Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa sebenarnya Elang ?
Arumi merasa bosan ,dan ia juga merasa bingung. Kebiasaannya saat di rumahnya dulu ,setiap pagi ia membereskan pekerjaan rumah sebelum ia berangkat bekerja,karena hari Minggu,dan hari libur Arumi seharian bisa dirumah,ia lemari kecil di dapur, isinya nihil. Tidak ada beras, tidak ada telur, bahkan mie instan pun sudah habis ,Ingin pergi ke pasar, tapi aku tidak tahu lokasinya,karena bosan dan bingung apa yang harus ia kerjakan, Akhirnya, pandangannya jatuh pada kamar di sebelah kamar Elang. Kamar Gudang yang rencananya akan dijadikan tempat pribadi Arumi
"Bosan,aku mau ngapain ,mau kekantor libur,mau jalan - jalan nggak ada uang ,aku harus ngapain?" Arumi sempat berfikir sejenak ,"ah .. Lebih baik aku bereskan ini saja dulu," guma Arumi pelan
Arumi berdiri di tengah ruang yang sempit, tangannya memegang lap kain yang sudah mulai usang. Hari Minggu pagi terasa begitu sepi. Kontrakan kecil itu sunyi, hanya sesekali terdengar suara motor lewat di gang luar. Elang masih berlabuh dialam mimpinya
Ia merasa bosan. Di rumah ayahnya dulu, meski menjadi pelayan tanpa gaji, setidaknya ada pekerjaan yang membuat hari-harinya terisi. Membersihkan, mencuci, menyiapkan sarapan semua itu sudah menjadi rutinitas. Tapi di sini, lemari dapur kecil itu kosong melompong. Tidak ada beras, tidak ada telur, bahkan mie instan pun sudah habis kemarin.
“Lebih baik aku bereskan ini saja dulu,” bisik Arumi pelan, mencoba mengusir kebosanan yang menyelimutinya.
Ia mendorong pintu kayu yang agak berat itu perlahan. Bau debu dan kayu lama langsung menyambutnya. Ruangan itu gelap, hanya cahaya redup dari jendela kecil di atas yang masuk. Arumi menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip sebelum menyala terang. Begitu matahari cahayanya menerangi ruangan, Arumi terpaku. Mulutnya terbuka sedikit karena kagum bercampur heran.
Gudang itu bukan gudang biasa. Dindingnya penuh dengan kardus-kardus kardus tebal yang rapi ditumpuk hingga hampir menyentuh langit-langit. Beberapa kardus terbuka, memperlihatkan isi yang sama sekali tidak sesuai dengan bayangan Arumi tentang kehidupan seorang penjual bakso bakar. Ada setelan jas hitam yang tampak mahal dengan bahan wol halus, masih terbungkus plastik laundry. Di sudut lain, tergeletak tas kulit branded yang logo kecilnya saja sudah membuat Arumi menelan ludah. Jam tangan mekanik dengan strap kulit asli tersimpan di dalam kotak kaca kecil, seolah sengaja dijaga dari debu. Bahkan ada sepatu kulit formal yang mengkilap, ukurannya pas untuk kaki Elang yang tinggi.
Arumi berjalan lebih dekat, tangannya menyentuh salah satu kardus dengan hati-hati. Di dalamnya ada laptop tipis berwarna silver yang terlihat masih baru, beserta charger-nya yang rapi tergulung. Ada juga beberapa map dokumen tebal dengan tulisan tangan yang rapi, sepertinya laporan keuangan atau proposal bisnis. Barang-barang itu terkesan mahal, berkualitas tinggi, dan sama sekali bukan milik orang yang sehari-harinya mendorong gerobak bakso di pinggir jalan.
“Hah … siapa sebenarnya Mas Elang?” gumam Arumi dalam hati, jantungnya berdegup lebih cepat. Penjual bakso bakar yang tinggal di kontrakan reyot ini memiliki barang-barang seperti ini? Bukan hanya mahal, tapi juga terlihat seperti barang milik orang yang pernah hidup di lingkungan yang jauh lebih mapan. Apakah ini warisan? Atau ada cerita lain di baliknya? Arumi merasa heran sekaligus penasaran berat, tapi ia segera menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak boleh ikut campur. Mas Elang sudah banyak membantu aku. Aku tidak berhak bertanya-tanya seperti ini.”
