NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Jam istirahat siang akhirnya tiba setelah pagi yang penuh rapat, revisi desain, dan suara keyboard yang saling bersahutan seperti lomba siapa paling sengsara di dunia kerja. Divisi marketing perlahan mulai sepi. Beberapa pegawai memilih tetap di kantor sambil memesan makanan online, sebagian lain keluar mencari makan di sekitar gedung.

Andika baru saja menyimpan beberapa dokumen ketika suara Pak Radit terdengar dari belakangnya.

“Dika, Den. Makan di luar, ikut.”

Deni yang sedang rebahan malas di kursinya langsung duduk tegak.

“Wah, tumben. Ada angin apa ini, Pak? Biasanya paling mentok dibelikan kopi.”

Pak Radit mendengus kecil sambil mengambil kunci mobilnya.

“Kalau saya terlalu sering traktir, nanti kalian kerja bukan karena tanggung jawab, tapi karena berharap makan gratis.”

“Kalau bisa dua-duanya kenapa tidak, Pak?” jawab Deni santai.

Andika hanya terkekeh pelan sambil mengambil ponselnya. Mereka bertiga kemudian keluar dari kantor menuju sebuah restoran ikan bakar yang cukup terkenal di daerah itu. Tempatnya tidak terlalu mewah, tapi selalu ramai saat jam makan siang. Aroma ikan bakar dan sambal langsung terasa bahkan sebelum mereka masuk.

Begitu duduk, pelayan segera datang membawa buku menu.

Deni melihat daftar harga lalu mengangguk kagum.

“Kalau lihat harga begini saya jadi makin hormat sama bapak.”

“Pesan saja. Jangan pidato,” sahut Pak Radit.

Mereka akhirnya memesan beberapa menu. Ikan bakar, cumi saus tiram, kangkung, dan es teh untuk masing-masing. Suasana restoran cukup ramai, tetapi meja mereka tetap terasa nyaman untuk mengobrol.

Seperti biasa, pembahasan pertama tetap soal pekerjaan.

Pak Radit membuka percakapan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Konsep iklan produk baru sudah lumayan. Tapi saya masih merasa ada yang kurang kuat di sisi emosionalnya.”

Andika mengangguk pelan.

“Karena produknya snack keluarga, mungkin iklannya jangan terlalu fokus ke visual mewah. Lebih bagus pakai pendekatan sederhana tapi dekat sama keseharian.”

Deni langsung menimpali.

“Benar. Orang lebih gampang ingat sesuatu yang terasa dekat sama hidup mereka. Kalau terlalu dibuat mahal malah terasa jauh.”

Pak Radit tersenyum puas mendengar jawaban keduanya.

Itulah alasan kenapa ia sangat mempercayai Andika dan Deni. Bukan hanya karena hasil kerja mereka bagus, tapi karena keduanya mampu memahami arah pemasaran tanpa harus dijelaskan panjang lebar. Mereka sering berbeda pendapat, sering bercanda tidak jelas, tetapi ketika bekerja mereka selalu serius.

Pelayan datang membawa minuman.

Deni langsung meminum es tehnya setengah gelas.

“Hidup memang berat,” gumamnya.

“Baru juga kerja setengah hari,” balas Andika datar.

“Justru itu. Masih setengah hari saja sudah begini.”

Pak Radit menggeleng kecil melihat tingkah bawahannya itu. Namun beberapa detik kemudian matanya justru beralih pada Andika.

“Ngomong-ngomong, saya merasa kamu agak berbeda akhir-akhir ini.”

Andika menaikkan alis.

“Berbeda bagaimana, Pak?”

“Lebih banyak memperhatikan orang.”

Deni langsung tertawa kecil sambil menunjuk Andika.

“Nah, ini saya setuju. Saya juga heran.”

Andika terlihat santai.

“Memangnya aneh?”

“Buat kamu? Sangat aneh,” jawab Deni cepat. “Dulu ada pegawai baru masuk, bahkan kalau bukan perintah Pak Radit mungkin tidak kamu ajak bicara.”

“Itu fitnah.”

“Itu fakta.”

Pak Radit ikut tersenyum tipis.

“Shinta baru dua minggu kerja, tapi kamu sudah beberapa kali bantu dia. Bahkan saya lihat kamu cukup sabar ngajarin.”

Andika bersandar pelan sambil menghela napas pendek.

“Karena dia teman lama.”

“Teman lama?” ulang Deni penuh curiga.

“Teman kuliah.”

Deni mempersempit matanya seolah sedang menginterogasi tersangka kriminal.

“Hanya teman?”

Andika tersenyum kecil.

