Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Jam telah menunjukkan pukul 1 malam dan ia belum bisa tidur. Tanpa menimbulkan suara, Adam turun dari ranjang. Berjalan menuju ruang kerjanya di ruang sebelah mengambil macbook keluaran terbaru dan masuk ke kamar kembali. Dengan hati-hati ia naik ke ranjang supaya tidak membangunkan Helena dan bersandar di kepala tempat tidur.
Adam membaca beberapa email dari perusahaan dan membalasnya satu per satu. Dan terakhir membaca email dari Lucas. Mengingat tadi siang ia sendiri yang ingin tahu seluk beluk tentang Helena. Seperti dugaannya, wanita ini tidak bekerja di rumah sakit itu saat ia membaca pesan singkat Lucas. Yang artinya ada kerabatnya yang sakit.
Ponselnya bergetar. Tanpa mengganggu Helena, ia bangkit dan menuju balkon kamar untuk menerima panggilan pekerjaannya. Baru saja beberapa menit ia meninggalkan Helena, wanita itu sudah menangis seraya menggumamkan nama Mattew. Adam menutup teleponnya langsung berlari menuju Helena. Membangunkan wanita itu.
“Helena. Buka matamu.”
Saat Helena membuka mata, Adam sedang mengguncang bahunya. Helena menatap seisi ruangan dengan mata nyalang lalu bersyukur. Tak ada tanda-tanda Matthew di sini.Seharusnya ia membawa obat tidurnya sehingga tidak melakukan hal yang memalukan seperti tadi.
“Kau aman, Baby. Kau bersamaku. Tenanglah.”
Helena mengatur nafasnya lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Adam. “Kumohon jangan biarkan siapapun masuk.”
“Tak akan, Baby. Tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi.”
Mereka berbaring berpelukan satu sama lain. Adam kembali melakukan rutinitasnya yang akhir-akhir ini sangat ia sukai lebih dari ****, yaitu membuat lingkaran kecil di tubuh wanita itu sampai Helena kembali terlelap.
“Ada apa denganmu, Helena...”
***
Mobil Adam berhenti di depan kediaman Helena dan ada mobil Hera dan Inanna juga di sana.
“Aku minta maaf atas kejadian semalam.” Adam membuka pembicaraan.
“Itu bukan salahmu.”
“Aku serius, Helena. Aku-”
“Aku sudah memaafkanmu,” potong Helena cepat.
Adam mengangguk lalu menatap lekat Helena. “Katakan padaku, apakah kau pernah disakiti seseorang di masa lalu?”
“Itu bukan urusanmu dan aku tidak ingin membahasnya.” Helena berkata dengan lembut berfikir jika Adam akan mengerti.
Mereka saling menatap cukup lama sampai Adam keluar dari mobil. Adam mencium Helena sekilas lalu masuk ke mobil dan keluar dari pekarangan rumah.
Saat itu ponselnya berdering. Helena melirik nama Ethan tertera di sana lalu mengangkatnya seraya memasuki rumah besarnya dan mendapati sepi.
“Hai, my girl.”
“What?” Semakin ke dalam, ia bisa mendengar suara samar-samar. Ia melirik halaman belakang di mana Venus berada lalu memasuki kamarnya untuk berganti pakaian.
“Aku mendapatkan tawaran untukmu.”
Ethan adalah seorang aktor. Mereka bertemu pertama kali saat Helena menjadi make up artis di tempat pengambilan gambar Ethan. Mulai dari sanalah mereka menjadi akrab. Tiap Helena membawa Venus untuk membantunya, Ethan selalu melirik Diana. Menggodanya hingga Diana hampir menangis. Karena keakraban mereka berdua membuat Ethan menganggap Helena seperti adik kandungnya sendiri. Ethan selalu memberikan pekerjaan sampingan yang merupakan kegemaran Helena juga, merias atau menata busana para aktor. Namun ia tetap kesal pada Ethan mengingat kelakuan brengseknya yang selalu membawa beberapa wanita ke penthouse-nya.
