“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung yang Tak Lagi Diam
Pagi itu sunyi yang mencekam menyelimuti desa. Langit tampak muram, dibalut mendung abu-abu yang menggantung rendah, seolah alam semesta sedang memahami perasaan seseorang yang sedang hancur perlahan-lahan. Di dalam kamarnya, Kinanti duduk terpaku di tepi tempat tidur. Sisa-sisa bengkak di pipinya masih terlihat samar, memberikan rona ungu kebiruan yang menyakitkan untuk dipandang.
Meski ia sudah berusaha menutupinya dengan bedak tipis, Kinanti tetap tak bisa menyembunyikan sorot matanya yang sendu dan kehilangan binar. Semalaman ia tidak tidur. Bukan karena raga yang tidak lelah, tapi karena pikirannya terlalu sesak. Hatinya berkecamuk hebat antara ingin bertahan memperjuangkan harga dirinya, atau menyerah kalah pada takdir yang terasa begitu tidak adil.
Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kejadian di toko bunga itu kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Suara bentakan yang melengking, tatapan penuh amarah yang menghina kasta sosialnya, hingga rasa panas yang menjalar di pipinya saat tangan Lidia mendarat di sana. Kinanti memejamkan mata erat-erat, meremas ujung sprei hingga buku jarinya memutih, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang kembali mendesak ingin keluar.
“Apa salahku sampai harus seperti ini?” gumamnya lirih, suaranya hilang ditelan keheningan.
Waktu terus berlalu, namun Kinanti menjalani harinya bagai raga tanpa jiwa. Sepulang kerja, ia langsung mengurung diri. Tatapannya yang kosong menunjukkan luka batin yang sangat dalam. Ketukan lembut di pintu kayu kamarnya tiba-tiba membuyarkan lamunan pahit itu.
"Kinanti..." suara Pak Wisnu terdengar lembut namun sarat akan kekhawatiran.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok ayah yang wajahnya tampak menua beberapa tahun sejak kejadian kemarin. Hati Pak Wisnu hancur melihat putri tunggalnya yang biasanya ceria kini tampak layu.
"Nak, mulai hari ini... Bapak antar jemput saja, ya? Bapak takut kamu kenapa-kenapa di jalan," ucap Pak Wisnu seraya duduk di sampingnya, lalu menarik Kinanti ke dalam dekapan hangat seorang bapak.
Kinanti tak membalas dengan kata-kata. Ia hanya bisa membenamkan wajahnya di dada bapaknya, menghirup aroma keringat khas yang selalu memberikan rasa aman.
"Sudah, tidak usah takut lagi. Masih ada Bapak yang akan selalu menjagamu. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, hubungi Bapak ya, Nak," bisik Pak Wisnu sambil mengelus rambut Kinanti yang halus.
"Iya, Pak..." lirih Kinanti, suaranya nyaris tak terdengar.
"Ya sudah, sekarang istirahatlah. Biarkan pikiranmu tenang dulu. Bapak ke luar sebentar," ujar Pak Wisnu. Sebelum melangkah keluar, ia menatap putrinya sekali lagi dengan pandangan dalam sebuah janji dalam diam bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti hartanya yang paling berharga ini lagi.
‿︵‿︵ʚ˚̣̣̣͙ɞ・❉・ʚ˚̣̣̣͙ɞ‿︵‿︵
🦉 Tekad Sang Putra Sulung
Malam pun tiba, membawa udara dingin yang menusuk tulang. Di ruang keluarga kediaman Wijaya, suasana tampak tenang namun ada ketegangan yang menggantung di udara. Setelah makan malam bersama yang sunyi, Aditya bangkit dengan gerakan tegas yang penuh wibawa.
"Ayah, Adi pamit pergi dulu. Ada urusan penting," ucap Aditya dengan nada suara yang rendah namun sangat mantap.
Bu Sarasvati mengerutkan kening, tangannya yang sedang merapikan taplak meja berhenti seketika. Sementara itu, Pak Wijaya diam, menatap wajah putra sulungnya yang nampak jauh lebih datar dan dingin dari biasanya. Aura di sekitar Aditya seolah membeku, menunjukkan bahwa ia sedang tidak ingin dibantah.
"Nak—" ucapan Pak Wijaya terpotong sebelum sempat melarang.
