NovelToon NovelToon
Saat Aku Memilih Pergi

Saat Aku Memilih Pergi

Status: tamat
Genre:Poligami / Tamat
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sap 24

Ratna segera memasang ekspresi seolah dirinya tidak bersalah. Wajahnya dibuat polos, bahkan bibirnya sedikit ditekuk seperti orang yang sedang prihatin.

“Sini, Mah,” katanya cepat sambil menyodorkan buku kecil milik Nadia. “Aku curiga sama gelagat Nadia akhir-akhir ini.”

Ratna menyerahkan buku itu pada Yuni.

“Ternyata dia merencanakan ini.”

Yuni menerima buku kecil itu perlahan. Jemarinya yang mulai keriput membuka halaman demi halaman dengan wajah serius.

Awalnya ekspresinya biasa saja.

Namun semakin banyak membaca isi tulisan Nadia, wajahnya perlahan berubah tegang.

“Nadia mau membawa Nanda pergi?” tanyanya pelan.

Ratna langsung mengangguk cepat.

“Iya. Makanya aku cari tahu tadi.”

Yuni menutup buku itu perlahan lalu menatap Ratna dengan sorot mata tajam.

“Kamu juga enggak boleh masuk kamar orang sembarangan, Ratna.”

Ratna mendengus kecil.

“Sudahlah, Mah,” jawabnya santai sambil menyilangkan tangan di dada. “Jangan marah terus.”

Lalu wanita itu menatap Yuni penuh arti.

“Atau semuanya aku bongkar sekalian.”

Kalimat itu membuat tubuh Yuni langsung menegang.

Tatapan matanya berubah panik sesaat.

Wanita tua itu menelan ludah pelan sambil memalingkan wajah.

Dadanya terasa sesak.

Ia tahu betul ancaman Ratna bukan sekadar gertakan kosong.

“Pergi sana sebelum Nadia pulang,” ucap Yuni akhirnya dengan suara lelah.

Ratna langsung tersenyum puas.

“Oke, mamahku sayang.”

Ia bahkan sempat mencium pipi Yuni cepat sebelum melangkah keluar kamar.

Namun begitu berada di luar, senyum di wajahnya langsung menghilang.

Rahangnya mengeras.

“Sialan...” gerutunya pelan sambil berjalan menuju kamar tamu. “Sebenarnya di mana Nadia menyimpan warisan orang tuanya?”

Ratna mengacak rambutnya frustrasi.

Ia sudah membongkar lemari, laci, bahkan beberapa tas Nadia. Namun tetap tidak menemukan apa pun.

Padahal Handoko terus mendesaknya.

Membuat Ratna ikut gelisah.

Kalau benar Nadia menyimpan uang puluhan miliar, ia tidak mungkin menyerah begitu saja.

Sementara itu, setelah Ratna pergi, Yuni masih berdiri di tengah kamar Nadia yang berantakan.

Bajunya berserakan.

Laci terbuka.

Kasur bergeser.

Wanita tua itu memandang semua kekacauan itu dengan dada terasa berat.

Entah kenapa perasaannya mendadak tidak nyaman.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar sadar...

Nadia mungkin memang akan pergi dari rumah ini.

Dan saat itu terjadi, rumah ini tidak akan sama lagi.

“Tari!” panggil Yuni keras.

Tak lama kemudian Mbak Tari datang tergopoh-gopoh dari arah dapur.

“Iya, Bu? Ada apa?”

Namun langkahnya langsung terhenti begitu melihat kondisi kamar Nadia.

Matanya membelalak.

“Astaga... ini kenapa berantakan begini?”

“Enggak usah banyak tanya,” potong Yuni cepat.

Nada suaranya terdengar tidak sabar.

“Cepat rapikan sebelum Nadia pulang.”

Mbak Tari menatap Yuni sekilas. Ada rasa bingung di matanya, tetapi ia tidak berani bertanya lagi.

“Baik, Bu.”

Ia langsung mulai membereskan kamar itu.

Satu per satu pakaian yang berserakan di lantai dilipat rapi lalu digantung kembali ke dalam lemari.

Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya dipenuhi rasa heran.

Biasanya kamar Nadia sangat rapi.

Mustahil perempuan itu mengacak-acak kamarnya sendiri seperti ini.

Mbak Tari lalu mengambil bantal yang jatuh ke lantai dan mengembalikannya ke tempat semula.

Kasur yang tadi sedikit bergeser didorong perlahan hingga kembali rapi.

Ia juga menarik seprai yang kusut, meratakan setiap sudut kain sampai kembali licin seperti sebelumnya.

Laci-laci yang terbuka ditutup satu per satu.

