Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Kelopak mata itu terangkat perlahan, terasa seberat timah. Bulu matanya yang lentik tampak sedikit basah oleh sisa air mata yang mengering, membingkai sepasang manik mata yang kini meredup kehilangan daya. Pemandangan asing di sekelilingnya seketika menghantam kesadaran Sarah, membawa rasa linglung yang menyesakkan dada. Namun, kebingungan itu mendadak menguap saat manik matanya menangkap sesosok pria yang tengah terlelap di sofa seberang ranjang.
Dada Sarah berdenyut ngilu. Gema. Pria itu ada di sana.
Pria yang dahulu merupakan pusat semesta bagi Sarah, lambang kesempurnaan, dan standar tertinggi yang selalu ia gunakan untuk mengukur pria lain. Melihat wajah yang amat familier itu, benteng pertahanan di hati Sarah runtuh. Ada rasa rindu yang merayap liar, bersinggungan dengan rasa sakit yang teramat perih. Gema adalah cinta pertamanya, sekaligus patah hati terhebat yang pernah ia lalui.
Setiap embusan napas Gema yang teratur seolah mengejek takdir Sarah. Saat Sarah memutuskan menerima pinangan Leo, detik itu pula ia sadar telah mengubur hidup-hidup harapannya. Hatinya hancur berkeping-keping mengingat kenyataan pahit bahwa Gema—pria yang sudah ia anggap seperti kakak sekaligus belahan jiwanya—telah memilih wanita lain untuk mendampingi hidupnya. Menatap Gema sekarang terasa seperti memeluk duri; begitu indah untuk diingat, namun teramat berdarah untuk dipertahankan. Sarah hanya bisa terpaku dalam keheningan, meratapi cinta tak berbalas yang kini menjelma menjadi hantu masa lalu di tengah babak baru hidupnya.
Gema melenguh kecil, perlahan membuka mata akibat dorongan intuitif yang kuat. Bayang samar keletihan terlihat jelas dari lingkaran hitam di bawah matanya, menandakan ia telah berjaga semalaman. Maniknya langsung beradu dengan sepasang mata Sarah yang masih basah dan menatapnya penuh luka.
Keheningan mencekam seketika menyelimuti kamar rumah sakit yang berbau antiseptik tajam itu. Di sudut ruangan, bunyi bip... bip... bip... konstan dari monitor jantung mendadak berakselerasi menjadi lebih cepat seiring dengan dada Sarah yang bergemuruh.
Gema tampak tersentak, lalu tergesa bangkit berdiri hingga sofa di belakangnya berdecit. Langkah kakinya yang lebar memotong jarak, membawa aroma tubuhnya yang familier mendekat—aroma yang dulu selalu menjadi candu sekaligus penenang bagi Sarah.
"Sarah? Kamu sudah sadar?" Suara berat Gema terdengar serak, sarat akan kekhawatiran yang mendalam saat ia membungkuk di tepi ranjang.
Sarah membeku, menahan napas demi mencegah air matanya luruh. Wajahnya yang biasa merona kini tampak seputih kertas, kontras dengan gaun rumah sakit yang longgar melingkari tubuhnya yang kian menyusut. Sentuhan hangat tangan Gema yang memeriksa dahinya terasa bagai sengatan listrik yang melempar Sarah kembali pada kenyataan pahit. Bunyi monitor jantung di sampingnya kian melonjak cepat, berkejaran dengan kepanikan batinnya.
"Detak jantungmu meninggi. Ada yang sakit? Sesak?" tanya Gema protektif. Sebagai seorang dokter, instingnya langsung bekerja. Ia mengira lonjakan itu murni karena syok fisik pascatrauma.
Sarah hanya mampu memberikan anggukan kecil yang lemah untuk menenangkan Gema. Sepasang bibirnya yang pecah-pedah dan kehilangan warna terasa kaku dan terkunci rapat. Ia takut jika nekat bersuara, bukan jawaban tenang yang keluar, melainkan isak tangis yang akan membongkar seluruh rahasia hatinya yang paling kelam.
Gema menghela napas panjang, tampak sedikit lega walau gurat kecemasan belum sepenuhnya sirna dari wajahnya. Ia menarik kursi kayu di dekat ranjang, lalu duduk mendekat, memangkas jarak yang membuat dada Sarah kian bergemuruh hebat. Tangannya bergerak lembut, merapikan anak rambut yang menempel di dahi Sarah yang pucat.
"Syukurlah," bisik Gema lembut. "Kamu membuat semua orang panik, Sarah. Jangan seperti ini lagi."
