NovelToon NovelToon
Lihat Aku Sekali Saja

Lihat Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: LaruArun

Bertahun-tahun telah berlalu, namun Esther masih saja tidak bisa melupakan sosok Lian, meskipun ia sudah berkali-kali mencoba dengan menjalin hubungan dengan pria lain.

Semua hubungan itu berjalan baik. Bahkan terlalu baik.

Pria-pria green flag yang diinginkan banyak wanita… semuanya pernah singgah dalam hidup Esther.

Tapi tetap saja, tidak ada yang cukup.
Hingga suatu malam di sebuah bar, sebuah kejadian membuatnya terjebak dalam perasaan dilema yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Moan my name."

"Kak... ahhh—"

Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaruArun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 RENCANA TAK TERDUGA

Setelah Arash menceritakan apa yang terjadi pada Esther kepada kedua orang tuanya, malam itu juga Agam dan Margaret langsung datang ke rumah sakit dan membawa Esther pulang ke rumah mereka.

Selama di perjalanan, Esther yang duduk di kursi belakang bersama Margaret hanya diam membisu. Sementara jantungnya berdetak tak karuan, memikirkan berbagai macam reaksi kedua orang tuanya setelah mengetahui apa yang sudah ia lakukan. Marah, kecewa, itu sudah pasti. Terlebih mamanya yang begitu sensitif semenjak kejadian kakaknya sepuluh tahun lalu.

"Esther," panggil Margaret lirih lalu menyentuh tangan putrinya itu. "Maafkan mama, sayang. Mama terlalu sibuk mengurus nenek dan lupa memperhatikanmu sampai kau salah makan dan masuk rumah sakit."

Esther terdiam.

Salah makan?

Apa mamanya tidak tahu bahwa Esther hamil dan jatuh di kamar mandi itu sebabnya ia masuk rumah sakit? Bukannya kakaknya Arash sudah memberitahu semuanya pada mereka? Atau jangan-jangan kakaknya itu tidak memberitahu semuanya?

"Papa juga minta maaf karena jarang mengunjungimu." sahut Agam dari balik kemudi. Ia menatap putri bungsunya itu dari kaca tengah.

Esther tidak menjawab. Ia masih bingung dengan reaksi orang tuanya yang jauh dari yang ia bayangkan sejak tadi. Dimana kemarahan dan kekecewaan itu? Tidak mungkin kan mereka bersikap biasa saja jika mengetahui apa yang terjadi pada Esther.

"Esther?"

"Hm—ya?" jawabannya refleks.

"Mulai sekarang kau tidak perlu tinggal sendiri untuk jadi mandiri. Tinggal lah di rumah dan biarkan bibi-bibi yang melakukan semuanya untukmu, ya?" pinta Margaret.

Bagaimana mungkin? Batin Esther.

Esther tersenyum canggung. Ia menyentuh tangan Margaret yang sejak tadi menggenggam tangannya. "Tidak Ma, Esther sudah putuskan akan belajar mandiri dan tinggal sendiri. Lagipula—"

"Esther, mandiri tidak berarti kau harus tinggal sendiri," potong papanya halus. "Kalau kau mau mandiri dan melakukan pekerjaan rumah sendiri, kau bisa melakukannya dan meminta para bibi mengajarimu."

"Mama setuju dengan papa." Seru Margaret, merasa keinginan di dukung oleh sang suami. "Mulai hari ini kau tidak perlu kembali ke apartemenmu itu, mama khawatir kau salah makan dan masuk rumah sakit lagi."

Esther tidak bisa membantah keinginan mereka. Karena jika ia terus keras kepala ingin tetap tinggal sendiri mungkin mereka bisa saja curiga. Bahkan sampai memata-matai nya. Dan untuk saat ini, selama perutnya belum terlihat perubahannya ia akan tinggal di rumahnya dan baru memikirkan apa yang akan ia lakukan nanti.

...*****...

Esther menutup pintu di belakangnya dengan malas. Tas yang ia bawa dari kampus ia gusur di belakangnya hingga bergesekan dengan lantai sebelum akhirnya ia lemparkan ke atas kasur bersama tubuhnya. Hari ini tubuhnya benar-benar lelah, kakinya lemas hingga ia terpaksa harus menjelaskan materi sambil duduk.

Sudah satu minggu ia tinggal di rumahnya dan mencoba mengerjakan pekerjaan rumah di saat ia tidak merasa mual ataupun pusing. Selama itu juga ia belajar mencuci piring. Namun baru saja mencuci beberapa piring, Esther sudah kelelahan hingga ia beberapa kali memecahkannya dan berakhir para bibi yang menyelesaikan pekerjaannya.