Botol skincare di meja rias juga disusun kembali sesuai urutannya.

Mbak Tari bahkan hafal posisi barang-barang Nadia karena hampir setiap hari melihat wanita itu merawat semuanya dengan teliti.

Saat sedang menyusun botol toner, matanya menangkap sesuatu di sudut meja.

Sebuah flashdisk putih kecil terselip di dekat cermin.

Kening Mbak Tari langsung berkerut.

Di bagian atas benda itu tertulis “8 GB”.

“Ini pasti punya Mbak Nadia,” gumamnya pelan.

Ia mengambil flashdisk itu lalu menatap sekeliling bingung.

Tadi benda itu ada di mana?

Kalau dimasukkan ke laci, takut Nadia kesulitan mencarinya.

Kalau dipindahkan sembarangan, takut dianggap hilang.

Setelah berpikir beberapa detik, Mbak Tari akhirnya meletakkan flashdisk itu di atas meja rias, tepat di tempat yang mudah terlihat.

“Kalau penting pasti Mbak Nadia langsung lihat,” bisiknya pelan.

Setelah selesai, Mbak Tari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.

Kini kamar itu kembali rapi.

Tidak ada tanda-tanda kalau seseorang sempat mengobrak-abrik isinya.

Mbak Tari mengembuskan napas lega lalu melangkah keluar kamar.

Namun baru saja sampai depan pintu, suara Yuni kembali terdengar.

“Tari.”

“Iya, Bu?”

“Jangan sampai Nadia tahu kalau ada orang masuk ke kamarnya.”

Mbak Tari langsung diam.

Wajahnya terlihat ragu.

Ia memang hanya pembantu di rumah itu, tetapi bukan berarti ia tidak mengerti mana yang benar dan salah.

Namun pada akhirnya ia hanya menunduk pelan.

“Baik, Bu.”

Walau dalam hati ia merasa rumah itu semakin penuh rahasia.

“Tari, cepat berkemas. Ikut Ibu belanja,” perintah Yuni sambil berjalan keluar kamar.

Mbak Tari yang sedang menyapu ruang makan langsung menoleh.

“Tapi pekerjaan rumah belum selesai, Bu,” jawabnya hati-hati. “Bu Nadia juga belum pulang.”

“Ya tunggu Nadia lah,” jawab Yuni enteng sambil memperbaiki bros jilbabnya di depan cermin ruang tamu. “Kamu bereskan saja seadanya. Sisanya biar Nadia yang kerjakan.”

“Baik, Bu.”

Setelah Yuni kembali masuk kamar untuk bersiap, Mbak Tari melanjutkan pekerjaannya.

Namun pikirannya terasa penuh.

Rumah itu semakin hari semakin aneh.

Satu suami.

Dua istri.

Saling sindir.

Saling menyakiti.

Dan di tengah semua kekacauan itu...

Ada Nanda.

Anak kecil yang masih terlalu polos untuk memahami semuanya.

“Benar-benar enggak sehat,” gumam Mbak Tari lirih sambil menghela napas panjang.

Tak lama kemudian suara pagar depan terbuka terdengar.

Mbak Tari langsung melongok ke ruang tengah.

Yuni sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan tas di tangan.

Beberapa detik kemudian Nadia masuk ke dalam rumah.

Wajah wanita itu masih terlihat pucat setelah kepanikan di sekolah tadi. Napasnya juga masih sedikit tidak teratur.

“Dari mana saja kamu, Nadia?” tanya Yuni cepat.

“Kamu pergi sudah izin belum sama Raka?”

Nadia menatap Yuni sekilas lalu menjawab pelan, “Aku habis dari sekolah Nanda, Bu. Ada kabar kalau Nanda sakit.”

Wajah Yuni langsung berubah panik.

“Sakit apa Nanda?”

“Cuma kabar palsu,” jawab Nadia sambil melepas sandal. “Ternyata Nanda baik-baik saja.”

Yuni langsung mengembuskan napas lega.

Bahunya yang tadi tegang perlahan turun.

Untuk sesaat, wanita tua itu benar-benar terlihat khawatir pada Nanda.

Dan anehnya...

Kali ini ia tidak memarahi Nadia karena pergi terburu-buru tanpa izin.

Seolah dalam hati kecilnya, Yuni sadar bahwa reaksi Nadia tadi memang reaksi alami seorang ibu.

“Aku mau pergi sama Tari,” ujar Yuni kemudian sambil menghindari tatapan Nadia. “Kamu jangan ke mana-mana.”

“Ya, Bu.”

Yuni langsung menatap Nadia kesal.

