Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 32
Andre duduk menghadap Nadia dan Sindi. Di tengah-tengah mereka duduk seorang polisi yang menjadi mediator. Suasana ruangan yang semula terasa biasa mendadak berubah tegang.
Tangan Sindi gemetar di atas pahanya. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis. Bahkan ujung jemarinya terasa dingin. Tubuhnya menegang seperti orang yang sedang menunggu vonis hukuman.
Nadia yang duduk di sampingnya mengernyit heran.
“Ada apa dengan kamu?” bisiknya pelan.
Sindi menelan ludah.
“Diam, Nadia. Kamu sedang berurusan dengan orang penting,” gerutu Sindi dalam hati.
Biasanya perempuan itu paling berani bicara. Paling cerewet. Paling tidak bisa diam. Namun sekarang bibirnya terasa kaku.
“Tuan Andre, kenapa Anda ada di sini?” tanya Sindi basa-basi sambil memaksakan senyum.
Andre menatap Sindi sekilas.
“Oh, jadi kamu yang akan melawan saya?”
Sindi buru-buru mengangkat kedua tangannya seperti orang menyerah.
“Tidak berani, Tuan Andre. Saya tidak berani.”
Nadia langsung menatap Sindi dengan heran.
“Sindi, ada apa dengan kamu?” ucap Nadia. “Dia itu cuma anak nakal banyak gaya.”
Sindi menoleh cepat menatap Nadia dengan frustrasi.
“Nadia, sadarlah! Orang yang kamu hadapi bukan sembarang orang. Dengan satu kedipan matanya saja, perusahaanku bisa gulung tikar,” ucap Sindi dalam hati.
Namun semua kalimat itu hanya berputar di kepalanya.
Mulutnya tetap diam.
“Jadi begini, Pak,” ucap Nadia sambil menatap polisi. “Saya memang salah menabrak mobil dia, tapi—”
“Pak Polisi,” potong Andre santai, “saya sudah memaafkan kesalahan dia. Hanya dia saja yang tidak mau tanggung jawab. Dia itu miskin, tidak punya uang. Saya menawarkan dia mengganti biaya perbaikan dengan bekerja di tempat saya, tapi dia enggak mau.”
“Bohong!” Nadia langsung menunjuk Andre. “Saya mau tanggung jawab mengganti semua kerugian, tapi dia minta ganti rugi yang enggak masuk akal!”
“Astaga, Nadia. Apanya yang enggak masuk akal? Kurang baik apa coba aku sama kamu? Kamu sudah menabrak mobil aku yang sedang parkir. Mobilku Rolls-Royce. Aku tahu kamu enggak akan sanggup mengganti rugi. Makanya aku sebagai teman satu angkatan menempuh jalur kekeluargaan. Aku tawarkan kamu bekerja di tempat aku dan mencicil biaya perbaikan.”
Nadia sampai melongo.
Ia menatap Andre tidak percaya.
Sebelum datang ke kantor polisi, laki-laki itu sama sekali tidak menawarkan jalan mencicil atau bekerja di tempatnya.
Dia bahkan menolak jalur kekeluargaan.
Sekarang semuanya dibalik begitu saja.
Benar-benar munafik.
“Ah, seperti itu rupanya,” ucap polisi sambil mengangguk pelan. “Tuan Andre ini pengusaha yang baik dan dermawan, Bu. Tawaran yang beliau berikan sangat bagus. Kenapa Anda masih tidak mau bertanggung jawab?”
“Pak, tadi dia tidak menawarkan hal seperti itu. Dia menuntut saya ganti rugi dengan uang—”
“Nadia,” potong Andre, “aku ini pengusaha sukses. Apa kata orang kalau aku menindas wanita seperti kamu? Lagi pula kita satu almamater. Tapi sebagai teman, aku tidak bisa membiarkan kamu lepas tanggung jawab begitu saja.”
“Oh, tawarannya seperti itu ya, Tuan Andre?” ucap Sindi.
Perempuan itu langsung mengembuskan napas lega.
“Iyalah. Kamu pikir aku mau menjatuhkan citraku dengan menindas seorang wanita? Nadia memang dari dulu suka overthinking dan sedikit lebay.”
“Kamu!”
Gigi Nadia langsung bergemeretak.
“Bu, tawaran yang diberikan Tuan Andre sangat bagus,” ucap polisi bijak. “Sebaiknya diterima saja daripada memperpanjang masalah ke jalur hukum.”
