NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Putra Presdir

Menjadi Ibu Pengganti Putra Presdir

Status: tamat
Genre:Suami ideal / Ibu Pengganti / Keluarga & Kasih Sayang / Duda / Anak Genius / Menikah Karena Anak / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dua kali gagal menikah, Davira Istari kerapkali digunjing sebagai perawan tua lantaran di usianya yang tak lagi muda, Davira belum kunjung menikah.

Berusaha untuk tidak memedulikannya, Davira tetap fokus pada karirnya sebagai guru dan penulis. Bertemu dengan anak-anak yang lucu nan menggemaskan membuatnya sedikit lupa akan masalah hidup yang menderanya. Sedangkan menulis adalah salah satu caranya mengobati traumanya akan pria dan pernikahan.

Namun, kesehariannya mendadak berubah saat bertemu Zein Al-Malik Danishwara — seorang anak didiknya yang tampan dan lucu. Suatu hari, Zein memintanya jadi Ibu. Dan kehidupannya berubah drastis saat Kavindra Al-Malik Danishwara — Ayah Zein meminangnya.

"Terimalah pinanganku! Kadang jodoh datang beserta anaknya."

•••

Mohon dengan sangat untuk tidak boomlike karya ini. Author lebih menghargai mereka yang membaca dibanding cuma kasih like tanpa baca. Sayangi jempolmu. 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MIPPP 16 — Acara Lamaran

Acara lamaran itu berlangsung sederhana, sesuai dengan permintaan Davira. Hanya dihadiri dua keluarga dari masing-masing pihak. Meski begitu, Davira tampak sangat bahagia. Senyumnya tak pernah pudar sejak kedatangan Kavindra dan Zein. 

Anak kecil itu, tak kalah bahagianya saat tahu bahwa acara lamaran itu merupakan serangkaian proses agar Davira bisa menjadi ibu baginya. Memekik girang hingga melompat Zein lakukan sebagai wujud rasa senangnya. 

Sementara Kavindra, tampak berbeda dengan setelan batik ala bapak-bapak desa, namun, tetap membuatnya menawan saat dipandang. Davira juga tampil dengan batik senada dengan Kavindra. Keduanya, terlihat sangat cocok dan serasi. 

"Untuk acara pernikahannya bagaimana, Bu?" tanya Karina pada Rika. Rencananya, usai acara lamaran ini, Karina mengkehendaki agar segera dilangsungkan acara pernikahannya. 

Rika mengulas senyum dengan sopan. "Soal itu, keputusannya saya serahkan saja kepada Bu Karina. Tapi jika boleh, saya ingin mengadakan pernikahan Davira di rumah ini," kata Rika dengan wajah sedikit tertunduk. 

"Ah, baik kalau begitu. Saya akan pakai jasa wedding organization saja, ya, Bu. Untuk konsep pernikahannya sesuai dengan keinginan Davira saja. Biaya pernikahannya, biar Kavindra yang tanggung semuanya." 

Rika hanya mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Hatinya begitu bahagia saat melihat Davira dan Kavindra bersama, dengan Zein di antara mereka, membuat sepasang kekasih itu tampak seperti keluarga bahagia. 

"Saya sangat senang sekali karena anak saya akhirnya bisa menemukan anak ibu di waktu yang tepat," ucap Karina. Pandangannya sama seperti Rika, tertuju ke depan, memandang kedua anak mereka dengan haru. 

"Saya juga sangat bersyukur, karena akhirnya Davira menemukan seseorang yang tepat untuk mendampinginya, Bu. Semoga keduanya selalu berbahagia." 

"Kak Kavindra udah cocok banget jadi Bapak, aku jadi terharu melihatnya," kata Ravindra di sela-sela ucapan kedua ibu itu. 

Karina mendelik, "Kakakmu memang sudah jadi seorang Bapak. Kamu lihat itu buntutnya, sama persis," celetuk Karina yang sontak mengundang gelak tawa putra bungsunya. 

"Iya, juga, ya. Tapi mereka cocok banget, Ma. Duh, aku jadi kepingin juga." Ravindra mendapat cubitan halus di lengannya setelah mengatakan hal itu. 

"Bantu kakakmu urus perusahaan dulu, baru menikah. Jangan genit-genit kamu, Nak. Cari uang dulu yang banyak baru menikahi anak orang!" seru Karina dengan tegas. 

Ravindra hanya mengangguk pasrah. "Iya, Ma, iya. Ravindra juga tahu ih, anak orang mau dikasih makan apa kalau Ravindra miskin," celetuknya yang langsung mengundang gelengan kepala sang ibu. 

Rika, yang tak sengaja menangkap momen itu pun ikut terkekeh bahagia. Sepertinya ia bisa merasa lega sekarang, karena putrinya mendapatkan keluarga yang bisa menyayanginya sepenuh hati. 

Acara hari itu berlangsung bahagia. Setelah acara lamaran selesai, kedua keluarga sepakat untuk makan bersama. Zein yang paling antusias untuk ikut serta. Anak itu sudah duduk di dekat Davira, menjadi sekat untuk Kavindra mendekati calon istrinya. 

"Zein, itu tempat papa. Zein sama uncle dulu sana," bisiknya pada anak kecil itu. Merasa iri karena sejak tadi, Zein selalu menempel pada Davira seperti sebuah lem. 

Zein mendongak, menatap sang ayah dengan mata memicing. "Gak mau, Zein mau di sini. Papa aja yang duduknya dekat uncle," kata Zein dengan lucunya. 

Kavindra terpaksa mengalah lagi demi anak kecil itu, di sebelah Zein, Davira terkekeh geli. Acara makan bersama itu berlangsung riuh, sesekali diselingi dengan candaan Zein pada ayah ataupun pamannya. 

Tak berselang lama dari itu, kasak-kusuk dan keributan terdengar dari luar. Seseorang berteriak-teriak memanggil nama Davira, menuntutnya untuk keluar dengan makian-makian yang mengiringi. 

Davira terperangah saat mendengar suara itu, pun dengan Rika. Mereka tahu pasti siapa gerangan yang telah membuat keributan di luar itu. Zein yang ketakutan, memeluk Davira dengan erat. 

Karina dan Ravindra sontak menoleh, bertanya-tanya dengan apa yang terjadi di luar. Berbeda dengan Kavindra, pria itu berdiri tegap, kemudian melangkah ke luar dengan berani. Apapun yang terjadi, tak akan ia biarkan pria itu merusak hari pentingnya. 

"Kau! Siapa kau? Sedang apa kau berada di rumahku?" tanya Agus dengan berkacak pinggang, tatapannya menantang Kavindra dengan tanpa rasa takut. "Jangan-jangan kau itu calon suaminya Davira, apa benar?" 

Kavindra menatap sosok lusuh di hadapannya dengan tatapan iba bercampur kesal juga heran. "Benar, saya Kavindra, calon suami Davira," kata Kavindra dengan tegas. 

Sementara yang lain tetap berada di dalam sesuai permintaan Davira, perempuan itu tergopoh keluar menyusul Kavindra. Hatinya berdebar takut dengan apa yang akan dilakukan dua pria itu. Jangan sampai keluarga mereka mengundang cemoohan tetangga lagi. 

"Heh! Berani kau menikahi anakku? Berani membayar berapa kau? Sepertinya kau orang berada, mahar yang kau berikan pasti besar, kan?" ujar Agus dengan tak tahu malunya. 

Kavindra masih tetap berdiri tenang. Memindai dengan baik pria tua nan lusuh di hadapannya yang ia tebak adalah ayah kandung Davira. Perempuan itu pernah menceritakan perihal ayahnya yang seorang penjudi dan mabuk-mabukan. 

"Bapak! Buat apa ke sini lagi? Pergi! Jangan ganggu kami lagi!" seru Davira merasa marah sekaligus malu. Ditatapnya pria yang ia panggil bapak dengan wajah memerah. 

Kavindra menarik Davira pelan, "Biar aku saja yang urus, berdiri di belakangku." Seperti yang telah dikatakannya pada sang ibu, Kavindra mencoba menunaikan perkataannya dengan melindungi Davira. 

"Berani kamu usir bapakmu sendiri? Anak kurang ajar! Sini kamu! Biar aku pukul! Anak gak tahu diri!" teriak Agus kencang, mengundang perhatian dari beberapa tetangga yang sedari tadi menonton. 

"Harap jaga bicara Anda, Pak." Kavindra memandang Agus dengan sorot mata tajam dan penuh determinasi. Postur tubuhnya yang tinggi tegap dengan tatapan menantang, membuat Agus sedikit ketakutan. 