“Merias tempat sampah lagi? Tidak, terima kasih, O’Connor.” Terakhir kali Ethan mengatakan hal itu, Helena berurusan dengan tong sampah sebesar mobil dan alat make up di tangannya. Kadang, pria ini juga bisa membuatnya murka.
Ethan terkekeh di seberang telepon. “Tidak, adikku… aku ingin kau menemaniku dalam acara besar. Aku yakin kau mau.”
Acara besar \= pria-pria kaya.
Pria-pria kaya \= uang berlimpah.
“Tanpa wartawan?”
Ethan mendengus lalu mengomel, “Seperti tidak mengenalku saja jika berada didekatmu.”
“Oke.” Helena menutup telepon. Kemudian turun tepat saat Laurent menghampirinya.
“Kau baik-baik saja, Ms. Helena?”
Helena tersenyum dan mengangguk. Ia menuju counter dapur dan menuangkan air mineral untuknya.
“Syukurlah. Tadi malam Miss Hera dan yang lainnya menelponku. Bertanya apakah kau sudah pulang atau tidak dan aku-”
“Cemas.” Helena memotongnya karena tidak ingin mendengar celotehan Laurent. “Tidur di ranjang besar dan empuk dengan pemandangan gedung-gedung tinggi bukankah menandakan aku baik-baik saja?”
Laurent mengangguk dengan lega. “Baguslah.”
Helena kembali meminum airnya sebelum mendekati Venus. “Di sini kalian rupanya.”
Venus menoleh lalu menyuruh Helena mendekati dengan gerakan tangan.
“Hai Auntie Helena, aku sangat merindukanmu,” kata Aaron dengan kedua tangan terbuka lebar minta dipeluk. Helena berjongkok di depannya dan Aaron mencium pipinya. Lalu disusul Raymond yang melakukan hal yang sama.
Helena merasakan tatapan menusuk dari ketiga temannya. Ia balik menatap Venus dengan alis terangkat. Hera memicingkan matanya memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya membuat Helena menyikut wanita itu dengan kesal. Dan mereka tertawa geli.
“Katakan.” Hera menuntut. “Apakah Eros?”
Helena menggeleng.
“… Jason?” Tanya Inanna.
Kembali Helena menggeleng.
“Shit.” Mereka mengumpat berbisik takut Aaron dan Raymond mendengarnya sedangkan Diana hanya memasang wajah ingin tahu berlebihan.
“Pria lain lagi. Aku tahu itu.” Hera menggurutu.
“Apa seperti Eros dan Mr. New England?”
Helena ingin tertawa dengan panggilan untuk nama Jason namun ia tidak. “Ya… tapi lebih menakjubkan, luar biasa, dan berbahaya.”
Semuanya terdiam mengingat Helena sudah tidak pernah berhubungan dengan pria seperti itu. Pertama dan terakhir kalinya ia menjalin kasih, ia masuk rumah sakit dan dinyatakan meninggal dikarenakan pria itu.
“Menurutku itu bagus untukmu.”
Sontak saja Venus menoleh dengan cepat keasal suara, Hera.
“Maksudku, bagaimana jika kita ambil sisi baiknya… Anggap saja dengan berhubungan dengannya dapat membuatmu menjadi lebih baik.”
Inanna mengangguk setuju. “Seperti terapi. Ide bagus, Beauty.”
Helena diam dan memikirkan hal itu dengan matang-matang.
“Jadi apa pekerjaan pria itu? Demi Tuhan, aku penasaran.” Hera bertanya.
Helena tampak berfikir. “Entahlah... Bintang porno?”
Venus tersedak lalu terbatuk.
“Oh my...” bisik Diana.
Helena tertawa. “Hanya karyawan biasa mungkin?” Helena berdeham, mengingat cuplikan saat ia menaiki mobil mewah milik Adam. “He has a red lykan hypersport, for your information.”
Dan Venus mematung menatap Helena. “Oh shit...”
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