Seorang motivator populer tiba-tiba meninggal dunia. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam tetapi juga memicu banyak asumsi di kalangan publik. Namun, tuduhan tersebut hanya ditujukan kepada seorang ibu muda yang berprofesi sebagai penulis novel bernama Kristal.
Rey, sebagai suaminya, tidak dapat menerima tuduhan tanpa dasar tersebut. Dia menyelidiki kebenaran. Karena baginya tidak hanya dirinya yang akan berdampak, Darrius putera semata wayang pasti juga terkena imbas.
Hasil penyelidikannya akhirnya mengubah seluruh keyakinannya pada istri tercintanya. Tetapi pertanyaannya, apakah Kristal benar-benar bersalah? Lalu apakah perasaan Rey tetap masih mencintai Kristal? Mampukah Kristal bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IZI.01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Fajar baru beranjak naik ke peraduan. Sinarnya menyapu bersih ruang gelap, menembus di tiap celah-celah bangunan. Tanpa terkecuali ruang dalam apartemen yang tadinya redup, berganti terang benderang oleh bias cahaya. Sepasang mata tak lagi dapat terpejam. Aku bangun di depan pintu, bersama sisa busana semalam. Pikiran dibebani dengan setumpuk pekerjaan yang belum tuntas, ditambah dengan kerinduan bersama suami dan anak.
Telepon selular berdering berkali-kali di atas sofa. Kuambil dengan langkah gontai, belum sadarkan diri dari lelapnya tidur.
"Mami! Darrius sudah kangen. Kapan pulangnya?"
"Mami juga sudah kangen berat. Doakan saja supaya bisa cepat pulang. Bagaimana pertandingan sepak bola kemarin! Apa kamu yang mencetak goal disana?"
"Hampir saja Darrius yang mencetak goal, Mi! Benar yah Mi, mau cepat pulang?"
"Setelah selesai, Mami akan pulang! Menonton semua pertandingan sepak bola kamu. Tapi sebelum pulang, kamu harus janji turuti semua perkataan Papi. Jangan membantah!"
"Oce deh! Darrius selalu nurut kok. Kemarin Papi juga ajak Darrius mancing di laut. Sayang waktu itu Mami gak ada. Papi dapat ikan besar-besar."
"Oh iya! Wah, terus kamu apakan ikannya?"
"Karena Papi gak tahu cara memasak ikan, hahaha.. Semua hasil tangkapan kemarin, kita bagi ke Oma. Terus kita bakar ikan di rumah, Oma." candanya menyembur dalam percakapan.
Aku balas tawa itu, "Haha.. Mami minta maaf, belum sempat menemani kalian jalan-jalan."
"Ini.. Papi mau ngomong.."
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu disana?"
"Sekarang aku sedang dapat tugas dari, Pak Ben. Dia minta agar aku membuatkan buku biografi Gatot Purba. Jadi aku usahakan akan pulang bulan enam atau paling cepat bulan tiga."
"Gatot Purba? Sepertinya aku kenal dengan orang itu! Seingatku, dia itu pengisi acara motivasi di salah satu stasiun televisi. Itu loh, Mi.. acara yang tayang setiap tengah malam! Kalau itu yang sedang kamu kerjakan, segera kamu selesaikan. Jadi bisa ada di sini, sebelum ulang tahun Darrius yang ke-15."
"Jelas, aku tidak akan mungkin lupa! Pi, kamu benar tidak mau membawanya check up ke dokter spesialis? Aku khawatir kalau terjadi apa-apa!"
"Rasanya belum perlu. Kamu sendiri tadi dengar kan semangatnya. Demamnya juga sudah hilang!"
"Tetap kamu usahakan untuk ajak ke dokter yah, Pi!"
"Kalau sempat aku ajak dia kesana. Karena aku juga sedang mengerjakan proyek baru. Jadi sementara aku kerja, Darrius akan tinggal di rumah Oma."
"Tidak masalah. Kamu bisa bawa dia kesana."
"Sebentar! Ada telepon masuk dari Pak Gatot," kualihkan pembicaraan, mengangkatnya.
"Kristal! Ini Gatot, bisa kamu ketemu saya hari ini?"
"Ketemu? Mau janjian dimana, Pak?"
"Kita ketemu jam 10.00, di Aula Jakarta convention center. Nanti waktu mau masuk, cari saja staff saya. Dia sudah saya minta untuk standby. Jangan lupa, bawa sekalian tulisan yang sudah kamu buat kemarin. "
"Maksudnya, Pak?" ucapku tercekat mendengar permintaannya.
"Itu hasil wawancara kita. Biar bisa saya lihat perkembangannya seperti apa. Sampai ketemu di sana, yah!"
"Baik, Pak. Saya akan datang kesana." dari berakhirnya percakapan, maka aku sambung lagi percakapan dengan Rey.
"Pi, aku dapat tugas dadakan. Sore aku telepon kamu."
"Nggak apa-apa, yang penting kamu kasih kabar selalu ke aku."
"Sudah dulu, Pi! Aku gak pingin telat sampai disana!" aku sudahi panggilan, bergegas menuangkan semua yang bisa kutulis.