"Jangan sok di sini, kau hanya orang asing! Berani apa kau, hah?" tantang Agus lagi dengan berkacak pinggang. "Ah, sudahlah! Tidak usah berdebat denganku. Cepat, cepat, berikan aku uang, kau pasti kaya kan?" 

Tanpa tahu malu, Agus mengulurkan tangannya, meminta uang dari besannya sendiri tanpa tahu malu. Tetangga pun banyak yang menggelengkan kepala dengan sikap Agus itu. 

Kavindra mengeluarkan dompetnya yang terlihat tebal. Mengambil beberapa lembar uang berwarna biru dan menunjukkannya di depan Agus. Membuat pria tua itu langsung membelalakkan mata. 

"Akan saya berikan uang ini," kata Kavindra dengan tegas. "Tapi, saya punya satu syarat yang harus Anda penuhi." 

Tanpa pikir panjang, Agus menganggukkan kepala, apapun akan ia lakukan demi beberapa lembar uang berwarna biru itu. Pikirannya sudah dipenuhi dengan seberapa banyak jud* yang akan ia menangkan dengan uang sebanyak itu. 

Dari dalam rumah, Karina dan Ravindra masih menonton apa yang akan dilakukan Kavindra untuk membalas pria tak tahu malu itu, sementara Rika tertunduk malu dengan tingkah suaminya. Sedangkan Zein terlihat ingin menghampiri Davira, namun tangannya dicekal oleh Ravindra. 

"Apa? Apa syaratnya? Cepat katakan!" Agus tampak tak sabar. Matanya berkilat saat melihat lembaran uang itu. 

"Syaratnya adalah … " 

•••

— Lanjut part dua, ya, hihi. 

1
Ryan Dynaz
💜👍💜👍💜👍
Dinatha
bawa perasaan boleh..
bodoh jangan
hargailah pasanganmu yang berusaha untuk hubungan kalian.
say no to negatif thinking...
kalau cuma sebelah pihak yang berjuang.. mending nggak usah.
Dinatha
ibu lagi sensitif Dav.
bawaan hormon kehamilan 🤣🤣🤣🤣
Dinatha
Maaf author dan para Readers.
Kami staff dari Rumah Sakit Jiwa berniat menjemput pasien kami yang bernama Lauren.
Dua hari lalu melarikan diri dari RSJ setelah ketahuan minum air toilet 🫣🫣🫣😁😁
Dinatha
diawal cerita mereka seperti lelaki yg punya dibawa.
ternyata cuma ayam sayur didepan ayahnya 😁 tak ada harga diri membela keluarganya
Dinatha
boleh bawa plastik kiloan buat bungkus rendang bawa pulang nggak nih?🤔🤔🤔🤣🤣🤣🫣🫣🫣
Dinatha
Wah jantung Daviea ada speaker dan Bass ya? dentuman nya seperti musik di diskotik 🤣🤣🫣🫣
Dinatha
Matanya disimpan di kontrak perusahaan 🤣🤣🤣
Dinatha
Typo..
menyapa mungkin maksudnya 🫣
Dinatha
mungkin ini salah satu penyebab Rasulallah mengatakan bahwa Neraka mayoritas diisi kaum hawa 😓
Mefazha ghania
jgn² ayah kavindra selingkuhan Lauren.
Rajo kaciak
semangat Ravindra 😄😄😄
Lilis Setyaningsih
ah..kenapa menawarkan diri menggantikan ibunya zein...
Uswatun Hasanah
keren👍
bakpao
/Good//Good/
Mumuy07
wali nikah itu kalau yg bersangkutan mabuk judi kayak bapak di davira, haram hukumnya menjadi wali nikah. nikah itu adlh suatu akad yg langsung di hadapan Allah pengucapannya. gak bisa main² wali nikahnya. benar² hrs paham agama dan berakhlak baik.
🐬🐬dolphin fan🐬🐬
baru baca ulasannya udah bikin pinisirin pengen baca novelnya 👍👍👍😍
Her Lina
Bu Zara katanya tetangga y di desa, tapi kok jadi teman sosialitanya Bu Karina ya 🤔🤔
Her Lina
Lauren...kamu yg ninggalin, kamu jg yg sakit hati 🤣🤣
harusnya Karina bilang kalo davira adalah pilihan cucunya sendiri. 👍
Runik Runma
bulan madu on the way
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!