Esther berguling dan meraih tasnya. Ia mengambil ponsel dan memeriksa apakah ada pesan dari Lian mengenai dirinya kedepannya. Namun tidak ada satupun pesan dari pria itu. Seolah-olah Lian begitu senang setelah lepas dari tanggung jawabnya menjaga Esther.

Esther menghela napasnya berat. Bibirnya mengerucut karena kesal, hatinya terasa hampa karena selama seminggu ia tidak melihat Lian. Entah kenapa tiba-tiba Esther ingin sekali bertemu pria itu, menghirup aroma parfumenya yang maskulin tapi tidak begitu nyengat. Mendengar suaranya yang pelan meskipun terkadang terdengar menyakitkan. Mungkin ini yang di namakan ngidam. Dan ngidam pertamanya adalah ingin melihat ayah dari bayi dalam kandungannya. Tanpa sadar tangannya terangkat menyentuh perutnya yang masih rata. Mengelusnya pelan hingga tanpa sadar akhirnya ia terlelap.

...*****...

"Esther, bangun sayang!" Margaret menepuk pelan pipi putri kecilnya itu. Namun Esther tidak terganggu sedikitpun. Ia tetap bertahan dalam mimpinya seolah-olah telinganya sudah tertutup akses dengan dunia nyata.

"Esther..." panggil Margaret untuk yang kesekian kalinya.

Esther bergumam pelan, namun ia masih menolak membuka matanya dan memilih merubah posisinya menyamping lalu memeluk guling.

Margaret menggeleng pelan melihat tingkah putrinya itu. Ia mendekati telinganya dan berkata, "Di luar ada tamu yang ingin bertemu denganmu." bisiknya.

Esther menoleh tanpa membuka matanya, hanya keningnya yang berkerut bingung. "Siapa?" gumamnya.

"Turun dan lihatlah ke bawah," ucap Margaret lalu berjalan menjauh dari kasur. "Mama tunggu di bawah," katanya sebelum menutup pintu.

Esther menghela napas berat lalu menarik tubuhnya bangkit dengan malas. "Siapa yang datang tanpa izinku?" gerutunya.

Tanpa membasuh muka ataupun mengganti pakaiannya, dengan enggan Esther melangkah keluar dan menuruni satu persatu anak tangga hingga akhirnya ia tiba di bawah.

"Huaaa..." Esther merentangkan tangannya sambil menguap. Kedua matanya belum sepenuhnya terbuka.

"Esther!"

Panggilan itu membuat Esther membuka salah satu matanya dan menoleh. Detik itu juga, kedua matanya melebar, tangannya yang terentang ke udara seketika turun begitu ia melihat siapa duduk di ruang tamu.

"Astaga."

Esther membalik tubuhnya dan berlari menaiki tangga secepat mungkin menuju kamarnya. Napasnya memburu begitu ia menutup pintu dengan keras dan bersandar di depan pintu. Detak jantungnya berdegup kencang, memekakkan telinganya sendiri.

Esther menggeleng cepat. "Ini pasti mimpi," katanya seraya mencubit kulit tangannya sendiri dan hasilnya sakit. Itu artinya ia tidak sedang mimpi saat melihat seseorang duduk di ruang tamu berbicara dengan ayahnya.

"Kenapa kak Lian ada disini? Dan siapa dua orang itu?"

"Esther, kenapa kau kembali ke kamar?" suara mamanya kembali terdengar di sela-sela ketukan pintu. "Ayo keluar dan temui mereka.

"I-iya Ma, nanti Esther keluar setelah mandi." teriaknya.

"Baiklah, bersihkan dirimu dan cepatlah turun."

"Iya."

Esther berjalan menuju kamar mandi dengan panik. Buru-buru ia mengambil odol dan sikat gigi, menggosok giginya hingga bersih dan mengkilat. Tak lupa juga ia membasuh mukanya yang berantakan dengan makeup sisa tadi siang. Pakaian yang ia gunakan ke kampus tadi segara ia lempar begitu saja hingga berhamburan di lantai kamar mandi.

Sepuluh menit berlalu.

Esther sudah selesai membersihkan dirinya. Wajahnya kembali fresh dan segar, tubuhnya sudah wangi dari debu dan keringat tadi siang.

"Mana yang harus aku kenakan?" Esther menarik satu persatu baju dari lemari. Menempelkannya ke depan tubuhnya lalu melemparnya ke atas kasur saat ia merasa pakaian itu tidak cocok dengannya. Cukup lama ia memilih pakaian hingga kini isi lemari itu menumpuk di atas kasur.

"Ah, yang ini saja."

