Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Leon
Di halaman kos putra yang biasanya sepi, pagi ini terasa sedikit berbeda. Seorang pemuda berseragam SMA berdiri diam di depan sebuah motor sport hitam mengkilap yang baru saja terparkir rapi.
Cahaya matahari pagi menyentuh body motor itu, membuat permukaannya yang hitam pekat berkilau lembut, sementara aksen ungu di velg dan garis body-nya terlihat tajam dan futuristik.
Alvaro berdiri di sana cukup lama, tangannya pelan menyentuh body motor yang masih terasa dingin dan baru.
Jari-jarinya menelusuri garis desain yang sleek, merasakan tekstur cat yang halus dan dingin.
Napasnya sedikit tertahan. Rasa kagum, tidak percaya, bahagia, dan sedikit takut bercampur aduk di dalam dadanya.
"Sebelumnya terima kasih banyak, Veronica," gumamnya pelan.
"Ini benar-benar motor yang bagus. Kira-kira nanti bakal seheboh apa ya anak-anak sekolah kalau tahu aku naik motor sekeren ini ke sekolah?"
Ia membayangkan dirinya nanti dikerumuni teman-teman sekelas, mungkin ada yang melongo, ada yang iri, ada yang langsung minta foto bareng. Bayangan itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Tak perlu dipikirkan, Tuan. Sudah tugas saya," balas Veronica dengan nada datar seperti biasa.
Alvaro menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. "Utamakan balasnya sama-sama gitu dong, namanya rezeki walaupun sekecil apa pun patut disyukuri. Apalagi motor sebagus ini, Veronica. Aku serius."
"Baiklah, Tuan. Sama-sama," jawab Veronica masih dengan nada yang sangat datar.
Alvaro hanya bisa menggeleng lagi sambil tersenyum lebar. "Suara sih imut banget, tapi sifatnya tetap aja kaku ya?" batinnya sambil mengusap pelan jok motor yang empuk.
"Ah, sebelum itu… bagaimana caraku mengendarai motor ini? Aku kan sudah bilang berkali-kali bahwa aku nggak bisa naik motor sport," tanya Alvaro setelah teringat masalah utamanya.
"Bukankah Tuan baru saja mendapatkan hadiah dari sistem?" Veronica mengingatkan dengan tenang.
"Oh iya… Status."
Sebuah hologram biru langsung muncul di depannya dengan jelas dan rapi.
"Status:
Nama: Alvaro Wibisono
Gelar: Pelajar
Poin sistem: 130
Aset: 65.500.000, 4% saham Victory group, 1 unit motor NightBlade
Inventori: resident identity card, skill card permainan saham mid tier , skill card mengemudi mid tier , 1× mystery box mid tier
Strength: 5 +(1)
Agility: 3+(1)
intelligence: 5
charisma: 5
Ability: Matematika tingkat menengah, bahasa inggris dan sastra tingkat dasar, "
"Lalu?" tanya Alvaro.
"Anda cukup klik skill card yang diperlukan untuk mengaktifkannya, Tuan."
Alvaro langsung menekan Skill Card Mengemudi. Tiba-tiba layar hologram berubah dan mulai memproses.
"Ting… Mengaktifkan Skill Card Mengemudi… 10%… 40%… 65%…''
"Akh…" desah Alvaro pelan. Ia merasakan banjir informasi yang sangat banyak langsung memenuhi kepalanya.
Bukan hanya cara mengendarai motor sport, tapi juga teknik mengemudi mobil, truk besar, bahkan dasar-dasar mengendalikan tank dan pesawat terbang. Semuanya mengalir deras seperti air bah ke dalam otaknya.
"88%… 100%… Selesai. Selamat, Skill Mengemudi telah aktif."
Alvaro mengerjapkan mata berkali-kali dengan ekspresi kaget yang sangat kentara. "Ini serius? Bukan cuma motor, tapi mobil, truk, tank, bahkan pesawat? Apakah kamu sedang bercanda dengan aku?"
"Apalagi ada tank juga, dikira aku mau perang apa gimana?"
"Lebih baik Tuan komplain nanti saja. Sekarang sudah pukul 09.00," potong Veronica datar.
"Oh iya benar!" Alvaro langsung tersadar. Ia buru-buru naik ke motor barunya, menstarter mesinnya, dan melaju keluar dari halaman kos dengan hati yang berdegup kencang.
...----------------...
