Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
BAB 11
Tubuh balitaku terombang - ambing di dalam cengkeraman tangan raksasa itu. Aku memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani melihat ke mana makhluk ini membawaku. Udara hutan yang sedingin es menusuk tulang, sementara napasku memburu dalam ketakutan yang mencekik.
Setelah entah berapa lama kami menembus kegelapan hutan pinus, hawa dingin yang menggigit perlahan terasa sedikit menghangat.
Rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutanku. Aku membuka mata perlahan.
Kami telah tiba di sebuah tanah lapang kecil. Sinar matahari pagi mulai menembus sela-sela dedaunan, menyinari wajahku. Dari kejauhan, tampak siluet sebuah gunung batu yang menjulang tinggi menantang langit.
Namun, perhatianku segera tersita oleh sosok yang sedang membawaku ini. Di bawah terpaan sinar matahari yang cukup terang, aku akhirnya bisa mengobservasi makhluk tersebut dengan jelas. Siluet mengerikan yang membantai iring-iringan pengawal di dalam kabut itu ternyata bukanlah iblis atau monster dari dunia bawah.
Dia hanyalah seorang pria. Seorang manusia biasa, tetapi dengan ukuran yang sepenuhnya tidak wajar.
Bahkan dengan seluruh pengetahuanku yang melampaui zaman ini, aku belum pernah melihat manusia sebesar dan sepadat ini. Tingginya nyaris tiga meter, dengan otot yang sekeras batu berlapis pakaian dari kulit hewan. Otakku kembali berputar keras. Apakah dia keturunan kaum 'Ad? pikirku liar. Dulu, Abi pernah bercerita kepadaku tentang kaum raksasa itu. Namun, Abi juga menekankan bahwa kaum itu telah dimusnahkan oleh Allah beribu-ribu tahun sebelum kedatangan Baginda Rasulullah. Apakah pria ini adalah sisa-sisa garis keturunan mereka?
Di tengah hamparan tanah lapang yang dipenuhi tulang-belulang hewan buruan yang telah memutih itu, langkah kaki pria raksasa ini tiba-tiba terhenti.
"Hrrmm..."
Sebuah geraman rendah yang sangat berat dan mengancam keluar dari dadanya. Otot-otot besar di bahu dan punggungnya mendadak menegang kaku. Ia menolehkan kepalanya ke arah rimbunan semak belukar di sebelah kanan kami. Sorot matanya menajam, seolah instingnya menyadari sebuah ancaman mematikan yang sama sekali tidak kutangkap.
Sedetik kemudian, tanpa peringatan apa pun, cengkeraman tangannya mengendur. Tubuhku dilempar tinggi ke udara dengan kecepatan yang membuat perutku terasa tertinggal di bawah.
"AAAAAAHHH!"
Jeritanku pecah seketika. Tubuhku melayang melampaui dahan-dahan pohon pinus tertinggi.
Dalam kepanikan luar biasa itu, mataku menatap ke bawah. Dari balik semak belukar yang bergetar keras, seekor makhluk buas baru saja melompat keluar. Itu adalah seekor singa berukuran raksasa dengan bulu tebal berwarna abu-abu kotor. Singa Phantera?
Singa raksasa itu lalu mengaum, bersiap menerkam dan merobek leher pria itu. Namun, sang pria bahkan tidak bergeser dari posisinya. Dengan satu ayunan kapak yang terlalu cepat untuk ditangkap mata, ia menebas si singa.
Darah menyembur deras. Tubuh singa abu-abu itu terbelah menjadi dua tepat di tengah lompatannya, jatuh berdebum ke atas tanah.
Yang membuatku ngeri, pria raksasa itu bahkan tidak menunduk untuk memeriksa bangkai tersebut. Ia seperti sudah sangat terbiasa menghadapi ancaman semacam ini.
Namun, kengerianku belum berakhir. Gravitasi mulai menarik tubuhku dengan kejam. Aku meluncur jatuh. Bumi melesat naik menyambutku.
