"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."
Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.
Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.
Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.
Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERJAMUAN DI ATAS ASPAL
Jalanan aspal yang biasanya bising oleh klakson dan deru kendaraan kini mendadak sunyi, seolah Jakarta sedang menahan napas menyaksikan bentrokan dua darah Waskita. Lampu sorot dari mobil-mobil SUV hitam milik Agatha menyambar-nyambar tubuh Sasmita yang berdiri tegak di samping truk ringsek. Asap dari mesin truk yang meledak membubung ke langit, bercampur dengan aroma amis darah dan mesiu yang menggantung di udara.
Agatha Waskita berdiri sekitar sepuluh meter di depan Sasmita. Wajahnya yang awet muda tampak tenang di bawah sapuan cahaya lampu jalanan, namun matanya memancarkan kedinginan yang sanggup membekukan waktu. Di tangannya, ia memegang tablet digital yang menampilkan wajah Bramasta. Pria itu terikat di sebuah kursi besi, wajahnya hancur, matanya yang bengkak menatap kamera dengan keputusasaan yang memilukan.
"Pilihan yang sangat sederhana, Saga," suara Agatha terdengar merdu namun tajam, seperti gesekan biola yang salah nada. "Berikan dokumen asli itu, dan aku akan melepaskan saudaramu yang malang ini. Dia sudah cukup menderita karena kesetiaannya yang salah tempat."
Sasmita melirik tablet itu, lalu kembali menatap Agatha. Bahu kirinya yang tertembak kini berdenyut hebat, mengirimkan rasa sakit yang membuat pandangannya sesekali mengabur. Namun, ia tidak membiarkan sedikit pun kelemahan terlihat di wajahnya.
"Kesetiaan yang salah tempat?" Sasmita tertawa parau. "Kamu bicara tentang kesetiaan setelah kamu menyusupkan anak harammu, Aris, ke dalam keluarga Janardana? Kamu bicara tentang kesetiaan setelah kamu meracuni hidup ibuku selama dua puluh tahun?"
Agatha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Itu bukan pengkhianatan, Sayang. Itu adalah strategi. Keluarga Janardana hanyalah bidak yang harus dikorbankan agar Waskita bisa menjadi raja yang sesungguhnya. Dan sekarang, bidak terakhir itu ada di tanganku."
Agatha memberi isyarat pada salah satu anak buahnya di layar tablet. Sebuah alat setrum listrik didekatkan ke leher Bramasta. Pria itu mengerang, tubuhnya kejang di atas kursi besi.
"Hentikan!" teriak Sakti dari balik pintu truk, senjatanya masih menodong ke arah barisan pengawal Agatha.
"Sakti, diam!" perintah Sasmita tanpa menoleh.
Sasmita melangkah maju satu langkah. Ia mengangkat map plastik berisi tanda tangan Hendra. "Kamu menginginkan ini, Agatha? Dokumen yang membuktikan bahwa pernikahanmu tidak sah? Dokumen yang akan membuatmu kehilangan seluruh hak asuh atas aset Waskita di seluruh dunia?"
"Tepat sekali," ujar Agatha. "Berikan padaku, atau aku akan memastikan Bramasta mati dengan cara yang paling lambat dan menyakitkan yang bisa dibayangkan manusia."
Sasmita menatap mata Bramasta di layar tablet. Untuk sesaat, ia melihat kembali masa kecilnya—saat Bramasta diam-diam memberikan cokelat padanya ketika Rena menghukumnya tidak makan. Ia melihat bayangan pria yang, meskipun pengkhianat, adalah satu-satunya orang yang pernah memanggilnya "Adik" dengan tulus.
Namun, Sasmita juga melihat bayangan ibunya yang menangis di dalam kamar gelap. Ia melihat wajah Wirya Janardana yang hancur saat menyadari rumah tangganya adalah sebuah kebohongan besar.
Sasmita merobek sedikit ujung dokumen itu di depan mata Agatha. "Kamu lupa satu hal, Agatha. Aku bukan lagi Sasmita yang lemah. Aku adalah Saga. Dan darah Waskita yang mengalir di tubuhku ini... sudah lama meracuni rasa empati dalam diriku."
Sasmita melepaskan pegangannya pada pistol di tangan kanannya, membiarkannya tergantung di samping tubuhnya. "Bunuh dia."
Hening.
Agatha tertegun. Bahkan para pengawal di belakangnya tampak ragu. Sakti di belakang Sasmita menahan napas, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa kamu bilang?" desis Agatha, matanya menyipit.
"Aku bilang, bunuh dia," ulang Sasmita, suaranya kini terdengar sangat dingin dan datar, seolah ia sedang membicarakan cuaca. "Bramasta sudah mati bagiku sejak dia membawa Aris ke rumah kami. Jika kamu membunuhnya sekarang, kamu hanya membantuku menghilangkan satu lagi beban emosional dalam hidupku. Tapi dokumen ini? Dokumen ini akan tetap bersamaku. Dan besok pagi, seluruh dunia akan tahu bahwa Ratu Waskita hanyalah seorang penipu identitas."
Agatha menatap Sasmita dengan pandangan horor yang perlahan berubah menjadi kekaguman yang pahit. "Kamu... kamu benar-benar monsternya Hendra, bukan?"
"Aku adalah monster buatanmu, Agatha," balas Sasmita.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang kencang memecah ketegangan. Sebuah motor sport hitam melesat dari arah belakang barisan mobil Agatha. Pengendaranya melakukan stoppie tepat di tengah jalan, di antara Sasmita dan Agatha.
Aris.
