NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti: Suamiku yang Buta Ternyata Bos Mafia

Pengantin Pengganti: Suamiku yang Buta Ternyata Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti Konglomerat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Husni

Siti terpaksa menggantikan saudari kembarnya, Lila, untuk menikahi putra sulung keluarga mafia Hartono di Indonesia, Aris yang buta. Beredar rumor bahwa tuan muda ini buta, penyendiri, berhati dingin, dan sulit didekati, tidak lain adalah “orang asing” dalam keluarga. Namun dibandingkan dengan mantan pacarnya yang brengsek, Andy—yang membawa kabur uang pengobatan ayahnya dan ingin memanfaatkan dirinya demi koneksi—Siti merasa pernikahan ini tidak seburuk itu.
Awalnya ia mengira menikah hanya sekadar formalitas dan sandiwara belaka. Siapa sangka setelah tinggal di vila, ia bukan hanya harus menghadapi sikap dingin Aris dan tekanan sang Kakek yang terus-menerus mendesak ingin punya cucu, tetapi juga harus membereskan kekacauan adiknya yang menghamili anak orang di luar nikah serta bersembunyi dari mantan pacar yang terus mencarinya.
Siti pun memutuskan bekerja di Grup Hartono demi mandiri. Dengan kemampuan memasaknya, ia meluluhkan hati sang tuan muda yang dingin, dan lewat suaranya, ia menyentuh sisi lembut Aris. Barulah ia menyadari—bos buta ini sama sekali bukan orang lemah! Pendengarannya tajam, pikirannya cerdas, jaringan relasinya luas, dan kekuatannya luar biasa. Bahkan perebutan hak waris keluarga pun dapat ia kendalikan dengan mudah!
Namun kebohongan tentang pengantin pengganti tak mungkin selamanya tersembunyi. Rahasia keluarga mafia pun mulai terkuak. Setelah hatinya diluluhkan oleh Siti, akankah Aris membiarkan orang lain menyakiti gadis yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Setelah pesta ulang tahun selesai, vila keluarga Hartono mulai tenang. Lampu-lampu kristal masih memantulkan cahaya redup, dan suara langkah kaki pegawai yang membersihkan sisa-sisa perayaan terdengar samar. Siti berjalan di koridor panjang, tangannya terkepal pelan di pinggang, matanya menatap lurus ke lantai marmer yang mengkilap. Di pikirannya, masih tersisa bayangan wajah kakek Aris yang bersinar karena hadiah lukisan asli Pak Budiman dan video ucapan selamat seniman itu.

Kakek Aris menatap Aris dengan mata berbinar saat ia menerima hadiah itu. “Ini… hadiah terbaik yang pernah aku terima!” ucap kakek, suaranya bergetar karena kegembiraan. Ia memutar-mutar lukisan itu, mengamati setiap guratan kuas dan warna yang begitu hidup. Video ucapan dari Pak Budiman membuat kakek tersenyum lebih lebar lagi. Ia menepuk pundak Aris dengan bangga. “Nak, kau selalu bisa membuatku terkejut. Aku sangat bangga padamu.”

Siti berdiri di samping, merasakan getaran kebahagiaan kakek. Tubuhnya rileks, namun hatinya tetap waspada. Ia menatap Aris, memperhatikan cara Aris menanggapi pujian kakek dengan wajah datar, penuh kendali, tapi ada ketenangan yang menenangkan seisi ruangan.

Dedi menunduk, wajahnya memerah. Tubuhnya tegang, tapi ia tetap mencoba tersenyum. Ia tahu bahwa hadiah lukisan mahal yang ia bawa kini tampak tidak berarti. Sebuah rasa malu dan frustrasi menghantamnya, namun ia menahan diri agar tidak mempermalukan diri sendiri di depan kakek.

Ibu tiri Aris duduk di kursi jauh dari pusat keramaian, matanya menyipit, jelas kecewa. Tubuhnya menegang, bibirnya menekuk. Ia menatap Aris dengan tatapan yang sulit diartikan, antara iri dan tidak percaya. Tapi ia menahan diri. Di sini, kakek Aris memegang kendali, dan ia tidak bisa bersuara terlalu keras.

Siti menarik napas panjang. Ia merasakan ketenangan yang aneh. Aris tidak hanya cerdas dan penuh strategi, tetapi juga memiliki rasa hormat pada orang lain, termasuk Dedi dan ibu tirinya, meski mereka agresif. Hal itu membuat Siti kagum, sekaligus lega. Ia menyadari bahwa kemampuan Aris bukan hanya soal kekayaan atau status, tetapi tentang bagaimana ia mengendalikan situasi dengan ketenangan yang luar biasa.

Di perjalanan pulang ke vila gunung, mobil BMW melaju di jalan pegunungan. Angin dingin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, mengibarkan rambut Siti. Ia duduk di kursi belakang, matanya menatap keluar jendela, pikiran berputar-putar. Ia menoleh ke arah Aris yang duduk di kursi depan, tangan di tongkat, wajah datar seperti biasa.

“Aris…” Siti akhirnya membuka mulut, suaranya pelan tapi tegas. “Kenapa kau tidak langsung menunjukkan hadiahnya saat pesta?”

Aris menatap jalan, matanya lurus ke depan. Suaranya datar, tidak menunjukkan emosi berlebihan. “Aku tidak ingin membuat Dedi merasa malu. Tapi… pihak keluarga Hartono terlalu menekan dan menyerang, jadi aku terpaksa menampilkannya.”

