Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Sifat alami manusia adalah keserakahan, itulah kenapa jika seseorang mencicipi sesuatu maka ia tidak akan puas, ia hanya akan terus mencari cara untuk mencicipinya lagi dan lagi.
Dan keserakahan Aezar adalah bibir Zevanya, ia harus mengutuki dirinya sendiri karena mencium gadis itu kemarin, sekarang melihat wajah itu tertidur tepat di depan wajahnya ia hanya bisa merasakan bibirnya berkedut ingin mencium.
Apakah semua gadis akan secantik ini saat sedang tidur? tidak bersuara, ia hanya terus menepuk kepala istrinya lembut seperti menidurkan bayi.
Ini masih jam 4, udara diluar dingin karena hujan namun Zevanya merasakan seluruh badannya panas dan berkeringat, karena Aezar memeluknya seperti guling.
"Kau sudah bangun?" Zevanya berujar pelan setelah menyadari seseorang menepuk kepalanya.
"Hmm.. apa aku menyusahkanmu tadi malam?"
Gadis itu mencoba bergerak beberapa kali menyingkirkan tangan Aezar yang melilit pinggangnya agar bisa menguap dengan bebas.
"Tidak" jawabnya samar.
Aezar tersenyum lega, sejujurnya ia takut kebiasaannya saat mabuk membuat gadis ini kewalahan.
"Aku punya dua kabar, apa yang ingin kau dengar dulu. Kabar baik atau kabar buruk?"
"Kabar baik?"
"Kau bisa dioperasi minggu depan" kata Aezar, ia memegang jari tangan Zevanya, memainkannya seperti boneka.
"Secepat itu?" tanya gadis itu heran, sebenarnya ia tidak terlalu berharap akan bisa dioperasi dalam waktu dekat.
"Kenapa, kau tidak senang?" kali ini pria itu bahkan mencium satu persatu jari Zevanya, tidak peduli gadis itu menarik tangannya karena geli.
"Bisakah kau berhenti" Zevanya menggerutu.
Aezar hanya tersenyum jahil, tidak menghiraukan kemarahan gadis itu.
"Kau tidak ingin dengar kabar buruknya?" katanya mengalihkan pembicaraan.
"Apa?"
"Kau mungkin kena serangan jantung ketika pertama kali melihat wajah tampanku" pria itu terkekeh seraya mencium pipi Zevanya dengan gemas.
Jika orang lain mendengar tuan Aezar tertawa seperti ini mereka pasti akan buru-buru memeriksa, apakah matahari terbit dari barat.
Namun Zevanya hanya diam, linglung karena ciuman singkat di pipinya itu, Aezar mungkin masih belum bercukur beberapa hari ini karena ada rambut janggut pendek yang terasa menggelitik, merasa tidak nyaman ia mencoba mendorong pria itu menjauh.
Astaga apakah wajahku gosong? kenapa panas sekali.
Ia merasakan bunyi jantungnya berdetak dengan kencang.
"Vanya"
"hmm..."
"Sepertinya aku ingin punya bayi" Aezar berkata lirih, matanya mengamati ekspresi gadis itu yang mendadak bisu, dengan rona merah yang perlahan muncul.
Zevanya hanya bisa menahan malu, apakah ada orang yang lebih tidak tahu malu seperti pria ini, kenapa ia bicara seolah-olah mereka bisa membeli bayi di supermarket terdekat.
Apakah kepalanya terbentur?
"Mengapa kau tiba-tiba membahas bayi?" Zevanya berusaha untuk tenang, meski jantungnya seakan jatuh keperut.
"Aku fikir mungkin akan menyenangkan punya bayi-bayi yang imut dan cantik sepertimu"
Bibir gadis itu berkedut, antara jengkel dan ingin tertawa, mengingat ini masih pukul empat dan mereka membicarakan hal-hal yang memalukan dengan jelas.
"Aku tidak pernah bilang ingin melahirkan anakmu" jawabnya asal, lagipula mereka kan tidak pernah melakukan itu sejak menikah.
ah sudahlah bisakah aku pura-pura tidur saja sekarang?
"Kau tidak mau melahirkan anakku?" tuduh Aezar, suaranya berubah suram seketika, ia hampir lupa kalau gadis ini mungkin tidak akan pernah mencintainya apalagi bersedia melahirkan anaknya.
