Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Toples-toples Berisi Organ Tubuh Manusia
Akhirnya mereka bertiga pun mengakhiri teleponnya, karena besok waktunya untuk berpetualang mencari-cari bukti.
Dayuh dan Sitara mempersiapkan baju dan barang-barang yang hendak mereka bawak.
Dayuh dengan ide cemerlang sudah mempersiapkan baju ala-ala detektifnya, dengan ciri khas kacamata hitam dan baju serba hitam.
Sitara yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu berkata,
“Ada-ada saja kamu, Dek.”
“Heheheheh... tapi kan keren, Kak,” sahutnya sambil tertawa lucu.
“Ayok kita tidur, kan besok mau berangkat,” ucap Sitara, lalu meninggalkan Dayuh.
(Ting) Drettt...
Suara ponsel Dayuh berbunyi menandakan pesan masuk.
Dayuh yang mendengarnya lalu berkata,
“Siapa sih malam-malam chat.”
“Oh, Mas Saga,” ucap Dayuh pada dirinya sambil tersenyum-senyum.
“Dek, ini data yang kamu kirim dapat dari mana?” tanya Saga.
“Dari Kak Leo, Mas. Dia dapat dari Om-nya yang polisi. Memangnya kenapa, Mas?” balas Dayuh.
“Oh... nggak kenapa-kenapa, Dek. Ya sudah, terima kasih infonya. Maaf mengganggu malam-malam,” balas Saga kembali.
Dayuh hanya membalas dengan emoji senyum.
Dia merasakan ada yang aneh pada dirinya, entah sedang jatuh cinta tapi sulit diutarakan.
Saga pun bertanya-tanya ketika mengetahui nama Leo, seperti nama orang yang dia kenal.
“Apa dia Leonardo Raphael, teman nongkrong aku zaman waktu sekolah?” ucap Saga sambil melihat-lihat berkas berisi data anak yang hilang.
“Entahlah, besok juga ketemu sama itu anak.”
Kurang lebih dua jam Saga melihat-lihat sambil mencari-cari melalui internet.
Tak lupa dia satu per satu mencatat semua alamat yang akan dia datangi nanti.
Mereka akan melakukan penyelidikan secara diam-diam, lalu berkunjung ke rumah orang tua para korban satu per satu untuk dimintai keterangan.
Malam mulai larut, Saga mulai mengantuk.
“Hhhoaaammmm...”
Dia pun membereskan semua berkas-berkas tersebut, lalu memasukkan ke dalam ranselnya beserta bajunya untuk seminggu ke depannya.
Setelah itu, Saga pun mulai tertidur dengan nyenyak.
Tengah malam pun tiba.
Dayuh berada di rumah Noah.
Entah kenapa tubuhnya membawanya ke sana.
Mimpinya terasa seperti nyata.
Lintang terus-terusan menangis.
“Hiks... hiks... hiks...”
Dayuh yang melihatnya lalu bertanya,
“Kenapa kamu, Dek?”
Dia pun bercerita ingin jasadnya ditemukan dan dikuburkan dengan layak bersama korban-korban yang lain.
Lintang seolah-olah meminta bantuan pada Dayuh.
“Kak, temukan jasadku, bantu aku, Kak,” ucap Lintang dengan wajah sedihnya.
“Iya, Dek. Tenang saja, kami akan membantumu,” sahut Dayuh sambil memegang pundaknya.
(Huuussstt)
Lintang pun menghilang di balik kabut putih.
Dayuh pun terbangun di jam dua malam.
“Hhhoaaammmm... haus banget,” ucapnya pada dirinya sendiri, lalu ke dapur untuk mengambil minum dan mengisi tumblenya.
Di saat dia sedang mengisi air minum, tak sengaja melihat keluar jendela yang tidak ada gordennya.
Melihat Lintang bersama anak-anak yang lainnya.
“Lintang...”
Sitara yang melihat Dayuh seperti melamun lalu menepuk pundaknya.
“Dek.”
Dayuh terkejut sambil mengelus-elus dadanya.
“Astaghfirullahalazim... Kak, kaget aku.”
Seketika sosok Lintang dan teman-temannya menghilang.
Sitara bertanya,
“Lagi apa kamu?”
Lalu berkata lagi,
“Kayak orang melamun saja.”
“Itu tadi, Kak. Biasa ada aku lihat Lintang,” ucap Dayuh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Lalu bertanya kembali,
“Kakak sendiri mau ngapain?”
“Ini mau ngisi tumbler, Dek. Habis isinya,” sahut Sitara lalu mengisi tumblenya.
“Ya sudah, aku duluan, Kak,” sahut Dayuh lalu ke kamar meninggalkan Sitara.
“Oke...” sahut Sitara dengan nada santai.
Sitara dan Dayuh pun kembali ke kamar masing-masing.
Tiba-tiba Sitara dikejutkan oleh sosok anak kecil bernama Lintang.