Siti mengangguk perlahan. Ia bisa memahami logika Aris. Menghormati orang lain, bahkan ketika harus mempertahankan haknya sendiri, adalah sesuatu yang jarang ia lihat. Tubuhnya rileks sedikit, dan ia merasa semakin memahami karakter Aris—bukan sekadar pria dingin dan tegas, tapi seseorang yang cerdas mengelola perasaan orang di sekitarnya.

Saat mobil memasuki jalan menuju vila gunung, Siti menghela napas panjang. Ia menatap Aris sebentar, lalu menunduk kembali. “Aris… aku ingin bekerja di Grup Hartono,” ucapnya pelan. Suaranya jelas, tegas, menandakan keputusan yang matang. Ia tidak ingin menjadi hanya istri yang dipaksa tinggal di vila, ia ingin memiliki langkah dan pendapatan sendiri, sesuatu yang bisa membuatnya mandiri.

Aris menoleh sebentar ke belakang, matanya tetap fokus ke depan, wajahnya datar. “Boleh. Tapi… ada syaratnya. Jangan menimbulkan masalah apa pun. Kau bisa bekerja, tapi tetap jaga jarak dengan urusan keluarga dan aku. Semua hal yang bisa memicu konflik harus dihindari.”

Siti mengangguk. Ia menahan senyum tipis. Syarat itu jelas, tetapi bisa diterima. Ia tahu Aris ingin melindungi dirinya sendiri, menjaga agar dinamika keluarga tidak membahayakan pekerjaan atau hubungan mereka. Ia merasa lega karena Aris memberinya kesempatan, sekaligus menegaskan batas yang perlu dijaga.

Sesampainya di vila gunung, Siti turun dari mobil dengan langkah pasti. Ia membawa tas kerja dan beberapa dokumen yang dibawa dari kantor Grup Hartono. Ia menatap ke sekeliling, vila terlihat tenang setelah pesta. Tubuhnya lelah, tapi hatinya ringan karena bisa membuat keputusan sendiri.

Aris tetap di kursi mobil, memantau pergerakan Siti dengan mata tajam. Ia merasakan ada perubahan dalam diri Siti—ketegasan, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk menghadapi situasi. Ia menarik napas pelan, menyadari bahwa meski ia tunanetra, kehadiran Siti dan kemampuan dirinya sendiri mampu menciptakan suasana yang berbeda di sekitarnya.

Di ruang tamu vila, Siti menata dokumen di meja kecil. Ia meneliti ulang laporan proyek, memeriksa dokumen yang diberikan Dedi, dan menandai hal-hal yang perlu diperhatikan. Tangannya bergerak cepat, matanya fokus, menunjukkan disiplin yang luar biasa. Ia tidak ingin sekadar menjadi figur simbolik di vila, ia ingin membuktikan diri di dunia nyata, di tempat yang menuntut kemampuan, bukan status.

Aris berdiri di dekat jendela, tongkat di tangan, menatap ke arah Siti dari kejauhan. Ia memperhatikan setiap gerakannya dengan cermat. Tubuhnya tetap tegang, namun ada rasa kagum yang tersembunyi. Ia sadar, Siti bukan hanya pandai mengatur langkah sendiri, tetapi juga mampu menjaga ketenangan dalam situasi yang rumit.

Dedi, yang duduk di ruang kerja dekat itu, masih menatap lukisan yang diberikan Aris. Tubuhnya tegang, bibirnya mengeras. Ia merasakan kekalahan yang pahit, namun ia menahan diri. Ia tahu bahwa persaingan di keluarga Hartono bukan hanya soal hadiah atau pujian, tapi soal kemampuan dan strategi. Hari ini, ia melihat perbedaan itu dengan jelas.

Malam itu, Siti menutup dokumen terakhir, menatap langit gelap di luar jendela. Ia menarik napas panjang, menenangkan diri. Pikirannya sibuk merencanakan hari esok: bagaimana memulai pekerjaan, bagaimana menunjukkan kemampuan tanpa memicu konflik, dan bagaimana menjaga hubungan dengan Aris tetap profesional namun aman.

Aris, di ruang tamu, tetap diam. Ia mendengar suara langkah Siti saat ia kembali ke kamar. Tubuhnya menegang sedikit, telinganya menangkap ritme napas Siti yang stabil. Ia tahu, wanita di hadapannya memiliki kekuatan yang berbeda—bukan karena status atau kecantikan, tapi karena kemampuan dan ketegasan yang mampu menantang dan menyeimbangkan dirinya.

Siti menatap meja kecilnya, dokumen dan catatan tertata rapi. Ia tersenyum tipis, merasa bangga pada dirinya sendiri. Hari ini adalah bukti bahwa ia bisa membuat keputusan sendiri, menjaga harga diri, dan memulai langkah baru di Grup Hartono. Ia menutup mata sebentar, menarik napas panjang, dan merasakan ketenangan yang jarang ia alami sebelumnya.

Aris menoleh sejenak, mendengar suara Siti yang menutup pintu kamar. Ia tersenyum tipis, hampir tidak terlihat, dan menatap ke langit malam dari jendela. Ia menyadari satu hal: Siti bukan hanya sekadar istri yang dipaksa menikah, tetapi individu yang mampu menegakkan prinsip, melangkah sendiri, dan menghadapi dinamika keluarga dengan keberanian.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Kusniati Kus
lamnutt
Munawah
lanjut dong
Uswatun Hasanah
lanjut
Wijiyanti Solo
aq kok lama benci sama sifat siti gk tegas gampang dimanfaatkan
Ambu Amasa
bagus. lanjut!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!