NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aruba

Pesawat pribadi itu membelah awan melintasi samudera luas, membawa dua jiwa yang terikat oleh sumpah paksa menuju sebuah titik kecil di peta dunia: Aruba. Bagi Helen, perjalanan ini terasa seperti mimpi yang sangat nyata sekaligus mengerikan. Di dalam kabin kelas satu yang mewah, denting gelas kristal dan aroma hidangan gourmet terasa hambar. Ia duduk di samping Ario—pria yang kini secara sah menyandang status sebagai suaminya—namun jarak di antara mereka terasa lebih luas daripada samudera di bawah sana.

Saat roda pesawat menyentuh landasan di Bandara Internasional Queen Beatrix, hawa tropis yang berbeda dari Jakarta langsung menyambut mereka. Angin trade winds yang kering dan sejuk menyapu wajah Helen saat ia menuruni tangga pesawat.

"Selamat datang di Aruba, Nyonya Diangga," bisik seorang penjemput berpakaian serba putih dengan senyum yang tampak terlalu sempurna.

Helen terpaku. Nama itu—Nyonya Diangga—terdengar asing sekaligus menggetarkan. Ia menoleh ke arah Ario yang sedang mengenakan kacamata hitam, wajahnya kaku seperti pahatan granit. Pria itu hanya mengangguk singkat tanpa membalas tatapan Helen.

Dalam perjalanan menuju hotel, Helen tak bisa menahan diri untuk tidak menatap keluar jendela. Aruba adalah paradoks keindahan. Di satu sisi, ada pemandangan gurun dengan kaktus-kaktus raksasa dan formasi batuan Casibari yang eksotis. Di sisi lain, laut Karibia membentang dengan gradasi warna biru yang mustahil—dari pirus jernih hingga kobalt yang dalam. Pantai-pantainya putih bersih seperti tepung, kontras dengan langit biru tanpa awan.

"Indah sekali..." gumam Helen tanpa sadar. Untuk sesaat, beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. Keindahan alam itu seolah menghipnotisnya, memberikan amnesia sesaat tentang makam ayahnya yang masih basah dan pengusiran keji yang ia alami.

Ario melirik Helen dari balik kacamatanya. Ia melihat binar kecil di mata wanita itu—sebuah binar yang sudah lama padam. Ia ingin ikut tersenyum, namun bayangan wajah ayahnya dalam kobaran api dan wajah licik Beatrix segera menariknya kembali ke realitas yang pahit.

****

Sementara itu, ribuan mil jauhnya di Jakarta, suara mesin penghancur kertas dan dentuman palu godam mengisi koridor gedung Van Amgard International.

Beatrix van Amgard berdiri di tengah lobi utama yang sedang direnovasi besar-besaran. Ia memegang sebuah tongkat komando kecil berbahan perak, menunjuk ke arah relief dinding yang menggambarkan sejarah berdirinya Kusuma Group oleh Aditya.

"Hancurkan itu," perintah Beatrix dingin. "Ganti dengan marmer hitam polos. Aku tidak ingin ada satu pun garis atau lekukan yang mengingatkan orang pada pria jawa itu."

"Tapi Nyonya, itu adalah karya seni yang dipesan khusus oleh Tuan Aditya untuk merayakan ulang tahun perusahaan yang ke-25," ujar salah satu manajer lama dengan suara gemetar.

Beatrix memutar tubuhnya, matanya berkilat penuh kebencian. "Luister naar mij," (Dengar aku,) ucapnya dalam bahasa Belanda yang tajam. "Aditya Kusuma is een spook uit het verleden. Ik ben de toekomst." (Aditya Kusuma adalah hantu dari masa lalu. Aku adalah masa depan.)

Ia melangkah mendekati manajer itu, ujung tongkatnya menekan dada pria itu. "Jika aku masih mendengar nama 'Aditya' atau 'Kusuma' disebut di gedung ini, kau akan menyusulnya ke alam baka melalui jalur pengangguran dan kemiskinan. Paham?"

Manajer itu menunduk pucat. "Paham, Nyonya."