Selama ini gadis itu bersikap manis pasti hanya pura-pura, suatu saat ia akan pergi dan memilih Darren ketika ia bisa, hati pria itu bergerumuh karena cemburu.
Zevanya merasa ada yang salah dari suara Aezar, nadanya tiba-tiba ketus menandakan pria itu kesal,
Aku kan hanya bercanda apakah pria ini benar-benar marah? betapa konyol.
"Apakah kau benar-benar tidak bisa mencintaiku?" ujar Aezar dengan suara terluka, tangannya melepaskan Zevanya dan mundur agak jauh ke sisi lain ranjang.
"Bukan begitu..." Zevanya berusaha menjelaskan, namun pria disampingnya sudah berbalik, pura-pura tidur. Berapa kali pun Zevanya mencoba membujuk ia tidak bergeming bahkan sedikit.
Merangkak maju Zevanya memeluk suaminya dari belakang, senyumnya mengembang saat ia merasakan tubuh pria itu menegang, ia kemudian mengenduskan kepalanya di punggung lebar Aezar mencari kehangatan.
"Hei.. jangan marah aku hanya bercanda"
Aezar tidak menjawab.
"Aezar, suamiku.. kau tidur?"
Suami?
Dia memanggilku suami?
Aezar tidak bisa menahan diri untuk tersenyum bodoh, satu kata itu membuat hatinya meleleh sedemikian rupa.. akhirnya penantian panjangnya berbuah manis.
"Kau mau jalan-jalan hari ini?" tanyanya riang pada Zevanya, gadis itu hanya bisa melongo menyadari perubahan sikap Aezar yang bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya.
"Aku mungkin menyusahkanmu.. kau harus repot menuntunku" ujar Zevanya pelan.
"Benar juga, menuntunmu memang merepotkan"
Apakah kau harus sejujur itu tuan? Zevanya merengek sedih didalam hati.
"Bagaimana jika aku menggendongmu saja, itu lebih efisien.. kau hanya harus berpegangan erat dipunggungku seperti sekarang"
"Eh apa?"
"Hmm.. aku akan menggendongmu sambil berkeliling" ulang Aezar mantap, ia tersenyum puas membayangkan betapa menyenangkannya hal itu.
"Luka di bahumu belum sembuh, kita dirumah saja" elak Zevanya, apakah dia anak balita? kenapa harus digendong kesana-kemari.
Mimpi saja dia tidak akan mau.
Aezar kecewa karena gadis itu menolak ide nya terang-terangan.
"Kau tidak jadi bertemu Devi?" tanyanya kemudian.
Zevanya mendesah, kemarin dia sebenarnya sudah menghubungi Devi untuk bertemu, namun ternyata mereka sedang mengadakan pemotretan di luar kota.
Gadis itu hanya bisa menggeleng sedih.
"Bagaimana kalau kita makan diluar? aku tidak akan menggendongmu, janji" pinta Aezar sekali lagi,
"Baiklah" Zevanya menyahut malas, memposisikan kepalanya di punggung Aezar membuatnya mengantuk dan akhirnya kembali tidur.
Lagipula ini masih terlalu pagi, kan?
Aezar merasakan nafas teratur gadis itu di punggungnya, ia mencoba meraih ponselnya diatas meja, disisi ranjang.
Ia memanggil Antoni dengan satu ketukan, memerintahkan pria itu untuk membuat reservasi di salah satu restoran yakiniku yang terkenal, di selatan kota.
Dulu, Zevanya seringkali pergi kesana dengan teman-temannya sementara Aezar akan menguntitnya makan di meja yang agak jauh, aneh juga kenapa gadis ini tidak pernah menemukan keberadaannya selama bertahun-tahun.
Senyumnya mengembang saat membayangkan tawa gadis itu masa lalu, dia akan makan seperti babi tanpa mau berhenti.
Apakah gadis ini akan senang makan disana?
Sambil bertanya-tanya, Aezar menarik selimut dengan kakinya, menyelimuti mereka berdua yang kini meringkuk jadi satu seperti udang bengkok, sudah sangat lama ia tidak merasakan hari setenang ini.
Jika diingat-ingat setelah menikahi gadis ini Aezar yang dikenal penggila kerja, jarang masuk kantor.
Ia hanya akan menurut dan menemani istrinya tiap hari seperti seorang pengasuh professional,
Memang benar kata Einstein..
"Gravitasi tidak berlaku untuk orang yang sedang jatuh cinta"
.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww