Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Retaknya Giok Surgawi
Dataran di depan gerbang Akademi Jiannan seketika berubah menjadi lautan pamer kekuatan dan jeritan keputusasaan. Ujian tahap pertama, Pilar Qi, adalah saringan paling kejam yang memisahkan naga dari cacing.
Lebih dari sepuluh ribu peserta mengantre di depan ratusan pilar giok putih. Aturannya sederhana: alirkan Qi atau serang pilar tersebut. Pilar memiliki sepuluh garis batas ukur. Jika cahaya yang memancar tidak mencapai garis ketiga, peserta akan ditendang keluar, kembali menjadi santapan monster di alam liar.
"Tidak! Beri aku satu kesempatan lagi! Dantianku hanya sedang tidak stabil!" jerit seorang pemuda berpakaian compang-camping saat cahayanya berhenti di garis kedua. Dua pengawas dari Paviliun Penegak Hukum tanpa ekspresi langsung menendangnya hingga muntah darah, melemparkannya keluar dari barisan.
Pemandangan ini terjadi di mana-mana. Tangisan dan lolongan memenuhi udara. Di Era Keruntuhan Surga, kelemahan adalah dosa asal yang tidak bisa diampuni.
Namun, di tengah ratapan itu, sorak-sorai kekaguman tiba-tiba pecah di barisan tengah.
Seorang pemuda tampan berjubah sutra biru melangkah maju. Tangannya memegang sebuah kipas giok, dan wajahnya memancarkan kesombongan mutlak. Ia adalah Tuan Muda Jin dari Klan Jin, salah satu klan kultivator yang masih bertahan di utara.
"Lihat! Itu Tuan Muda Jin! Kudengar dia sudah mencapai Pengumpulan Qi Tahap 4 di usia lima belas tahun!" bisik para pengembara fana dengan mata penuh rasa iri dan rendah diri.
Tuan Muda Jin tersenyum meremehkan. Ia melipat kipasnya, memusatkan Qi elemen air yang murni dan elegan di telapak tangannya, lalu menepuk pilar giok itu dengan gerakan yang sangat indah, seolah sedang melukis.
WUSSS!
Cahaya biru terang melonjak naik dengan cepat. Garis ketiga... kelima... dan akhirnya berhenti mantap di Garis Ketujuh!
"Bakat tingkat tinggi! Pengumpulan Qi Tahap 4, elemen air murni. Lulus dengan predikat memuaskan! Kau bisa langsung mendaftar untuk seleksi Murid Dalam nanti," seru pengawas pilar dengan nada hormat yang jarang terdengar.
Tuan Muda Jin tertawa angkuh. Matanya menyapu antrean di belakangnya, yang kebetulan adalah kelompok Zeng Niu, Bao Tuo, dan Lin Xiaoyu. Melihat pakaian mereka yang lebih mirip pengemis berdarah, Tuan Muda Jin menutup hidungnya dengan kipas.
"Menyedihkan. Akademi ini sungguh terlalu longgar membiarkan lalat-lalat pemakan bangkai ikut mengantre," sindir Tuan Muda Jin dengan suara keras, sengaja memancing tawa dari pengikutnya. "Cepatlah maju, agar aku bisa melihat pilar itu bahkan tidak berkedip."
Lin Xiaoyu mengertakkan giginya. Jika ini di jalanan Kota Debu, ia sudah menaruh serbuk gatal di celana sutra pemuda angkuh itu. Namun ini adalah ujian akademi. Ia menarik napas panjang dan melangkah maju lebih dulu.
Gadis penipu itu menempelkan kedua tangannya ke pilar. Ia hanya berada di Pengumpulan Qi Tahap 1 puncak, energi aslinya sangat menyedihkan. Namun, matanya yang polos menyipit licik. Saat Qi tipisnya mengalir dan cahaya berhenti di garis kedua, Xiaoyu merapalkan ilusi visual tingkat rendah di sekitar mata pengawas.
Bagi pengawas yang sedang kelelahan, cahaya itu seolah melompat sesaat ke garis ketiga sebelum meredup.
"Hmph. Bakat rendah. Garis ketiga pas. Lulus," gerutu pengawas itu tanpa curiga.
Xiaoyu menghela napas lega yang luar biasa panjang dan segera berlari ke sisi peserta yang lulus, menghindari tatapan sinis Tuan Muda Jin.