Di jalanan kota Astra pagi itu, motor sport berwarna hitam pekat itu melaju cukup cepat namun tetap terkendali.
Deru mesin NightBlade X-150 terdengar menggelegar dan dalam, membuat hampir semua orang yang lewat menoleh.
Angin pagi yang sejuk menerpa wajah Alvaro, membuat rambutnya yang acak-acakan semakin berantakan, tapi senyum di wajahnya tak bisa disembunyikan.
"Ini benar-benar keren… rasanya seperti mimpi," gumamnya pelan sambil menikmati sensasi akselerasi motor yang responsif.
Setelah perjalanan yang terasa jauh lebih singkat dan menyenangkan dibanding biasanya, Alvaro pun sampai di depan gerbang SMA Negeri 1 Astra.
"Eh, stop sebentar. Siapa ini? Bapak kok belum pernah lihat motornya?" tanya Pak Prapto, satpam sekolah yang sudah kenal Alvaro selama hampir tiga tahun, sambil menghadang dengan wajah heran dan curiga.
Alvaro menghentikan motornya dengan halus dan membuka helm. "Ini saya, Pak Prapto."
"Hah? Alvaro?" Pak Prapto terbelalak tak percaya, matanya membesar saat melihat motor di depannya. "Sejak kapan kamu punya motor sebagus ini? Ini beneran motor kamu?"
Alvaro tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuknya. "Baru saja saya dapat rezeki, Pak. Syukur bisa beli motor impian."
Pak Prapto menggeleng pelan sambil memandangi motor itu dari atas sampai bawah dengan tatapan takjub.
"Hmm… menurut Bapak sih, mending kamu tabung untuk biaya kuliah nanti atau modal usaha setelah lulus. Motor bagus sih, tapi harganya pasti mahal."
"Terima kasih sarannya, Pak. Saya juga sudah mempertimbangkan kok," jawab Alvaro sopan sambil tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu. Bapak doakan yang terbaik buat kamu ya," kata Pak Prapto sambil menepuk pundak Alvaro pelan sebelum memberi jalan.
Setelah itu Alvaro memarkirkan motornya di tempat parkir khusus siswa, lalu berjalan menuju kelas dengan perasaan yang campur aduk.
...----------------...
..."Tungg… tungg… tungg… Jam pertama akan segera dimulai. Para siswa diharapkan sudah berada di kelas masing-masing!!"...
"Fiuhh… untung masih sempat dan tidak terlambat," desah Alvaro sambil mengelus dada lega. Ia pun berjalan menuju kelasnya dengan langkah yang sedikit lebih ringan.
"Eh, itu bukan Alvaro yang kemarin cekcok sama Rudi?" bisik salah satu siswa saat Alvaro lewat di koridor.
"Iya tuh. Malah sampai heboh banget kemarin, tapi kok wajahnya biasa aja ya?" balas temannya dengan nada penasaran.
Alvaro mendengar bisik-bisik itu tapi memilih diam dan terus berjalan santai menuju kelasnya.
Saat tiba di depan pintu kelas, ia sempat ragu sejenak. Tapi akhirnya ia menghela napas pelan dan membuka pintu dengan perlahan.
"Eh, Alvaro tuh!" tunjuk salah satu siswa dengan excited.
"Hei Alvaro, kemari dong!" panggil seorang siswa lain dengan antusias.
Alvaro mendekat dengan sedikit was-was. "Apa?"
Tiba-tiba siswa itu menjulurkan tangan dan memegang pundaknya dengan keras. "Keren banget sumpah!!"
"Eh? Gimana?" tanya Alvaro bingung.
"Beneran keren! Gak nyangka Alvaro yang biasanya diem aja bisa ngelakuin hal segitu ke Rudi," sahut siswa lain dengan nada kagum.
"Hahaha mantap banget dah!" sahut seorang siswi diikuti tawa dan pujian dari hampir seluruh teman-teman sekelasnya.
Kelas langsung riuh rendah. Semua tak menyangka Alvaro yang selama ini dikenal sebagai murid pendiam dan pintar bisa menjatuhkan Rudi yang punya backingan kuat.
'Brakk!'
Tiba-tiba pintu kelas terbuka kasar dengan suara keras. Seorang siswa berbadan kekar berdiri di ambang pintu dengan napas ngos-ngosan dan wajah tegang.
"Alvaro!!" teriaknya keras.
"Leon?" gumam Alvaro sambil menoleh.
...Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω Ω...
kritik dan saran boleh kokk