aku keluar didampingi pengawal Alessio untuk melihat Lombardy dari dekat?" ijinnya kepada nyonya rumah.
Nyonya Maretta tersenyum renyah, "Berangkatlah & bersenang senanglah sayang, kau patut mendapatkan siang yang cerah seperti hari ini. Gunakan scarf tebal supaya tetap hangat tubuhmu. Lindungi lenganmu jangan sampai terluka lagi. Okay?"
Alexandra mengangguk, scarf tebal telah tersampir dibahunya. Kemudian ia memeluk dan mencium pipi Nyonya Maretta, "Aku pergi dulu, sampai bertemu nanti."
Di depan Alessio telah menunggu & membukakan pintu mobil untuknya, tapi Alexandra tidak ingin duduk di belakang. Ia ingin bercakap-cakap langsung dengannya tentang Lombardy.
Alessio berbalik ke belakang, meminta persetujuan Nyonya Maretta. Tamu keluarga besar Tuan Maretta tidak bisa diperlakukan sekenanya. Nyonya Maretta menyetujui, ia pun menutup pintu mobil setelah Alexandra duduk manis didalamnya. Ia menyetir mobilnya menyusuri Danau Como.
Alessio menjelaskan Danau Como adalah danau yang terletak di Italia utara. Danau ini merupakan danau terbesar ketiga setelah Danau Garda dan Danau Maggiore. Danau ini memiliki luas 146 km².
Wilayah Lierna adalah tempat bersejarah yang mempesona danau dengan pantai putih dan kastil yang terkenal. Kawasan pejalan kaki yang paling indah dari keseluruhan Danau Como adalah "Sentiero del Viandate" dari Lierna ke Colico.
Alexandra senang mendengar penjelasannya, ia ingin trekking ke atas danau tersebut.
Membayangkan berapa gunung & danau di Indonesia telah ia jelajahi sejak dibangku sekolah dulu ia bergabung mengikuti kegiatan pecinta alam.
Mental & fisiknya telah terbina hingga mengantarkannya menjadi freelance tours & travel di perusahaan kawannya. Dan atas keberaniannya pula ia berangkat ke Europe sendirian.
Alessio memarkirkan kendaraannya di tempat yang ditentukan. Ia melarang Nona Alexandra untuk menjelajah terlalu jauh karena musim dingin ini kurang baik untuk kesehatannya saat ini.
Ia tidak berani mengambil resiko jika Tuan Besar Maretta mengetahuinya.
Alexandra memutuskan untuk duduk di bangku kayu tua menghadap langsung ke Danau Como. Itu lebih baik menurutnya, daripada terus berbaring memandang kamarnya berminggu-minggu lamanya.
Alessio menawari minuman kepadanya. "Nona Alexa, apakah anda ingin segelas coklat hangat?"
Alexandra mengangguk, scarfnya dikalungkan ke lehernya. Ia ingin merasakan cuaca yang hangat di kulit lengannya lagi. Rindu suasana tropis di negerinya sendiri.
Rindu dengan si mata biru menggenggam tangannya, menyuapinya & berdekatan dengannya.
Alexandra merasakan sunyi tanpa perhatiannya. Apakah mereka memiliki kesempatan untuk berbaikan kembali, entahlah ia tidak tahu Marc Maretta berada dimana saat ini.
Sementara Alexandra menikmati danau Como, Alessio mengirimkan pesan ke Marchetti berikut photo yang diambil melalui handphonenya.
Marchetti membalas pesannya, "Jaga baik-baik Nona Alexandra. Kami akan kembali dalam waktu dekat ini."
......................
Moscow's - Russia
Marchetti tersenyum setelah menerima pesan dari Alessio di Lombardy. Marc Maretta sedang berada disampingnya.
Mereka sudah 2 minggu di sini, perburuannya hampir selesai. Targetnya akan mendekati mereka malam ini, Uncle Sergey akan mempertemukannya.
"Ada apa Marchetti?" tanya Marc Marretta menyelidik. "Aku tahu kau manusia yang jarang tersenyum. Ada yang menarik di handphone mu eh?"
Marchetti bangkit berdiri menyerahkannya ke Tuan Muda, menepuk bahunya kemudian pergi.
"Nikmatilah selagi kau bisa sebelum gadis itu terbang mengepakkan sayapnya lagi & meninggalkanmu untuk selamanya."
Marc Maretta menggumam pelan saat menerima handphone tersebut, "Brengsek kau, Marchetti!"
Lalu dilihatnya beberapa photo Alexandra duduk di depan Danau Como. Tak sadar ia pun mendesis, "Cantik!"
Matanya tertegun menatap beberapa photo yang dikirimkan oleh Alessio. Ia perhatikan lengan Alexandra mulai membaik.
Red long neck tshirt tanpa lengan yang dipakainya begitu menggoda dimata Marc Maretta.
T-shirt gadis mungil itu begitu melekat dibahu & pinggangnya yang rata dibalut dengan jeans biru serta boots membuatnya tampilannya ramping sexy hari ini.
Wajah gadis itu tirus dan senyum manis tersungging di bibir yang bersapukan dengan red lipstick. Rambutnya tergelung indah.
Marc Maretta meletakkan telephone selular di mejanya. Dinyalakan cigarettes, kembali ia memegang pelipisnya memikirkan seseorang yang berada dirumahnya.
Ia berusaha melupakan Alexandra dengan menjauhinya sementara waktu.
Tentu saja tidak mudah baginya, ia kembali mengingat saat berucap kejam mengancam hidup Alexandra & mendorongnya hingga lengan gadis muda itu kembali terluka.
Marc Maretta bertekad menyelesaikan urusannya malam ini. Dan kembali secepatnya ke Lombardy untuk memenangkan hati Alexandra, menenangkan jiwanya yang sunyi.
"Marchetti!" Dipanggil ajudannya yang ia tahu tak pernah jauh dari dirinya.
Marchetti menghampirinya, seraya Tuan Muda mengembalikan handphonenya & mengatakan dengan tegas lugas.
"Sudah waktunya kita berburu, ayo berangkat!"
...****************...
Alurnya tak biasa. Keren.
Bahasanya enak dibaca.
Untuk novel karya pertama, ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Two thumbs up!
*ikutan nyesek jadinya.
Jd bersa ikut perang...
😁
Smgt n sukses