Esther meraih pakaian santai lalu mengenakan dnegan cepat. Rambutnya ia sanggul asal supaya terlihat rapi karena ia tidak sempat membasuh rambutnya. Ia menoleh ke arah kasur dan terdiam beberapa detik sebelum ia buru-buru kembali turun ke bawah setelah seseorang memanggilnya.

Esther tersenyum ramah saat ia kembali ke ruang tamu dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Senyum yang sebenarnya ia tujukan untuk Lian, namun yang menyambutnya justru dua orang paruh baya yang asik berbincang dengan ayahnya. Karena Lian sibuk menatap kakaknya yang ada duduk di sebelah ayahnya.

"Duduk disini, sayang." Margaret menepuk sofa di sampingnya.

Baru saja Esther mendaratkan tubuhnya, pria berkacamata yang tidak ia kenali berbicara dengan nada yang serius. "Karena Esther sudah ada di sini, seperti yang sudah kita bicarakan sejak tadi tuan Alder, kedatangan saya dan keluarganya itu untuk melamar Esther."

"Apa?!" Esther terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Kedua matanya menatap bergantian ayahnya dan pria tua yang tadi bicara sebelum akhirnya ia menoleh pada Lian yang duduk di seberangnya.

Pria itu hanya menatap Esther sekilas sebelum akhirnya ia kembali menatap Arash.

"Saya tidak bisa memutuskan itu, tuan Russell," jawan Agam tenang. "Semua keputusan ada di tangan Esther."

Semua orang kini menoleh pada Esther, menunggu jawaban dari wanita itu. Sebelum menentukan tanggal pernikahan mereka.

Esther menggeleng cepat. Ia hendak menolak lamaran itu. Namun matanya tak sengaja menatap ke arah Arash yang menatapnya dengan tatapan tajam penuh tuntutan. Kepalanya bergerak pelan, memberi isyarat bahwa itu jawaban yang harus keluar dari mulutnya.

Esther beralih menatap Lian yang juga melakukan hal yang sama dengan kakaknya. Memberi isyarat bahwa Esther harus setuju dan mau.

Esther akhirnya mengangguk, "Esther mau."

...*****...

"Kak tunggu!"

Esther meraih tangan Lian hingga pria itu berhenti dan berbalik. Tubuh Lian yang memiliki tinggi 180 cm itu begitu kontras dengan Esther yang hanya memiliki tinggi 167 cm membuat Esther harus mendongak saat bicara dengannya.

"Apa maksudmu, kak? Kenapa kau tiba-tiba melamarku?" tanya Esther penasaran karena ia yakin semua kejadian malam ini pasti ada sangkut pautnya dengan kakaknya Arash.

"Kau sudah tahu jawabannya Esther," ucap Lian tenang.

"Lalu kenapa? Orang tuaku tidak tahu—"

"Tapi orang tua ku tahu." potong Lian cepat. "Arash mungkin tidak memberitahu orang tuamu karena ia khawatir dengan kondisimu nantinya, tapi dia memberitahu keluargaku. Dan aku terpaksa harus bertanggung jawab dengan menikahimu."

Deg.

Mendengar kata itu keluar dari mulutnya Lian tanpa rasa bersalah membuat hati Esther begitu sakit seolah ada jarum yang menusuk hatinya. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Kalau kau terpaksa sebaiknya tidak usah kau melakukan. Aku juga tidak mau menikah denganmu!"

"Sudah terlambat." Lian menatap Esther tajam. "Tanggal sudah di tentukan, aku dan Elena juga gagal menikah. Jadi tugas kita sekarang menjalani semuanya seperti kesepakatan yang sudah kita buat waktu itu."

Kening Esther berkerut. "kesepakatan? Kesepakatan apa?"

"Aku akan menjadi suamimu sampai anak ini lahir. Dan setelah itu kita akan bercerai dan aku akan mengurus anak ini sebagai anak adopsi tanpa tahu bahwa dia anakmu ataupun anakku."

Esther terdiam. Matanya mulai memanas karena rasa sakit di hatinya akibat ucapan Lian. Namun sebisa mungkin Esther tahan air matanya supaya tidak jatuh di hadapan pria itu. Ia mendongak, menatap Lian seolah menantang pria itu.

"Baik, aku setuju."

Esther langsung pergi usai mengatakan itu. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Air matanya jatuh setelah pintu kamar ia tutup rapat.

.

.

.

.

.

.

.

Terimakasih udah mengikuti kisah Esther sampai sini, minta tolong support dari kalian yang baik hati ini dengan like vote dan ramaikan komentar. Kalo perlu spam aja biar rame dan makin banyak orang yang datang buat baca cerita ini juga. 🖤

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!