"Ada yang harus Adi selesaikan malam ini, Yah. Setelah mendengar percakapan Ayah dengan Pak Wisnu kemarin, Adi sadar bahwa Adi harus mengambil tindakan segera. Adi tidak mau ada yang menghalangi jalan Adi lagi. Adi tidak terima ada orang yang berperilaku buruk kepada keluarga kita, apalagi mengusik orang yang Adi sayangi. Jadi, biarkan Adi selesaikan masalah ini malam ini juga," jelas Aditya tanpa keraguan.
Menatap lekat mata tajam sang putra yang kini berkilat penuh tekad, Pak Wijaya pun akhirnya paham. Ia tahu, darah kepemimpinannya mengalir deras dalam diri Aditya.
"Jangan terlalu berlebihan, Nak. Selesaikan dengan sopan. Ingat, bagaimanapun juga, mereka lebih tua darimu," nasehat Pak Wijaya penuh kebijaksanaan. Ia melangkah mendekat dan menepuk pundak Aditya dengan mantap. "Ayah juga sudah memberikan penjelasan pada mereka sebelumnya, jadi kemungkinan besar mereka akan mengerti maksud kedatanganmu."
Aditya terdiam sejenak, lalu kepalanya mengangguk kecil sebagai tanda hormat.
"Tolak dengan sopan apa yang menurutmu salah. Lakukan apa yang menurutmu benar, tapi jangan sampai melampaui batas. Bijaklah dalam mengambil tindakan. Paham, Nak?" ucap Pak Wijaya dengan suara berwibawa yang menggema di ruangan itu.
"Iya, Ayah. Adi ingat semua pesan Ayah," jawab Aditya patuh.
"Hati-hati ya, Nak. Jangan ngebut-ngebut," timpal Bu Sarasvati penuh perhatian.
"Iya, Bu. Yah, Adi pamit dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Bu Sarasvati menatap kepergian mobil Aditya dengan mata sendu. "Semoga masalahnya cepat selesai ya, Yah. Ibu tidak tenang sejak kejadian itu," ucap Bu Sarasvati lirih.
"Iya, Bu. Bismillah saja," jawab Pak Wijaya menenangkan istrinya.
Abyan, yang sejak tadi menyimak, ikut menimpali, "Aku tidak yakin mereka akan berani lagi pada keluarga kita kalau melihat Bang Adi sudah turun tangan begitu. Pasti bikin mereka ketar-ketir nanti."
‿︵‿︵ʚ˚̣̣̣͙ɞ・❉・ʚ˚̣̣̣͙ɞ‿︵‿︵
🌑 Konfrontasi di Tengah Malam
Bayangan percakapan kemarin terus membayangi benak Aditya, membuatnya semakin bertekad untuk mengakhiri segalanya malam ini. Kecepatan mobilnya stabil, seirama dengan detak jantungnya yang dingin.
Mobil hitam mewah itu akhirnya terparkir gagah di depan sebuah rumah besar milik keluarga Tyo. Aditya turun, menutup pintu mobil dengan dentuman yang mantap. Sepasang mata tajamnya menghunus tepat pada pintu cokelat besar yang tertutup rapat di hadapannya. Ia merapikan jasnya sejenak, menarik napas panjang untuk mendinginkan emosi yang sempat memuncak.
"Semuanya harus selesai malam ini. Cukup sudah mereka mengusik ketenangan hidupku," gumamnya pelan, suaranya terdengar seperti ancaman yang mematikan di tengah kesunyian malam.
Langkah kakinya mantap menapaki teras rumah itu. Setiap langkahnya seolah membawa beban kewibawaan yang berat. Saat tangannya terangkat, ia mendaratkan ketukan yang tegas dan berwibawa.
TOK TOK TOK!
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka perlahan. Pak Tyo berdiri di ambang pintu dengan pakaian santai rumahannya. Namun, seketika wajah pria paruh baya itu memucat, kedua matanya membelalak terkejut melihat sosok tegap yang berdiri di depannya.
“A-Adi?” ucapnya dengan nada nyaris tercekat, seolah tak percaya Aditya akan mendatangi rumahnya selarut ini dengan aura yang begitu mencekam.
Aditya menatap pria itu dengan mata tajam, namun tetap mempertahankan sopan santun yang diajarkan ayahnya. Tak ada lagi keraguan dalam dirinya. Malam ini, semua batas akan ditegaskan. Semua keputusan akan diputuskan secara mutlak.
Bersambung__
____