Jantung kecilku berdebar sangat keras hingga rasanya menabrak tulang rusuk. Guncangan fisik dan teror bertubi-tubi ini terlalu berat untuk ditanggung oleh tubuh seorang balita. Pandanganku berputar liar. Telingaku berdenging hebat, menulikan semua suara. Segala kengerian itu memudar menjadi hitam pekat, dan aku kehilangan kesadaran bahkan sebelum tubuhku menyentuh tanah.
Dalam ketidaksadaranku, masa lalu datang menghantam bagai ombak yang kejam.
Aku bermimpi. Melihat Abi Naufal tertawa sambil mengangkatku ke udara. Melihat Umi tersenyum lembut saat membentangkan kain sutra di paviliun rumah kami. Melihat Kak Waraqah yang menatapku dengan wajah putus asa saat kami kabur keluar dari Mekah. Melihat senyum Bibi Salma yang berlumuran darah di gang sempit. Mendengar isak tangis Elara saat kami dipisahkan paksa di pelabuhan budak. Dan terakhir... melihat tubuh Kakek Ilyas yang terbelah di atas tumpukan hadiah.
Di dalam mimpiku, aku menangis. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Tidak sempat mengucapkan terima kasih. Setiap kali aku mulai merasa aman, setiap kali aku mulai menganggap seseorang sebagai keluarga, dunia ini selalu menemukan cara untuk merenggut mereka dariku.
Dadaku terasa sangat sesak. Untuk sesaat, aku hanya ingin berhenti mengingat semuanya.
Lalu, di tengah sesaknya mimpi buruk itu, sebuah aroma busuk yang sangat tajam menusuk hidungku, menarikku paksa kembali ke alam sadar.
Mataku terbuka dengan napas tersengal. Aku menatap kosong ke arah langit-langit papan kayu yang asing di atasku.
Aku masih hidup.
Aku bangkit duduk perlahan. Ini adalah bagian dalam sebuah rumah kayu yang ukurannya cukup luas. Mataku menyapu sekeliling, dan pemandangan di ruangan ini menceritakan banyak hal tanpa perlu sepatah kata pun.
Di sudut dinding, tergantung pakaian anak kecil dari rajutan kasar. Di bawahnya terlipat sebuah selimut mungil dan sebuah boneka kain lusuh yang tergeletak di dekat dinding. Di atas sebuah meja kayu, aku juga melihat mangkuk berukuran kecil yang telah aus karena sering dipakai. Aku terdiam sejenak. Benda-benda itu hanya mungkin dimiliki oleh seorang anak. Aku yakin ini rumah si pria raksasa itu dan dia.... tak tinggal sendirian.
Dan entah kenapa, kesadaran itu terasa jauh lebih mengerikan daripada jika rumah ini benar-benar kosong.
Namun, seisi rumah ini sangat berantakan dan membingungkan. Panci tanah liat pecah berserakan di dekat perapian. Daun-daunan liar dan akar yang hancur tercampur dengan sisa makanan di atas meja. Tidak ada pola apa pun di dalam rumah ini. Barang-barang penting bercampur dengan sampah. Ramuan, makanan, dan perkakas ditumpuk sembarangan. Si penghuni jelas bukan seseorang yang terbiasa berpikir teratur.
Lebih jauh lagi, rumah ini memancarkan aura keputusasaan yang sangat pekat. Ada bekas-bekas usaha menyembuhkan yang gagal; noda tumpahan air yang mengering di lantai, mangkuk-mangkuk ramuan keruh yang ditinggalkan, dan sisa dedaunan obat yang ditebar sembarangan di sekitar sebuah sudut ruangan yang ditutupi tirai kulit beruang. Melihat semua dedaunan, akar, dan barang-barang asing yang berserakan di rumah ini, aku mulai memahami sesuatu. Penghuni rumah ini tampaknya telah mencoba segala cara yang terpikir olehnya, bukan karena dia tabib yang ahli, melainkan justru karena dia benar-benar putus asa dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sambil menahan napas karena bau busuk yang semakin pekat, aku berjalan mendekati sebuah tirai dari kulit binatang itu. Tanganku perlahan menyingkap kulit hewan itu.