Wajahnya masih hitam karena jelaga ledakan rumah sakit, dan salah satu tangannya terbalut kain yang bersimbah darah. Ia menatap ibunya, Agatha, lalu menatap Sasmita dengan kebencian murni.
"Ibu, jangan dengarkan dia! Dia menggertak!" teriak Aris sambil turun dari motornya. "Dia tidak akan pernah membiarkan Bramasta mati! Dia hanya mencoba mengulur waktu agar Sakti bisa memanggil bala bantuan!"
Aris menoleh ke arah Sasmita. "Aku sudah meretas komunikasi Sakti, Sasmita! Tidak ada bantuan yang datang! Semua jalur menuju tempat ini sudah diblokir oleh kepolisian yang berada di bawah kendali kami!"
Sasmita menggertakkan gigi. Aris selalu selangkah di depan dalam hal teknologi. Namun, Sasmita tidak datang ke sini hanya dengan keberanian.
"Sakti, sekarang!" perintah Sasmita.
Sakti tidak melepaskan tembakan ke arah Agatha. Sebaliknya, ia melepaskan sebuah suar (flare) merah ke langit. Cahaya merah itu menerangi jalan raya yang gelap selama beberapa detik.
Tiba-tiba, dari arah rawa-rawa di pinggir jalan tol, muncul belasan pria berpakaian nelayan namun bersenjata lengkap. Mereka adalah anak buah Bong, sang broker informasi yang tadi disuap Sasmita dengan rahasia perusahaan bayangan Agatha. Ternyata, Sasmita tidak hanya memberikan flashdisk itu sebagai bayaran; ia memberikannya sebagai uang muka untuk serangan balik ini.
"Bong?!" Aris terperangah. "Bagaimana bisa..."
"Uangmu mungkin banyak, Aris," Sasmita menyeringai tipis. "Tapi Bong lebih takut pada rahasianya sendiri yang aku pegang. Di dunia bawah tanah, rasa takut lebih berharga daripada emas."
Pertempuran pecah seketika.
Suara tembakan otomatis menyalak dari segala arah. Anak buah Agatha segera berlindung di balik pintu-pintu mobil mereka, sementara anak buah Bong menyerbu dengan taktik gerilya yang kacau namun efektif. Jalan raya itu berubah menjadi zona perang dalam hitungan detik.
"Sakti, bawa aku ke mobil Agatha!" teriak Sasmita di tengah gemuruh peluru.
Sakti melepaskan tembakan perlindungan, menjatuhkan dua orang pengawal Agatha yang mencoba mendekati Sasmita. Sasmita berlari rendah, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang kini mulai mengucurkan darah segar lagi. Ia harus mendapatkan tablet itu. Ia harus menghentikan penyiksaan terhadap Bramasta, meskipun ia baru saja mengatakan tidak peduli.
Aris mencoba menghalangi jalan Sasmita. Ia mengeluarkan pisau taktisnya dan menerjang ke arah Sasmita. Sasmita menghindar, namun ujung pisau Aris menyayat pipinya, meninggalkan garis merah yang panjang.
Sasmita tidak menyerah. Ia menggunakan momentum lari Aris untuk membanting pria itu ke kap mobil yang panas. Mereka bergulat di atas kap mobil di tengah hujan peluru.
"Kamu... akan... mati... di sini!" desis Aris sambil mencoba mencekik leher Sasmita.
Sasmita meraih sebuah kunci roda yang tergeletak di dekat kap mobil yang terbuka dan menghantamkannya ke kepala Aris. Brakk!
Aris terkapar, darah mengucur dari pelipisnya. Sasmita tidak menoleh lagi. Ia melihat Agatha mencoba masuk kembali ke dalam mobilnya untuk melarikan diri. Sasmita melompat ke arah pintu mobil Agatha tepat sebelum pintu itu tertutup.
Ia menarik rambut Agatha dengan kasar, menyeret wanita tua itu keluar dari kemewahannya ke atas aspal yang kasar. Agatha menjerit, sebuah suara yang sangat memuaskan bagi telinga Sasmita.
"Di mana Bramasta?!" tuntut Sasmita sambil menekan lututnya ke dada Agatha.
Agatha terengah-engah, wajahnya yang tadinya sempurna kini penuh debu dan ketakutan. "Di... di gudang tua Pelabuhan Tanjung Priok... Blok C-12... Tolong... jangan bunuh aku..."
Sasmita mengambil tablet dari tangan Agatha yang gemetar. Ia melihat layar itu—Bramasta masih hidup, namun kondisinya semakin kritis. Sasmita segera menekan tombol "Release" pada aplikasi penyiksa digital milik Aris.
"Sakti! Kita punya lokasinya!" teriak Sasmita.
Namun, di saat yang sama, sebuah suara tembakan tunggal terdengar dari arah belakang Sasmita.
Duar!
Sasmita merasakan dorongan kuat di punggungnya. Ia tersungkur di atas tubuh Agatha. Ia menoleh perlahan dan melihat Aris berdiri dengan pistol di tangan yang gemetar. Aris menembaknya.
"Nona!" Sakti berteriak dan melepaskan rentetan tembakan ke arah Aris hingga pria itu terpaksa mundur dan melompat ke dalam sungai di bawah jembatan jalan tol.
Sasmita terbaring di atas aspal, napasnya terasa sangat berat. Ia melihat ke arah langit malam Jakarta yang kini mulai memudar warnanya menuju fajar. Darahnya mengalir, menyatu dengan oli dan air hujan di aspal, membentuk sebuah garis merah yang panjang menuju mobil Agatha.