"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Denyut yang Dipinjam
Keheningan di apartemen Arvin terasa begitu pekat, hanya dipecahkan oleh suara pompa manual dari alat bantu napas yang ditekan oleh Dokter Hendra. Eros dan Arvin berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan jiwa mereka: adik bungsu mereka, yang biasanya mereka abaikan, kini sedang dipaksa oleh medis untuk tetap bernapas.
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, garis di monitor jantung itu kembali membentuk gelombang kecil. Lemah, sangat lambat, tapi ada.
"Dia kembali," bisik Dokter Hendra dengan keringat membanjiri dahi. "Tapi ini hanya denyut yang dipinjam. Dia koma. Jantungnya sudah tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan alat dan obat-obatan dosis tinggi. Jika dia tidak sadar dalam 24 jam ke depan, otaknya bisa mengalami kerusakan permanen."
Eros merosot ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sosok pria sukses yang selalu tenang itu kini tampak hancur. "Ini salahku... aku yang mengambil obatnya semalam. Aku pikir dia berbohong."
Arvin tidak menyahut. Ia hanya menatap Aurora dengan tatapan kosong. Di tangannya, ia masih menggenggam buku catatan biru itu—satu-satunya bukti bahwa Aurora adalah manusia yang memiliki perasaan, bukan sekadar objek kebencian mereka.
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Tenggara, Juna sedang berada di perpustakaan. Sebagai anak yang paling genius dan analitis, Juna merasa ada kepingan puzzle yang hilang. Ia melihat GPS dari mobil Eros dan Arvin berhenti di lokasi yang sama: apartemen pribadi Arvin.
Juna juga mencatat bahwa Dokter Hendra, dokter pribadi keluarga, tidak bisa dihubungi sejak sore. Kecurigaannya memuncak saat ia menemukan sisa muntahan darah yang belum bersih sempurna di toilet sekolah tadi sore saat ia ada kelas tambahan.
"Ada yang mereka sembunyikan," gumam Juna.
Langkahnya terhenti saat ia melihat ayahnya, Bramantyo, sedang berbicara di telepon dengan nada sangat marah.
"Saya tidak peduli! Jika Arvin tidak bisa ditemukan, blokir semua akses keuangannya! Dan jika anak pembawa sial itu bersamanya, seret dia kembali ke rumah. Saya punya janji temu dengan kolega besok pagi, dan saya tidak mau ada drama keluarga yang bocor ke media!"
Bramantyo menutup telepon dan berbalik, mendapati Juna berdiri di sana. "Juna, cari kakak-kakakmu. Katakan pada mereka, kesabaran Papa ada batasnya."
Juna mengangguk patuh, namun di dalam otaknya, ia sedang menyusun rencana. Ia tidak langsung pergi ke apartemen Arvin. Ia justru meretas masuk ke sistem rekam medis Dokter Hendra secara diam-diam. Matanya membelalak saat melihat diagnosa terbaru yang diunggah secara darurat satu jam lalu.
Diagnosis: End-stage Heart Failure (Gagal Jantung Stadium Akhir). Prognosis: Buruk.
Juna terdiam di depan layar monitornya. Selama ini, ia menganggap Aurora hanya gangguan kecil dalam hidupnya yang sempurna. Ia menganggap penderitaan Aurora adalah konsekuensi logis dari kematian ibu mereka. Tapi melihat data medis yang begitu nyata, Juna merasa logika yang ia banggakan selama ini runtuh.
Tengah malam, Juna sampai di apartemen Arvin. Ia masuk menggunakan kode akses yang ia ketahui secara ilegal. Pemandangan di dalam ruangan itu membuatnya terpaku di ambang pintu.
Eros sedang duduk di lantai sambil memegang strip obat yang sudah kosong, sementara Arvin tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang Aurora, masih memegang tangan adiknya yang terpasang infus.
"Jadi ini akhirnya?" suara Juna yang datar memecah keheningan.
Eros mendongak, matanya merah. "Juna... kau sudah tahu?"
Juna berjalan mendekat, menatap Aurora yang wajahnya tertutup masker oksigen transparan. "Aku sudah membaca data medisnya. Jantungnya sudah menyerah. Kenapa kalian baru peduli sekarang?"
"Kami terlambat, Jun," sahut Arvin dengan suara serak, ia ternyata tidak benar-benar tidur. "Gue selama ini manggil dia pembunuh, padahal gue yang lagi ngebunuh dia pelan-pelan."
"Papa akan segera tahu," ucap Juna dingin. "Beliau sudah memerintahkan pelacakan sinyal ponsel kalian. Jika Papa sampai ke sini dan melihat kondisi ini, beliau tidak akan membawa Aurora ke rumah sakit. Beliau akan membawanya pulang dan mengurungnya lagi untuk menutupi aib ini."
"Gue nggak akan biarkan itu terjadi!" bentak Arvin.
"Maka kita harus bekerja sama," sela Juna. "Untuk pertama kalinya, kita harus mengkhianati Papa. Aku sudah menyiapkan ambulans swasta dari rumah sakit yang tidak ada hubungannya dengan yayasan keluarga. Kita akan memindahkan Aurora ke sana menggunakan nama samaran. Tapi itu artinya, kita semua harus siap kehilangan fasilitas dari Papa. Kita akan dianggap sebagai pemberontak."
Eros berdiri, ia merapikan kemejanya dan menatap kedua adiknya dengan tegas. Penyesalan telah mengubahnya menjadi pelindung. "Aku punya tabungan pribadi yang cukup untuk biaya pengobatan Aurora selama setahun. Persetan dengan fasilitas Papa. Malam ini, kita bukan lagi 'prajurit' Bramantyo Tenggara. Kita adalah kakak dari Aurora."
Di tengah pembicaraan itu, jari tangan Aurora yang digenggam Arvin bergerak sedikit. Sangat pelan.
"Ra? Aurora?" Arvin mendekatkan wajahnya.
Bibir Aurora di balik masker oksigen bergerak-gerak. Ia mengigau dalam komanya.
"P-papa... m-maaf... Aurora... p-pergi... sekarang..."
Kata-kata itu, meski hanya igauan, terasa seperti pisau yang menusuk jantung ketiga pria di ruangan itu. Aurora tidak meminta diselamatkan. Dalam mimpinya, ia justru meminta maaf karena ingin mati.
"Jangan minta maaf, Ra," bisik Arvin sambil mencium punggung tangan Aurora. "Kita yang harusnya minta maaf karena baru bangun saat lo sudah di ambang pintu."
Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, tiga bersaudara Tenggara melakukan operasi pelarian yang paling berbahaya dalam hidup mereka—melarikan adik mereka dari cengkeraman ayah mereka sendiri, memulai babak baru di mana mereka akan bertarung melawan waktu dan ego mereka sendiri demi satu detik lagi kehidupan bagi Aurora.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