Kini giliran Bao Tuo. Si gendut itu berjalan dengan kaki bergetar hebat. Tatapan ribuan orang, ditambah tatapan merendahkan dari Tuan Muda Jin, membuat nyalinya ciut. Ia memeluk pilar giok itu seperti memeluk pohon saat dikejar monster babi, lalu memejamkan mata dan berteriak memeras seluruh Qi elemen tanahnya.
BZZZT!
Cahaya kuning redup merambat naik perlahan... melewati garis ketiga, dan nyaris menyentuh garis keempat sebelum berhenti.
"Pengumpulan Qi Tahap 2 awal. Fondasi tebal tapi tidak efisien. Lulus," kata pengawas itu sambil mencoret namanya di perkamen. Bao Tuo langsung lemas dan merangkak ke arah Xiaoyu, mengabaikan tawa ejekan dari kerumunan karena postur memalukannya.
Tuan Muda Jin mendengus keras. Matanya kini beralih pada Zeng Niu yang baru saja melangkah maju. Tidak ada fluktuasi Qi sama sekali. Pakaian pemuda ini penuh kerak darah hitam, dan tatapannya mati seperti ikan busuk.
"Hei, pengemis," ejek Tuan Muda Jin, melangkah menghalangi Zeng Niu sejenak. "Pilar itu adalah giok spiritual. Tangan fana-mu yang kotor hanya akan menodainya. Berlututlah, putar balik, dan aku akan memberimu sekeping perak untuk membeli bubur."
Zeng Niu tidak menghentikan langkahnya. Ia berjalan lurus, bahunya menabrak bahu Tuan Muda Jin dengan paksa.
Benturan itu tampak pelan, namun Tuan Muda Jin merasa seolah ia baru saja diseruduk oleh badak mutan. Bahunya mati rasa, tubuhnya terhuyung ke belakang hingga nyaris jatuh ke tanah berlumpur jika tidak ditangkap oleh pengikutnya.
"KAU—! Beraninya fana kotor menyentuhku!" wajah Tuan Muda Jin memerah karena malu dan marah, bersiap menghunus pedangnya.
"Diam di tempat! Ini area ujian!" bentak pengawas ujian, memelototi Tuan Muda Jin. Pengawas itu lalu beralih menatap Zeng Niu dengan dingin. "Cepat letakkan tanganmu di pilar. Jangan buang waktuku, semut."
Zeng Niu berdiri di depan pilar giok setinggi sepuluh tombak itu. Permukaannya halus, memancarkan energi sakral yang dirancang khusus untuk merespons Hukum Langit dan Bumi. Itu adalah benda yang murni mewakili peradaban kultivasi ortodoks.
Bagi Zeng Niu, benda ini adalah simbol dari Surga yang telah meninggalkannya di dasar sumur berdarah.
Ia tidak menempelkan tangannya dengan lembut. Ia tidak mencoba mencari koneksi spiritual. Ia menarik lengan kanannya ke belakang.
"Apa yang dia lakukan? Memukulnya?" ejek Tuan Muda Jin dari belakang, tertawa terbahak-bahak. "Pilar giok itu menahan serangan dari master Foundation Establishment tanpa tergores! Jika manusia fana memukulnya, tulang lengannya akan hancur menjadi bubur!"
Bao Tuo menutup matanya, tak sanggup melihat tangan pelindungnya hancur. Xiaoyu menahan napas.
Zeng Niu tidak mendengar tawa mereka. Seluruh fokusnya tertuju pada titik pusat pilar giok itu. Ia memusatkan seratus persen tenaga dari Penempatan Tubuh Tahap 4 miliknya. Energi buas dari Inti Tingkat Brutal yang telah menyatu dengan sumsum tulangnya mendidih. Otot-otot di lengannya menegang, urat nadinya menonjol seperti cacing hitam di bawah kulit abu-abunya.
SREK!
Zeng Niu melangkah maju, memelintir pinggangnya, dan melepaskan sebuah pukulan lurus murni. Tidak ada cahaya yang indah. Tidak ada teriakan jurus. Hanya ada kecepatan maut dan kekuatan penghancur absolut yang membelah udara hingga menciptakan suara ledakan sonik kecil.
DUAAARRRR!!
Tinju Zeng Niu menghantam pilar giok putih itu.
Sebuah gelombang kejut fisik meledak dari titik benturan, meniup debu dan kerikil di sekitar kaki Zeng Niu hingga membentuk kawah kecil. Jubah sang pengawas ujian berkibar kencang karena hempasan angin.