Ia memutuskan untuk tidak menyentuh barang-barang itu terlalu lama. Dengan hati-hati ia mulai membereskan gudang sendiri. Mulai dari menyapu lantai yang penuh debu tebal, membersihkan rak-rak kayu yang reyot, lalu menyusun kardus-kardus yang agak miring agar lebih rapi. Keringat mulai membasahi punggungnya meski pagi masih sejuk. Sesekali ia berhenti, menatap barang-barang itu lagi dengan pandangan kagum yang tak bisa disembunyikan.
“Barang ini… kalau dijual saja sudah cukup untuk beli rumah kecil,” pikir Arumi sambil mengusap lembut salah satu jas. Tapi ia tidak berani mengambil atau memindahkan apa pun tanpa izin. Ia hanya membersihkan di sekitarnya, menyeka debu dengan kain lap yang dibawanya, lalu melipat kain jarik lama yang ia temukan di sudut untuk dijadikan alas rak.
Arumi,dengan pelan membereskan pekerjaanya,ia tidak mau kalau Elang terganggu dari tidurnya,tangannya bekerja,tapi fikirannya terus berjalan penuh berbagai pertanyaan.
pertanyaan itu masih mengganggu pikirannya. Siapa sebenarnya Mas Elang? Penjual bakso yang baik hati, atau pria dengan masa lalu yang tersimpan rapi di balik kardus-kardus mahal ini?
Ia kembali membereskan gudang pelan,. Dan untuk pertanyaan-pertanyaan itu, Arumi memilih menyimpannya dalam hati. Untuk sementara waktu, ia hanya ingin menjadi istri yang tidak merepotkan.
Arumi mulai memindahkan tumpukan kardus kosong dan menyapu lantai yang berdebu tebal. Suara gesekan kardus dan debu yang beterbangan rupanya membuat kegaduhan yang kembali mengusik tidur Mas Elang.
"Srek! Brak!"
Tiba-tiba Mas Elang muncul di ambang pintu kamar gudang itu dengan rambut yang mencuat ke segala arah. "Kamu sedang apa, Arumi? Ini masih pagi."
"Beres-beres, Mas. Maaf ya kalau aku berisik," sahut Arumi sambil mengusap keringat di dahi.
"Gimana tidak bangun, kamu seru-seruan di sini," gumamnya sambil menggaruk kepala.
Arumi langsung merasa tidak enak hati. "Maaf sekali, Mas. Aku hanya bingung mau mengerjakan apa. Biasanya jam segini aku sudah sibuk di dapur, tapi karena tidak ada bahan makanan, aku berinisiatif membersihkan kamar ini agar nanti malam aku bisa tidur di sini."
Elang menghela napas, lalu mendekat. Ia mengambil sapu dari tanganku. "Sudah, berhenti dulu. Sekarang masih terlalu pagi untuk kerja bakti. Kamu istirahatlah sebentar lagi di kamar. Nanti kalau matahari sudah agak tinggi, aku antar kamu ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur."
"Tapi Mas ... apa tidak merepotkan?"
"Tidak, Arumi. Tapi tolong, beri aku waktu satu jam lagi untuk memejamkan mata. Semalam aku benar-benar tidak tidur karena ... yah, kamu tahu sendiri kursinya keras, tidak seberapa empuk,badan dan leherku sakit semua ," ucapnya dengan memijat lehernya .
Arumi menunduk malu. "Maafkan aku, Mas. Gara-gara aku, Mas jadi tidak bisa tidur nyenyak."
"Sudahlah, jangan minta maaf terus. Sekarang, masuk ke kamar, tidur atau diam saja di sana sampai aku bangunkan. Urusan beres-beres kamar ini, nanti kita kerjakan berdua. Jangan sendirian," perintahnya dengan nada lembut namun tegas.
Arumi tidak punya pilihan selain menurut. "Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih."
Arumi kembali masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. Sembari merebahkan diri kembali di kasur, ia tersenyum. Elang sangat pengertian. Di tengah segala kerumitan ini, keberadaannya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman. Hari pertama menjadi istri dadakan ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Di balik kesederhanaan kontrakan ini, ada harapan yang mulai tumbuh seiring dengan terbitnya fajar di ufuk timur.