“Hanya teman lama.”

Jawaban itu justru membuat Deni semakin yakin ada sesuatu.

“Tidak mungkin sesederhana itu.”

Andika tidak langsung menjawab. Untungnya makanan datang sehingga pembicaraan sempat terhenti beberapa saat. Asap ikan bakar memenuhi meja. Aroma sambalnya langsung membuat Deni tampak jauh lebih hidup dibanding lima menit sebelumnya.

“Kalau manusia bisa menikahi ikan bakar mungkin hidup saya sudah bahagia,” katanya serius.

“Kamu sebaiknya fokus makan saja,” ujar Andika.

Mereka mulai makan sambil sesekali tetap membahas pekerjaan. Namun setelah suasana lebih santai, Deni kembali mengangkat topik yang tadi tertunda.

“Jadi sebenarnya gimana hubungan kamu sama Shinta?”

Andika mengunyah pelan sebelum menjawab.

“Tidak gimana-gimana.”

“Jawaban orang bermasalah biasanya memang begitu.”

Pak Radit tertawa kecil mendengar itu.

Andika akhirnya menggeleng sambil tersenyum tipis.

“Kalian terlalu penasaran.”

“Karena kamu berubah,” kata Deni. “Biasanya kamu cuek setengah mati.”

Andika menatap meja beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Mungkin karena saya kenal dia cukup lama.”

“Punya perasaan lagi?” tanya Deni tanpa basa-basi.

Andika menatap sahabatnya itu cukup lama lalu tersenyum samar.

“Rahasia.”

Deni langsung bersandar sambil menunjuk Andika.

“Nah. Jawaban seperti itu sudah jelas mencurigakan.”

Pak Radit ikut memperhatikan Andika beberapa saat. Tatapannya tidak seperti atasan kepada bawahan, melainkan seperti orang tua yang sedang mencoba memahami anaknya sendiri.

“Kamu tahu, Dika,” ucap Pak Radit pelan, “tidak semua masalah harus disimpan sendiri.”

Andika terdiam.

Ia memang cukup dekat dengan Pak Radit sejak lama. Di kantor, pria itu bukan hanya manager marketing, tapi juga sosok pembimbing yang sering membantunya melewati banyak masalah pekerjaan maupun kehidupan pribadi.

Namun urusan Shinta memang berbeda.

Rumit.

Terlalu banyak kenangan di dalamnya.

Andika akhirnya tersenyum kecil.

“Saya tahu, Pak.”

“Kalau memang ada yang mengganggu pikiranmu, cerita saja.”

Andika menunduk sebentar sebelum menjawab,

“Masalahnya bukan sesuatu yang gampang dijelaskan.”

Pak Radit mengangguk paham.

“Saya tidak memaksa. Tapi kamu harus ingat, saya selalu siap mendengar.”

Kalimat itu membuat Andika diam beberapa saat. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Jarang ada atasan yang benar-benar peduli pada pegawainya di luar urusan target dan laporan. Dunia kerja biasanya lebih sibuk memeras tenaga manusia sampai habis lalu pura-pura peduli lewat seminar motivasi. Tradisi manusia memang luar biasa aneh.

Untungnya Deni kembali membuka percakapan dengan nada santai.

“Kalau ngomongin hubungan, saya malah penasaran sama Aqila.”

Andika langsung menatapnya.

“Kenapa dengan Aqila?”

“Semua orang kantor sudah menganggap dia pacarmu.”

Andika justru tertawa kecil.

“Bagus kalau begitu.”

Deni langsung protes.

“Itu tidak bagus buat saya.”

Pak Radit tampak heran.

“Kamu suka Aqila?”

Deni mengangguk serius.

“Lumayan.”

“Lumayan itu maksudnya apa?” tanya Andika.

“Kalau dia ngajak nikah besok mungkin saya siap.”

Andika menghela napas panjang.

“Kamu terlalu dramatis.”

“Tapi serius,” lanjut Deni. “Karena semua orang pikir dia dekat sama kamu, jadi tidak ada yang berani mendekat.”

Pak Radit tampak tertarik.

“Padahal Aqila itu sepupunya Andika, kan?”

“Iya,” jawab Andika santai.

Deni langsung menunjuk Andika.

“Makanya tolong berhenti memakai sepupu sendiri sebagai tameng dari wanita-wanita kantor.”

Andika tersenyum kecil.

“Justru saya merasa hidup lebih tenang sejak rumor itu muncul.”

“Luar biasa egois.”

“Kamu tetap bisa dekat sama Aqila kalau mau.”

Deni langsung berhenti makan.

“Serius?”

