"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: MENUJU SARANG BURUNG
Bab 28: Menuju Sarang Burung
Hawa dingin menusuk tulang saat iring-iringan tiga mobil SUV hitam tanpa pelat nomor melaju membelah kabut tebal di jalur pegunungan Jawa Barat. Di mobil paling depan, Aruna duduk dengan tatapan kosong namun tajam, mengenakan rompi antipeluru di balik jaket taktisnya. Di sampingnya, Adrian memeriksa magasin senapannya untuk kesekian kali, memastikan semuanya siap untuk konfrontasi paling berisiko tahun ini.
"Mbak Bos, monitor depan aman," suara Bambang terdengar statis melalui earpiece. Dia tidak ikut ke lapangan karena harus mengendalikan sistem dari "War Room" di gudang pelabuhan. "Saya sudah berhasil membajak satelit cuaca buat memantau pergerakan panas di sekitar fasilitas 'Project Nest'. Ada sekitar dua puluh titik merah di perimeter luar. Sepertinya Nirwana nggak main-main soal keamanan."
"Dua puluh orang?" Aruna bertanya, suaranya sedingin es. "Bambang, bisakah kau mematikan sistem sensor mereka selama sepuluh menit?"
"Sepuluh menit mah kelamaan, Mbak! Kasih saya martabak telor lagi, saya kasih lima belas menit!" canda Bambang, meski ada nada tegang dalam suaranya. "Tapi serius, Mbak. Begitu saya matikan firewall-nya, alarm manual pasti bakal bunyi. Kalian harus bergerak secepat kilat."
Aruna menoleh ke bangku belakang, di mana Haris dan dua orang dari pasukan 'Sisa-Sisa' duduk dengan senjata rakitan namun mematikan. Mereka tidak banyak bicara; dendam bertahun-tahun telah mengubah mereka menjadi mesin pembalas yang sunyi.
Mobil berhenti sekitar satu kilometer dari gerbang fasilitas yang tampak seperti pabrik pengolahan limbah tua, namun dikelilingi pagar kawat berduri dialiri listrik. Aruna dan timnya turun, bergerak dalam formasi gerilya menembus hutan pinus yang lembap.
"Maya sudah menyiapkan gas penawar di dalam masker kalian," bisik Adrian. "Nirwana sering menggunakan gas halusinogen untuk melumpuhkan penyusup. Jangan sekali-kali membuka masker sebelum aku bilang aman."
Mereka sampai di dinding belakang fasilitas. Bambang memberikan aba-aba.
"3... 2... 1... Sistem mati! Gas pol, Mbak Bos!"
Sekejap, lampu sorot di menara penjaga padam. Aruna dan timnya bergerak cepat menggunakan tangga taktis untuk melompati pagar. Mereka mendarat dengan senyap di area parkir dalam. Haris dengan cekatan melumpuhkan seorang penjaga di pintu samping dengan alat kejut listrik sebelum pria itu sempat berteriak.
Begitu masuk ke dalam lorong utama, pemandangan berubah drastis. Dindingnya dicat putih steril, dengan bau bahan kimia yang menyengat. Melalui jendela kaca di sepanjang lorong, Aruna melihat pemandangan yang mengerikan: barisan sel yang berisi orang-orang dengan tatapan kosong, kabel-kabel menempel di kepala mereka.
"Ini bukan re-sosialisasi," bisik Haris dengan suara bergetar. "Ini pencucian otak. Nirwana sedang menghapus identitas mereka untuk dijadikan tentara tanpa emosi."
"Cari Bimo," perintah Aruna pendek. "Jangan berhenti sampai kita menemukannya."
Mereka sampai di sebuah pintu baja besar dengan tulisan Sub-Level 4: High Security Re-Integration. Saat Bambang membobol kodenya, pintu itu terbuka pelan, mengeluarkan desis udara dingin. Di tengah ruangan yang luas itu, duduklah seorang pria di sebuah kursi elektrik besar. Wajahnya tertutup masker oksigen, dan tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali Aruna melihatnya di kapal.
Bimo Pratama.
Aruna mendekat, pistolnya teracung lurus ke arah kepala Bimo. "Bangun, Bimo. Aku tahu kau hanya pura-pura tidur."
Pria itu perlahan membuka matanya. Namun, ada yang aneh. Pupil matanya melebar, dan tatapannya tidak lagi memiliki kilatan licik yang dulu Aruna benci. Tatapannya kosong, seperti boneka kayu yang baru saja diukir.
"Ar... u... na?" suara Bimo parau, nyaris tak terdengar.
"Mbak Bos! Gawat!" teriak Bambang di telinga Aruna. "Saya baru saja mendeteksi sinyal keluar dari kursi itu! Itu bukan cuma kursi re-integrasi, itu pemancar!"
Tiba-tiba, suara tawa bergema dari speaker di sudut ruangan. Bukan suara Bimo, tapi suara kakek Aruna, Prabawa Adhigana.
"Selamat, Aruna. Kau berhasil menemukan suamimu yang malang," suara Prabawa terdengar puas. "Kau selalu masuk ke jebakan yang sama. Kau terlalu emosional. Sekarang, sayangi nyawamu, karena Bimo bukan lagi pria yang kau kenal. Dia adalah 'Pemicu'."
BIP. BIP. BIP.
Lampu merah di dada Bimo mulai berkedip cepat. Aruna menyadari dengan horor bahwa di bawah kulit dada Bimo, tertanam sebuah alat peledak berteknologi tinggi.
"Mbak Bos! Lari! Kursinya dipasang bom sensor kedekatan! Kalau Mbak menjauh lebih dari lima meter, itu meledak! Kalau Mbak tetap di sana, itu juga bakal meledak dalam dua menit!" teriak Bambang histeris.
Bimo menatap Aruna, air mata menetes dari sudut matanya yang kosong. "Ma... ma... af..." bisiknya lemah.
Aruna terpaku. Di satu sisi, ia sangat ingin melihat Bimo hancur berkeping-keping. Di sisi lain, jika bom itu meledak sekarang, dia dan timnya juga akan terkubur di bawah reruntuhan fasilitas ini. Dan Prabawa akan menang lagi.
"Adrian! Pasang jammer sinyal di sekitar kursi ini sekarang!" seru Aruna. "Haris, cari kontrol manual di balik dinding!"
"Aruna, waktunya tidak cukup!" Adrian menarik tangan Aruna. "Kita harus keluar!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Prabawa tertawa karena dia berhasil membunuhku dengan cara sekuno ini!" Aruna menepis tangan Adrian. Ia menatap Bimo tepat di matanya. "Kau ingin dimaafkan, Bimo? Kalau begitu jangan mati sekarang. Kau harus hidup untuk memberi kesaksian yang akan menghancurkan kakekku!"
Dengan tangan yang gemetar namun fokus, Aruna mulai mengikuti instruksi Bambang untuk memotong kabel-kabel di belakang kursi Bimo, sementara detak jantungnya berpacu melawan waktu yang terus berkurang di layar digital bom tersebut.
00:15... 00:14... 00:13...
Bersambung.....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
.
Bab 29: Antara Dendam dan Keselamatan.