NovelToon NovelToon
NAFKAH YANG TERTUKAR

NAFKAH YANG TERTUKAR

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 16 jejak baru dan kebijaksanaan

🌸🌸🌸

Enam bulan setelah perayaan ulang tahun pertama studionya, kehidupan Maya bergerak makin matang dan stabil.

Maya Creative Studio bukan lagi sekadar usaha perorangan kecil, melainkan telah resmi berbadan hukum sebagai PT kecil yang menaungi lima orang pekerja tetap, termasuk Rina yang kini menjabat sebagai koordinator operasional.

Di studio berlantai dua yang kini disewanya secara penuh, suasana kerja terasa dinamis namun hangat. Maya duduk di ruang kerjanya yang luas, menatap layar monitor besar yang menampilkan draf buku panduan strategi merek untuk sebuah perusahaan ritel nasional.

Setiap kalimat yang tertera di sana adalah buah pemikirannya yang makin terasah, tajam, dan memiliki nilai jual tinggi.

Di sudut ruangan, Dafa yang kini berusia lima setengah tahun sedang duduk manis di meja belajar kecilnya, sibuk menggambar dengan spidol warna-warni setelah pulang dari TK.

Senyum dan keceriaan Dafa adalah pemandangan harian yang selalu menjadi pengingat bagi Maya tentang keputusan terbesarnya dua tahun lalu.

"Mbak Maya," Rina mengetuk pintu ruang kerja lalu melangkah masuk membawa map dokumen, "ini laporan keuangan kuartal kedua dari tim akuntansi.

Laba bersih studio kita naik tiga puluh persen dibanding kuartal sebelumnya."

Maya menerima map tersebut dan membacanya perlahan. Angka-angka di dalamnya mencerminkan hasil nyata dari kemandirian dan profesionalisme yang ia bangun dari nol.

Uang yang mengalir ke tangannya kini bukan lagi sekadar cukup untuk bertahan hidup, melainkan sudah mampu diinvestasikan dalam bentuk tanah kecil di pinggiran kota untuk persiapan membangun rumah impiannya dan Dafa kelak.

"Terima kasih banyak, Rina. Kinerja tim bulan ini luar biasa," ujar Maya tulus. "Jangan lupa jadwalkan bonus pertengahan tahun untuk anak-anak minggu depan."

"Siap, Mbak Maya!" jawab Rina gembira sebelum kembali ke mejanya.

Sementara itu, di sebuah kedai kopi sederhana dekat kawasan perkantoran tempat Aris bekerja, suasana terasa jauh lebih muram.

Aris duduk seorang diri di meja sudut, menatap cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin. Penampilannya tampak jauh lebih tua dari usianya yang baru berkepala tiga.

Kemeja kerjanya mulai longgar karena berat badannya yang menyusut, dan rambut di pelipisnya mulai dihiasi uban halus.

Gajinya di kantor kini benar-benar stagnan pasca-efisiensi perusahaan. Setelah dipotong otomatis oleh bank sebesar Rp3,5 juta setiap tanggal 1 untuk nafkah Dafa, sisa gaji yang dipegangnya hanya cukup untuk membayar cicilan rumah KPR perumahan satu lantainya dan kebutuhan pokok yang amat pas-pasan.

Ponselnya bergetar di atas meja. Layarnya menyala menunjukkan nama Siska.

Aris membiarkan deringan itu berlanjut hingga mati sendiri.

Ia tidak lagi memiliki energi emosional untuk mendengarkan keluhan adik ipar atau ibunya di kampung. Setelah motor Siska ditarik leasing dan Aris secara tegas membatasi kiriman uang hanya sebesar lima ratus ribu rupiah per bulan untuk ibunya, hubungan mereka meregang dingin.

Keluarga besar yang dulu selalu disanjung Aris kini menyadari bahwa 'keran uang' dari Aris sudah tertutup rapat, dan mereka mulai hidup dari gaji kecil Siska yang bekerja sebagai staf administrasi di pabrik lokal.