“Astaghfirullahalazim,” ucap Sitara lalu mengelus dadanya.
Lintang menghilang seketika.
Lalu Sitara berjalan cepat naik ke lantai atas untuk mendatangi Dayuh di kamarnya.
(Tok... tok... tok)
“Dek, kamu belum tidur, kan?” tanya Sitara di luar pintu sambil melihat ke kanan dan kiri.
Dayuh yang mendengarnya lalu beranjak dari tempat tidurnya.
“Bentar, Kak,” sahut Dayuh dari dalam kamar.
(Cklek)
“Kenapa, Kak? Kayak lihat hantu saja?” tanya Dayuh kembali.
“Anu... apa itu,” sahut Sitara sambil terbata-bata dengan wajah sedikit ketakutan.
“Anu apa, Kak?” tanya Dayuh dengan wajah kebingungan.
“Lintang mukanya serem. Tadi aku lihat, Dek. Kakak tidur di sini ya,” sahut Sitara sambil menutup wajah menggunakan selimut.
“Boleh, Kak. Hehehe... tumben takut, Kak. Biasanya kagak?” ejek Dayuh sambil mentertawakannya.
“Entah lah, perasaan Kakak aneh gitu loh,” sahut Sitara dengan wajah cemas.
“Ya sudah, kita tidur yuk,” sahut Dayuh kembali sambil memejamkan matanya.
Mereka berdua pun tidur bersama-sama.
Beberapa jam kemudian, tiba-tiba Dayuh dan Sitara berada di rumah Noah.
Mereka berdua diperlihatkan masa lalu anak-anak yang jadi korban Noah.
“Hiks... hiks... tolong kami.”
“Keluarkan kami, Om. Ampuni kami... hiks... hiks... hiks...”
Anak-anak di dalam sana terus-menerus menangis meminta ampun, tapi Noah tidak peduli.
“Om, lepaskan kami... hiks... hiks...”
“Diam!” bentak Noah dengan wajah marah.
“Hiks... hiks... hiks...”
“Teriakan kalian tidak akan terdengar oleh siapa pun. Hahahaha....”
ucap Noah sambil menjilati pisaunya yang membuat anak-anak ketakutan.
Terdengar jeritan dan tangisan anak-anak di dalam ruangan itu.
Tidak akan ada satu pun orang yang akan mendengarnya, karena ruangan itu berada di bawah tanah yang lembab dan kedap suara.
“Jangan, Om. Aku mau pulang.”
“Hiks... hiks... hiks...”
“Husssstt... cup... cup... tidur ya, anak manis,” bujuk Noah sambil membius mereka tanpa perasaan.
“Hahaha... selamat tinggal, anak-anak. Tidur yang nyenyak,”
ucap Noah sambil menari-nari bahagia.
Noah membunuh mereka menggunakan bius mati.
Satu per satu anak yang dia bius mulai tertidur dengan lelap dan tidak akan bangun selamanya.
“Kak, ngeri ya,” ucap Dayuh sambil meringis ketakutan.
“Hem... ayok kita ke sana, Dek,” ajak Sitara melihat Noah memindahkan anak-anak ke tempat tidur.
Noah akan melakukan pembedahan satu per satu.
Dia akan melakukannya secara hati-hati dan sangat teliti.
“Awwww... ngeri juga, Dek,” ucap Sitara sambil menutup matanya menggunakan tangannya.
“Sadis banget, Kak, ini namanya. Tapi di sini nggak ada Lintang, berarti ini korban sebelum Lintang, Kak,” sahut Dayuh menerka-nerka.
Sitara pun menjawab sambil membandingkan apa yang dia lihat sebelumnya dan yang sekarang.
“Kayaknya, Dek. Dari suasana ruangannya berbeda dari sebelumnya kita lihat.
Ini sedikit lebih serem sih, toples-toplesnya juga masih sedikit.
Yang sebelumnya kita lihat kan banyak isinya.”
“Ya sih, Kak. Bisa jadi ini awal mulanya dia jadi pembunuh, Kak,”
sahut Dayuh dengan serius.
Mereka berdua menyaksikan bagaimana proses Noah membunuh dan menguliti tubuh anak-anak itu.
Satu per satu jantung, ginjal, hati, otak, dan yang lain dimasukkan ke dalam toples khusus berbahan kaca.
Di dalam ruangan itu hawanya cukup dingin dan yang pasti matahari tidak akan bisa masuk ke sana.
Setelah selesai melakukannya, Noah akan menguburkan mayat-mayat mereka di kebun belakang rumahnya.
Karena kebun belakang rumahnya sangatlah luas dan penuh dengan buah-buahan dan sayur-sayuran.
Dayuh dan Sitara menunggu sampai Noah naik ke atas.
“Ayok, Kak, ke atas,” ajak Dayuh bergegas menaiki anak tangga.
“Ya, Dek. Duluan kamu naik,” sahut Sitara lalu menyusul Dayuh menaiki anak tangga.