“Kamu enggak tanya Ibu mau ke mana?”

Nadia mengembuskan napas pelan.

“Nanti saya dibilang terlalu mengatur lagi.”

Jawaban itu membuat wajah Yuni semakin masam.

“Cih,” dengusnya kesal. “Ngomong sama kamu bikin emosi saja.”

Ia langsung melirik Mbak Tari.

“Tari, ayo pergi.”

“Iya, Bu.”

Setelah mereka keluar rumah, suasana langsung terasa sunyi.

Nadia berdiri beberapa detik di ruang tengah sebelum akhirnya berjalan pelan menuju kamarnya.

Tubuhnya terasa lelah.

Hari itu emosinya benar-benar terkuras.

Namun begitu membuka pintu kamar, langkah Nadia langsung terhenti.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

Terlalu rapi.

Seprai licin tanpa kerutan.

Bantal tertata sempurna.

Botol skincare berjajar rapi sesuai ukuran.

Padahal tadi pagi kamar itu tidak serapi ini.

“Nggak mungkin serapi ini kalau bukan Mbak Tari yang bersihin,” gumam Nadia pelan.

Ia masuk lebih dalam sambil terus memperhatikan setiap sudut kamar.

Perasaannya perlahan berubah tidak nyaman.

Ada sesuatu yang aneh.

Tatapan Nadia berhenti pada posisi lemari.

Sedikit berbeda dari biasanya.

Dadanya langsung berdebar pelan.

“Ada yang masuk ke kamarku...”

Ia berjalan cepat menuju meja rias.

Dan di sana...

Tatapannya berhenti pada sebuah flashdisk putih kecil.

Nadia mengernyit pelan.

“Flashdisk model lama?”

Ia mengambil benda itu perlahan.

Jemarinya membalik flashdisk tersebut beberapa kali.

Di bagian sudutnya ada huruf kecil yang hampir pudar.

R.

Mata Nadia langsung menyipit.

“Ratna.”

Napasnya tertahan sesaat.

Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

“Jadi dia benar-benar masuk ke kamarku.”

Nadia terkekeh kecil tanpa senyum.

Tawa yang terdengar pahit.

“Pasti cari harta warisan Ayah.”

Ia menggeleng pelan sambil menyandarkan tubuh ke meja rias.

“Kamu enggak akan menemukan apa-apa, Ratna.”

Tatapannya berubah dingin.

“Semua dokumen penting sudah aku titipkan ke Sindi.”

Nadia kembali memandangi flashdisk di tangannya.

Keningnya perlahan berkerut.

Kalau benda itu milik Ratna...

Kenapa bisa tertinggal di sini?

Dan yang paling membuat Nadia penasaran...

“Apa isi flashdisk ini?” bisiknya pelan.

Perlahan Nadia berjalan menuju laptop miliknya yang berada di atas meja kerja kecil dekat jendela.

Tangannya bergerak membuka laptop dengan perasaan waswas.

Entah kenapa...

Perasaannya mengatakan bahwa benda kecil itu mungkin akan membuka sesuatu yang selama ini disembunyikan.

1
Talnis Marsy
semangat thor
Talnis Marsy
lho kok
nunik rahyuni
klo suami menunjukan hal2 yg diluar kebiasaan secara terus menerus itu perlu di curigai..knp g kmu selidiki..ikuti pkai taksi online kan bisa ..jgn terlalu oon..duit kan banyak..buntuti selidiki jgn mau di bodohi terus
nunik rahyuni
kebiasaandiam malah di injak injak terus ..
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
Marni Marlina
lnjuut
fatmiatun sahono
heran juga ma si Nadia. dia TDK sadar apa itu muda Nanda mirip siapa krg peka sama sekitar nya ne....
Marni Marlina
lnjuut
siswati etty
lha dah tamat to.....
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪
Alim
lo kok tamat thor
Anonim
Jujur aja andre biarin novi tau siapa ibu nya ,pasti novi milih nadia nanti
Suanti
semoga cepat punya baby 🤭
Suanti
ayok novi bantu papa nya tolak wanita yg mau jodoh kan jadi mama baru mu 🤭🤣🤣🤣
Alim
hah kok cepet mati thor🤭🤭🤭
siswati etty
ternyata...... dari atasnya gak benar jadinya gak benar jg seterusnya...
SOPYAN KAMALGrab
menyedihkan
Alim
apa yg trjadi
Alim
lsnjutkan thor
Inarrr Ulfah
semgat KA 💪
siswati etty
tetep semangat... ditunggu lanjutannya thor
Machmudah
semangat othor.....jd semangat jg bacanya kl upnya banyak....Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!