Aris mendesah pelan, memegang dadanya yang terasa hampa. Dalam keheningan itu, ia menyadari sebuah kebenaran pahit: ketika ia kehilangan uang dan status, keluarga besar yang dulu diprioritaskannya tidak lagi menganggapnya sebagai pahlawan. Sebaliknya, wanita yang dulu selalu ia sia-siakan—Maya—jualah yang pernah dengan tulus mendampinginya tanpa memandang harta.

Ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Aris menggeser tombol hijau dengan ragu.

"Halo, selamat siang. Apakah benar ini dengan Pak Aris?" suara seorang wanita terdengar dari seberang.

"Iya, betul. Ini Aris sendiri. Dari mana ya?"

"Saya guru wali kelas Dafa di TK Permata Hati, Pak. Kami ingin mengonfirmasi terkait undangan acara pentas seni dan perpisahan sekolah Dafa hari Jumat besok. Ibu Maya menyampaikan bahwa Bapak diperbolehkan hadir jika tidak ada kendala pekerjaan."

Jantung Aris bergetar hebat. Rasa hangat bercampur haru mendadak memenuhi dadanya yang dingin. "D-Dafa... Dafa tampil di acara itu, Bu?"

"Betul, Pak. Dafa akan tampil membaca puisi dan menyanyi bersama teman-temannya. Ibu Maya sudah mendaftarkan nama Bapak di kursi tamu terdepan."

"Baik... baik, Bu! Saya pasti hadir! Terima kasih banyak, Bu!" jawab Aris dengan suara yang gemetar dan mata bertepuk menahan tangis.

Setelah sambungan terputus, Aris menyandarkan punggungnya ke kursi kedai kopi. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Penyesalan itu memang tidak pernah hilang, namun di tengah rasa bersalah yang teramat dalam, Aris menyadari satu hal: meskipun Maya telah menutup rapat pintu untuk hubungan asmara mereka, Maya tidak pernah bersikap picik atau mendendam.

Maya tetap menjadi seorang ibu yang bijaksana, yang tidak pernah menghapus jejak seorang ayah dari kehidupan anaknya.

Hari Jumat pagi, aula TK Permata Hati riuh oleh suara anak-anak dan orang tua murid. Balon-balon berwarna pastel dan panggung kayu kecil terhias indah di depan ruangan.

Aris duduk di kursi tamu baris depan dengan canggung. Ia mengenakan kemeja terbaiknya yang paling rapi, memegang buket bunga kecil di pangkuannya.

Beberapa meter di sebelah kirinya, Maya duduk dengan anggun mengenakan setelan blazer biru muda, berbincang hangat dengan beberapa wali murid lainnya.

Maya sempat menoleh ke arah Aris, memberikan anggukan kepala yang sopan dan tenang—sebuah isyarat kedewasaan yang tak lagi menyisakan rasa benci.

Saat pembawa acara memanggil nama Dafa ke atas panggung, suasana aula mendadak hening sejenak. Dafa melangkah percaya diri dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu kecil. Anak laki-laki itu memegang mikrofon dengan kedua tangan mungilnya.

Maya tersenyum bangga, merekam momen itu dengan ponselnya. Sementara Aris menggenggam buket bunga di pangkuannya makin erat, matanya tak lepas menatap sang putra yang kini tumbuh begitu cerdas dan berani.

Di atas panggung kecil itu, Dafa tersenyum lebar ke arah penonton. Matanya menatap Maya yang melambaikan tangan, lalu sempat melirik singkat ke arah Aris yang menatapnya penuh haru. Dafa menarik napas panjang, lalu membacakan puisinya dengan suara jernih:

"Aku punya rumah yang hangat... tempat Bunda menjagaku setiap hari. Terima kasih Bunda, sudah membuatku tersenyum setiap pagi..."

Tepuk tangan meriah membahana di seluruh aula saat Dafa menyelesaikan tugasnya dan membungkuk sopan.