Sentuhan sepihak itu terasa begitu hangat, namun sekaligus menorehkan luka baru yang menganga di batin Sarah. Sarah hanya bisa memalingkan wajah ke arah jendela, menatap langit luar yang mendung, bersembunyi dari sorot mata Gema yang terlalu berbahaya untuk hatinya yang rapuh.
Ia menunduk pelan. Tatapannya jatuh ke perutnya yang masih membuncit besar di balik selimut rumah sakit yang terasa kasar di kulitnya. Jemarinya yang kurus dan tertancap jarum infus bergerak gemetar, menyentuh lengkung itu dengan hati-hati, seolah memastikan sesuatu yang paling berharga masih benar-benar ada di sana.
Napasnya terlepas panjang. Ada kelegaan yang perlahan memenuhi dadanya. Anaknya masih bertahan.
Gema menangkap arah pandang Sarah dan gerakan tangannya yang gemetar. Pria itu diam sejenak, lalu seolah memahami kegelisahan yang bahkan tak sempat diucapkan, Gema ikut meletakkan telapak tangannya di atas perut Sarah, tepat di atas jemari kurus wanita itu. Sentuhannya hangat, ringan, dan penuh kehati-hatian—seakan ia juga sedang menjaga sesuatu yang rapuh.
Sarah menegang. Bukan karena tidak nyaman. Tapi karena sentuhan itu terasa terlalu dekat. Terlalu lembut. Terlalu familiar.
Gema menatap perut itu beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Dia anak yang kuat," ucapnya lirih.
Atensinya lalu beralih pada Sarah. Tatapannya lembut, jauh lebih dalam dari biasanya. "Dan dia beruntung..." suara Gema menurunkan pelan, "...punya ibu yang kuat dan tegar."
Kalimat sederhana itu menghantam pertahanan Sarah. Tenggorokannya tercekat. Bukan karena pujian, tapi karena Gema selalu tahu bagaimana menenangkan hatinya... tanpa pernah sadar bahwa justru dialah alasan hati itu paling sering terluka.
Jemari Sarah ikut menggenggam sisi selimut erat.
"Aku nggak kuat, Kak..." suaranya pecah nyaris seperti bisikan. Setitik air mata akhirnya lolos, membasahi pipinya yang tirus. "Aku cuma takut kehilangan dia."
Gema menghela napas pelan. Tangannya masih berada di atas perut Sarah, lalu dengan refleks ibu jarinya bergerak mengusap lembut punggung tangan Sarah yang bebas dari infus.
"Dengar aku." Nada suaranya tenang, tegas, khas Gema saat sedang menenangkan pasien yang panik. "Selama dia masih bertahan, kamu juga harus bertahan."
Sarah menggigit bibir bawahnya, menahan air mata. Ironis. Di saat Leo—ayah dari bayi itu—bahkan tak ada di sisinya, justru Gema yang kembali menjadi tempat paling menenangkan sekaligus paling menyakitkan untuk hatinya.
Sarah membuang muka, tak sanggup lagi membalas tatapan itu. Kehangatan tangan Gema terasa seperti candu yang salah. Ia sangat merindukan sentuhan ini, namun di saat yang sama, ia membencinya karena tahu sentuhan itu tidak didasari oleh perasaan yang sama.
“Kak Gema nggak tahu apa-apa,” batin Sarah menjerit pilu. Pria itu tidak tahu bahwa ketakutan terbesar Sarah bukan hanya kehilangan bayinya, melainkan kenyataan bahwa ia harus menjalani sisa hidupnya bersama Leo, pria yang mengabaikannya di saat kritis seperti ini.
Melihat Sarah yang kembali menutup diri dan membuang muka, Gema menduga sang "adik" membutuhkan waktu sendiri untuk benar-benar beristirahat. Gema menarik perlahan tangannya dari perut Sarah, memutuskan memberikan ruang.
Ia bangkit dari duduknya, merapikan letak kemejanya yang sedikit kusut akibat berjaga semalaman, lalu melangkah menuju meja sudut untuk mengambil ponselnya.
"Kamu istirahat saja dulu," kata Gema. Nada suaranya kini kembali mendatar dan santai, jenis intonasi kasual yang biasa ia gunakan sehari-hari saat berbicara dengan adiknya. "Saya mau ke depan sebentar untuk cek absen pasien."
Tanpa curiga sedikit pun pada badai emosi yang baru saja menggulung ruang hati Sarah, Gema berjalan tenang menuju pintu kamar rawat. Langkah kakinya terdengar menjauh, disusul suara pintu kayu yang menutup dengan bunyi klik pelan.
Meninggalkan Sarah yang kini benar-benar sendiri, menangis dalam kepasrahan yang kian larut di atas ranjang rumah sakit yang dingin.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...