“Saya tidak pernah melarang.”

Wajah Deni langsung tampak penuh harapan.

Namun Andika kemudian melanjutkan dengan nada tenang yang sedikit mengancam.

“Tapi kalau sampai main-main sama dia, saya yang pertama menghajarmu.”

Deni langsung mengangkat kedua tangan.

“Saya laki-laki terpercaya.”

“Kamu baru kemarin bohong soal alasan telat masuk kerja.”

“Itu demi bertahan hidup.”

Pak Radit sampai tertawa mendengar perdebatan mereka.

Suasana meja kembali hangat dan santai. Namun beberapa menit kemudian Pak Radit kembali menatap Andika.

“Kalau kamu sendiri bagaimana?”

Andika mengernyit.

“Bagaimana apa?”

“Soal Shinta.”

Andika terdiam cukup lama kali ini.

Deni yang biasanya cerewet pun ikut diam karena sadar ekspresi Andika mulai berubah serius.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Andika bicara pelan.

“Shinta mantan saya.”

Deni langsung membelalak.

“Hah?”

“Kami pacaran tiga tahun sejak kuliah.”

Pak Radit tampak tidak terlalu terkejut. Seolah ia memang sudah menduga hal itu sejak awal.

Deni malah terlihat seperti baru mendapat gosip terbesar tahun ini.

“Pantas saja suasananya aneh tiap kalian dekat.”

Andika hanya tersenyum tipis.

“Sudah setahun kami putus.”

“Karena apa?” tanya Pak Radit lembut.

Andika memandang gelas minumnya sebentar.

“Perbedaan pandangan.”

“Maksudnya?”

“Shinta ingin hubungan yang lebih serius. Sedangkan saya waktu itu cuma fokus kerja dan membangun karir.”

Suasana mendadak lebih tenang.

Andika melanjutkan dengan suara rendah.

“Saya pikir kalau belum mapan, saya tidak pantas bicara soal masa depan.”

“Dan Shinta?” tanya Pak Radit.

“Dia capek menunggu.”

Tidak ada nada marah dalam suara Andika.

Justru terdengar seperti penyesalan yang sudah lama dipendam.

Deni ikut diam. Untuk pertama kalinya sejak tadi ia tidak memotong pembicaraan.

Pak Radit mengangguk pelan.

“Sebenarnya tidak ada yang salah dari pemikiran kalian.”

Andika menatap atasannya itu.

“Kalian hanya tidak menemukan titik tengah.”

Andika sedikit mengernyit.

“Titik tengah?”

Pak Radit tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuhnya.

“Pertunangan.”

Andika langsung terdiam.

“Pertunangan adalah jalan tengah,” lanjut Pak Radit. “Hubungan kalian tetap serius. Ada kepastian. Tapi kalian juga masih bisa mengejar karir masing-masing.”

Deni perlahan ikut mengangguk.

Pak Radit melanjutkan,

“Kadang perempuan tidak meminta semuanya selesai hari itu juga. Mereka hanya ingin diyakinkan kalau perjuangan mereka tidak sia-sia.”

Andika tidak menjawab.

Tatapannya kosong beberapa saat.

Karena jujur saja... selama ini ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu.

Di kepalanya dulu hanya ada dua pilihan.

Menikah sekarang.

Atau fokus kerja sepenuhnya.

Ia tidak pernah berpikir bahwa mungkin ada jalan di tengah antara keduanya.

Pak Radit mengambil minumnya lalu berkata pelan,

“Janji yang jelas kadang lebih menenangkan daripada ribuan kata manis.”

Andika masih diam.

Ingatan tentang Shinta perlahan kembali memenuhi pikirannya. Tentang pertengkaran mereka dulu. Tentang Shinta yang menangis karena merasa hubungan mereka tidak punya arah. Tentang dirinya yang terus berkata, “Tunggu dulu.”

Dan sekarang untuk pertama kalinya ia sadar...

Mungkin dulu bukan karena mereka tidak saling mencintai.

Mungkin mereka hanya sama-sama keras kepala dan gagal menemukan jalan yang tepat.

Deni menatap Andika beberapa saat lalu tersenyum kecil.

“Kalau dipikir-pikir, kalian memang masih seperti orang yang belum selesai.”

Andika menatap sahabatnya itu.

“Kadang saya benci kalau kamu benar.”

“Karena saya memang berbakat.”

Pak Radit terkekeh kecil sambil kembali mengambil makanannya.

Sementara Andika hanya terdiam memandang meja.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai memikirkan satu kemungkinan yang dulu tidak pernah terpikir olehnya sama sekali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!