"Astaghfirullahaladzim..." gumamku lirih, refleks menutup hidung dan mulutku.
Di balik tirai itu, terbaring sosok anak perempuan yang usianya mungkin sebaya denganku. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kulitnya pucat pasi dengan rona kebiruan. Matanya sangat cekung, seolah seluruh cairan di tubuhnya telah terkuras habis. Napasnya tersengal-sengal, dan kasurnya basah oleh keringat dingin serta kotoran berbau tajam. Wadah-wadah air minum berjejer penuh keputusasaan di dekat bantalnya.
Otakku langsung memproses apa yang kulihat.
Pucat, mata cekung, dan bau kotoran yang menyengat ini... ingatanku melayang pada buku-buku sejarah perang yang pernah kubaca. Di masa lalu, lebih banyak prajurit yang mati di tenda peristirahatan karena buang air terus-menerus akibat meminum air kotor dibandingkan yang mati karena tebasan pedang musuh.
Gejalanya sangat mirip disentri atau infeksi usus berat lainnya. Aku tidak memiliki alat apa pun untuk memastikannya secara pasti. Namun apa pun penyebabnya, satu hal sudah jelas. Anak malang ini sedang meregang nyawa karena kehilangan cairan secara ekstrem.
Aku memang bukan orang yang mengerti medis di kehidupanku sebelumnya. Tapi di kehidupanku sebelumnya, pertolongan pertama untuk kondisi seperti ini adalah pengetahuan yang sangat umum. Aku hanya butuh tiga hal untuk menghentikannya mati kehausan dari dalam.
Aku bergegas membalikkan badan, menatap area dapur. Aku butuh air yang direbus sampai mendidih untuk membunuh kuman... aku butuh madu atau pemanis... dan yang paling penting, aku butuh garam.
Aku terdiam sejenak, berpikir keras melihat ke sekitar. Jika semua barang ini memang berasal dari para pedagang yang melintas di hutan ini, pasti ada persediaan makanan atau karung garam di suatu tempat.
Aku melangkah menyusuri lorong pendek rumah itu, menelusuri ruangan demi ruangan, hingga akhirnya kutemukan sebuah ruang penyimpanan di bagian belakang. Mataku terbelalak melihat isinya.
Ruangan itu penuh sesak. Peti kayu berisi koin emas terbuka begitu saja. Di sampingnya, karung gandum robek dan membusuk karena dibiarkan terkena air hujan. Cawan perak dan batangan baja dibiarkan berserakan di lantai, tertutup debu. Si penghuni rumah ini tampaknya tidak memedulikan emas. Barang-barang berharga dan barang biasa bercampur begitu saja tanpa dibedakan.
mungkin disini ada.., pikirku cepat.
Aku melangkah masuk ke ruangan itu, mengabaikan kilau emas, dan segera berjongkok di antara tumpukan barang jarahan. Tanganku dengan tergesa mulai membongkar tumpukan tersebut.
Srak... srak... klinting...
Suara koin emas dan cawan perak yang saling bergesekan terdengar nyaring di ruangan sunyi itu saat aku menyingkirkannya tanpa ragu.
Ayolah... di mana sih garamnya? batinku mendesak, mengais lebih dalam menembus tumpukan kain kusam dan rempah yang berantakan. Kafilah dagang pasti membawa garam. Harusnya ada di sini.
Namun, baru saja jemariku menyentuh permukaan kasar sebuah karung goni di dasar peti kayu yang retak...
Sebuah bayangan raksasa tiba-tiba menutupi cahaya dari arah pintu belakang.
Hawa dingin menyergap tengkukku.
Aku menoleh perlahan. Di ambang pintu ruangan itu, berdiri sosok sang pria raksasa. Dia tidak lagi membawa kapaknya, namun tubuh masifnya yang menutupi seluruh bingkai pintu jauh lebih mengintimidasi daripada tebing batu mana pun.
Ia menunduk menatapku tanpa berkedip. Sorot matanya berpindah perlahan dari wajahku menuju karung yang sedang kucari, lalu kembali lagi menatapku.
Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