Nadia menatap Andre tajam.
“Orang ini munafik sekali. Kenapa dia ingin menjadikan aku pekerjanya? Jangan-jangan dia mau menjual organ dalamku atau dia mau melakukan sesuatu yang aneh,” pikir Nadia.
“Nadia,” ucap Sindi pelan, “sebagai teman, aku menyarankan kamu menerima saja tawaran Tuan Andre.”
Nadia menatap Sindi dengan wajah tidak percaya.
Selain Andre yang gampang berubah, ternyata Sindi juga berubah.
Tadi perempuan itu datang menggebu-gebu ingin membela dirinya.
Sekarang malah ciut.
Hanya sedikit orang yang bisa membuat nyali Sindi mengecil.
Kesimpulannya satu.
Andre orang penting.
Nadia menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya bergantian menatap Sindi lalu Andre. Ada sesuatu yang aneh sejak tadi. Bukan hanya perubahan sikap Sindi, tetapi juga sikap polisi yang mendadak begitu ramah kepada Andre. Bahkan cara lelaki itu duduk pun terlalu santai untuk seseorang yang sedang berada di kantor polisi. Andre menyilangkan kaki dengan tenang sambil memainkan ponselnya, seolah semua yang terjadi di ruangan itu sama sekali tidak penting baginya. Sementara Nadia justru merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaannya mulai tidak enak. Jangan-jangan dia benar-benar berurusan dengan orang besar. Jangan-jangan selama ini Andre yang dia kenal sudah berubah menjadi orang yang jauh lebih mengerikan. Tetapi sedetik kemudian Nadia menggeleng keras dalam hati. Tidak. Bagaimanapun juga, Andre tetap Andre. Tetap anak nakal menyebalkan yang dulu sering membuat guru naik darah.
Namun yang membuat Nadia semakin heran adalah ekspresi Andre. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat marah. Tidak ada urat menonjol di lehernya atau tatapan tajam penuh emosi. Yang ada justru wajah santai dengan sudut bibir yang sesekali terangkat tipis. Senyum itu malah membuat Nadia semakin curiga.
Perasaan tidak nyaman itu perlahan naik sampai ke tenggorokannya, membuat Nadia merasa seperti sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang belum terlihat yang terasa sangat aneh.
“Lama amat sih, Nad? Loading-nya lemot,” komentar Andre.
“Baik. Saya mau, tapi harus ada perjanjian dan pihak kepolisian menjadi saksinya.”
“Oke. Buat saja.”
Nadia meminta kertas dan bolpoin kepada polisi.
Tak butuh waktu lama, surat perjanjian sudah selesai dibuat.
Pihak pertama: Nadia.
Pihak kedua: Andre.
Kesepakatan.
Satu, pihak pertama bersedia mengganti biaya perbaikan mobil pihak kedua dengan cara bekerja di tempat pihak kedua.
Dua, pihak kedua dilarang melakukan pelecehan dalam bentuk apa pun.
Tiga, pihak kedua dilarang memperjualbelikan organ dalam pihak pertama.
Nadia memberikan kertas itu kepada Andre.
“Kesepakatan macam apa ini?” gerutu Andre.
Polisi mengambil surat itu lalu membaca pelan.
“Bu Nadia, apakah kesepakatan ini tidak terlalu ekstrem? Pak Andre tidak mungkin menjual organ dalam Anda. Beliau pengusaha terhormat.”
“Saya hanya jaga-jaga saja, Pak. Dia itu lelaki munafik. Dia itu anak nakal banyak akal.”
“Baiklah, setuju.” Andre mengangkat bahu. “Lagi pula aku dikelilingi wanita cantik dan seksi.”
Tatapan Andre melirik Nadia sekilas.
“Melihat kamu saja aku enggak selera.”
“Kalau enggak selera, kenapa aku harus bekerja di tempat kamu? Kamu itu licik, Andre!”
Andre buru-buru menandatangani surat itu.
“Nih, aku setuju. Tenang saja. Aku anti perdagangan organ dalam.”
Nadia masih menatap curiga.
“Dari sepuluh miliar turun menjadi bekerja sama kamu itu sangat mencurigakan.”
Andre menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum tipis.
“Kamu pikir aku kekurangan uang? Tanya saja sama teman kamu seberapa banyak uangku.”
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