Seluruh dataran seketika terdiam. Tawa Tuan Muda Jin terhenti di tenggorokannya. Semua mata terpaku pada pilar tersebut.
Pilar itu... tidak menyala. Tidak ada satu pun garis cahaya yang naik.
"Hah... hahaha! Sudah kubilang!" Tuan Muda Jin kembali tertawa, menutupi keterkejutannya atas suara hantaman tadi. "Bahkan tidak ada satu garis pun! Kekuatan fisiknya mungkin besar untuk ukuran kuli fana, tapi di hadapan jalan Dao, dia hanyalah—"
KRETAK...
Sebuah suara retakan halus memotong tawa sang tuan muda.
Mata pengawas ujian membelalak ngeri. Ia melangkah mundur tanpa sadar.
Dari titik di mana tinju Zeng Niu menempel pada batu giok abadi itu, sebuah retakan berbentuk jaring laba-laba mulai menyebar. Retakan itu menjalar ke atas dengan kecepatan mengerikan, membelah garis batas ketiga, kelima, ketujuh, hingga mencapai puncak pilar setinggi sepuluh tombak tersebut.
KRAAAK! PRANG! PRANG!
Di bawah tatapan puluhan ribu pasang mata yang membeku tak percaya, pilar giok yang dikatakan mampu menahan serangan Foundation Establishment itu hancur berkeping-keping. Bongkahan batu giok putih berjatuhan ke tanah seperti hujan puing, menghancurkan sisa-sisa kesombongan para jenius ortodoks di sekitarnya.
Zeng Niu menarik kembali tinjunya secara perlahan. Kulit di buku-buku jarinya sedikit terkelupas, meneteskan setetes darah segar ke tanah. Namun, wajahnya tetap datar, sedingin gletser abadi.
Ia menoleh ke arah pengawas ujian yang kini sedang bergetar, rahangnya jatuh nyaris menyentuh dada.
"Pilar kalian tidak bisa mengukur kekuatanku," ucap Zeng Niu pelan, suaranya sangat kering dan tak berperasaan. Ia menunjuk ke arah puing-puing giok tersebut. "Jadi, apakah aku lulus?"
Pengawas itu menelan ludah dengan susah payah. Aturan akademi mengatakan peserta gagal jika pilar tidak menyala hingga garis ketiga. Tapi aturan mana yang menjelaskan apa yang harus dilakukan jika peserta menghancurkan pilar formasi kuno itu menjadi debu dengan tangan kosong?! Ini bukan fana! Ini adalah monster berbentuk manusia yang mengambil jalur Kultivasi Fisik ekstrem yang telah punah ribuan tahun lalu!
"L-Lulus..." pengawas itu tergagap, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia segera mencoret nama Zeng Niu di perkamen dengan tangan gemetar. "K-Kekuatan luar biasa... lulus tanpa syarat."
Zeng Niu tidak tersenyum. Ia tidak melirik ke arah Tuan Muda Jin yang kini wajahnya lebih pucat dari mayat, tubuhnya bergetar ketakutan karena baru menyadari monster macam apa yang baru saja ia senggol bahunya.
Zeng Niu melangkah melewati garis ujian dengan langkah yang pasti, memasuki wilayah gerbang utama Akademi.
Di belakangnya, Bao Tuo menepuk perutnya dan membusungkan dadanya dengan bangga, seolah pukulan gila itu adalah miliknya. Ia menatap Tuan Muda Jin dengan tatapan merendahkan. "Katak dalam tempurung! Tuan Muda sepertimu bahkan tidak layak membawa sandal Saudara Niu!" ejeknya, lalu buru-buru lari menyusul Zeng Niu sebelum Tuan Muda Jin membalas.
Lin Xiaoyu tertawa kecil, matanya yang licik berbinar menatap punggung Zeng Niu. Di dunia ini, mengandalkan manipulasi adalah seninya, tetapi berlindung di balik monster pemecah langit adalah keberuntungannya.
Tahap pertama telah dilewati dengan sebuah hantaman brutal. Namun, ujian sesungguhnya, Tangga Langit yang menguji Dao dan menekan jiwa, tengah menanti di depan. Dan bagi seseorang yang tidak percaya pada Surga, tekanan Dao hanyalah undangan terbuka untuk berperang melawan dunia.