Dalam hitungan hari, Beatrix telah mengubah segalanya. Seragam batik yang menjadi kebanggaan para karyawan dibakar secara massal di halaman belakang pabrik dan diganti dengan setelan bergaya Eropa yang kaku. Nama jalan di depan pabrik yang dulu bernama "Jalan Aditya" diubah melalui koneksi politiknya menjadi "Van Amgard Avenue".

Semua foto Aditya diturunkan. Semua arsip lama dimusnahkan. Beatrix sedang melakukan genosida kultural terhadap warisan suaminya sendiri. Ia ingin memastikan bahwa saat Helen kembali nanti—jika ia diizinkan kembali—gadis itu tidak akan mengenali lagi rumah atau kerajaan ayahnya. Ia sedang menghapus nama Kusuma dari sejarah Indonesia.

****

Hotel The Ritz-Carlton, Aruba adalah puncak dari kemewahan Karibia. Ario dan Helen ditempatkan di Presidential Suite yang menghadap langsung ke Pantai Palm. Kamar itu dipenuhi dengan bunga lili putih dan botol-botol sampanye terbaik, kado sarkastik dari Beatrix.

Helen berjalan menuju balkon, membiarkan angin laut memainkan rambutnya. Ia menatap matahari yang mulai terbenam, menciptakan semburat ungu dan oranye di langit.

"Ario, lihatlah matahari itu," ajak Helen lembut. "Rasanya begitu tenang di sini. Seolah-olah semua penderitaan di Jakarta hanyalah mimpi buruk yang sudah lewat."

Ia berbalik, menatap Ario yang sedang sibuk dengan tiga buah laptop di meja kerja besar di sudut kamar. Pria itu bahkan tidak melepas kemejanya. Ia terus mengetik dengan kecepatan tinggi, keningnya berkerut dalam.

"Ario?"

Ario berhenti sejenak, namun ia tidak menoleh. "Kau bisa menikmatinya, Helen. Mandilah, makanlah, atau berenanglah di kolam pribadi itu. Tapi jangan harap aku bisa melakukan hal yang sama."

Helen mendekat, langkahnya pelan di atas karpet tebal. "Kenapa kau begitu kaku? Kita ada di sini sekarang. Tante Beatrix mengirim kita ke sini agar kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa kita tidak mengambil nafas sebentar?"

Ario tiba-tiba berdiri, kursinya bergeser dengan suara kasar. Ia berbalik dan menatap Helen dengan tatapan yang membakar.

"Mengambil napas?!" suara Ario meninggi, bergema di ruangan mewah itu. "Saat ini, di Jakarta, wanita itu sedang mempreteli setiap keping martabat papamu. Dia sedang memecat orang-orang yang setia padamu. Dia sedang menghancurkan sistem keamanan di perusahaanku sehingga dia bisa mencuri semua dataku! Kau ingin aku duduk di sini minum sampanye sementara dia tertawa di atas penderitaan kita?"

Helen tersentak. "Aku tidak bermaksud begitu... aku hanya—"

"Kau terbuai, Helen!" potong Ario kejam. "Kau mudah sekali melupakan. Hanya karena pemandangan biru dan pasir putih, kau lupa bahwa pria yang kau nikahi ini adalah pria yang membenci keluargamu. Kau lupa bahwa kita ada di sini dalam pengasingan, bukan liburan!"

Air mata mulai menggenang di mata Helen. "Aku tidak lupa, Ario! Aku hanya... aku hanya lelah. Aku lelah menangis, aku lelah dikejar-kejar fitnah, aku lelah merasa ketakutan setiap kali memejamkan mata. Bolehkah aku merasa menjadi manusia biasa selama satu jam saja?"

Ario terpaku melihat air mata Helen. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka. Kemarahan Ario perlahan surut, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya. Ia melihat betapa ringkihnya wanita di hadapannya ini—wanita yang secara tidak sengaja ia tarik ke dalam lubang dendamnya sendiri.

Ia melangkah mendekat, ragu-ragu, lalu tangannya terangkat untuk menyentuh pipi Helen yang basah. "Maafkan aku," bisik Ario, suaranya kini serak. "Aku tidak bisa berhenti. Jika aku berhenti sejenak saja, aku merasa seolah-olah aku mengkhianati ayahku lagi."

Helen memegang tangan Ario yang ada di pipinya. "Kita bisa melawan bersamanya, bukan melawan satu sama lain, Ario."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!