Air mata Aris akhirnya menetes pelan menelusuri pipinya. Bukan lagi air mata amarah atau ratapan atas nasib finansialnya, melainkan air mata keharuan dan rasa hormat yang teramat tinggi kepada Maya.

Di dalam hatinya, Aris sepenuhnya mengakui bahwa tanpa dirinya sebagai suami, Maya telah berhasil menjadi pilar luar biasa yang membesarkan Dafa dengan penuh kasih sayang dan kehormatan.

Acara usai sore hari. Di halaman sekolah yang mulai sepi, Aris berjalan mendekati Maya dan Dafa yang berdiri di dekat mobil kompak milik Maya.

Dafa menerima buket bunga dari Aris dengan senyum polos. "Terima kasih, Ayah!"

Aris berlutut, mengusap kepala Dafa dengan jemarinya yang gemetar. "Sama-sama, Sayang. Puisi Dafa bagus sekali tadi. Ayah bangga sama Dafa."

Aris lalu berdiri, berhadapan dengan Maya. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur penyesalan dan pengakuan atas seluruh kesalahannya di masa lalu.

"May... terima kasih sudah mengizinkan Mas hadir hari ini," kata Aris dengan suara parau. "Dan... terima kasih sudah mendidik Dafa jadi anak yang sesempurna ini."

Maya menatap Aris dengan pandangan mata yang jernih dan damai. Di dalam dadanya, tak ada lagi luka yang berdarah, tak ada lagi amarah yang membakar. Semuanya telah tergantikan oleh kedamaian jiwa yang ia ciptakan sendiri dari kerja keras dan kemandiriannya.

"Dafa adalah tanggung jawabku, Mas," balas Maya tenang namun hangat. "Aku cuma ingin Dafa tumbuh tanpa merasa kehilangan kasih sayang, tapi juga tumbuh melihat ibunya berdiri tegak sebagai wanita yang bermartabat."

Aris mengangguk pelan, menyerap setiap kata itu ke dalam sanubarinya. "Mas tahu... kamu wanita yang luar biasa, May. Mas berdoa semoga studiomu makin sukses."

"Terima kasih, Mas Aris. Hati-hati di jalan," sahut Maya ramah.

Maya membukakan pintu mobil untuk Dafa, lalu berjalan mengitari mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Mobil kompak itu perlahan melaju meninggalkan halaman sekolah, membelah jalanan kota yang disiram cahaya sore yang hangat.

Dari balik kaca spion, Maya melihat Aris berdiri di tepi jalan, memandangi mobil mereka yang makin menjauh hingga akhirnya menghilang di tikungan.

Maya memegang lingkar kemudi dengan jemari yang mantap.

Ia tersenyum menatap jalanan lurus di hadapannya. Kisah masa lalunya tentang ketidakadilan nafkah yang tertukar telah resmi ditutup—bukan dengan dendam, melainkan dengan kemenangan, kedewasaan, dan kedaulatan hidup yang seutuhnya.

🌸🌸🌸

Author mau tanya...kalo para besti author jadi Maya apa yg akan besti lakukan?

Apakah ada kepikiran untuk balikan dengan mantan🫢??

Jawabbb ya bestiii🫰🫰

1
Thewie
keren thor. kanjut karya baru ya
Thewie
gak akan kembali ke mantan ya Thor. mantan itu di buang ke t4 yg seharusnya wkwkkw
Thewie: haha iya banget Thor. patah tumbuh hilang berganti🤣🤣.. cari yg baru
total 2 replies
Thewie
semangat maya
Thewie
keren thor💪
Thewie
keren Maya.. lelaki sperti itu hempaskan ... mati kau arisss.. matiii lah kau
AwandaMw: ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍
JasmineA
menjahit? bukan nya dia jadi head content writer ya thor? Raka yg ngasih kerja ke dia?
AwandaMw: tq kaaaa....aku baru konek😭😭
total 1 replies
JasmineA
Bintang siapa? anak nya Dafa bukan?
JasmineA
Rika apa siska?
Marifatul Marifatul
lnjttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!